Halo!

Si Tangan Sakti Chapter 73

Memuat...

Dengan sikap gagah lima orang itu memasuki kedai dan ter-nyata di dalam ruangan kedai yang biasa-nya penuh tamu itu, sekarang kosong.

Hanya ada seorang tamu sedang minum--minum seorang diri di sudut dan mereka melihat orang itu mengenakan caping lebar sehingga tidak nampak mukanya.

Dan mereka melihat pula dua orang adik seperguruan mereka duduk bersandar dinding di lantai sudut itu dengan muka berlumuran darah! Ketika dua orang itu melihat lima orang kakak seperguruan mereka muncul di pintu rumah makan, mereka segera bangkit.

"Suheng, tolonglah kami...." kata mereka dan mereka hendak menghampiri kawan-kawan mereka, akan tetap begitu tangan Yo Han bergerak, dua butir ka-cang menyambar dan mengenai dada kedua orang itu, membuat mereka me-ngeluh dan roboh kembali! Melihat itu, lima orang yang baru datang tentu saja menjadi marah sekali.

"Jahanam busuk!" bentak seorang di an-tara mereka dan lima orang itu serentak menyerang Yo Han dari sekelilingnya.

Yo Han masih tetap duduk di atas bangku-nya, kedua tangannya bergerak, juga kedua kakinya menyambar dan empat orang pengeroyok roboh terpelanting! Orang kelima yang melihat ini, terbe-lalak kaget dan dengan jerih dia me-langkah mundur.

Empat orang yang ro-boh itu mencoba untuk mencabut pedang dan menyerang lagi, akan tetapi sebelum mereka dapat melakukan serangan, kem-bali kaki tangan Yo Han bergerak tanpa dia turun dari bangkunya dan empat orang itu roboh kembali, pedang mereka terlepas berkerontangan dan mereka ti-dak mampu bangkit.

Melihat ini orang ke lima segera meloncat keluar dan melarikan diri ke-takutan.

Dia tidak tahu bahwa memang Yo Han sengaja melepasnya, dengan mak-sud agar dia melapor kepada pimpinan Thian-li-pang.

Dengan tenang dia lalu turun dari bangkunya, dan bagaikan mencengkeram punggung baju mereka dan melemparkan mereka satu demi satu ke sudut sehingga kini di situ berserakan dan bertumpuk enam orang anggauta Thian-li-pang.

Ketika melakukan.

ini, enam orang itu dapat sekilas melihat tampangnya dan dua di antara mereka terbelalak.

"Sin....

ciang....

Tai-hiap...." Mereka berbisik dan jatuh pingsan saking kaget dan takutnya.

Tentu saja mereka ke-takutan sekali karena mereka telah me-lawan pemimpin besar Thian-li-pang! Apalagi mereka juga menyadari bahwa mereka telah melakukan penyelewengan besar dari garis-garis yang ditentukan pemimpin besar ini, menyadari bahwa Thian-li-pang telah berubah semenjak ketua Lauw Kang Hui tewas dan pimpin-an dipegang oleh Ouw Seng Bu.

Yo Han tidak peduli dan melanjutkan minum seorang diri.

Dia harus melurus-kan kembali Thian-li-pang seperti pesan mendiang suhunya, yaitu kakek Ciu Lam Hok.

Dia sengaja merobohkan para ang-gauta Thian-li-pang dan menumpuk mereka di sudut ruangan rumah makan itu untuk memancing datangnya para pim-pinan Thian-li-pang ke situ, terutama sekali Lauw Kang Hui.

228 Dia tidak langsung datang ke Thian-li-pang karena maklum betapa besar bahayanya kalau dia melakukan itu.

Kalau benar para pemimpin Thian-li-pang sudah menyeleweng dan dia dimusuhi, maka mendatangi pusat Thian-li-pang sama dengan menghadapi buaya besar karena Thian-li-pang memiliki anggauta yang rata-rata kuat, juga para pemimpinya lihai di samping tempat itu berbahaya dan penuh rahasia.

Dia harus dapat memancing para pemimpinya keluar ke rumah makan ini, agar lebih leluasa dia turun tangan menghajar mereka dan memaksa mereka ke jalan benar seperti dikehendaki mendiang Ciu Lam Hok gurunya.

Sementara itu, anggauta Thian-li-pang yang ketakutan dan lari pulang, membuat para anggauta lainnya menjadi gempar.

Mereka tidak berani menganggap persoalan itu kecil lagi, apalagi ketika rekan mereka menceritakan betapa empat kawannya roboh dengan mudah sekali oleh si caping lebar yang aneh.

Mereka lalu berangkat untuk melaporkan peristiwa itu kepada ketua mereka.

Ketika itu, ketua Thian-li-pang yang baru, Ouw Seng Bu, sedang menjamu dua orang tamu yang dihormatinya, yaitu Cu Kim Giok dan Siangkoan Kok.

Seperti telah diceritakan dibagian depan, Cu Kim Giok tertarik kepada Ouw Seng Bu dan menganggap pemuda itu seorang ketua perkumpulan besar Thian-li-pang yang tampan, gagah perkasa dan berjiwa patriot, membuat ia merasa tunduk dan kagum bukan main.

Adapun Siangkoan Kok, bekas ketua Paobeng-pai, juga dapat ditundukan Ouw Seng Bu dengan ilmunya yang luar biasa sehingga kini Siankoan Kok yang sudah hancur perkumpulannya itu mau menggabungkan diri untuk menentang pemerintah dan mencari kedudukan yang tinggi.

Demikian besar rasa kagum Cu Kim Giok kepada Ouw Seng Bu sehingga ia tidak berkeberatan untuk makan bersama dua orang tosu wakil Pek-lian-kauw dan dua orang tosu wakil Pat-kwa-pai yang datang sebagai tamu Thian-li-pang.

Padahal, sejak kecil ia sudah mendengar dari ayah ibunya bahwa peklian-kauw adalah perkumpulan yang banyak melakukan kejahatan, walaupun perkumpulan itu terkenal sebagai perkumpulan yang menentang pemerintah Mancu.

Alasan yang dikemukakan Ouw Seng Bu bahwa untuk menentang penjajah, semau kekuatan harus bersatu, tanpa membeda-bedakan antar golongan putih atau hitam, dapat ia terima bahkan membenarkannya.

Demikianlah, pada saat itu, Ouw Seng Bu, makan minum semeja dengan Siangkoan Kok, Co Kim Giok, dan empat orang tosu, yaitu dua tokoh Pat-kwa-pai dan dua orang tokoh Pek-liankauw.

Wakil Pat-kwa-pai yang bertubuh tinggi kurus bernama Im-yang-ji, murid kepala dari ketua Pat-kwa-paiyang lihai, bersama adik seperguruannya.

Adapun wakil Pek-lian-kauw adalah kui Thian-cu yang sudah kita kenal ketika dia me-wakili Pek-lian-kauw hadir dalam pesta yang diadakan Siangkoan Kok ketika masih menjadi ketua Pao-beng-pai, ber-sama seorang adik seperguruannya pula.Ouw Seng Bu yang merasa bergembi-ra sekali telah mendapatkan dua sekutu yang boleh dibanggakan, Siangkoan Kok yang selain amat lihai juga dapat diharapkan menghimpun ba-nyak orang menjadi anak buah mereka, dan Cu Kim Giok.

Gadis puteri majikan Lembah Naga Siluman ini tentu saja merupakan seorang sekutu yang amat besar artinya, karena tentu akan dapat menjadi jembatan agar para tokoh kang--ouw lainnya suka bergabung dengan Thian--li-pang.

Selain itu, sejak pertemuan yang pertama kalinya, hati Ouw Seng Bu su-dah terjerat dan dia tahu bahwa dia jatuh cinta kepada gadis yang bermata indah, dan amat manis itu.

"Mari kita minum untuk persatuan antara kita yang kokoh kuat untuk me-numbangkan penjajah dan mengusir mereka dari tanah air tercinta!" kata Ouw Seng Bu penuh semangat.

Enam orang lain yang duduk semeja itu menyambut dengan penuh semangat pula, bahkan Cu Kim Giok merasa bangga karena ia me-rasa yakin bahwa ayah ibunya tentu akan merasa bangga pula melihat puteri mereka kini bersekutu dengan para pejuang yang hendak menumbangkan pemerintah penjajah Mancu! Baru saja mereka mengosongkan ca-wan, seorang anggauta Thian-li-pang ter-gopoh-gopoh memasuki ruangan itu.

Dia adalah kepala jaga, dan biarpun dalam hal tingkatan, orang ini masih adik se-perguruan Ouw Seng Bu, yaitu murid mendiang Lauw Kang Hui, akan tetapi karena kini Ouw Seng Bu telah menjadi ketua dan orang itu bukan lain hanya seorang anak buah, ketua Thian-li-pang yang masih muda itu mengerutkan alis-nya dan merasa terganggu.

"Hemmm, ada urusan apa sampai eng-kau datang mengganggu kami?" bentak-nya dengan sikap berwibawa.

"Harap maafkan kelancangan saya, Pangcu.

Akan tetapi saya hendak me-lapor bahwa ada seseorang yang telah merobohkan dan menawan enam orang anggauta kita di kedai arak dusun bawah sana." Kerut di antara mata Seng Bu se-makin mendalam dan matanya mencorong marah.

"Hemmm, muncul seorang pengacau saja kalian tidak mampu mem-bereskannya sendiri dan masih melapor kepada kami?" "Maaf, Pangcu.

Mula-mula, dua orang anggauta kita bersama seorang teman anggauta Patkwa-pai dan seorang ang-gauta Pek-lian-kauw minum di kedai itu, bertemu dengan si pengacau yang me-robohkan dua orang anggauta kita, akan tetapi hanya melukai dua orang tosu sahabat dan membiarkan mereka pergi.

Dua orang anggauta Thian-li-pang itu ditawannya di kedai.

Kemudian, lima orang saudara tua kami turun lereng untuk memberi hajaran.

Akan tetapi, empat orang di antara mereka roboh dan ditawan, seorang dapat melarikan diri melapor dan menurut laporannya, empat orang saudara tua itu dalam segebrakan saja roboh oleh pengacau yang bercaping lebar itu." "Hemmm....!" Ouw Seng Bu diam--diam terkejut.

Yang disebut saudara tua adalah para anggauta yang tingkatnya sejajar dengannya, yaitu murid atau mu-rid keponakan mendiang Lauw Kang Hui.

Kalau empat orang di antara mereka roboh dengan mudah oleh pengacau itu, dapat dibayangkan betapa lihainya orang itu.

"Ah, siapa berani melukai anggauta Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw?" seru Im Yang-ji, tokoh Pat-kwa-pai dengan ma-rah.

Dia sudah mulai mabuk maka mudah sekali panas hati mendengar bahwa se-orang anak buahnya dilukai orang.

"To-yu, kita harus menghajar orang itu!" katanya kepada dua orang tosu Pek-lian--kauw.

Kui Thian-cu mengangguk dan bangkit berdiri, memberi hormat kepada Seng Bu sambil berkata, "Pangcu, biarlah kami berempat yang menghajar orang itu dan menyeretnya ke sini agar Pengcu dapat menghukumnya.

Pangcu tidak perlu ma-rah-marah dan terganggu makan, minum.

Sebaiknya, Pangcu, Nona dan Siangkoan Lo-cian-pwe melanjutkan makan minum.

Kami berempat akan segera kembali menyeret si pengacau itu." Ouw Seng Bu mengangguk dan bangkit berdiri membalas penghormatan empat orang tosu itu.

"Kalau Cu-wi hendak menghajar si pengacau yang telah me-lukai anggauta Pek-liankauw dan Pat--kwa-pai, silakan dan harap jangan mem-bunuhnya karena saya ingin melihatnya dan menanyainya mengapa dia berani memusuhi kita." Empat orang tosu itu mengangguk dan ke luar dari ruangan itu dengan langkah lebar.

Setelah mereka pergi, Ouw Seng Bu menoleh kepada Cu Kim Giok sambil tersenyum.

"Aih, ada-ada saja.

Sayang sekali masih terdapat orang-orang yang tidak menghargai perjuangan kita se-hingga mereka itu bukan membantu kita, bahkan memusuhi kita dan rela menjadi antek penjajah Mancu.

Post a Comment