Halo!

Si Tangan Sakti Chapter 75

Memuat...

"Di mana dia sekarang?" "Dia berada di luar rumah makan, dikeroyok oleh keempat orang tosu dan sebelas orang anggauta kita, Pangcu.

Saya lari pulang untuk melapor kepada Pangcu." Ouw Seng Bu yang amat cerdik itu bertindak cepat sekali.

"Paman Siangkoan Kok, harap Paman tidak memperlihatkan diri kepada Yo Han dan bersembunyi di dalam kamar Paman.

Nona Cu, harap engkau beritirahat di dalam kamarmu sampai nanti aku memberitahukan segala-nya kepadamu.

Aku akan menghadapi Yo Han dan menerimanya dengan baik-baik untuk mencegah jatuhnya banyak korban." Siangkoan Kok dan Cu Kim Giok meng-angguk dan mereka pergi ke kamar ma-sing-masing yang sudah diberikan kepada mereka sejak mereka tiba di situ.

Ouw Seng Bu cepat mengumpulkan anak buahnya dan dengan tegas memesan agar mereka semua memperlihatkan sikap lunak dan takluk kepada Yo Han dan bersikap seperti dahulu agar tidak me-nimbulkan kecurigaan di hati Pendekar Tangan Sakti.

Kemudian, dia menuju ke kamar Cu Kim Giok dan mengetuk daun pintunya.

Setelah Cu Kim Giok muncul, Ouw Seng Bu berkata, "Nona Cu, sekarang saatnya engkau membantuku.

Aku ingin menalukkan Yo Han tanpa mendatangkan banyak korban, dan aku akan berpura--pura tidak tahu bahwa dia yang telah menyebar pembunuhan di sini.

Engkau bersikaplah sebagai seorang tamuku, se-orang sahabat baikku...." "Tapi, apa manfaatnya kehadiranku...." "Banyak sekali, Nona.

Engkau akan menimbulkan kepercayaan di hatinya bahwa kita tidak mempunyai maksud tertentu terhadap dirinya.

Kalau melihat engkau sebagai tamuku, pasti dia akan percaya kepadaku.

Marilah, Nona, aku....

sungguh aku membutuhkan pertolonganmu.

Ataukah....

engkau begitu tega tidak mau membantuku?" Ouw Seng Bu.

Sudah dapat melihat selama dia bergaul dengan Kim Giok bahwa gadis itu pun membalas perasaan hatinya, bahwa.

gadis itu pun jatuh cinta kepadanya, maka dia mem-pergunakan sikap lunak dan menarik rasa iba gadis itu.

Dia berhasil, Cu Kim Giok mengangguk.

"Baiklah, Pangcu.

Aku akan, mem-bantumu." "Engkau tidak perlu bicara atau ber-buat apa pun, hanya mengaku saja bahwa engkau menjadi sahabatku.

Nah, aku tidak ingin menyuruhmu berbuat jahat atau berbohong bukan?" Mereka berdua segera berlari cepat menuruni lereng bukit dan ketika mereka memasuki dusun dan tiba di depan kedai arak, mereka berdua tertegun.

Apa yang telah terjadi" Yo Han di-keroyok oleh empat orang tosu lihai dari Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw, juga oleh sebelas orang murid Thian-li-pang tingkat atas.

Para pengeroyok itu semua menggunakan pedang sedangkan Yo Han bertangan kosong! Akan tetapi, tubuhnya yang dapat dibuat ringan seperti bayangan itu berkelebatan di atas belasan ba-tang pedang dan setiap kali terbuka ke-sempatan, begitu kaki atau tangannya bergerak menyambar, tentu seorang pe-ngeroyok dapat dirobohkan! Dia mengenal gerakan silat orang-orang Thian-lipang, mengenal cakar beracun mereka, maka dengan mudah dia dapat mengenal bagian lemah mereka sehingga setiap kali dia menggerakkan tangan atau kaki, seorang anggauta Thian-lipang terjungkal.

Dia tidak mau membunuh mereka, hanya merobohkan dan membuat mereka tidak mampu bangkit kembali karena patah tulang atau menotok mereka sehingga tidak mampu beegerak kembali.

Akhirnya, sebelas orang Thian-li-pang roboh tak dapat bangkit kembali dan tinggal dua orang tosu Pek-lian-kauw dan dua orang tosu Pat-kwa-pai saja yang masih mengeroyoknya dengan serangan membabi-buta karena sejak tadi, serangan pedang mereka tidak pernah mengenai tubuh pemuda itu.

"Orang-orang Pek-lian-kauw dan Pat--kwa-pai, kalian pergilah.

Aku tidak ingin bermusuhan dengan kalian dan jangan mencampuri utusan kami orang-orang Thian-li-pang!" dua kali Yo Han menegur dan menyuruh mereka pergi.

Ketika empat orang itu terus meng-amuk tanpa mempedulikan kata-katanya, Yo Han menjadi marah.

"Kalian ini orang--orang bandel yang pantas menerima hajaran!" Dia pun bergerak cepat, meng-gunakan ilmu silat Bu-kek Hoat-keng dan angin berpusing cepat sekali, membuat empat orang tosu itu ikut terputar dan sebelum mereka tahu apa yang terjadi, pedang mereka beterbangan lepas dari tangan dan mereka pun seperti dilontar-kan tenaga yang amat kuat, terlempar dan terbanting sampai beberapa meter jauhnya! Agaknya Si Tangan Sakti me-mang tidak ingin membunuh mereka sehingga mereka hanya terbanting keras tanpa menderita luka parah.Pada saat mereka terbanting itulah, Ouw Seng Bu dan Cu Kim Giok menuruni lereng.

Ouw Seng Bu mengenal gerakan Yo Han itu.

Dia pun merasa sanggup bergerak menimbulkan angin berpusing seperti itu seperti yang pernah dia pe-lajari dalam sumur! Empat orang tosu mendapat hati ke-tika melihat Seng Bu.

Mereka dengan muka meringis kesakitan karena pinggul mereka tadi terbanting keras, bangkit menyongsong kedatangan Seng Bu.

"Pangcu...." kata mereka, akan tetapi Seng Bu mengangkat tangan memberi hormat.

"Harap To-tiang berempat suka me-maafkan kami dan meninggalkan tempat ini.

Biarkan kami menyelesaikan urusan dalam Thian-li-pang." Empat orang tosu itu merasa heran, akan tetapi karena mereka sudah mak-lum bahwa ketua baru itu tentu akan menggunakan siasat, mereka pun memberi hormat,dan pergi dari tempat itu tanpa banyak cakap lagi.

Kini Seng Bu berdiri berhadapan dengan Yo Han dan keduanya saling pandang.

"Kiranya Sin-ciang Tai-hiap yang da-tang! Harap maafkan siauwte dan para anggauta Thianli-pang yang tidak tahu akan kedatangan Tai-hiap dan tidak sem-pat menyambut seperti mestinya." Dia memberi hormat.

Yo Han mengerutkan alisnya, meman-dang penuh selidik.

Dia tadi mendengar Kui Thian-cu menyebut "pangcu" kepada pemuda tampan ini! Dengan sikap tenang namun suaranya tegas dan menyelidik, Yo Han berkata, "Wajahmu tidak asing bagiku.

Bukankah engkau seorang di an-tara para murid suheng Lauw Kang Hui" Kenapa tosu tadi menyebutmu sebagai pangcu" Di mana suheng Lauw Kang Hui dan apa yang terjadi dengan Thian-li--pang" Mengapa bersahabat dengan orang--orang Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai dan mengapa pula ada murid Thian-li-pang yang dapat melakukan kejahatan di dusun ini?" Diberondong pertanyaan-pertanyaan itu, Seng Bu merasa seperti dihujani serangan yang berbahaya.

Dia memberi hormat lagi.

"Tai-hiap, banyak sekali hal--hal yang amat hebat telah terjadi di tempat kita.

Suhu....

suhu telah....mati dibunuh orang....

dan aku terpaksa untuk sementara mewakili dan diangkat men-jadi pangcu karena tidak ada orang lain yang dapat memegang kedudukan itu se-bagai pemimpin sementara.

Suhu Lauw- Kang Hui dibunuh orang, demikian pula suci Lauw Sek, suheng Lauw Kin, susiok Su Kian den susiok Thio Cu.

Semua te-was dibunuh orang...." "Ahhh?"" Yo Han benar-benar merasa terkejut.

"Siapakah yang membunuh me-reka?" "Panjang ceritanya, Taihiap.

Marilah, ktta naik ke tempat kita dan di sana nanti aku menceritakan semuanya.

Ba-nyak sekali rahasia tersembunyi di balik semua peristiwa yang mengerikan itu, Taihiap." Yo Han masih mengerutkan alisnya, akan tetapi dia mengangguk dan ketika mereka mulai mendaki bukit dan melihat gadis manis yang datang bersama Ouw Seng Bu ikut pula mendaki, dia berhenti dan bertanya.

"Nanti dulu, siapakah Nona ini?" "Taihiap, Nona ini adalah nona Cu Kim Giok, ia seorang sahabat baikku dan sekarang menjadi tamu terhormat di Thian-li-pang.

Ia bukan gadis sembarang-an, Taihiap.

Kuyakin Taihiap pernah men-dengar tentang keluarga majikan Lembah Naga Siluman, yaitu keluarga Cui Nah, Nona ini adalah puteri dari pendekar besar Cu Kun Tek dari Lembah Naga Siluman." "Ahhh, kiranya Nona dari keluarga yang terkenal itu," kata Yo Han sambil memberi hormat.

Kim Giok cepat membalas penghormatan itu.

"Harap Yo-taihiap tidak bersikap merendah.

Sudah lama aku mendengar tentang nama besar Taihiap.

Sa-yang dalam pertemuan tiga keluarga besar di rumah Paman Suma, Ceng Liong di Hong-oun, Taihiap tidak ikut hadir." Yo Han tersenyum dan sejenak ma-mandang gadis itu penuh selidik.

"Jadi engkau adalah sahabat baik dari....

eh, ketua Thian-li-pang ini?" "Benar, dan baru beberapa hari aku menjadi tamu dari Thian-li-pang." "Taihiap agaknya sudah lupa kepadaku.

Aku murid termuda dari mendiang suhu Lauw Kang Hui, namaku Ouw Seng Bu," ketua itu memperkenalkan diri.

Yo Han mengangguk-angguk.

"Ya, aku sekarang teringat.

Jadi semua murid tertua dari suheng Lauw Kang Hui telah dibunuh orang?" Diam-diam Cu Kim Giok mengerling dan mengamati wajah pendekar itu.

Me-nurut cerita yang didengarnya dari.

Seng Bu, orang inilah yang membunuh Lauw Kang Hui dan para muridnya.

Apakah sekarang dia berpura-pura" Ataukah ada rahasia lain di balik pembunuhan itu dan pembunuhnya bukan Sin-ciang Tai-hiap melainkan orang lain" Wajah tampan dengan sinar mata tajam mencorong itu sukar diduga apa yang terkandung dalam hatinya.

"Taihiap, nanti saja akan kuceritakan semua setelah kita tiba di rumah." kata Seng Bu dan Yo Han mengangguk.

Mere-ka lalu mendaki lereng bukit dan ketika mereka tiba di pintu gerbang perkampung-an Thian-li-pang, para murid Thian-li-pang menyambut mereka dengan sikap meriah dan gembira.

"Sin-ciang Tai-hiap telah datang!" demikian mereka berteriak dan bersorak sambil memberi hormat.

Yo Han menerima penyambutan itu dengan senyum, akan tetapi di dalam hatinya merasa heran bukan main.

Be-tapa jauh bedanya antara sikap, para anggauta Thian-li-pang yang berada di perkampungan ini dengan mereka yang tadi berada di dusun! Seolah tidak wajar lagi! Setelah mereka memasuki ruangan dalam, Seng Bu berkata kepada Cu Kim Giok, "Nona Cu, maafkan saya, harap Nona suka beristirahat dan meninggalkan kami berdua untuk membicarakan soal perkumpulan kami." Cu Kim Giok mengangguk, lalu me-ninggalkan ruangan utu.

Seng Bu menutup pintu ruangan itu, kemudian dia pun mempersilakan Yo Han untuk duduk.

Yo Han duduk dan menghela napas panjang.

"Nah, sekarang ceritakanlah semua.

Apa yang telah terjadi di sini" Cerutakan semua dengan jelas." Tiba-tiba Ouw Seng Bu menjatuhkan diri berlutut di depan Yo Han sambil menangis! Yo Han mengerutkan alisnya dan menegur dengan tegas, "Ouw Seng Bu, sikapmu ini sungguh memalukan se-kali! Engkau telah ditunjuk sebagai ke-tua, akan tetapi anak buah Thian-lipang menyeleweng, Thian-li-pang mengadakan persekutuan dengan partai-partai sesat seperti Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw, dan sekarang engkau menangis seperti anak kecil atau seperti wanita lemah, yang cengeng.

Engkau tidak patut men-jadi ketua Thian-li-pang!" "Yo-taihiap, harap maafkan dan ka-sihanilah saya! Saya terpaksa menjadi ketua karena tidak ada orang lain lagi.

Post a Comment