Dan sampai di sini, Siok Lan dara yang biasanya lincah gembira itu kelihatan berduka, bahkan ada air mata menitik turun dara kedua matanya. Diam-diam Cin Liong merasa kasihan sekali, akan tetapi dia diam saja, masih terheran-heran mendengar cerita yang luar biasa itu. Ibu dara ini, panglima yang pandai dan perkasa itu, ternyata menyimpan rahasia kehidupan yang amat menyedihkan! Siok Lan mengusap air matanya, berhenti menangis, kemudian menarik napas panjang berulang-ulang.
"Liong-ko, betapa inginku pertemuan antara kita tidak terjadi di tempat ini, di waktu perang seperti ini. Ah, betapa akan senangnya duduk bercakap-cakap denganmu di tempat ini kalau tidak ada perang di situ, kalau keadaan tenteram dan damai. Akan tetapi.... betapapun juga.... karena adanya perang inilah, maka kita dapat saling bertemu."
Cin Liong diam saja, tidak tahu harus mengatakan apa dan dia pun tidak tahu mengapa dara itu mengeluarkan ucapan seperti itu.
"Liong-ko, di mana adanya Ayah Bundamu?"
Pertanyaan tiba-tiba ini mengejutkan Cin Liong juga, akan tetapi dengan sikap tenang dia menjawab,
"Mereka tinggal jauh di utara, Nona."
"Liong-ko, harap kau jangan menyebut Nona padaku, Panggil saja namaku!"
"Akan tetapi, Nona...."
"Apakah engkau tidak mau menganggap aku sebagai seorang.... sahabat baikmu?"
Bertanya demikian, dara itu mengangkat muka dan menatap wajah Cin Liong dengan sepasang mata yang tajam berseri. Akhirnya Cin Liong menunduk dan mengangguk.
"Baiklah, Lan-moi (Adik Lan). Engkau sungguh baik sekali."
"Bukan aku, melainkan engkaulah yang baik sekali, Liong-ko. Aku berhutang budi dan nyawa padamu...."
"Cukuplah itu, harap jangan sebut-sebut lagi soal itu. Engkau dan Ibumu telah menerimaku di sini dengan baik sekali, aku malah yang harus malu...."
Cin Liong teringat betapa kehadirannya itu adalah sebagai mata-mata padahal dara ini demikian baik kepadanya. Nampak makin jelaslah olehnya betapa keji dan kejamnya perang!
"Akan tetapi, peristiwa itu takkan terlupakan olehku selama hhdup, Liong-ko. Dan.... kalung itu.... apakah masih kau simpan?"
Otomatis tangan kiri Cin Liong meraih, ke lehernya dan gerakan ini saja membuat Siok Lan merasa girang sekali dan dia yakin bahwa kalung itu masih dipakai oleh pemuda ini, maka ia melanjutkan kata-katanya.
"Terima kasih kalau masih kau simpan. Liong-ko, ketahuilah aku.... aku memberi kalung itu.... dengan sepenuh hati.... kalung itu pemberian Ibu dan.... mewakili diriku...."
Tiba-tiba dia menunduk dan mukanya menjadi merah sekali. Cin Liong juga dapat merasakan kejanggalan kata-kata ini dan makna mendalam yang dikandungnya, maka dia pun tiba-tiba merasa jengah dan malu.
Sejenak mereka berdua yang duduk berhadapan itu tidak mengeluarkan kata-kata, keduanya lebih banyak menunduk dan kalau kebetulan saling pandang, lalu tersenyum canggung! Hati Cin Liong tergetar dan tertarik. Dara ini memang memiliki daya tarik yang kuat sekali, akan tetapi selama ini, biarpun bergaul dengan akrab, dia tidak merasakan daya tarik ini karena seluruh perhatiannya tercurah kepada tugasnya. Kini baru dia merasakan daya tarik itu yang membuat dia ingin sekali memandang wajah dan menikmati kejelitaannya, ingin sekali bersikap dan berbicara manis, ingin sekali menyentuh dan merangkul mesra. Akan tetapi Cin Liong masih ingat akan kedudukan dan tugasnya, maka dia mengeraskan hatinya dan akhirnya dia bangkit berdiri. Siok Lan juga ikut bangkit dan memandang heran.
"Nona.... eh, Adik Siok Lan, marilah kita pulang. Ibumu tentu akan mencarimu, dan tidak baik bagimu kalau berlama-lama kita duduk berdua saja di tempat ini."
Dara itu mengerutkan alisnya dan sinar matanya mengandung kekerasan.
"Liong-ko, mengapa tidak baik bagiku? Aku tidak peduli dengan orang lain, dan Ibu tentu tidak akan melarang kalau aku berdua di sini bersamamu."
Cin Liong tersenyum. Dalam marahnya, dara itu bahkan nampak semakin cantik!