Akan, tetapi kita kaum pendekar bagaimana mungkin be-kerja sama dengan kaum sesat" Justeru tugas utama kita adalah untuk menen-tang segala perbuatan jahat dari kaum sesat, membela yang lemah tertindas dan menentang yang kuat tapi jahat! Ketua yang masih muda itu tersenyum ramah.
Dia bicara penuh semangat, akan tetapi tidak terbawa perasaan, masih tetap tenang dan tersenyum sehingga membuat gadis itu pun tidak terbawa dan terseret dalam perbantahan yang memperebutkan kebenaran sendiri.
"Sudah kukatakan tadi bahwa dalam perjuangan, kepentingan pribadi dan ke-pentingan golongan harus disingkirkan lebih dahulu.
Tanpa sikap seperti itu, bagaimana mungkin ada persatuan dan tanpa persatuan bagaimana mungkin ada kekuatan" Buktinya, semua usaha per-juangan yang lalu selama ini, baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam, gagal semua.
Karena terpecah--pecah! Kalau kita menuruti kepentingan pribadi dan golongan, misalnya kalau kita tidak mau bersatu dengan golongan sesat dan memusuhi mereka, maka kita akan terpecah belah dan akibatnya melemah-kan diri sendiri.
Dengan demikian, yang untung adalah pemerintah penjajah! Me-ngertikah engkau, Nona?" Cu Kim Giok bukan seorang gadis yang bodoh.
Ia termenung dan menelan ucapan ketua itu dalam hatinya, dan mulailah ia mengerti akan apa yang di-maksudkan Seng Bu.
"Aku mengerti, Pangcu.
Akan tetapi karena sejak kecil orang tuaku menanam-kan jiwa kependekaran dalam hatiku, rasanya amat berat bagiku menerima kenyataan dari kebenaran pendapatmu tadi.
Kalau kita para pendekar tidak me-nentang golongan sesat, bukankah kehidupan rakyat akan menjadi semekin parah dan sengsara, tertindas kejahatan tanpa ada yang membela dan melindungi?" "Tentu saja kita tidak kalau terjadi kejahatan di depan mata kita, Nona.
Kita wajib melindungi menjadi korban kejahatan.
Akan tetapi, urusan itu merupakan urusan yarg tidak diutamakan kepentingannya, lebih pen-ting urusan perjuangan sehingga kalau pun kita menentang kejahatan, harus dicegah agar jangan sampai menimbulkan keretakan persatuan antara golongan.
Ketahuilah, Nona, bahwa peristiwa ke-jahatan hanya merupakan akibat dari tidak sehatnya pemerintah.
Seperti se-buah penyakit, kejahatan, ketidakamanan, ketidakmakmuran dan bahkan kesengsara-an rakyat hanya merupakan bintik-bintik kecil akibat penyakit itu.
Memberantas dan mengobati bintik-bintiknya saja tidak akan banyak manfaatnya karena bintik--bintik itu akan muncul lagi setelah di-obati selama penyakitnya masih ada.
Kita harus lebih mementingkan pengobat-an penyakitnya, sumber penyakit itu sendiri.
Dalam hal ini, sumber penyakit-nya terletak pada pemerintahan.
Bangsa dan tanah air kita dicengkeram penjajah Mancu, tentu saja pemerintahnya tidak sehat dan memeras rakyat jelata.
Kalau penjajahan itu dapat kita bongkar dan kita ganti dengan pemerintah bangsa sendiri, maka penyakit itu sembuh pada sumbernya dan tidak akan timbul bintik--bintik berbahaya.
Segala bentuk kejahat-an akan dapat kita tumpas.
Penindasan yang dilakukan para penjahat itu tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan penindasan dan penghisapan yang dilaku-kan penjajah terhadap kita." Kim Giok tersenyum dan mengangguk--angguk.
Ia kagum sekali dan kini ia da-pat mengerti sepenuhnya, "Sekarang aku mengerti, Pangcu, dan aku tidak pena-saran lagi melihat Thian-lipang bersaha-bat dengan golongan sesat, kalau mak-sudnya untuk mempersatukan tenaga melawan penjajah." 222 Sejak percakapan itu, Kim Giok se-makin kagum dan tartarik kepada ketua Thian-li-pang itu, dan sebaliknya Seng Bu juga telah jatuh hati kepada puteri Lem-bah Naga Siluman.
Ketika Seng Bu min-ta agar gadis itu tinggal di Thian-li-pang sebagai tamu kehormatan selama beberapa hari, Kim Giok tidak menolak.
Demikianlah, ketika pada pagi hari itu Yo Han mendaki Bukit Naga, Cu Kim Giok telah tinggal selama lima hari di perkampungan Thian-li-pang.
Hubungannya dengan Seng Bu semakin akrab namun ketua itu masih tetap bersikap sopan dan tidak pernah menyatakan perasaan hati-nya.
Kim Giok sudah mendengar banyak dari Seng Bu tentang Thian-li-pang, dan ia mendengar pula kisah yang aneh, pe-ristiwa mengerikan yang terjadi beberapa bulan yang lalu, yaitu tentang pembunuh-an terhadap ketua Thian-li-pang yang dilakukan oleh seorang yang tadinya di-anggap sebagai pemimpin Thian-li-pang, yaitu Sin-ciang Tai-hiap Yo Han.
Ia su-dah mendengar nama itu, maka menyata-kan keheranannya kepada Seng Bu meng-apa Yo Han yang dianggap sebagai pe-mimpin besar malah membunuh ketua Thian-lipang.
Dengan cerdik Seng Bu menceritakan bahwa pembunuhan itu di-lakukan Yo Han untuk membalas dendam atas kematian gurunya yang bernama Ciu Lam Hok.
Demikian pandainya Seng Bu bercerita sehingga Kim Giok percaya dan gadis ini pun merasa tidak senang kepada pendekar yang di juluki Si Tangan Sakti itu.
Kita kembali kepada Yo Han yang sedang mendaki Bukit Naga dengan san-tai.
Kembali ke tempat ini, di mana selama bertahun-tahun dia hidup dalam sumur maut bersama gurunya, mendiang kakek Ciu Lam Hok yang buntung kaki tangannya, mendatangkan segala macam kenangan lama padanya.
Bahkan kenangan itu berkembang sampai akhirnya dia ter-kenang kepada Tan Sian Li, satu-satunya wanita yang pernah dicintanya sejak dia masih seorang pemuda remaja.
Akan tetapi, percakapannya dengan Cia Sun, setidaknya menimbulkan lagi harapan baru dalam hatinya.
Ketika dia mening-galkan Sian Li, di rumah orang tua gadis itu yang menjadi suhu dan subonya per-tama kali, harapannya sudah hancur lu-luh.
Dia mendengar betapa suhu dan subonya hendak menjodohkan Sian Li dengan seorang pangeran di kota raja! Tentu saja seorang pangeran jauh lebih pantas menjadi suami seorang gadis se-perti Si Bangau Merah itu daripada dia! Dia yatim piatu miskin dan papa, tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap! Akan tetapi, kebetulan dia bertemu de-ngan Pangeran Cia Sun, bersahabat bah-kan pernah senasib sependeritaan yang mendorong mereka mengangkat saudara.
Dan dari adik angkatnya yang pangeran ini dia mendengar bahwa adik angkatnya itulah pangeran yang hendak dijodohkan dengan Sian Li! Akan tetapi, di samping berita mengejutkan itu, terdapat ke-nyataan yang membuat dia tumbuh lagi semangatnya, timbul pula harapannya, yaitu bahwa Pangeran Cia Sun dan Tan Sian Li tidak saling mencinta.
Pangeran itu bahkan mencinta gadis lain, yaitu puteri ketua Pao-beng-pai! Dalam perjalanannya menuju ke Thian--li-pang, dia pun sudah mendengar akan pembasmian Pao-beng-pai yang dilakukan pasukan pemerintah.
Dia mengira bahwa tentu adik angkatnya, Pangeran Cia Sun, yang melakukan penyerbuan itu, walaupun ada kesangsian di hatinya apakah sang pangeran mau melakukan hal itu meng-ingat akan cintanya terhadap Siangkoan Eng.
Tiba-tiba Yo Han menghentikan lang-kahnya dan dia mengerutkan alisnya.
Dia mendengar suara orang bercakap-cakap sambil tertawa-tawa dan suara itu makin mendekat, tanda bahwa mereka yang bercakap-cakap itu sedang berjalan me-nuruni lereng.
Yo Han menyelinap ke balik pohon besar.
Sudah lama dia me-ninggalkan Thian-li-pang dan dia tidak tahu bagaimana keadaannya.
Walaupun dia percaya sepenuhnya kepada Lauw Kang Hui yang diserahi pimpinan per-kumpulan itu, namun sebaiknya kalau dia menyelidiki keadaannya karena bagai-manapun juga, kalau sampai terjadi hal--hal yang tidak benar di Thian-li-pang, dialah yang bertanggung jawab.
Gurunya berpesan agar dia menyelamatkan Thian--li-pang dari penyelewengan, maka biarpun dia tidak memimpin langsung, dia harus selalu mengawasi.
Mereka yang tertawa-tawa tadi se-karang telah datang dekat dan dari balik batang pohon, Yo Han mengintai.
Alis-nya terangkat dan kemudian berkerut tidak senang ketika dia melihat dua orang anggauta Thian-li-pang berjalan sambil bercakap-cakap dan tertawa-tawa dengan dua orang pendeta muda yang dari tanda gambar di dadanya diketahuinya sebagai dua orang anggauta Pat-kwa-pai! Dia merasa heran bukan main.
Bagaimana mungkin anggauta Thian-lipang bergaul demikian akrabnya dengan anggaut Pat--kwa-pai yang terkenal sebagai golongan sesat yang menggunakan kedok perjuang-an, atau dapat juga dikatakan pemberon-tak- pemberontak yang tidak segan meng-gunakan kejahatan dan kekejaman dalam pemberontakan mereka" Yo Han menahan diri, ingin tahu lebih banyak, maka dari jauh dia membayangi empat orang itu.
Dia tidak mengenal para anggauta Thian-li-pang.
Yang dikenalnya hanyalah Lauw Kang Hui dan pimpinannya, bahkan dia tidak tahu nama para pimpinan mudanya satu demi satu.
Akan tetapi melihat sikap mereka, siapa lagi mereka itu kalau bukan anggauta Thian-li-pang" Dan mereka telah berada di wilayah Thian-li-pang, maka kehadiran dua orang anggauta Patkwa-pai sung-guh mencurigakan sekali.
Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, tidak sukar bagi Yo Han untuk membayangi mereka, kadang malah demikian dekat sehingga dia dapat mendengarkan sebagian dari percakapan mereka.
Setelah mendengar percakapan itu dia pun yakin bahwa dua orang itu adalah anggauta Thian-li-pang.
"Kenapa kalian khawatir?" terdengar seorang di antara dua anggauta Thian-li-pang itu berkata kepada dua orang tosu itu.
"Kalau hanya kami berdua yang menghilang dari tempat penjagaan, tidak akan kentara.
Pula siapa sih yang akan berani mendaki Bukit Naga dan meng-ganggu wilayah Thian-li-pang" Baru men-dengar nama Thian-li-pang saja, nyali mereka sudah terbang melayang!" Mereka tertawa-tawa.
"Pula, berapa lamanya untuk sekedar bersenang-senang dengan kalian di dusun bawah sana" Andaikata para pimpinan mengetahui kalau kami pergi bersama kalian, tentu tidak akan dimarahi.
Bu-kankah Thian-li-pang bersahabat baik de-ngan Pat-kwa-pai?" Kembali mereka ter-tawa-tawa dan tidak tahu betapa Yo Han mengepal tinju mendengarkan percakapan itu.
Akhirnya, empat orang itu tiba di dusun yang berada di kaki Bukit Naga.
Di dusun itu terdapat sebuah kedai arak dan ke sanalah mereka masuk.
Yo Han yang memakai caping lebar, duduk pula dengan memilih tempat jauh di sudut dan capingnya tidak dilepas sehingga mukanya tertutup.
Ketika pelayan datang meng-hampiri, dia memesan arak dan semang-kuk bubur.
Terdengar ribut-ribut di meja empat orang itu.
Agaknya pemilik kedai arak menghampiri mereka dan menuntut agar mereka lebih dahulu mengeluarkan uang untuk membeli makanan dan minuman yang mereka pesan.
"Sudah terlalu sering teman-teman kalian makan minum di sini tanpa mem-bayar! Aku tidak mau dirugikan, harap kalian suka membayar lebih dulu." kata pemilik kedai itu, seorang lakilaki ber-usia lima puluhan tahun yang kurus agak bongkok.
Seorang anggauta Thian-li-pang yang tinggi bermuka kuning, bangkit dan ber-tolak pinggang.
"Apa katamu" Tidak tahukah engkau dengan siapa engkau ber-hadapan" Kami berdua adalah anggauta Thian-ii-pang dan dua orang sahabat kami ini adalah anggauta Patkwa-pai.