Puteri Nandini juga berkata, akan tetapi dari sikap panglima ini dan puterinya,
Mereka berdua agaknya sudah tidak curiga lagi dan tentu saja hal ini membuat Ci Sian dan Cin Liong merasa lega. Akan tetapi, di samping kelegaan hati itu, ada sesuatu perasaan amat tidak enak dalam hati Ci Sian. Semenjak peristiwa itu, kalau kini dia melihat Cin Liong bersama Siok Lan berdua sedang berjalan-jalan atau bercakap-cakap, melihat betapa mesranya sikap Siok Lan, kepada pemuda itu, diam-diam dia merasa tidak senang! Kadang-kadang dia melawan perasaannya sendiri ini. Apakah dia cemburu? Ihh, mana mungkin? Perasaan ini timbul ketika dia merasa betapa Siok Lan cemburu terhadapnya. Dia amat sayang kepada Siok Lan dan merasa bahwa di samping semua keadaan mereka yang berlawanan, namun terdapat perasaan suka dan sayang antara mereka, perasaan suka antara dua orang sahabat yang cocok.
Akan tetapi setelah kini dia merasa yakin bahwa Siok Lan jatuh cinta kepada pemuda itu. Dialah yang kini merasa tidak senang atau setidaknya ada perasaan tidak nyaman dalam hatinya. Tentu saja dia mengambil sikap tidak peduli dan selalu dia menekankan di dalam hatinya bahwa sikap manis Cin Liong kepada Siok Lan itu merupakan "alasan"
Dari jenderal muda itu untuk menjauhkan kecurigaan dan untuk menyembunyikan diri, tentu saja. Tiga hari semenjak terjadinya, peristiwa itu. Pagi hari itu Siok Lan mendekati Cin Liong dan mengajak pemuda ini berjalan-jalan ke atas sebuah bukit kecil di tepi kota Lhagat. Mereka melakukan perjalanan seenaknya, berjalan berdampingan dan Siok Lan yang beberapa kali menengok dan memandang wajah pemuda itu bertanya,
"Liong-ko (Kakak Liong), mengapa kau kelihatan termenung saja sejak tadi?"
Cin Liong terkejut akan tetapi wajahnya tidak membayangkan sesuatu. Dia bukan hanya terkejut karena teguran yang membuktikan ketajaman mata dara ini, akan tetapi juga terkejut mendengar sebutan Liong-ko. Hanya jarang sekali dara ini menyebutnya koko, biasanya hanya menyebut namanya saja, terutama kalau berada di depan ibu dara ini atau di depan Ci Sian.
"Ah, tidak apa-apa, Nona."
Mereka berjalan terus melalui tempat penjagaan dan tidak mempedulikan pandangan para perajurit Nepal yang menyeringai. Mereka berdua asyik bercakap-cakap dan agaknya sudah bukan rahasia lagi betapa akrabnya hubungan antara puteri panglima itu dengan pemuda "pemburu"
Itu.
Mereka kini tiba di puncak bukit kecil itu dan mereka duduk berdampingan di atas rumput hijau, memandang ke arah utara di mana nampak bukit yang dikepung tentara Nepal, bukit di mana terdapat lembah di mana tentara Ceng sedang dikepung, sudah hampir sebulan mereka dikepung tak berdaya di tempat itu! Melihat bukit ini, tak terasa lagi jantung Cin Liong berdebar keras sekali, penuh ketegangan. Malam nanti saat itu tiba, seperti telah diaturnya dengan matang. Dia telah menghubungi semua pembantunya dan semua pembantu itu tentu telah bersiap-siap melaksanakan semua perintah dan siasatnya sampai ke bagian yang sekecil-kecilnya. Dia sendiri perlu berada di Lhagat, selain untuk mengamati gerakan panglima musuh, juga untuk membantu lancarnya penyerbuan ke Lhagat setelah pasukannya berhasil lolos darl kepungan malam nanti.
Dan dia yakin pasukannya akan berhasil. Semua telah diperhitungkannya masak-masak. Dia dapat mem-bayangkan apa yang akan terjadi kalau bendungan di atas itu dibobol dan air yang dipergunakan sebagai pasukan pelopor untuk menghantam dan menjebol kepungan musuh. Dan pada saat yang sama, pasukan-pasukan Tibet yang sudah dipersiapkannya akan bergerak pula menghantam dari arah lain untuk mengalihkan perhatian lawan. Dan pada saat air menipis, pasukan yang terkepung akan meloloskan diri, turun dari bukit, keluar dari lembah melalui jalan yang telah dibikin rata dan aman oleh air bah itu! Dan dengan kekuatan disatukan dengan pasukan-pasukan Tibet, pasukannya akan menggempur Lhagat! Untuk semua itu, dia juga mengharapkan bantuan orang-orang pandai yang telah diam-diam diselundupkan ke Lhagat dan sekitarnya!
"Liong-koko...."
Cin Liong terkejut dan sadar dari lamunannya, dengan enggan dia menarik kembali pandang matanya yang sejak tadi ditujukan ke arah bukit itu dan dia menoleh kepada dara yang duduk di sampingnya. Dia melihat betapa sepasang mata yang jeli itu menatapnya dengan sayu,
Sepasang mata yang nampaknya seperti setengah terpejam, seperti mata yang mengantuk, akan tetapi ada sinar aneh dari sepasang mata di balik bulu-bulu mata yang lentik itu. Siok Lan memang cantik sekali, kecantikan yang manis dan aneh seperti biasa terdapat pada kecantikan dara-dara yang berdarah campuran. Siok Lan adalah seorang dara berdarah peranakan Han dan Nepal dan agaknya dara ini menerima kurnia yang luar biasa dari alam, dia agaknya telah mewarisi segi-segi baiknya saja dari ayah bundanya yang berbeda bangsa itu. Kulitnya putih kuning halus seperti kulit wanita bangsa ayahnya, demikian pada kehitaman dan kelebatan rambutnya, ramping dan se-mampainya bentuk tubuhnya. Dan dia memiliki sepasang mata yang lebar dan indah dengan bulu mata lentik, hidung yang agak mancung dan dagu meruncing seperti kemanisan wajah Ibunya.
Cin Liong adalah seorang pemuda yang sejak kecil mengejar ilmu kepandaian dan belum pernah dia melibatkan diri dengan hubungan antara pria dan wanita. Hubungannya dengan Siok Lan hanya merupakan hubungan yang berdasarkan siasat perangnya belaka, maka selama ini dia menganggap dara ini sebagai puteri dari panglima pasukan musuhnya, sungguhpun secara pribadi dia mengagumi dara ini, juga Ibunya yang dianggapnya seorang panglima yang pandai dan dara ini me-miliki watak yang amat baik. Kini, dalam keadaan santai, duduk berdua di tempat sunyi itu, mendengar suara Siok Lan memanggilnya, kemudian setelah menoleh bertemu pandang mata yang demikian indah dan penuh getaran perasaan memandangnya, jantung Cin Liong terasa berdebar aneh.
Baru sekarang selama dia hidup dia merasakan suatu getaran aneh dalam hatinya, dan wajah dara itu seolah-olah baru sekarang dilihatnya, baru sekarang dia menemukan keindahan dan kecantikan luar biasa pada mata dan bibir itu! Sejenak dua pasang mata itu bertemu pandang, bertaut seolah-olah ada sesuatu yang membuat mereka terpesona dan seolah-olah pandang mata saling melekat tak dapat dipisahkan lagi. Akan tetapi akhirnya Cin Liong dapat menguasai debaran jantungnya dan kedua pipinya menjadi merah ketika dia bertanya lirih.
"Ada apakah, Nona?"
Siok Lan juga baru sadar bahwa sejak tadi dia seperti terayun dalam alam mimpi, dan dia menjadi malu sekali, cepat dia menunduk dan mukanya men-jadi lebih merah daripada muka pemuda itu.
"Liong-ko, sejak tadi kulihat engkau melamun saja, seperti orang yang berduka, atau seperti orang yang khawatir. Ada apakah?"
Cin Liong tersenyum.
"Tidak apa-apa, Nona."
Dara itu mengangkat muka memandang dan kini sepasang matanya tidak sayu lagi seperti tadi, melainkan bersinar tajam penuh selidik.
"Sejak kita datang ke tempat ini, engkau duduk melamun dan memandang ke arah bukit di sana itu, Liong-ko. Aku dapat merasakan bagaimana kedukaan dan kekhawatiran menekan hatimu melihat pasukan kerajaan itu terkepung di sana sudah sebulan...."
"Ah, tidak....!"
Cin Liong cepat membantah dan diam-diam dia terkejut sekali. Apakah dara ini mengetahui pula rahasianya? Kalau begitu, amat berbahaya dan dia harus cepat turun tangan. Terbongkarnya rahasianya akan berbahaya sekali, dapat menggagalkan siasatnya yang akan dilaksanakan malam nanti. Akan tetapi dara itu nampak tenang saja, bahkan tersenyum pahit.
"Aku mengerti, Liong-ko. Engkau adalah seorang bangsa Han, dan tentu saja tidak senang melihat pasukan bangsamu terkepung dan menghadapi kehancuran...."
Karena masih meragu, Cin Liong belum turun tangan, dan dia memancing,
"Engkau tahu bahwa aku hanyalah seorang pemburu Nona, aku tidak mencampuri urusan perang...."
"Aku mengerti, Liong-ko, akan tetapi aku pun dapat menduga betapa hatimu duka dan khawatir oleh akibat perang yang mengancam pasukan bangsamu. Aku sendiri pun benci perang! Aneh kedengarannya. Ibu seorang panglima perang, tapi aku benci perang. Dan tahukah engkau, Liong-ko, Ibu sendiri pun benci perang!"
"Ehh....?"
Cin Liong benar-benar terkejut mendengar ini, dan dia menatap wajah cantik itu dengan heran. Siok Lan mengangguk lalu menunduk, merenung.
"Ya, Ibuku benci perang. Ibuku adalah seorang puteri Nepal, sejak kecil mempelajari kesenian dan kesusastraan. Akan tetapi dia pun mempelajari ilmu silat dan perang. Biarpun begitu, dia selalu mencela perang!"
"Akan tetapi mengapa dia menjadi panglima?"
"Karena.... patah hati.... gagal dalam asmara."
"Ahhh....!"
Dara itu menoleh dan menatap wajah Cin Liong, kemudian dia menggeser duduknya sehingga berhadapan dengan pemuda itu. Sejenak dia menatap tajam, kemudian dia berkata,
"Dengarlah, Liong-ko, aku akan menceritakan riwayat kami kepadamu. Akan tetapi harap semua ini dirahasiakan."
Cin Liong hanya mengangguk-angguk dan merasa heran mengapa dara ini demikian percaya kepadanya.
"Ibuku adalah seorang wanita Nepal, puteri seorang pendeta yang sejak kecil mempelajari seni, sastra, silat dan ilmu perang. Kemudian Ibuku menikah dengan seorang pangeran Nepal, seorang pange-ran tua yang menjadi Ayah tiriku."
"Ayah tirimu....?"
"Ya, aku.... Ayah kandungku adalah seorang pria berbangsa Han, seperti engkau, Liong-ko."
"Hemmm.... sudah kuduga itu, melihat keadaanmu."
"Karena Ibu lebih perkasa dan pandai daripada Ayah tiriku, maka Ibu lalu diangkat menjadi perwira tinggi dalam ketentaraan. Ibu menerima pengangkatan itu untuk menghibur hatinya, karena.... karena sesungguhnya Ibu tidak mencinta suaminya yang jauh lebih tua, dan hal itu terjadi sampai Ayah tiriku meninggal dunia. Semenjak itu Ibu menjadi panglima dan biarpun dia membenci perang, terpaksa dia melakukan tugas kewajibannya sebaik mungkin."
"Dan.... Ayah kadungmu?"
Dara itu menggeleng kepala.
"Ibu merahasiakannya. Aku bahkan tidak tahu siapa she Ayahku itu. Aku tidak tahu di mana dia, masih hidup ataukah sudah mati. Heran sekali, Ibu agaknya amat membenci Ayah kandungku sehingga setiap kali aku bertanya, dia marah-marah dan bahkan pernah menamparku karena bertanya itu. Agaknya.... agaknya dia akan sanggup membunuhku kalau aku bertanya terus."