Halo!

Si Tangan Sakti Chapter 74

Memuat...

Siapa tidak akan merasa menyesal kalau orang-orang pandai yang termasuk golongan pendekar, seperti Sin-ciang Tai-hiap Yo Han itu, membiarkan dirinya menjadi anjing pen-jilat dan antek penjajah Mancu" "Sangat menyakitkan hati memang!" kata Siangkoan Kok sambil menuangkan arak dari cawan ke dalam mulutnya.

"Bahkan para pendekar dari keluarga pendekar terbesar di dunia persilatan, rela mengekor kepada penjajah Mancu.

Harap maafkan aku, nona Cu.

Selama ini, aku belum pernah mendengar keluar-ga Cu dari Lembah Naga Siluman men-jadi antek Mancu walaupun hubungan keluargamu dekat sekali dengan keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir.

Dua keluarga pendekar itu sejak dahulu membantu penjajah Mancu, sungguh mengecewakan sekali.

Apakah mereka tidak tahu bahwa bangsa Mancu adalah bangsa liar yang menjajah tanah air dan bangsa" Kita berjuang untuk membebaskan bangsa dari cengkeraman penjajah, dan mereka tidak membantu kita malah memusuhi kita!" Wajah Kim Giok berubah agak ke-merahan.

Selain pengaruh arak, juga hatinya tersentuh.

Ia telah jatuh cinta kepada Ouw Seng Bu dan merasa yakin akan kebenaran pemuda itu, akan ke-murnian perjuangan melawan penjajah, dan ia pun tahu bahwa di antara keluar-ga Pulau Es dan Gurun Pasir, memang terdapat hubungan yang akrab dengan kerajaan Mancu, bahkan ada pertalian hubungan darah.

Biarpun ayah ibunya tidak pernah memusuhi kerajaan Mancu secara berterang, akan tetapi juga mere-ka tidak pernah menjadi pembantu lang-sung atau pejabat.

Akan tetapi, harus diakui bahwa keluarga orang tuanya de-kat dengan keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir.

Kini pandangannya kepada Siang-koan Kok juga berubah.

Kakek ini adalah seorang pejuang sejati, pikirnya, seperti juga Seng Bu, walaupun kakek ini ber-watak keras dan aneh, tidak seperti Seng Bu yang halus dan tampan.

"Biarpun, keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir tidak memusuhi kita secara terang--terangan, namun mereka tidak mau ber-satu dengan kita untuk menghancurkan penjajah.

Kita harap saja nona Cu akan dapat membujuk mereka dan membuka mata mereka betapa pentingnya perjuangan menentang penjajah.

Yang ku-khawatirkan hanyalah satu orang saja yaitu Sinciang Tai-hiap...." "Hemmm, orang itu memang berbahaya dan dia pun telah menjadi antek pen-jajah.

Bahkan dia bergaul akrab sekali dengan seorang pangeran Mancu, yaitu Pangeran Cia Sun." kata Siangkoan Kok yang lalu menceritakan dengan singkat betapa Yo Han dan Pangeran Cia Sun pernah menyelundup ke dalam perkumpul-annya, Pao-beng-pai sehingga mengakibat-kan perkumpulannya itu dihancurkan pa-sukan pemerintah.

"Jelas bahwa pasukan itu dibawa datang oleh Yo Han dan Cia Sun yang bekerja sebagai mata-mata," katanya.

"Yo Han memang harus dibasmi.

Dia pun merupakan ancaman bagi Thian-li--pang, karena dia pernah diangkat oleh mendiang suhu Lauw Kang Hui sebagai pemimpin Thian-li-pang.

Dia dapat se-waktu-waktu muncul di sini dan meng-gunakan hak kekuasaannya untuk meng-ubah Thian-li-pang, dari perkumpulan pejuang menjadi perkumpulan pengekor kerajaan Mancu." kata Seng Bu penasaran.

"Biarpun dia datang.

Kita sambut dia dengan pedang aku akan membantumu menundukkannya, Pangcu." kata Siang-koan Kok yang masih merasa sakit hati kalau teringat kepada Yo Han dan Cia Sun yang dianggap menjadi penyebab kehancuran Pao-beng-pai.

"Akan tetapi, dia lihai bukan main, paman Siangkoan," kata Seng Bu, "Se-baiknya kalau kita menggunakan siasat untuk menundukkannya, dan kuharap Pa-man dan juga nona Cu suka membantuku untuk menundukkannya kalau dia berani datang di sini." "Tentu saja aku akan membantumu, Pangcu," kata Kim Giok tanpa ragu lagi, Sin-ciang Taihiap adalah seorang yang jahat, pikirnya, telah mengkhianati Thian--li-pang, membunuh ketua Thian-li-pang, bahkan bergaul dengan Pangeran Cia Sun dari kerajaan Mancu.

Yo Han telah membunuh banyak tokoh Thian-li-pang dan orang sejahat itu memang harus ditentang.

"Kalau perlu, kita minta bantuan tenaga ketua Pek-lian-kauw dan ketua Pat-kwa-pai," kata Siangkoan Kok yang diam-diam juga merasa jerih terhadap Sin-ciang Tai-hiap.

"Memang aku sudah mempunyai ren-cana, dan sudah mengirim surat kepada mereka," kata Seng Bu.

Mereka melanjutkan makan minum dan merasa yakin bahwa dua orang tosu Pek-lian-kauw dan dua orang tosu Pat kwa-pai tadi akan mampu membereskan kerusuhan dan menyeret pengacaunya ke markas Thian-li-pang.

*** Empat orang tosu itu memasuki ru-mah makan dengan hati-hati, dan di belakang mereka nampak dua belas orang anggauta Thian-li-pang tingkat tertinggi, siap dengan pedang di tangan.

Ketika mereka memasuki pintu depan rumah makan, Kui Thian-cu tokoh Pek-liankauw yang memimpin rombongan.

itu, memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk berhenti.

Tadi dia sudah merundingkan dengan Im-yang-ji dan dua orang tosu lain untuk mempermainkan pengacau yang berada di rumah makan itu dengan mempergunakan kekuatan sihir.

Kini, mereka berempat mengerahkan kekuatan sihir, mempersatukan kekuatan mereka, mulut mereka berkemak-kemik membaca mantram, mata mereka memandang ke arah caping yang menutupi kepala dan muka Yo Han, kemudian mereka menudingkan telunjuk kanan ke arah caping itu.

Kui Thian-cu yang menjadi juru bi-cara mereka berempat, segera berkata dengan suara bergema dan mengandung kekuatan sihir.

"Caping yang berada di atas kepala pengacau, terbanglah ke sini!" Para anggauta Thian-li-pang yang bergerombol di luar pintu rumah makan itu terbelalak heran dan kagum melihat betapa caping yang menutupi kepala orang yang duduk membelakangi mereka di sudut itu tiba-tiba saja terbang me-layang ke atas meninggalkan kepala itu, dan empat orang tosu itu sudah siap untuk mentertawakan Yo Han.

Akan tetapi wajah mereka yang tadinya me-nyeringai itu berubah seketika ketika ca-ping yang melayang ke atas itu kini menyambar ke arah mereka seperti pe-luru yang berputar-putar mengeluarkan suara berdesing! Tentu saja mereka ter-kejut bukan main dan mereka cepat mengelak.

Caping itu seperti berubah menjadi seekor burung elang yang me-nyambar-nyambar kepala mereka sehingga mereka sibuk berloncatan ke sana-sini.

Akhirnya, setelah gagal memperoleh kor-ban caping itu melayang kembali ke arah kepala pemiliknya dan hinggap di atas kepala seperti burung terbang kembali ke sarangnya! Kini empat orang tosu itu saling pandang, maklum bahwa pemilik caping itu telah mempermainkan mereka dan bahwa kekuatan sihir mereka tadi sama sekali tidak berhasil! Kui Thian-cu yang melihat betapa ruangan itu terlalu sempit dan banyak terhalang meja dan bangku sehingga ka-wan-kawannya tidak akan leluasa untuk mengeroyok lawan yang agaknya amat lihai ini, segera membentak, "orang ber-caping sombong! Engkau berani melukai para anggauta Thian-li-pang, Pat-kwa--pai dan Pek-lian-kauw.

Kalau engkau memang berkepandaian, dan bukan se-orang pengecut, keluarlah dan mari kita mengadu kepandaian di luar yang luas! Kalau engkau tidak mau keluar, kami akan membakar rumah ini!" Setelah ber-kata demikian, Kui Thian-cu memberi isyarat dan bersama teman-temannya, dia pun melangkah keluar dan menanti di luar rumah makan.

Mendengar ucapan yang bernada me-ngancam itu, pemilik kedai dan puterinya menjadi ketakutan, nekat keluar dari persembunyian mereka dan menjatuhkan diri berlutut di depan Yo Han.

"Tai-hiap....

tolonglah....

harap Tai--hiap keluar dari sini dan berkelahi diluar saja....jangan sampai rumah kami dibakar....!" Juga enam orang anggauta Thian--li-pang yang masih meringkuk di sudut ruangan itu dan tidak berani bergerak, menjadi pucat ketakutan.

Mereka sejak tadi takut pergi dari situ, takut kalau dirobohkan lagi oleh si caping lebar yang amat lihai.

Akan tetapi sekarang ada ancaman dari tosu tadi, kalau mereka diam saja di situ, tentu mereka akan ikut terbakar! Yo Han tentu saja tidak ingin me-rugikan si pemilik rumah makan, tanpa menjawab dia pun menyambar buntalan pakaiannya, menggendong buntalan pakai-annya, mengeluarkan sepotong emas dan melemparkannya ke atas meja.

"Ini untuk pengganti semua kerugian-mu, Paman," katanya sambil melangkah keluar perlahan-lahan.

Tentu saja ayah dan anak itu terkejut dan gembira bukan main.

Pemberian itu puluhan kali lebih banyak daripada kerugian yang mereka derita.

Sementara itu, ketika si caping lebar melangkah lambat-lambat keluar dari rumah makan, empat orang tosu dan se-losin anggauta Thian-li-pang memandang dengan hati tegang.

Yo Han melangkah dengan muka ditundukkan sehingga mereka belum dapat melihat wajahnya.

Setelah tiba di depan empat orang tosu itu, Yo Han berhenti melangkah.

"Heiii, orang asing!" bentak Kui Thian--cu marah.

"Siapakah engkau dan apa pula sebabnya engkau melukai para anggauta Thian-li-pang, Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw?" Tanpa mengangkat mukanya yang me-nunduk dan tertutup caping, Yo Han menjawab, suaranya terdengar dingin, "Sejak dahulu Pat-kwa-pai dan Pek-lian--kauw adalah penjahatpenjahat yang ber-kedok perjuangan, tidak aneh kalau hari ini mereka melakukan kejahatan.

Akan tetapi, Thian-li-pang adalah pejuang-pe-juang sejati, sekarang anak buahnya me-nyeleweng, patut disesalkan dan dibuat penasaran!" "Keparat, enak saja engkau membuka mulut! Perlihatkan mukamu, atau engkau begitu pengecut untuk memperkenalkan diri?" "Kui Thian-cu, aku bukan orang asing bagimu," kata Yo Han dan kini dia meng-angkat mukanya sehingga sekilas nampak wajahnya, akan tetapi dia sudah menun-duk kembali.

Mereka yang sudah menge-nalnya, terkejut, termasuk Kui Thian--cu.

"Ah, kiranya Sin-ciang Tai-hiap" Sejak kapan engkau memusuhi Pat-kwa-pai dan Pek-liankauw?" "Kui Thian-cu, aku tidak memusuhi siapapun, akan tetapi akan menghajar siapa saja yang berbuat jahat.

Anak buah Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai melaku-kan kejahatan bersama anak buah Thian--li-pang yang menyeleweng, maka kuhajar mereka.

Pergilah dan jangan mencampuri urusanku dengan Thian-li-pang, ini me-rupakan urusan dalam Thian-li-pang sen-diri." Akan tetapi Kui Thian-cu sudah ma-rah sekali, apalagi memang dia tahu bahwa ketua Thianli-pang, sekutunya, harus membunuh orang ini yang merupa-kan ancaman bagi perkumpulan itu, "Se-rang dan bunuh dia!" bentaknya dan dia pun sudah menggerakkan pedangnya, diikuti Im Yang-ji dan dua tosu lain yang sudah mencabut pedang.

Yo Han dikeroyok empat orang tosu! Yo Han bergerak cepat, tubuhnya berkelebatan dan menyelinap di antara gulungan sinar empat batang pedang itu.

Sementara itu, selosin anak buah Thian--li-pang tadi terkejut bukan main ketika melihat wajah Yo Han.

Akan tetapi, mereka semua telah menjadi anak buah Ouw Seng Bu dan mereka sudah ikut melakukan penyelewengan, maka tentu saja mereka pun tidak menghendaki Yo Han yang berkuasa di Thian-li-pang kare-na hal itu akan berarti hilangnya semua kesenangan yang selama ini mereka per-oleh semenjak Seng Bu menjadi ketua.

Maka, mereka pun serentak ikut me-ngeroyok! Seorang di antara mereka diam-diam sudah lari naik ke lereng bukit untuk melapor kepada ketuanya.

Ketika dia tiba di pusat, Thian-li-pang, Ouw Seng Bu yang menjamu Siangkoan Kok dan Cu Kim Giok, baru saja selesai makan mi-num.

"Celaka, Pangcu.

Sin-ciang Tai-hiap Yo Han telah muncul.

Dialah orang yang mengacau tadi!" anggauta itu melapor dengan suara gemetar.

Mendengar ini, Ouw Seng Bu me-loncat bangkit dan dia nampak gugup.

Akan tetapi, melihat Siangkoan Kok dan Cu Kim Giok di situ, dia menenangkan diri.

Post a Comment