Dia telah ditangisli oleh keluarga pamannya itu untuk menyelamatkan pamannya dan anak buahnya. Demikianlah, karena ingin melakukan penyelidikan secara bebas terhadap kedudukan panglima wanita yang lihai itu, maka Cin Liong dengan jalan menyelamatkan Siok Lan dan membiarkan dirinya ditangkap akhirnya dapat diterima sebagai sahabat puteri panglima itu dan memperoleh kebebasan di Lhagat sehingga dia dengan mudah dapat melakukan penyelidikan, apalagi karena dia disuruh tinggal di gedung panglima! Mendengarkan penuturan panglima muda itu, diam-diam Ci Sian menjadi kagum bukan main. Pemuda ini sungguh berani dan juga amat cerdik. Kalau saja dia sendiri tidak mengenal sinar mata mencorong itu, agaknya dia pun tidak nanti akan menduga bahwa pemuda itu adalah jenderal sakti yang datang utuk menolong pasukan yang terkepung itu!
"Dan mengapa engkau begini percaya kepadaku, Ciangkun!".
"Ah, Nona, harap engkau jangan me-nyebutku dengan sebutan ciangkun. Ingat, aku masih menyamar sebagai Liong Cin di sini, maka jangan kau merobah sebutanmu agar tidak menimbulkan kecurigaan. Engkau tentu mau membantu kami, bukan?"
Ci Sian tersenyum. Orang ini begitu percaya kepada diri sendiri!
"Baiklah, Liong Cin.... aih betapa janggalnya menyebut nama palsu orang! Aku ingin sekali tahu mengapa engkau begini percaya kepadaku sehingga engkau telah membongkar rahasiamu kepadaku? Bukankah hal ini berbahaya sekali? Kalau aku membocorkan rahasiamu, bukan saja usahamu akan gagal, pasukan yang terkepung tidak akan dapat diselamatkan, dan engkau sendiri tentu akan tertimpa bencana."
Cin Liong menggeleng kepala.
"Aku yakin bahwa engkau tidak akan melakukan hal itu.
"Bagaimana engkau dapat yakin?"
Ci Sian mendesak.
"Kita baru saja bertemu dan berkenalan, engkau tidak mengenalku, tidak mengenal watakku."
"Nona, di dalam ilmu perang terdapat Ilmu mengenal watak orang dari wajahnya, dari sikap dan gerak-geriknya. Engkau berkepandaian silat tinggi dan wajahmu membayangkan kegagahan, bahwa engkau tidak mungkin berbuat hal-hal yang rendah dan jahat. Pula, aku dapat melihat dari sinar matanya bahwa panglima wanita itu menaruh curiga kepadamu, sungguhpun Nona Siok Lan percaya penuh kepadamu. Dari semua itu saja aku sudah tahu bahwa engkau bukanlah musuh dan dapat menjadi sekutuku."
"Hemm, terus terang saja, aku tidak mau terlibat dalam perang dan permusuhan. Apalagi harus memusuhi Siok Lan yang begitu baik. Aku hanya ingin mencari Lauw-piauwsu."
"Aku berjanji akan mencari piauwsu itu dan membawanya kepadamu asal engkau mau membantuku, Nona."
"Membantu bagaimana?"
"Menutupi rahasiaku."
"Ah, kalau hanya begitu, tentu saja aku tidak keberatan."
Tiba-tiba jenderal muda itu memegang lengan Ci Sian dan menariknya bersembunyi ke balik sebuah batu besar di tanah kuburan itu. Ci Sian hampir menjerit ngeri ketika dia mendapat kenyataan bahwa dia telah ditarik dan mendekam di atas gundukan tanah kuburan! Akan tetapi melihat kesungguhan pemuda itu, dia pun memandang ke depan. Ternyata ada bayangan orang yang berjalan seenaknya ke arah mereka dan bayangan itu mengomel panjang pendek, kemudian setelah dekat, bayangan itu berkata,
"Huh, tahu malu, berkencan di tanah kuburan! Berjanji simpan-simpan rahasia lagi! Persekutuan busuk, ha-ha.... sungguh persekutuan busuk!"
Tentu saja Ci Sian terkejut bukan main. Akan tetapi Cin Liong sudah meloncat keluar dan tanpa banyak cakap dia sudah menyerang dengan totokan ke arah pundak orang itu.
"Desss....!"
Keduanya terdorong ke belakang dan tentu saja Cin Liong terkejut bukan main karena ternyata orang itu memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat, atau setidaknya dapat mengimbangi tenaganya sendiri sehingga ketika orang itu menangkis, dia sampai terpental ke belakang. Sebaliknya orang itu yang juga terpental, lalu tertawa, membalikkan tubuhnya dan melarikan diri dari tanah kuburan yang sunyi itu. Cin Liong yang merasa terkejut dan curiga, cepat melakukan pengejaran. Melihat itu, Ci Sian juga mengejar sekuatnya karena dua orang yang berkejaran itu ternyata dapat berlari secepat angin! Bayangan yang dikejar oleh Cin Liong itu berlari terus dan melompat dinding kota tanpa mempedulikan para penjaga yang banyak berkeliaran di tempat itu. Tentu saja Cin Liong tidak mau melepaskannya karena orang yang lihai itu amat mencurigakan, dan dia terus mengejar.
Demikian pula Ci Sian melakukan pengejaran. Melihat berturut-turut ada tiga bayangan orang berkelebatan meloncati pagar tembok, para penjaga menjadi geger dan mencoba untuk melakukan pengejaran, namun mereka tertinggal jauh dan komandan jaga yang merasa khawatir cepat memberi laporan ke dalam. Sementara itu, bayangan yang dikejar-kejar itu seperti hendak mempermainkan Cin Liong dan Ci Sian yang terus melakukan pengejaran. Kadang-kadang dia tersusul dekat dan terdengar suaranya tertawa-tawa, akan tetapi kemudian tiba-tiba dia melesat jauh sekali dan meninggalkan para pengejarnya. Setelah tiba di sebuah bukit, bayangan itu mendaki naik, akan tetapi ketika tiba di lereng bukit, tiba-tiba dia memutar dan turun kembali, kini bahkan lari ke arah kota Lhagat!
"Gila dia!"
Cin Liong memaki dalam hatinya dan terus mengejar. Karena bulan sepotong sudah turun ke barat, maka malam yang menjadi gelap itu menyulitkan dia untuk dapat menyusul orang itu, sedangkan Ci Sian sudah mandi keringat karena lelah. Mereka berkejaran sampai setengah malam, dipermainkan oleh bayangan itu dan akhirnya, ketika malam terganti pagi dan cuaca tidak gelap lagi, orang itu berhenti berlari, bahkan kini berhenti di tengah jalan menanti para pengejarnya sambil bertolak pinggang dan tertawa-tawa.
Akan tetapi wajahnya yang penuh ditumbuhi jenggot itu juga mengkilap basah oleh peluh, tanda bahwa main berlari-larian itu membuatnya lelah juga! Cin Liong sudah berhadapan dengan orang itu ketika Ci Sian datang terengah-engah dan kedua kakinya terasa lelah dan lemas. Mereka berdua menatap orang yang mempermainkan mereka itu dan diam-diam. Ci Sian terkejut. Untuk ketiga kalinya dia bertemu dengan orang yang matanya mencorong. Pertama adalah mata Kam Hong, ke dua mata Kao Cin Liong dan ke tiga adalah mata orang ini! Dan begitu melihat wajah yang menyeramkan itu, dan melihat bibir yang tersenyum menyeringai di balik jenggot dan kumis yang awut-awutan, tiba-tiba Ci Sian teringat. Dia pernah bertemu dengan orang ini! Akan tetapi dia telah lupa lagi di mana.
"Siapakah engkau?"
Dengan suara penuh wibawa. Cin Liong bertanya sambil menatap tajam. Orang itu berusia tiga puluh tahun lebih, hampir empat puluh tahun agaknya, tubuhnya sedang dan tegap, akan tetapi pakaiannya seperti pakaian pengemis, rambutnya, jenggot dan kumisnya tak terpelihara, awut-awutan, padahal dalam keadaan seperti itupun masih nampak bahwa orang ini memiliki wajah yang gagah dan tampan, terutama sekali sepasang matanya yang tajam dan memancarkan cahaya aneh, akan tetapi kadang-kadang sinar mata itu menjadi suram dan seperti lampu hampir padam diliputi kedukaan. Mendengar pertanyaan itu, orang berpakaian jembel ini tertawa dan ketika dia tertawa, nampak deretan giginya yang kuat dan putih, sungguh berbeda dengan keadaan rambut dan pakaiannya.
"Ha-ha-ha, siapa aku, siapa engkau? Siapa jenderal yang menjadi mata-mata? Siapa yang masih muda menjadi seorang perwira tinggi, mengejar kedudukan? Haha-ha!"
Wajah pemuda itu menjadi merah sekali. Begitu berjumpa dia dimaki orang, orang jembel dam gila lagi, dimaki sebagai pengejar kedudukan!