Halo!

Suling Emas Naga Siluman Chapter 79

Memuat...

"Siluman betina! Engkau tentu mata-mata jahat!"

Dan dia pun lalu menyerang kembali dengan ganas. Marahlah hati Ci Sian.

Tadi dia bermaksud memberi hajaran saja, akan tetapi melihat lagak orang ini yang agaknya mengandalkan para penjaga itu, dia makin menjadi muak dan begitu golok berkelebat, dia mengelak dan tangannya menyusup masuk melalui bawah sinar golok.

"Kekk!"

Tubuh tinggi besar itu terbungkuk dan roboh menelungkup, goloknya terlepas dari tangannya. Ci Sian menginjakkan kaki kanannya di atas punggung bawah tengkuk Su Khi dan jagoan itu tidak dapat berkutik lagi! Dia merasa seolah-olah punggungnya tertindih benda yang beratnya ratusan kati, membuat dia sukar dapat bernapas dan dia hanya mengeluh terengah-engah seperti babi terhimpit. Pada saat itu, belasan orang penjaga sudah datang dekat dan mereka telah mencabut golok masing-masing, dengan sikap mengancam mereka mendekati Ci Sian.

"Kalian mau apa?"

Bentak Ci Sian menatap para penjaga itu dengan marah.

"Kau mata-mata....?"

Para penjaga membentak,

"Lepaskan dia, dia adalah sahabat kami!"

"Huh, siapa tidak mendengar bahwa kalian sudah makan sogokan dari jahanam ini?"

Ci Sian balas membentak. Kepala pasukan lalu membentak marah.

"Serang! Tangkap dia!"

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara nyaring,

"Tahan!"

Dan di situ telah muncul Siok Lan yang menatap para penjaga dengan muka merah dan mata marah. Wanita cantik ini berdiri dengan sikap tenang dan menyilangkan kedua lengan di atas dadanya, lalu berkata dengan lantang,

"Siapa yang hendak menyerang dan menangkap sahabatku ini?"

Para penjaga terkejut ketika melihat munculnya Siok Lan. Kepala penjaga itu dengan golok di tangan menunjuk kepada Ci Sian,

"Maaf, tapi dia.... dia itu.... telah menganiaya Su Khi...."

"Hemm, kalian menjadi kaki tangan penjahat ini, ya?"

Bentak Siok Lan dan wanita ini menyambung sambil berteriak nyaring.

"Hayo berlutut, kalian manusia-manusia busuk!"

Empat belas orang penjaga itu terkejut bukan main. Cepat-cepat mereka menjatuhkan diri berlutut. Siok Lan mengangkat tangan kanan ke atas dan muncullah beberapa orang pengawal.

"Mereka ini telah biasa makan suap dari penjahat, maka sudah sepatutnya diberi hukuman. Cambuk mereka masing-masing sepuluh kali dan komandan mereka lima belas kali!"

Tentu saja empat belas orang penjaga itu menjadi ketakutan, akan tetapi mereka tidak berani membangkang. Lima orang pengawal lalu membuka baju mereka dan tak lama kemudian terdengarlah bunyi cambuk meledak-ledak ketika lima orang pengawal itu menjatuhkan hukuman itu, di tempat terbuka dan terlihat oleh semua orang. Darah mengalir dari kulit-kulit punggung yang pecah-pecah dan terdengar rintihan-rintihan kesakitan. Setelah hukuman itu dijalankan, Siok Lan berkata kepada Ci Sian.

"Adik Sian, kau lepaskan jahanam itu."

Ci Sian melepaskan injakan kakinya dan Su Khi merangkak bangun dengan mulut merah karena dia tadi sampai muntah darah.

"Sekarang kuserahkan jahanam itu kepada kalian dan boleh kalian perbuat sesuka hati kalian terhadap dia. Awas, sekali lagi kalian makan suapan, aku akan minta kepada Ibu agar kalian dihukum penggal kepala!"

Kata Siok Lan. Empat belas penjaga itu menghaturkan terima kasih, kemudian seperti serigala-serigala kelaparan mereka lalu menangkap Su Khi.

"Tidak.... tidak.... jangan.... ampunkan aku....!"

Orang itu berteriak-teriak dan meronta-ronta, namun empat belas orang yang telah menerima hukuman yang amat nyeri itu kini menimpakan semua dendam mereka kepada Su Khi. Tak lama kemudian, di luar kota, Su Khi ditelanjangi dan dicambuki oleh empat belas orang itu sampai kulit tubuhnya pecah-pecah dan dia tewas dalam keadaan mengerikan! Semenjak terjadi peristiwa itu, nama Ci Sian dikenal. Baru sekarang mereka tahu bahwa gadis bangsa Han itu menjadi sahabat baik dari puteri panglima dan bahwa dara cantik itu ternyata memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat!

Akan tetapi, para pendekar merasa bersyukur juga bahwa dara itu ternyata berani membela penduduk, bahkan puteri panglima itu pun telah memperlihatkan keadilan di depan rakyat. Menurut pendapat Siok Lan dan ibunya, Su Khi malah dianggap sebagai kaki tangan mata-mata yang sengaja menimbulkan kekeruhan di Lhagat! Memang, semenjak terjadinya pencurian di dalam kamar kerja panglima oleh seorang maling yang berilmu tinggi itu, setiap orang dicurigai dan setiap hari para pengawal menangkapi orang-orang yang dicurigai sehingga penjara menjadi penuh menampung orang-orang tangkapan baru ini. Puteri Nandini sebagai panglima yang paling merasa terpukul dengan adanya pencurian benda-benda penting dari kamar kerjanya, bertindak keras,

Bahkan setiap kali ada orang tangkapan baru, dia sendiri datang untuk memeriksa. Ingin sekali dia dapat menemukan maling yang telah memasuki kamar kerjanya itu. Ketika pada suatu pagi ada laporan bahwa tertangkap pula seorang pemuda yang amat mencurigakan karena malam-malam pemuda itu berkeliaran di dekat bukit tempat tentara musuh terkurung, cepat panglima itu berpakaian, naik kuda dan datang sendiri ke tempat penangkapan itu. Begitu panglima itu tiba di tempat penjagaan, para penjaga mendorong seorang pemuda yang kedua kakinya dibelenggu, demikian pula kedua lengannya. Seorang pemuda yang tampan dan berpakaian sederhana, berwajah terang dan sama sekali tidak menunjukkan wajah seorang jahat.

Akan tetapi justeru wajah demikian ini yang menimbulkan kecurigaan, karena bukankah yang dikirim oleh pihak musuh adalah orang-orang pandai dan mungkin saja orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi? Dari atas kudanya, panglima wanita itu mengamati pemuda tawanan itu dengan penuh perhatian. Pemuda seperti ini memang pantas menjadi seorang utusan, karena biarpun nampaknya seorang yang lemah, namun sinar matanya berkilat membayangkan kekuatan dan kecerdasan. Komandan jaga maju memberi hormat kepada panglima wanita itu lalu melaporkan bahwa pemuda itu pagi-pagi sekali tadi ditangkap ketika sedang menyusup-nyusup seorang diri di dekat perkemahan para penjaga yang sedang bertugas mengurung bukit di mana pihak musuh terjebak itu.

"Alasannya adalah mencari jejak binatang buruan dan setelah kami menggeledahnya, kami tidak menemukan senjata pada dirinya, melainkan kalung ini."

Komandan jaga menutup laporannya sambil menyerahkan seuntai kalung kepada panglimanya.

Puteri Nandini menerima kalung itu dan menyembunyikan kagetnya ketika dia mengenal kalung itu. Sebuah kalung dengan hiasan berbentuk sebatang bunga teratai emas terhias permata. Tentu saja dia mengenalnya karena kalungnya itu adalah kalungnya sendiri di waktu muda dan yang sudah diberikannya kepada puterinya, Siok Lan! Diam-diam dia terkejut dan marah, dan hampir saja dia berteriak membentak pemuda itu untuk bertanya dari mana pemuda itu memperoleh kalung puterinya. Akan tetapi dia masih sempat menahan diri dan tidak mau membuka rahasia puterinya sehingga kalau terdengar oleh para penjaga bahwa kalung puterinya berada pada pemuda ini, tentu akan menimbulkan prasangka yang buruk.

"Kau seorang pemburu?"

Panglima itu bertanya tanpa turun dari atas punggung kudanya. Pemuda itu mengangguk.

"Benar, Li-ciangkun. Saya adalah seorang di antara para pemburu di bukit sebelah sana itu."

"Kenapa kau berkeliaran di sini?"

"Semalam kawan-kawan saya mengepung seekor harimau yang amat buas dan yang sudah lama kami coba untuk menangkapnya. Akan tetapi harimau itu dapat lolos dan saya mengikuti jejaknya sampai ke sini, tahu-tahu saya ditangkap...."

"Hemm, mengikuti jejak harimau dengan pakaian seperti itu? Pakaianmu bukan seperti pakaian pemburu!"

"Maaf, karena semalam saya memang sudah hendak tidur, sudah terlalu lelah memburu pada siang harinya. Akan tetapi mendengar suara ribut-ribut para kawan, saya terbangun dan ikut mengejar harimau yang lolos...."

Panglima wanita itu lalu memerintahkan untuk menahan pemuda itu di dalam kamar tahanan di tempat penjagaan itu.

"Aku hendak memeriksanya sendiri,"

Katanya dan dia pun meloncat turun dari atas kudanya, mengikuti para penjaga yang mendorong pemuda itu tawanan itu memasuki rumah penjagaan. Setelah menyuruh semua penjaga pergi, Puteri Nandini memandang kepada pemuda yang disuruh duduk di depannya itu dengan sinar mata penuh selidik. Kemudian dia mengeluarkan kalung dari saku bajunya dan memperlihatkannya kepada pemuda itu.

"Darimana engkau memperoleh kalung itu?"

Tanyanya halus, akan tetapi pandang matanya seperti hendak menembus dada menjenguk isi hati. Pemuda itu nampak tenang-tenang saja, hanya agak kemalu-maluan mendengar pertanyaan ini.

Post a Comment