"Siapa engkau? Kalau engkau tidak mau mengaku, jangan katakan aku kejam kalau terpaksa aku akan menyerangmu!"
Bentaknya mengancam.
"Kau? Menyerang aku? Ha-ha, anak kecil berhati besar. Hayo sekarang majulah, seranglah, siapa takut padamu? Ha ha!"
Ditantang seperti ini, tentu saja Cin Liong menjadi marah. Akan tetapi dia dapat menguasai hatinya, karena maklum bahwa kemarahan bukanlah cara untuk mengatasi keadaan. Dia menatap tajam, kemudian berkata,
"Aku akan menyerangmu karena engkau mungkin membahayakan usahaku."
"Ha-ha, anak kecil, kau majulah!"
Cin Liong lalu mengeluarkan bentakan nyaring dan dia sudah menyerang dengan pukulan cepat dan kuat sekali ke arah lawan. Orang jembel itu tertawa dan cepat dia mengelak.
Gerakannya aneh dan cepat sekali, juga ketika dia membalas dengan tamparan tangan kirinya, gerakannya memang hebat. Cin Liong terkejut dan maklum bahwa dia berhadapan dengan lawan tangguh. Dia menduga bahwa agaknya orang ini yang menyamar seperti orang gila tentu utusan dari panglima musuh! Maka dia pun lalu menangkis dan menyerang bertubi-tubi dengan pengerahan tenaganya sehingga dari kedua tangannya menyambar hawa yang mengeluarkan suara bercuitan. Lawannya berseru kagum dan juga bergerak cepat, jari-jari tangannya terbuka dan ketika tangannya bergerak, jari tangannya meluncur seperti pedang dan mengeluarkan suara bercuitan pula! Setelah saling serang dan saling megelak sampai beberapa belas kali, tiba-tiba mereka harus mengadu lengan dan mereka saling mengerahkan tenaga.
"Dukkk!"
Untuk ke sekian kalinya dua lengan yang sama kuatnya bertemu dan keduanya terpental ke belakang!
"Ha-ha-ha, heh-heh-heh, kau hebat juga....!"
Pengemis aneh itu tertawa lagi dan kini wajahnya berseri, nampak gembira dan dalam keadaan seperti itu dia tidak kelihatan tua benar sehingga usianya tentu tidak lebih banyak dari empat puluh tahun. Dan melihat wajah yang tertawa, mata yang berseri-seri itu, tiba-tiba Ci Sian teringat di mana dia pernah bertemu dengan jembel ini. Dahulu, di waktu dia melakukan perjalanan dengan rombongan Lauw-piauwsu! Pengemis yang mencengkeram golok sampai rompal di dalam guha itu!
"Benar dialah itu!"
Tiba-tiba dia berseru dan dua orang yang sedang berhadapan itu menengok dengan heran dan kaget. Ci Sian menghampiri pengemis itu dan menudingkan telunjuknya ke arah muka pengemis itu.
"Benar dia! Inilah jembel yang menolak roti dan mencengkeram golok anak buah Lauw-piauwsu itu!"
Jembel itu tertawa dan kini dia menubruk lagi kepada Cin Liong yang cepat mengelak dan berseru,
"Ci Sian, kau mundurlah!"
Karena dia tahu betapa lihainya jembel itu dan amatlah berbahaya bagi Ci Sian kalau sampal diserang oleh orang itu. Akan tetapi dia terlalu memandang rendah Ci Sian. Setelah menjadi murid See-thian Coa-ong, dara ini telah memiliki kepandaian yang tinggi, maka tentu saja tidak menjadi gentar dan kini dia malah ikut maju dan menyerang, begitu tangan kanannya bergerak, seekor ular belang kuning hitam telah menyambar ke arah leher jembel itu.
"Ular! Ular....!"
Teriak Si Jembel dan dia mencoba untuk mencengkeram ular itu dengan tangannya.
Namun ular itu dapat mengelak dan dengan pergelangan tangannya, Ci Sian membuat ular itu membalik dan menggigit ke arah lengan Si Jembel. Akan tetapi jembel itu memang lihai sekali dan dia dapat mengelak sambil meloncat ke kanan dan kini kedua tangannya menyambar-nyambar, dengan jari-jari tangan terbuka menotok dan menampar ke arah Cin Liong dan Ci Sian secara hebat sekali. Kembali Cin Liong terkejut. Pertama dia kagum menyaksikan kehebatan Ci Sian, kedua kalinya dia terkejut karena benar-benar jembel itu amat lihai. Betapapun juga, dia masih mengkhawatirkan keselamatan Ci Sian, dan dia pun merasa malu kalau harus mengeroyok seorang jembel sinting, padahal dia adalah seorang jenderal muda yang terkenal me-miliki kepandaian tinggi. Ayah bundanya tentu akan marah kalau mendengar bahwa dia mengeroyok seorang jembel sinting.
"Ci Sian, aku belum kalah, biarkan aku menghadapinya. Tidak perlu kita mengeroyok!"
Katanya.
"Ha-ha-ha, he-heh! Keroyokan juga boleh! Kau tambah lagi dengan barisan mata-matamu, orang muda, heh-heh!"
Tadinya Ci Sian, tidak mau menurut perintah Cin Liong, akan tetapi mendengar ucapan jembel itu, dia merasa malu sendiri. Seorang jembel cacat pikirannya, orang sinting begini mana pantas dikeroyok dua? Maka dia pun meloncat mundur dan hanya menonton dan diam-diam dia menjadi kagum. Dia harus mengakui bahwa pemuda itu hebat sekali ilmu silatnya, akan tetapi jembel itu pun lihai dan aneh gerakan-gerakannya. Tiba-tiba jembel itu merebahkan diri ke atas tanah dan dengan menolak tanah menggunakan kedua tangan, kakinya meluncur dengan serangan aneh ke arah tubuh lawan. Hebatnya, dari kedua kakinya itu menyambar hawa pukulan yang dahsyat bukan main!
Cin Liong mengelak, akan tetapi masih terhuyung, dan saat itu dipergunakan oleh lawannya untuk berjungkir balik dan kedua tangannya dengan jari tangan terbuka sudah menghujankan tamparan bertubi-tubi. Melihat ini, Cin Liong yang agak terdesak mudur itu tiba-tiba mengeluarkan lengking nyaring dan dia merobah ilmu silatnya, kedua lengannya kadang-kadang membentuk cakar naga dan tubuhnya menggeliat-geliat seperti seekor naga. Itulah Ilmu Silat Sin-liong-ciang-hoat (Ilmu Silat Tangan Kosong Naga Sakti) dan begitu dia mainkan ilmu ini, Si Jembel itu berseru kaget dan terdesak hebat. Begitu Jembel itu mundur, Cin Liong terus mendesak dan biarpun jembel itu masih berusaha mempertahankan diri, namun serangan-serangan Cin Liong terlampau hebat membuat dia kewalahan dan tiba-tiba dia meloncat jauh ke belakang.
"Aih, putera Ceng Ceng sungguh kurang ajar sekali, berani melawan orang tua!"
Mendengar ucapan ini, tiba-tiba Cin Liong berhenti bergerak dan memandang dengan mata terbelalak kepada jembel itu. Dan anehnya, jembel itu yang tadinya tertawa-tawa, kini mulai menangis!
"Ceng Ceng.... Ceng Ceng.... kau memiliki putera yang lihai.... kau bahagia.... sungguh membuat aku mengiri padamu.... hu-hu-huuhh....!"
Jembel itu menangis sesenggukan seperti anak kecil. Cin Liong dan Ci Sian memandang dengan penuh keheranan dan juga mulai merasa kasihan kepada orang lihai yang sinting itu. Akan tetapi kalau Ci Sian hanya terheran-heran, sebaliknya Cin Liong terkejut sekali mendengar ucapan dalam tangis Si Jembel itu. Wajahnya yang tampan itu berobah dan dia memandang dengan mata terbelalak, kemudian melangkah maju dan bertanya dengan suara meragu.
"Apakah Paman.... eh.... Si Jari Maut....?"
Mendengar pertanyaan ini, jembel sinting itu menghentikan tangisnya, mengangkat muka memandang Cin Liong dan seketika tangisnya terganti senyum ramah
"Eh, engkau.... engkau sudah mengenalku....?"
Cin Liong merasa terharu bukan main. Kiranya jembel sinting itu adalah pendekar yang terkenal itu, saudara seayah lain ibu dengan ibunya sendiri, jadi masih terhitung pamannya sendiri! Jembel sinting ini adalah Wan Tek Hoat, saudara seayah lain Ibu dari ibunya yang bernama Wan Ceng dan menurut penuturan ibunya Wan Tek Hoat adalah seorang pendekar besar yang tampan dan gagah, dan bahkan telah diambil mantu oleh Raja Bhutan, juga diangkat menjadi seorang panglima di Kerajaan Bhutan! Akan tetapi mengapa kini pendekar itu menjadi seperti ini, seorang jembel yang sinting?
"Maafkan saya, Paman Wan Tek Hoat.... karena saya tidak mengenal Paman, maka saya telah bertindak kurang ajar. Akan tetapi Paman.... ah, mengapa keadaan Paman menjadi seperti ini....?"
Cin Liong berkata sambil menjura dengan sikap hormat, hal yang membuat Ci Sian menjadi bengong terheran-heran. Orang seperti jembel yang sinting itu memang Wan Tek Hoat. Karena himpitan kecewa dan duka karena asmara gagal,
Pendekar ini akhirnya menjadi seperti orang sinting, suka tertawa dan menangis, dan hidup tidak mempedulikan apa pun, bahkan tidak peduli akan keadaan dirinya yang sepertl jembel itu! Kadang-kadang, kalau dia lagi sendirian di tempat sunyi, teringatlah dia akan semua kebahagiaan yang dinikmatinya, ketika dia berada di samping kekasihnya. Puteri Syanti Dewi, teringatlah dia akan cinta kasih puteri itu kepadanya yang teramat besar, lalu teringat pula dia akan semua penyelewengannya, akan semua perbuatannya yang menyakiti hati Sang Puteri, maka timbullah penyesalan yang amat hebat, yang menghentak-hentak di hatinya, yang menghimpit hatinya dan mendatangkan kedukaan dan kekecewaan serta penyesalan yang hampir tidak kuat ditahannya dan yang membuat dia beberapa kali hampir mengambil keputusan nekat untuk membunuh diri saja!
Hidup ini rasanya seperti dalam neraka baginya! Bertahun-tahun dia menderita, rasa rindu yang menggerogoti kalbu, penyesalan diri yang amat mendalam, kemudian rasa khawatir bahwa kekasihnya itu mungkin kini telah melupakannya, bahkan mungkin sekali kini telah menjadi isteri orang. Semua ini membuat keadaan batin pendekar ini makin lama makin lemah dan tertekan. Sepintas lalu kita akan merasa kasihan kepada pendekar ini. Namun kita lupa bahwa betapa kita sendiri pun hampir setiap hari menghadapi hal-hal yang sama atau tidak jauh selisihnya dengan keadaan Tek Hoat. Hidup di dunia ini begini penuh kesengsaraan, begini penuh konflik dan duka nestapa, hanya kadang-kadang, saja kita dapat menikmati kebahagiaan selintas seperti cahaya kilat diantara awan mendung yang memenuhi angkasa kehidupan.
Kalau kita mau membuka mata melihat kenyataan, di seluruh dunia ini penuh dengan konflik, kebencian, dendam, permusuhan yang tak kunjung habis, bahkan yang kadang-kadang meletus dalam perang yang menewaskan ratusan ribu orang manusia! Bunuh-membunuh, dendam-mendendam yang terjadi di dalam dunia kita ini, dalam jaman modern dan "maju"