"Dari.... dari seorang dara...."
Jawabnya.
"Hemm, mengapa dia memberikan kalung ini kepadamu?"
Pemuda itu kelihatan semakin malu.
"Sebetulnya.... hanya kebetulan saja, Li-ciangkun. Ketika itu.... saya melihat seorang gadis menunggang kuda dan kudanya itu terkejut karena bertemu harimau, harimau keparat yang kami kejar-kejar itulah! Dan kudanya terpeleset ke dalam jurang. Kebetulan saya berada di dekat situ dan saya memang sudah siap dengan lasso untuk menangkap harimau, maka saya berhasil mencegah dia terbawa jatuh ke dalam jurang dengan lasso saya...."
Puteri Nandini tidak terkejut karena memang dia tadi sudah menduga demikian. Oleh karena dia menduga bahwa pemuda ini adalah penyelamat puterinya itulah maka dia tadi memerintahkan penjaga membawa pemuda itu ke sini untuk diajak bicara. Akan tetapi sekarang pun dia tidak memperli-hatkan perasaan apa-apa pada wajahnya yang nampak bengis namun masih tetap cantik itu. Tadi sebelum memasuki tempat ini dia sudah diam-diam menyuruh pengawalnya untuk cepat-cepat memanggil Siok Lan ke tempat ini. Puteri Nandini menyuruh pemuda itu menceritakan riwayatnya dan mengapa jauh-jauh ke tempat ini untuk berburu. Pemuda itu bercerita dengan singkat bahwa dia dan rombongannya adalah pemburu-pemburu yang selain memiliki pekerjaan memburu dan hidup dari hasil buruan, juga suka dengan pekerjaan ini.
"Kami sudah banyak menjelajahi daerah-daerah yang terkenal memiliki binatang-binatang aneh dan buas. Kami sebetulnya tiba di sini karena tertarik oleh berita tentang binatang atau mahluk aneh yang dinamakan Yeti atau dikabarkan sebagai manusia salju di daerah Himalaya. Akan tetapi ternyata kami tidak berhasil menjumpai mahluk itu maka kami memburu harimau dan lain-lain binatang buas di bukit itu."
Demikian antara lain pemuda itu bercerita.
Dia mengaku she Liong bernama Cin dan sebagai seorang pemburu yang banyak bertualang ke tempat-tempat jauh, dia menguasai bahasa Tibet, bahkan sedikit dia dapat berbahasa Nepal. Selagi mereka bicara, terdengar suara derap kaki dua ekor kuda di luar rumah penjagaan itu dan tak lama kemudian masuklah dua orang dara ke dalam ruangan itu. Mereka ini bukan lain adalah Siok Lan dan Ci Sian. Siok Lan datang dengan cepat setelah menerima panggilan ibunya dan dia mengajak Ci Sian, apalagi ketika mendengar dari pengawal itu bahwa para penjaga menangkap seorang pemuda yang mengaku sebagai seorang pemburu dan kini sedang diperiksa oleh panglima. Begitu mereka masuk dan melihat Liong Cin, Siok Lan segera berkata kepada Ci Sian,
"Benar, dia!"
Lalu dia menghampiri ibunya.
"Ah, Ibu, mereka salah tangkap! Dia ini adalah pemburu yang pernah meyelamatkan aku dulu!"
Puteri Nandini mengangguk.
"Aku sudah menduganya, hanya menanti kedatanganmu untuk kepastiannya."
Lalu Sang Puteri ini memandang kepada pemuda itu, tersenyum dan berkata.
"Orang muda, kau maafkan kesalahan para penjaga kami. Akan tetapi engkau juga bersalah mengapa mengejar buruan sampai dekat dengan perkemahan kami. Harap beritahu kawan-kawanmu agar jangan mendekati tempat ini."
Liong Cin menggeleng kepalanya dengan sedih.
"Tidak mungkin mereka berani mendekat ke sini, Li-ciangkun. Setelah mendengar atau melihat saya ditangkap, saya berani memastikan bahwa mereka tentu sudah lari ketakutan dan tidak akan kembali lagi ke tempat ini."
Panglima itu mengerutkan alisnya dan memandang tajam.
"Kalau begitu engkau ditinggalkan oleh teman-temanmu?"
Liong Cin mengangguk.
"Selama ini kami memang sudah khawatir melihat betapa tempat buruan kami dekat dengan medan perang dan sudah sering kali kami beruding untuk pergi saja. Akan tetapi harimau itu...."
"Sudahlah, orang muda. Aku menyesal bahwa engkau terpaksa ditinggalkan teman-temanmu. Sekarang engkau boleh bebas. Engkau adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi, harap kau suka melepaskan belenggu tangan dan kakimu sendiri."
Panglima itu mencoba. Akan tetapi pemuda itu menggeleng kepala dan mukanya menjadi merah.
"Harap Li-ciangkun tidak main-main. Mana mungkin saya dapat melepaskan diri dari belenggu yang sekuat ini?"
"Tapi engkau telah mampu menyelamatkan puteriku."
"Itu lain lagi, Li-ciangkun. Saya memang mempelajari ilmu mempergunakan tali lasso, akan tetapi untuk mematahkan belenggu-belenggu ini.... sungguh saya tidak sanggup melakukannya."
Panglima itu tersenyum.
Senyumnya hanya sebentar saja, seperti kilatan cahaya di hari mendung. Lalu dihampirinya pemuda itu dan dengan kedua tangannya panglima wanita itu mematah-matahkan belenggu kaki tangan itu sedemikian mudahnya, seperti mematahkan ranting-ranting kecil saja! Pemuda itu terbelalak penuh kaget dan kagum menyaksikan kehebatan tenaga panglima wanita ini. Dan memang itulah yang dikehendaki oleh Puteri Nandini, agar pemuda ini terkejut dan jerih sehingga tidak akan berani melakukan hal-hal yang dapat merugikan pasukan Nepal. Biarpun dia percaya kepada pemuda ini, akan tetapi pemuda ini adalah bangsa Han, maka sudah tentu saja sedikit banyak dia masih bersikap hati-hati dan curiga. Siok Lan menghampiri pemuda itu dan berkata dengan suara menyesal.
"Harap kau suka memaafkan, Liong Cin. Karena ingin berhati-hati, para pasukan penjaga telah salah tangkap, engkau yang menjadi penolongku malah disangka mata-mata musuh."
Liong Cin juga tersenyum dan menjura.
"Tidak mengapa, Nona. Ini malah merupakan penambahan pengalamanku, hanya sayang.... sahabat-sahabatku telah pergi meninggalkan aku di sini....
"Kalau begitu, mari ikut bersama kami ke Lhagat."
Siok Lan mengajak dan sebelum pemuda itu menjawab, dara ini sudah berpaling kepada ibunya.
"Ibu, harap Ibu perkenankan Liong Cin untuk ikut bersama kita ke Lhagat, sekedar untuk membalas budinya dan untuk minta maaf kepadanya atas perlakuan kita yang tidak semestinya terhadap seorang penolong."
Siok Lan memang pandai bicara dan ibunya tidak dapat menolak, tidak enak untuk menolak setelah puterinya mengeluarkan kata-kata seperti itu. Biarpun, di dalam hatinya dia tidak setuju karena hal itu memungkinkan adanya bahaya kalau-kalau pemuda ini benar-benar kaki tangan musuh, namun mana mungkin dia menolak dengan adanya kenyataan bahwa pemuda ini telah menyelamatkan puterinya, kemudian malah ditangkap karena disangka mata-mata?
Menolaknya sama dengan menampar muka sendiri! Siok Lan sudah meneriaki pengawal minta seekor kuda untuk Liong Cin dan tak lama kemudian, Siok Lan, Ci Sian, dan Liong Cin sudah membalapkan kuda mereka menuju ke Lhagat. Di sepanjang perjalanan, Ci Sian tidak pernah bicara kepada Liong Cin, akan tetapi diam-diam dia amat memperhatikan pemuda itu dan dia pun melihat betapa terjadi perubahan besar pada diri Siok Lan. Dara ini kelihatan amat gembira sekali, sikapnya menjadi semakin lincah dan jenaka! Mulai saat itu, Liong Cin diterima sebagai seorang tamu terhormat, atau juga seorang sahabat baik dari Siok Lan, dan diberi sebuah kamar tersendiri di dalam gedung tempat tinggal panglima itu.
Puteri Nandini sendiri yang mengusulkan hal ini, pada lahirnya dia hendak bersikap baik terhadap pemuda yang pernah menyelamatkan nyawa puterinya itu, akan tetapi di dalam hatinya dia menghendaki agar pemuda itu tinggal di gedung karena dengan demikian akan lebih mudah baginya untuk mengawasi gerak-geriknya. Juga dia melihat betapa agaknya puterinya tertarik kepada pemuda itu, dan mengingat bahwa pemuda itu, biarpun harus diakuinya bahwa pemuda itu tampan dan gagah, hanya seorang pemburu biasa saja, maka sudah tentu hatinya tidak rela dan dia pun ingin mengamat-amati hubungan antara puterinya dan pemuda itu. Mula-mula Liong Cin menolak halus dan menyatakan bahwa dia tidak ingin mengganggu keluarga panglima itu, akan tetapi Siok Lan cepat mendesaknya.
"Saudara Liong Cin, sudah jelas kini dari pelaporan para penyelidik bahwa benar seperti dugaanmu, semua kawanmu, rombongan pemburu yang tadinya berkemah di bukit itu telah melarikan diri semua, entah ke mana. Oleh karena itu, tidak baik kalau engkau pergi mencari mereka, dalam keadaan gawat dan dalam ancaman perang ini. Sebaiknya engkau beristirahat dulu di sini bersama kami, kelak kalau keadaan sudah aman barulah engkau pergi mencari kawan-kawanmu. Setidaknya, berilah kesempatan kepadaku untuk menyatakan terima kasih. dan membalas budimu."
Meghadapi ucapan Siok Lan ini, Liong Cin tidak dapat membantah dan demikianlah, mulai hari itu dia tinggal di gedung panglima dan diperlakukan sebagai seorang tamu terhormat dan memperoleh kebebasan. Dia bergaul dengan akrab sekali dengan Siok Lan, dan tentu saja Ci Sian juga sering menemani mereka bercakap-cakap, akan tetapi agaknya di antara dua orang muda ini, keduanya merupakan tamu dan sahabat Siok Lan, terdapat sesuatu yang membuat mereka agak renggang. Ada celah di antara keduanya, dan kadang-kadang mereka saling pandang dengan sinar mata membayangkan kecurigaan dan keraguan.
Memang sesungguhnyalah, Ci Sian menaruh rasa curiga kepada pemuda itu, rasa curiga yang sama sekali bukan tanpa alasan. Semenjak pemuda itu datang, dia selalu mengamati gerak-geriknya dan biarpun dia melakukan hal ini secara diam-diam, agaknya terasa juga oleh Liong Cin sehingga pemuda ini pun merasa tidak enak terhadap Ci Sian. Bahkan semenjak Liong Cin berada di gedung itu, setiap malam Ci Sian kurang dapat tidur nyenyak karena pikirannya selalu membayangkan pemuda itu dengan penuh curiga, dan sering kali dia bahkan diam-diam keluar dari dalam kamarnya untuk bersembunyi dan melakukan pengintaian! Dan beberapa hari kemudian, pada suatu malam kecurigaannya ini memperoleh bukti.
Dia melihat bayangan berkelebat cepat dan dia dapat mengenal Liong Cin yang bergerak cepat melakukan penyelidikan di dalam gedung dan keluar dari gedung itu menuju ke taman bunga dengan sikap yang mencurigakan sekali. Akan tetapi, pemuda itu ternyata lihai bukan main. Biarpun Ci Sian sudah membayangi dengan amat hati-hati, mengerahkan gin-kangnya sehingga tubuhnya bergerak cepat dan ringan tanpa menimbulkan suara berisik, agaknya pemuda itu telah tahu bahwa ada orang yang membayanginya dan tiba-tiba pemuda itu berhenti dan menoleh ke belakang, tahu-tahu telah berhadapan dengan Ci Sian yang bersembunyi di balik pohon dan semak-semak! Keduanya terkejut ketika saling berhadapan itu. Sejenak mereka hanya saling pandang dengan alis berkerut tanpa dapat mengeluarkan kata-kata. Akhirnya Ci Sian tersenyum berkata.
"Terkejut? Aku tahu siapa engkau, Liong Cin!"
Pemuda itu memandang dengan sinar mata penuh selidik.
"Apa maksudmu? Tentu saja engkau mengenalku. Aku sedang jalan-jalan dan kau mengejutkan aku, Nona...."
"Hemm, tak perlu engkau berpura-pura sebagai pemburu yang tolol! Engkaulah Si Pengail yang kami tanya tentang perajurit itu, dan engkau pula perajurit yang membunuh perwira yang hendak memperkosa wanita itu, engkau mata-mata...."
Cepat seperti kilat tangan pemuda itu sudah menangkap pundak Ci Sian dan jari-jari tangan kirinya sudah menempel di ubun-ubun kepala dara itu, ancaman maut mengerikan karena sekali jari-jari tangan itu bergerak, dara itu pasti akan tewas seketika! Ci Sian sendiri terkejut bukan main karena biarpun dia sudah waspada, ternyata dia sama sekali tidak mampu mengelak atau menangkis, dan tahu-tahu dia sudah "ditodong"