Halo!

Si Tangan Sakti Chapter 76

Memuat...

Hanya sayalah satu-satunya murid men-diang suhu yang dianggap paling kuat.

Akan tetapi, setelah suhu dan para su-siok dan suheng tewas, saya menjadi bi-ngung dan tidak dapat mengendalikan semua murid, tidak dapat mencegah ka-lau ada yang melakukan penyelewengan.

Mereka itu condong untuk memberontak dan saya tidak berdaya menghadapi mereka.

Juga saya tidak berani menolak ketika Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw melakukan pendekatan, takut kalau-kalau mereka akan memusuhi kami.

Sekarang Tai-hiap telah pulang, maka saya menyerahkan kepada Tai-hiap untuk meng-atur kembali perkumpulan kita ini." "Sudahlah, duduklah dan sekarang ceritakan apa yang terjadi dan bagai-mana suheng Lauw Kang Hui dan yang lain-lain sampai dibunuh orang, dan siapa pembunuh mereka itu." Seng Bu duduk dan menghapus air matanya.

"Peristiwa yang terjadi itu amat mengerikan dan penuh rahasia, Yo--taihiap.

Kami hanya melihat ada bayang-an hitam yang menangkap mereka se-orang demi seorang dan membawa me-reka masuk ke dalam sumur tua itu.

Dan setelah mereka itu dibawa masuk sumur, sampai sekarang tidak ada kabar cerita-nya dan kami semua menganggap bahwa mereka tentu telah tewas terbunuh.?"Hemmm, siapakah bayangan hitam itu?" Yo Han bertanya, alisnya berkerut, penasaran sekali.

"Itulah yang membuat kami semua penasaran, Tai-hiap.

Tak ada yang dapat melihatnya, hanya melihat bayangan hi-tam seperti setan, menangkap mereka dan membawa loncat ke dalam sumur.

Tentu saja peristiwa itu membuat semua anggauta menjadi panik dan ketakutan, dan untuk meredakan kepanikan mereka, terpaksa saya untuk sementara meng-gantikan kedudukan suhu dan memimpin mereka." "Akan tetapi, kenapa kalian tidak memasuki sumur itu untuk menyelidikit apa yang terjadi di sana" Siapa tahu suheng Lauw Kang Hui dan yang lain--lain belum tewas?" Seng Bu kelihatan terkejut dan ke-takutan.

"Maafkan kami, Yo-taihiap.

Tentu saja kami juga berpikir demikian, mengharapkan mereka belum tewas dan sewaktu-waktu akan muncul keluar.

Akan tetapi, untuk menyelidikinya, untuk me-masuki sumur tua itu, siapa yang berani?" "Tidak berani" Aih, tak kusangka orang-orang Thian-li-pang berubah men-jadi penakut dan pengecut!" Lalu sambil menatap tajam wajah Seng Bu dia melanjutkan, "Dan engkau sendiri, yang telah menerima menjadi ketua, kenapa engkau tidak memasuki sumur itu untuk menyelidikinya?" Seng Bu menundukkan mukanya.

"Ma-afkan kami semua, Yo-taihiap.

Sebetul-nya kami ingin sekali, akan tetapi kami takut.

Kalau suhu dan para susiok, suci dan suheng sendiri tidak berdaya dibawa masuk ke sumur oleh bayangan hitam itu, lalu bagaimana mungkin kami akan mampu menandinginya" Memasuki sumur berarti mati konyol, dan kami semua, tidak berani." Yo Han menghela napas panjang, ter-ingat akan mendiang kakek Ciu Lam Hok.

Gurunya itu adalah seorang yang gagah perkasa, bahkan kedua orang pa-man gurunya, mendiang Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong, biarpun keduanya menyeleweng dari jalan kebenaran, tetap saja mereka berdua adalah orang-orang yang gagah perkasa.

Demikian pula murid mereka, Lauw Kang Hui, memiliki keberanian dan kegagahan.

Akan tetapi bagaimana sekarang para murid Thian--li-pang begitu penakut dan pengecut" Gurunya berpesan agar dia mengawasi Thian-lipang dan mengusahakan agar Thian-li-pang pulih kembali menjadi per-kumpulan besar yang berjiwa pahlawan pembela nusa bangsa.

"Sudah berapa lamakah peristiwa hi-langnya suheng Lauw Kang Hui ke dalam sumur tua itu terjadi?" "Sudah kurang lebih tiga bulan, Yo-taihiap." Yo Han merasa penasaran dan khawatir.

Kalau sampai tiga bulan mereka tidak keluar dari dalam sumur tua itu, kecil sekali harapannya mereka masih hidup.

Akan tetapi, mati atau hidup me-reka itu, dia harus mengetahui dengan pasti.

"Baik, kalau begitu biar aku sendiri yang akan memasuki sumur itu dan me-lakukan penyelidikan." Yo Han berkata.

Ouw Seng Bu memandang dengan mata terbelalak.

"Akan tetapi, Tai-hiap.

Itu berbahaya sekali!!" Yo Han tersenyum, "Seorang gagah tidak gentar menempuh bahaya, asal itu dilakukan demi kebaikan.

Lupakah engkau akan pelajaran kegagahan dari Thian--li-pang?" "Be....

benar, Tai-hiap.

Akan te-tapi....

sumur tua itu penuh rahasia dan menyeramkan, tentu banyak iblis menjadi penghuninya di sana dan tak seorang pun berani memasukinya.

Saya takut kalau sampai terjadi sesuatu atas diri Tai-hiap...." "Mati hidup di tangan Tuhan.

Aku tidak minta ditemani siapapun kalau memang kalian takut.

Biar aku sendiri yang masuk dan kalian berjaga di luar sumur raja.

Sediakan sehelai tali yang kuat dan panjang, sekaran juga aku akan memasuki sumur menyelidiki keadaan suheng Lauw Kang Hui dan yang lain--lain." "Baik, Taihiap." "Dan mulai saat ini, Thian-li-pang harus memutuskan hubungan dengan Pat--kwa-pai dan Pek-lian-kauw.

Para murid dilarang bergaul dengan mereka, dan kalau ada yang melanggar, akan dihukum berat.

Dua orang anggauta Thian-li-pang yang membuat kerusuhan di rumah ma-kan, harus dihukum kurung selama sepekan.

Nah, laksanakan!" "Baik, Taihiap." Ouw Seng Bu mem-buka daun pintu dan berseru memanggil pembantunya.

Para murid kelas tertinggi dari Thian-li-pang datang berlarian dan berkumpul di luar pintu ruangan itu.

Seng Bu lalu berkata dengan suara lan-tang kepada mereka.

"Seluruh anggauta agar bersiap-siap dan berkumpul di dekat sumur tua dan sediakan sehelai tambang yang kuat dan panjang.

Sin-ciang Tai-hiap sendiri akan turun ke dalam sumur melakukan penye-lidikan sekarang juga!" Terdengar seruan-seruan kaget di an-tara para anggauta Thian-li-pang, akan tetapi mereka segera menanti perintah ketua mereka dan diantar oleh Ouw Seng Bu pergi ke bagian belakang perkampung-an Thian-li-pang dan tiba di dekat sumur tua.

Sumur pertama yang pernah men-jadi tempat tahanan kakek Ciu Lam Hok yang berada di tempat itu juga, tidak terlalu jauh dari situ, telah ditutup de-ngan batu-batu sehingga tidak nampak lagi lubangnya.

Sumur ke dua ini lebih besar, juga amat dalam karena kalau di-jenguk dari atas, tidak nampak dasar-nya, hanya gelap menghitam.

Sebetulnya, tanpa tambang sekalipun Yo Han akan mampu menuruni sumur itu dengan me-rayap, akan tetapi lebih mudah meng-gunakan tali, juga untuk naik kembali, mudah kalau ada talinya.

Hampir seratus orang anggauta Thian--li-pang sudah berkumpul di tempat itu, mengelilingi sumur tua, wajah mereka tegang.

Seorang di antara mereka me-nyerahkan segulungan tali yang kuat dan panjang kepada Ouw Seng Bu.

"Tai-hiap, apakah tali ini memenuhi syarat?" tanya Seng Bu sambil mem-perlihatkan tali itu kepada Yo Han.

Yo Han menerima gulungan tali, kemudian melepas ujungnya ke dalam sumur se-telah ujung itu diikatkan kepada se-bongkah batu.

Ternyata sumur itu dalam sekali dan sampai lama barulah batu di ujung tali tiba pada dasar sumur dan tali itu memng cukup panjang dan kuat.

Setelah batu tiba pada dasar sumur dan tali mengendur, masih ada sisa tiga empat meter, Yo Han melibatkan sisa tali itu pada sebatang pohon dekat sumur, lalu menyerahkan ujungnya kepada Seng Bu.

"Jaga dan pegangi ujung tali ini, aku akan segera turun ke bawah.

Kalau aku sudah memberi tanda tarikan tiga kali pada tali kau boleh tarik aku keluar." "Baik, Yo-taihiap.

Harap Taihiap ber-hati-hati, siapa tahu ada bahaya meng-intai di bawah sana." kata Seng Bu.

"Jangan khawatir, aku sudah siap menghadapi apa saja," kata Yo Han.

Setelah berkata demikian, Yo Han me-nuruni sumur malalui tali yang ujungnya dipegang oleh Seng Bu, bagaikan seekor monyet saja, dengan cekatan dia me-nuruni tali itu, waspada memperhatikan ke bawah karena dia maklum bahwa seperti yang dikatakan Ouw Seng Bu tadi, mungkin di bawah sana mengintai bahaya yan mengancam keselamatannya.

Sama sekali Yo Han tidak pernah mengira bahwa bahaya mengintai dari atas, bukan dari bawah! Tadi dia telah menduga bahwa sumur ituu menyerong, yaitu ketika dia mengulur tali yang ujungnya digantungi batu.

Batu itu tadi menyentuh dinding sumur dan menggelinding ke ba-wah, tidak lagi tergantung bebas.

Itu berartu bahwa sumur itu menyerong, tidak lurus ke bawah.

Kini ternyata me-mang benar.

Tubuhnya menyentuh dinding sumur yang kasar dan dia merayap terus.

Dan nampaklah sinar dari samping, yang tidak nampak dari atas karena letaknya yang menyerong itu.

Dan begitu kakinya menyentuh lantai batu, dia pun melihat lima sosok mayat yang sudah tinggal tulang dibungkus pakaian yang robek--robek.

Lima orang! Dia teringat akan keterangan Ouw Seng Bu yang menceri-takan bahwa yang dibawa masuk ke da-lam sumur oleh bayangan hitam adalah Lauw Kang Hui, Su Kian, Thio Cu, Lauw Kin dan Lu Sek.

Lima orang tokoh Thian--li-pang telah benar-benar tewas di dasar sumur! Akan tetapi kedudukan lima sosok mayat itu bertumpuk, nampaknya seperti dilemparkan dari atas! Dia menghampiri mayat-mayat itu.

Sudah tidak dapat dikenal lagi, apalagi diselidiki sebab kematian mereka.

Juga tempat itu hanya remang-remang, terlalu gelap untuk dapat memeriksa dengan teliti.

Dia harus memeriksa ke dalam sana.

Mungkin si pembunuh masih berada di dasar sumur yang ternyata dasarnya merupakan terowongan berbatu-batu.

Dia pun melepaskan tali yang tadi masih di-pegangnya, lalu berindap-indap memasuki lorong penuh batu-batu besar itu.

Kalau benar ada orangnya, mungkin bersembunyi di balik batu besar.

Dia sudah siap kalau--kalau ada serangan gelap dari dalam.

Tidak ada penyerangan, tidak ada gerakan apa pun dari dalam.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara bersiutan dari atas.

Yo Han terkejut melihat tali yang dipakai turun tadi kini menyambar turun seperti seekor ular yang panjang sekali! Tali itu dilepas dari atas! Sejenak dia tertegun karena heran dan kaget, akan tetapi cepat dia menarik tali itu karena dalam sekejap mata dia yakin bahwa tali itu akan ada gunanya baginya.

Dia masih belum dapat menduga mengapa Ouw Seng Bu melepaskan tali itu.

Tiba-tiba ter-dengar suara tawa dari atas yang ber-gema ke bawah dan dia terkejut.

Itulah suara Ouw Seng Bu dan dia tahu bahwa orang yang dapat melepas suara tawa mengandung khikang amat kuat seperti itu tentulah memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Suara tawa itu disusul sorak-sorai dan tiba-tiba saja terjadi hujan batu dari atas sumur! Yo Han melompat lebih dalam, lagi dan cepat dia mendorong sebuah batu besar sekali ke depan terowongan se-hingga hujan batu itu tidak menggelun-dung ke dalam terowongan melainkan tertahan oleh batu besar dan terus ber-tumpuk menutupi lubang sumur! Kini mengertilah dia.

Ouw Seng Bu dan para anggauta Thian-li-pang telah berkhianat dan dia telah tertipu.

Ouw Seng Bu ber-hasil memancingnya memasuki sumur dan sumur itu lalu ditimbuni batu.

Yo Han yang pada dasarnya seorang yang memiliki iman yang kokoh kuat ke-pada Tuhan, tidak menjadi gugup.

Mati hidupnya sudah dia serahkan kepada ke-kuasaan Tuhan.

Dia akan berusaha se-kuatnya mempertahankan hidupnya, akan tetapi berhasil atau gagalnya dia serahkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dia tahu bahwa tidak mungkin keluar melalui sumur yang sudah tertutup banyak batu itu.

Dia tidak mati tertimpa batu karena batu besar tadi merupakan pengganjal dan penghalang batu-batu kecil memasuki terowongan.

Dia tidak akan mati ter-timbun batu.

Juga agaknya dia tidak akan mati kehabisan napas karena ada saluran udara segar di situ, mungkin masuk melalui celah-celah batu, seperti juga sinar matahari yang dapat masuk ke situ.

Dia tidak akan mati kehausan, ka-rena dinding itu basah dan tidak sukar menampung air dengan membuat lekukan pada dinding,basah untuk menampung air.

Dia akan mati kelaparan" Mungkin, kalau dia tidak dapat keluar dan kalau di tem-pat itu tidak terdapat benda yang bisa dimakan.

Yo Han menggulung tali dan duduk di atas gulungan tali agar tidak basah.

Dia duduk bersila dan membiarkan hati dan pikirannya tenang.

Dia membutuhkan ketenangan.

Dalam menghadapi bahaya, dia harus dapat tenang agar akal pikiran-nya dapat dipergunakan sebaikbaiknya, dan di dalam ketenangan itu kepasrahan-nya kepada kekuasaan Tuhan dapat lebih mendalam.

Sementara itu, di atas sumur, Ouw Seng Bu tertawa gembira ketika bersama para anak buah yang sudah dipersiapkan sebelumnya, menimbun sumur tua itu dengan batu.

"Ha-ha-ha, Yo Han.

Rasakan sekarang engkau, mampus di dalam sumur tua, menjadi setan penasaran! Sin-ciang Tai-hiap, engkau tidak lagi menjadi peng-halang bagiku." Akan tetapi, Ouw Beng Bu segera menghentikan tawanya ketika dia melihat Cu Kim Giok datang berlari-larian.

Gadis itu mendengar sorak-sorai anak buah Thian-li-pang, merasa tertarik dan segera datang ke tempat itu.

Ia masih melihat anak buah Thian-li-pang melemparlemparkan batu ke dalam sebuah sumur tua dan ia merasa heran sekali.

"Ouw-pangcu, apakah yang telah terjadi?" tanya gadis itu heran sambil men-dekati Seng Bu.

Seng Bu segera memasang wajah yang serius.

Post a Comment