Seruan ini disusul suara bersiutan dan Pouw-kai-ong telah memutar sebatang tongkat yang berubah menjadi segulung sinar hitam. Ketika Pouw-kai-ong menerjang kekanan sambil menggerakkan tongkatnya, terdengar seruan kaget dan kesakitan.
Liong-lokai dan dua orang temannya sudah mengeluarkan senjata masing-masing, akan tetapi begitu sinar bergulung-gulung berwarna hitam itu datang, dan mereka menangkis, ternyata tubuh Liong-lokai berikut toyanya terlempar kebelakang sedangkan dua orang muridnya roboh dan tewas! Baiknya Liong-lokai tadi dapat menangkis dengan toyanya dan ketika terlempar masih dapat menggulingkan tubuh, kalau tidak tentu ia menjadi korban pula.
"Ha-ha-ha, tikus-tikus busuk!"
Pouw-kai-ong berseru sambil tertawa-tawa dan memutar tongkatnya membalikkan tubuh karena pada saat itu, belasan orang telah mengeroyok.
Hanya Yu Kang seoranglah yang merupakan lawan berat dalam pengeroyokan ini. Yang lain-lain hanyalah lawan lunak bagi Pouw-kai-ong sehingga enak saja ia membabat dengan tongkatnya. Dalam waktu kurang dari seperempat jam, sepuluh orang anggota pengemis telah roboh terluka berat atau tewas. Kini tinggal Liong-lokai, Yu Kang, dua orang saurdara Bhong, dan tiga orang pengemis lain yang masih bertahan. Namun mereka terdesak hebat, hanya mampu menangkis saja karena tongkat di tangan Pouw-kai-ong benar-benar luar biasa sekali! Suling Emas tidak tega melihat ini. Kalau ia diamkan saja, tentu tujuh orang itu lama-lama akan roboh semua. Ia mengeluarkan suara melengking tinggi, tubuhnya mencelat kedepan dan begitu ia menggerakkan sulingnya menangkis tongkat, Pouw-kai-ong berseru keras dan meloncat mundur sampai empat lima meter jauhnya.
"Siapa kau??"
Bentaknya. Suling Emas tidak mempedulikannya, melainkan menoleh ke belakang dan berkata,
"Harap rawat teman-temanmu yang terluka, biar kulayani dia sendiri!"
Setelah berkata demikian, Suling Emas menerjang maju, menyerang dengan sulingnya sambil berkata.
"Keparat she Pouw, dosamu sudah bertumpuk!"
Pouw-kai-ong terkejut menyaksikan berkelebatnya sinar kuning emas yang begitu cepatnya, dan lebih kaget lagi ia begitu ketika menangkis dengan tongkat, tangan kanannya tergetar. Hebat lawan ini, pikirnya. Ketika ia memandang dan mendapat kenyataan bahwa lawannya hanya seorang muda yang takkan lebih dari dua puluh lima tahun usianya, ia merasa penasaran dan melihat suling emas itu, tiba-tiba ia teringat.
"Setan! Kau murid Kim-mo Taisu...??"
"Orang tua jahat, tak usah banyak cerewet!"
Suling emas merasa ngeri menyaksikan muka Raja Pengemis itu yang menyeringai menyeramkan. Pouw-kai-ong berusia lima puluh tahun kurang lebih, pakaiannya tambal-tambalan akan tetapi amat indah kembang-kembangnya, mukanya sudah berkeriput, rambutnya licin ditutup pembungkus kepala dari sutera, matanya berkilat-kilat seperti mata setan dan gerakan tongkatnya memang luar biasa cepat dan beratnya.
Pertandingan antara dua orang sakti ini hebat luar biasa. Yu Kang sendiri yang sudah banyak menerima gemblengan orang-orang sakti, berdiri tertegun dan diam-diam harus ia akui bahwa seorang diri, tak mungkin ia dapat menangkan Raja Pengemis itu. Dengan kepandaiannya yang cukup tinggi, kalau ia maju membantu Suling Emas, tentu kakek jahat itu dapat dirobohkan dengan mudah, akan tetapi ia tahu dan mengenal watak Suling Emas yang tentu tidak mau dibantu. Maka ia hanya menonton penuh kekaguman, sedangkan Liong-lokai dan anak muridnya merawat mereka yang terluka dan tewas. Suling Emas sudah mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan Ilmu Pedang Pat-sian Kiam-hoat yang hebat. Gerakannya selain cepat, juga mengandung tenaga mujijat sehingga sulingnya mengeluarkan suara melengking seperti ditiup orang.
Namun, kelebihannya dalam ilmu silat sakti ini diimbangi oleh kelebihan Pouw-kai-ong dalam pengalaman dan kematangan. Suling Emas belum lama menguasai ilmunya, sedangkan Pouw-kai-ong sudah matang, sudah digembleng dalam pertandingan-pertandingan berat. Maka hebatlah pertandingan ini yang sekaligus merupakan ujian berat bagi Suling Emas. Tubuh kedua orang sakti itu sudah tak dapat dilihat lagi, lenyap terbungkus gulungan sinar senjata mereka! Biarpun pertandingan itu mengerikan dan merupakan pertandingan mati-matian, namun kelihatannya amat indah di malam bulan purnama itu! Perawatan terhadap mereka yang terluka sudah selesai dan kini Liong-lokai dan Yu Kang berdiri dengan mata terbelalak kagum.
"Bukan main... sungguh hebat...!"
Bisik kakek jembel itu penuh keheranan dan kekaguman.
"Suling Emas benar,"
Kata Yu Kang.
"Kepandaian iblis itu benar-benar hebat sekali. Pantas saja ayah sekeluarga terbasmi habis...!"
"Mengapa kita tidak menyerbu sekarang? Kesempatan baik terbuka..."
"Tidak, Liong-lokai. Tidak boleh kita menggunakan keadaan ini mencari kemenangan. Hal itu akan merupakan penghinaan bagi Suling Emas. Dia berwatak aneh, akan tetapi patut dihormati. Mari kita kurung Si Iblis agar dia jangan sampai dapat melarikan diri!"
Tujuh orang sisa rombongan pengemis itu segera mengurung, siap dengan senjata masing-masing. Yu Kang bersenjatakan sebatang pedang, Liong-lokai bersenjatakan toya kuningan, tiga orang muridnya juga bersenjatakan toya, sedangkan dua orang saudara Bhong yang kehilangan tiga saudaranya itu bersenjatakan golok. Untuk mengalahkan Pouw-kai-ong dengan ilmu silatnya, Suling Emas kurang matang latihannya. Akan tetapi berkat tenaga sin-kang yang hebat didalam tubuhnya, ia berhasil mendesak lawannya itu yang mulai terengah-engah dan bermandi peluh.
"Bocah setan, mampuslah!"
Saking marahnya, Pouw-kai-ong lalu mengerahkan tenaganya dan menghantam dengan tongkatnya kearah kepala Suling Emas dengan gerakan memutar. Sebuah serangan yang luar biasa hebatnya merupakan jurus maut tanpa memperhatikan pertahanan diri lagi. Agaknya Pouw-kai-ong sudah nekat, apalagi melihat betapa sisa rombongan pengemis tadi sudah mengurungnya. Suling Emas mengangkat sulingnya menangkis.
"Plakk...!!"
Sepasang senjata ampuh bertemu dan... tubuh Pouw-kai-ong terhuyung kebelakang, tongkatnya patah-patah! Suling Emas juga tidak mengejar, hanya berdiri sambil meramkan kedua mata mengumpulkan tenaga. Pertemuan tenaga lewat senjata tadi benar-benar hebat, membuat dadanya sesak dan agak sakit. Mendadak terdengar suara hiruk-pikuk dan ketika Suling Emas membuka matanya, ia melihat tujuh orang itu sudah menyerbu sambil berteriak-teriak. Suling Emas menarik napas panjang dan melompat mundur, menonton dari tempat persembunyiannya yang tadi. Setelah ia tidak bertanding dengan Raja Pengemis itu, tentu saja ia tidak dapat menghalangi mereka mengeroyok Pouw-kai-ong.
Agaknya rombongan pengemis yang dipimpin Yu Kang dan Lionglokai itu ketika melihat Pouw-kai-ong terhuyung mundur dan tongkatnya sudah patah-patah, segera menyerang. Namun Si Raja pengemis adalah seorang yang sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Memang kini senjatanya sudah rusak dan dadanya terasa sesak sekali, akan tetapi, menghadapi pengeroyokan tujuh orang itu, ia sama sekali tidak gentar. Bahkan diantara hujan senjata itu ia bergerak sambil memekik, kedua kaki tangannya bergerak dan... kembali dua orang murid Liong-lokai roboh terguling! Pada saat itu terdengar sorak-sorai gemuruh dan bermunculanlah puluhan, bahkan ratusan orang pengemis yang serta merta mengeroyok Poouw-kai-ong! Mereka ini adalah rombongan-rombongan pengemis yang tadi sudah diberi kabar melalui teman-teman oleh Liong-lokai sehingga dari pelbagai penjuru datanglah mereka yang ingin sekali melihat Si Raja Pengemis yang dibenci menemui kematiannya.
Pouw-kai-ong terkejut sekali. Matanya jelalatan hendak mencari jalan keluar, namun ia sudah terkurung rapat. Birpun ia lihai, namun menghadapi ratusan orang pengemis yang mengurungnya rapat dengan senjata ditangan, benar-benar merupakan ancaman maut yang mengerikan. Ia mengamuk dan lagi-lagi ia merobohkan beberapa orang. Bahkan Yu Kang yang maju paling dekat, telah kena pukulan tangannya sehingga tulang pundak kiri Yu Kang patah! Juga Liong-lokai kena hantaman lambungnya, membuat kakek ini terlempar dan roboh tak bernyawa lagi di saat itu juga. Masih banyak lagi korbannya, ada belasan orang. Namun ia sendiri mulai terkena pukulan, dari kanan kiri, dari depan belakang. Pouw-kai-ong terhuyung-huyung, mandi darah tapi masih terus mengamuk. Bacokan-bacokan dan hantaman-hantaman ruyung datang bagaikan hujan, bajunya sudah compang-camping, tubuhnya penuh darah. Akhirnya ia roboh! Masih saja mereka menghujani senjata.
"Berhenti...!!"
Tiba-tiba Suling Emas melayang dan tiba didekat Pouw-kai-ong. Sekali sulingnya bergerak, tampak sinar kuning emas dan semua senjata yang ditujukan kepada tubuh yang mandi darah itu terpental.
"Wah, ini konconya! Keroyok...!!"
Teriak seorang pengemis.
"Jangan! mundur semua!!"