Halo!

Suling Emas Chapter 187

Memuat...
ID
ID
ID

Yu Kang mengangguk-angguk, sepasang alisnya yang tebal berkerut-kerut.

"Aku pun sudah menyelidiki dan mendengar bahwa Si Keparat she Pouw itu amat lihai. Kau yang sudah bertanding dengannya, tentu dapat menilainya dengan tepat, Kim-siauw-eng, dan aku percaya. Kalau kau yang begini lihai masih mengaguminya, tentulah ia merupakan lawan yang amat tangguh. Akan tetapi, aku tidak akan mundur setapak, kalau perlu nyawaku kupertaruhkan untuk membalas kematian seluruh keluarga ayahku."

Yu Kang mengepal tinju, mukanya merah dan matanya berapi-api.

"Yu-tai-hiap..."

"Harap Liong-lokai jangan menyebut aku Tai-hiap (Pendekar Besar)!"

Yu Kang memotong kata-kata kakek itu dengan sengit.

"Aku hanyalah seorang pengemis jembel yang tiada guna!"

Memang watak Yu Kang keras dan jujur, tanpa dipalsukan tata cara dan sopan santun. Mungkin sakit hatinya dan malapetaka yang menimpa keluarganya membuat ia berwatak seperti itu.

"Baiklah, Yu-hiante. Harap jangan berkecil hati. Kalau kita maju bersama dan minta bantuan Kim-siauw-eng dan orang-orang gagah lainnya, kiranya Si Keparat Pouw itu akan dapat dibasmi."

"Hemm, terserah kau orang tua yang mengaturnya."

Akhirnya Yu Kang berkata sambil duduk kembali, menyambar paha angsa panggang dan menenggak araknya. Liong-lokai lalu menjura kepada Suling Emas.

"Kami mohon dengan hormat sudilah kiranya Kim-siauw-eng membantu usaha kami membalas dendam, mengeroyok Si Keparat she Pouw yang jahat."

Suling Emas tersenyum dan menggeleng kepalanya.

"Mana bisa begitu, Lo-kai? Tak mungkin aku mengeroyok lawan."

"Akan tetapi, bukankah Kim-siauw-enghiong juga memusuhinya?"

"Betul. Seperti telah kukatakan tadi, aku bolehlah dimasukkan sebagai seorang diantara musuh-musuhnya. Akan tetapi aku tidak mempunyai dendam pribadi dengannya. Siapa saja yang jahat, boleh dianggap musuhku, karena kalau dia tidak bisa diinsyafkan, tentu akan kugunakan kekerasan mencegah si jahat merajalela menindas si lemah. Karena itu, berbeda sekali dengan kalian, aku tidak menaruh dendam dan aku hanya akan menghadapinya satu lawan satu. Tak mungkin aku sampai hati melakukan pengeroyokan terhadap lawan yang betapapun juga lihainya."

Tiba-tiba Yu Kang menghentikan gerakannya makan paha panggang. Ia memandang tajam kearah Suling Emas, lalu mengangguk-angguk dan berkata murung,

"Benar sekali, Suling Emas! Aku sendiri pun, kalau tidak dimabok dendam kesumat, tidak sudi mengeroyok orang. Akan tetapi, kalau maju sendiri tidak menang sampai kapan dapat membalas dendam? Dendamku jauh lebih besar daripada segala macam aturan pertandingan."

Agaknya ucapannya ini berlawanan dengan wataknya yang gagah, maka untuk mencuci rasa malu, Yu Kang menggelogok arak sebanyaknya kedalam perutnya!

"Akan tetapi, menghadapi seorang penjahat keji macam Pouw-kai-ong, bagaimana harus mengingat akan peraturan? Dia membunuhi orang, merampas kai-pang, mengangkat diri sendiri menjadi raja pengemis, kemudian merampas anak gadis orang tanpa melamar, memaksa kami menjadi pengemis, apakah semua perbuatannya itu menurutkan aturan? Bukankah orang bijaksana jaman dahulu mengatakan bahwa kebaikan dibalas dengan kebaikan berganda, akan tetapi kejahatan harus dibalas dengan keadilan? Dan terhadap seorang keji jahat macam Pouw-kai-ong, apakah yang lebih adil daripada mengeroyoknya dan menghukumnya bersama?"

"Sudahlah, Liong-kai!"

Tiba-tiba Yu Kang berkata keras.

"Orang yang tidak mau, apa gunanya dipaksa-paksa? Biarlah siapa yang mendiamkan saja kejahatan merajalela, dia itu membantu kejahatan! Apalagi, urusan ini adalah urusan kita para pengemis, mana seorang kongcu terpelajar mau mencampuri urusan segala jembel?"

Hening sejenak setelah Yu Kang mengeluarkan kata-kata yang keras, jujur tanpa tedeng-tedeng lagi ini. Para pengemis tua itu merasa khawatir, kalau-kalau Suling Emas akan menjadi marah. Namun, Suling Emas bukanlah seorang yang mudah marah. Gemblengan hidup membuat ia kuat bertahan akan segala serangan. Pula, ia dapat membedakan mana emas mana tembaga dan tahu bahwa di balik sikap kasarnya, Yu Kang adalah seorang gagah.

"Yu-twako, ucapanmu memang benar sekali. untuk mengeroyok orang, biar dipaksa-paksa aku tentu tetap tidak akan mau. Pula, justeru aku paling tidak mau mencampuri urusan orang lain karena aku menghormat kalian golongan pengemis yang biarpun berpakaian kotor namun berhati bersih. Akan tetapi kau keliru sangka kalau aku akan mendiamkan saja kejahatan merajalela." "

Hemm, omongan Suling Emas seperti omongan guru sekolah berbelit-belit! Pendeknya, kau mau membantu kami atau tidak?"

Yu Kang mencela.

"Tentu saja, akan tetapi tidak secara keroyokan. Biarlah dia nanti kuhadapi sendiri, kalian lihat saja. Kalau aku kalah dan tewas ditangannya, anggap saja hal itu urusanku, dan barulah kalian boleh turun tangan terhadap Pouw-kai-ong."

Tiba-tiba Yu kang melompat lagi keatas.

"Mana bisa?? Liong-lokai, mari kita berangkat. Urusan ini adalah urusan kita, urusan antara para pengemis, bahkan Pouw-kai-ong sendiri pun seorang pengemis yang jahat dan menyeleweng. Kitalah yang harus menghukumnya, bagaimana kita bisa menyerahkan hal ini kepada orang luar? Suling Emas, kami tidak membutuhkan bantuanmu lagi. Marilah, Liong-lokai. Engkau tahu dimana Si Jahanam itu?"

Kakek jembel itu mengerling kepada Suling Emas dengan mata kecewa, akan tetapi ia lalu bangkit berdiri diikuti teman-temannya dan menjawab pertanyaan Yu Kang,

"Kebetulan dia berada tak jauh dari sini. Marilah, Yu-hiante. Kami ada sebelas orang, bersama Hiante jadi dua belas. Masih ada lima orang saudara Bhong, pengemis-pengemis dari Yu-nan yang telah lama menanti-nanti kesempatan untuk menuju mengeroyok musuh besar mereka. Seperti juga engkau, Hiante, kelima Bhong-heng-te (Persaudaraan Bhong) itu pun keturunan ketua kai-pang (perkumpulan pengemis) yang dibasmi oleh Pouw-kai-ong."

"Bagus, kalau begitu marilah kita berangkat!"

Kata Yu Kang. Rombongan pengemis itu meninggalkan kolong jembatan.

Hanya Liong-lokai seorang yang menjura kepada Suling Emas. Yu Kang melangkah pergi tanpa menoleh. Suling Emas berdiri terlongong, akan tetapi tersenyum pahit melihat rombongan pengemis itu pergi dari situ. Sejenak ia termangu dan mengangkat pundak. Memang benar ucapan Yu kang bahwa urusan diantara pengemis adalah urusan dalam, orang luar tidak berhak mencampuri. Akan tetapi tiba-tiba Suling Emas mengerutkan keningnya. Mereka itu seperti domba-domba digiring ke pejagalan! Ia tahu benar bahwa biarpun dikeroyok oleh mereka, Pouw Kee Lui masih tetap merupakan lawan yang terlalu kuat. Mereka itu seakan-akan mengantar nyawa dengan sia-sia, akan mati konyol. Dan ia tahu bahwa mereka adalah orang baik-baik. Mana mungkin ia mendiamkan Pouw-kai-ong membunuh mereka begitu saja?

Kedua kakinya bergerak dan dilain saat Suling Emas sudah mengikuti rombongan itu dari jauh. Malam itu terang bulan. Rombongan pengemis yang tadinya hanya dua belas orang itu kini sudah bertambah lima lagi, yaitu lima orang Bhong-heng-te yang tubuhnya tinggi-tinggi dan dari langkah kaki mereka dapat diketahui bahwa mereka ini pun bukan orang-orang lemah. Tujuh belas orang pengemis ini berangkat keluar kota, menuju kesebelah utara kota raja. Di kaki gunung yang sunyi, jauh dari kota raja dan jauh dari dusun-dusun, mereka berhenti lalu bergerak sembunyi mengurung sebuah pondok kecil yang berdiri sunyi ditempat itu. Dua orang diantara kelima Bhong-heng-te melompat keluar dari tempat persembunyian, menghadapi pintu pondok dan seorang diantara mereka berseru nyaring.

"Pouw Kee Lui, keparat busuk! Kami telah datang hendak menagih hutangmu kepada keluarga Bhong, hayo keluar!"

Suling Emas yang bersembunyi tak jauh dari tempat itu, dibalik batu-batu besar, mengerutkan kening. Kalau memang mereka hendak mengeroyok, mengapa tidak langsung saja mendatangi pondok dan menyerbu? Dengan pengeroyokan tujuh belas orang, agaknya Pouw-kai-ong akan kewalahan juga. Apakah mereka terlalu memandang rendah kepandaian Si Raja Pengemis? Tiba-tiba terdengar suara ketawa terkekeh dan dari atas gunung kecil melayang turun sesosok bayangan yang luar biasa gesitnya. Begitu kedua kaki orang saudara Bhong, bayangan itu tertawa bergelak dan berkata,

"ha-ha-ha, tikus-tikus busuk berani mengantar nyawa?"

Ucapan ini disusul gerakan yang hebat sekali. Sebelum dua orang itu mampu menjawab, bayangan yang bukan lain adalah Pouw Kee Lui atau Pouw-kai-ong ini, telah menerjang maju dengan gerakan seperti kilat dan... dua orang saudara Bhong itu yang sudah berusaha menangkis, terpental kebelakang dan roboh tak dapat bergerak lagi! Pada saat itu muncul tiga orang saudara Bhong yang lain, muncul dari samping kiri, disusul munculnya tiga orang dari depan dan tiga orang dari kanan. Tampak Liong-lokai ikut pula dari kanan sedangkan Yu Kang tampak diantara tiga orang dari depan. Enam orang pengemis lain mengambil jalan memutar hendak menyerbu dari belakang punggung Pouw-kai-ong.

"Ha-ha-ha! Kiranya tikus tua she Liong ikut pula. Bagus!!"

Post a Comment