"Tenanglah, Moi-moi, kenapa engkau berkata begitu" Bukankah sepatut-nya engkau berbangga" Ayah ibumu ada-lah suami isteri pendekar yang sakti dan nama mereka terkenal sekali di dunia persilatan!" "Aih, engkau tidak tahu, Koko! Ah, betapa malunya aku berhadapan dengan mereka.
Ketahuilah, aku pernah mewakili Pao-beng-pai mendatangi tiga keluarga besar para pendekar itu dan menantang mereka mengadu kepandaian.
Bahkan dalam peristiwa itu, Siauw-kwi Can Bi Lan, ibu kandungku itu maju untuk me-nandingiku, akan tetapi aku, si tinggi hati tak tahu diri ini, aku bahkan meng-hinanya dan menantang Pendekar Suling Naga, ayahku sendiri untuk maju menan-dingiku! Aku telah bersikap angkuh dan menghina tiga keluarga besar dan ter-nyata Pendekar Suling Naga adalah ayah-nya sendiri.
Bagaimana aku dapat ber-hadapan dengan mereka, Koko?" Dalam rangkulan Cia Sun, seluruh tubuh Eng Eng gemetar seperti orang terserang demam.
"Jangan risaukan hal itu, Eng-moi.
Engkau tidak dapat disalahkan.
Ketika itu, engkau mewakili Pao-beng-pai dan engkau tentu menganggap para pendekar itu sebagai musuh.
Apalagi engkau hanya melaksanakan tugas, karena ketika itu engkau menganggap bahwa kau adalah puteri ketua Pao-beng-pai.
Dan aku me-ngerti mengapa engkau mendapatkan tugas itu.
Mungkin bibi Lauw Cu Si yang kauangap sebagai ibumu itulah yang mem-punyai peran penting, sengaja membujuk Siangkoan Kok agar engkau melakukan penghinaan terhadap keluarga besar para pendekar itu." Gadis itu menatap wajah Cia Sun.
"Eh, kenapa begitu?" "Aku sudah melakukan penyelidikan dan mengetahui siapa sebetulnya men-diang bibi Lauw Cu Si itu.
Ia adalah seorang keturunan pimpinan Beng-kauw yang telah hancur.
Karena ia seorang tokoh sesat, tentu saja ia memusuhi keluarga besar dari Pulau Es, Gurun Pasir, dan Lembah Siluman.
Itu pula yang menyebabkan ia menculikmu, yaitu untuk membalas dendam kepada Pendekar Suling Naga dan isterinya yang terkenal sebagai pendekar-pendekar yang menen-tang golongan sesat.
Dengan mengadukan engkau melawan keluarga pendekar itu, melawan golongan orang tuamu sendiri, agaknya bibi Lauw Cu Si menemukan kepuasan tersendiri." "Akan tetapi, Koko.
Kalau orang tua-ku itu Pendekar Suling Naga dan isteri-nya yang merupakan sepasang suami isteri pendekar yang sakti, kenapa aku sampai dapat terculik" Dan kenapa pula mereka tidak mencari si penculik dan merampasku kembali?" "Pertanyaan seperti itu juga kuajukan kepada Yo-toako ketika kami membicara-kan anak hilang itu.
Menurut keterangan Yo-toako, Pendekar Suling Naga dan isterinya sudah sejak kehilangan puteri mereka itu berusaha sampai bertahun--tahun untuk menemukan anak mereka kembali.
Namun semua usaha itu sia--sia belaka.
Agaknya, si penculik, yaitu bibi Lauw Cu Si, dengan cerdik sekali telah menghilang, yaitu menjadi isteri Siangkoan Kok dan tak seorang pun me-ngira bahwa engkau adalah anak yang diculik.
Semua orang, bahkan Siangkoan Kok sendiri, menganggap engkau adalah puteri bibi Lauw Cu Si." Eng Eng mengangguk-angguk, semua rasa penasaran hilang, akan tetapi tetap saja ia mengerutkan alisnya.
Kalau saja ia mendengar bahwa ayah ibunya adalah orang-orang biasa, bahkan petani miskin sekalipun, ia tentu akan berbahagia sekali dan merasa rindu untuk segera da-pat bertemu dengan orang tuanya yang aseli.
Akan tetapi, Pendekar Suling Naga! Semua pengalamannya ketika ia menan-tang tiga keluarga besar itu terkenang dan makin dikenang, semakin merah wa-jahnya karena ia merasa malu bukan main.
"Koko, aku....
aku takut untuk ber-temu dengan mereka, aku takut dan malu...." Cia Sun merangkul pundaknya, dan mengajaknya menghampiri kuda mereka.
Matahari telah naik tinggi dan di jalan raya sana lalu lintas sudah mulai ramai.
"Eng-moi, buang saja semua perasaan itu.
Percayalah, orang tuamu tidak pernah berhenti memikirkanmu, bahkan se-karang pun masih minta bantuan Yo--toako untuk mencarimu.
Mereka akan berbahagia sekali kalau dapat menemukan anak mereka kembali, dan tentang ke-munculanmu tempo hari, mereka tentu akan dapat mengerti.
Jangan khawatir, akulah yang akan menemanimu ke sana menghadap mereka, dan aku yang tanggung bahwa mereka tentu akan menerima dengan bahagia dan tidak akan ada yang menyesalkan tindakanmu dahulu." "Aih, aku merasa ngeri bertemu mereka, Koko.
Bagaimana kalau aku tidak usah memperlihatkan diri saja kepada mereka" Biarlah ini menjadi rahasia kita berdua saja.
Aku....
aku tidak mau mem-buat suami isteri pendekar itu mendapat malu besar dan nama baik mereka ter-cemar karena mempunyai anak seperti aku ...." "Hushhhhh, jangan berkata begitu, Moi-moi.
Coba jawab apakah engkau mencinta aku seperti aku mencintamu?" "Apakah hal itu masih perlu ditanya-kan lagi, Koko" Aku mencintamu, bahkan kekejamanku terhadapmu tadi pun karena terdorong cintaku padamu, karena panas-nya hatiku mendengar engkau mencinta Sim Hui Eng yang kukira gadis lain.
Aku cinta padamu, Koko." "Bagus, dan karena kita saling men-cinta, apakah engkau mau menjadi isteri-ku?" Gadis itu mengangguk.
Sebagai puteri ketua Pao-beng-pai yang sejak kecil hi-dup dalam suasana kekerasan, ia tidak canggung atau malu mengaku tentang perasaan cintanya, "Tentu saja aku mau,koko!" "Nah, kalau begitu, karena aku se-orang pangeran yang tidak mungkin me-ninggalkan tatasusila dan adat-istiadat, aku akan melamarmu dengan terhormat dan baik-baik.
Dan untuk itu, engkau harus mempunyai wali, mempunyai orang tua.
Sekarang, mari kita pergi ke Lok-yang, ke rumah orang tuamu.
Setelah engkau diterima dengan baik, aku akan kembali ke kota raja dan aku akan me-ngirim utusan untuk meminangmu secara terhormat." Gadis itu mengerutkan alisnya, akan tetapi begitu sinar matanya bertemu dengan pandang mata pangeran itu, ia pun mengangguk dan menurut saja ketika digandeng ke arah dua ekor kuda mereka yang sedang makan rumput.
Tak lama kemudian, sepasang orang muda yang berbahagia ini pun sudah melarikan kuda, menuju ke Lok-yang.
Karena Cia Sun merupakan seorang keluarga kaisar, bahkan cucu kaisar, seorang pangeran yang pandai bergaul dan terkenal di kalangan para pejabat daerah, maka di sepanjang perjalanan dengan mudah saja dia mendapatkan pelayanan yang penuh penghormatan, mendapatkan tempat bermalam di rumah para kepala daerah, dijamu pesta dan mendapatkan penukaran kuda-kuda baru sehingga perjalanan ini cukup menyenang-kan bagi Eng Eng.
*** Yo Han mendaki lereng bukit itu.
Bukit Naga.
Thian-li-pang berada di le-reng paling atas, dekat puncak.
Sudah hampir setengah tahun dia merantau, mencari Sim Hui Eng, puteri Pendekar Suling Naga.
Namun, usahanya sia-sia.
Tak pernah dia berhasil mendengar ke-terangan tentang penculikan terhadap putri pendekar sakti itu.
Dia sudah me-masuki dunia kang-ouw, bahkan banyak menundukkan tokoh-tokoh sesat, hanya untuk dimintai keterangan kalau-kalau ada yang mengetahui, siapa yang pernah menculik puteri Pendekar Suling Naga dua puluh tahun yang lalu.
Akan tetapi semua usahanya, dari bujuk halus sam-pai kekerasan, tidak ada hasilnya.
Agak-nya tidak ada seorang pun tahu siapa yang menculik puteri pendekar itu.
Pen-culiknya agaknya lihai dan cerdik bukan main sehingga setelah menculik anak itu, dia seperti menghilang ke dalam bumi membawa anak culikannya! Akhirnya Yo Han mengambil kesimpul-an bahwa tanpa banyak tenaga pembantu, akan sukarlah menemukan anak yang hilang itu.
Dia teringat kepada Thian-li-pang.
Dia telah dianggap sebagai pemimpin besar Thian-li-pang dan anak buah Thian-li-pang adalah orangorang berpengalaman dan memiliki hubungan luas dalam dunia kang-ouw.
Mungkin para tokoh kang-ouw yang ditanyainya, merasa enggan untuk membuka rahasia rekan mereka sendiri yang melakukan penculik-an, karena dia dianggap sebagai Pen-dekar Tangan Sakti, seorang pendekar yang menentang kejahatan.
Kalau anak buah Thian-li-pang yang melakukan penyelidikan, mungkin akan lebih mudah.
Orang-orang kang-ouw tentu akan ber-sikap lebih terbuka di antara golongan sendiri.
Benar sekali, kenapa sejak dahu-lu dia tidak minta bantuan para ang-gauta Thian-li-pang, pikirnya menyesali diri sendiri.
Paman Lauw Kang Hui tentu akan senang membantuku dan lebih besar harapannya untuk dapat menemukan orang yang pernah menculik puteri Pendekar Suling Naga! Demikianlah, pada pagi hari itu, Yo Han mendaki lereng Bukit Naga.
Dia sama sekali tidak tahu bahwa Thian--li-pang telah terjadi perubahan yang amat besar.
Tidak tahu bahwa Lauw Kang Hui dan beberapa orang tokoh Thian--li-pang telah tewas, terbunuh oleh Ouw Seng Bu, yang kini menjadi ketua Thian--li-pang! Memang Thian-li-pang telah berubah sama sekali semenjak dipegang pimpinan-nya oleh Ouw Seng Bu.
Pemuda yang telah menemukan ilmu silat yang amat hebat ini membiarkan para anggauta Thian-li-pang berbuat apa saja dengan bebasnya.
Bahkan dia menjalin hubungan lagi dengan Pek-lian-kauw dan Pat-kwa--pai, seperti yang pernah dilakukan Thian-li-pang dahulu sebelum muncul Yo Han yang membersihkan perkumpulan pejuang itu, dan Ouw Seng Bu bahkan mempunyai cita-cita untuk mempersatukan semua kelompok pejuang dengan dia yang men-jadi pemimpin besar.
Kalau semua ke-kuatan kelompok pejuang sudah diper-satukan, baik itu dari golongan pendekar maupun golongan sesat, dan dia yang menjadi pemimpin besar, tentu perjuang-an mengusir penjajah Mancu akan ber-hasil.
Dan kalau sudah berhasil, dia yang menjadi pemimpin besar, tentu berhak untuk menjadi kaisar kerajaan baru! Be-sar sekali jangkauan cita-cita pemuda ini.
Setelah secara kebetulan bertemu dengan Cu Kim Giok di dekat Ban-kwi--kok, menolong gadis itu dari ancaman Siangkoan Kok, dan berhasil pula me-nundukkan bekas ketua Paobeng-pai yang berjanji untuk membantunya, Ouw Seng Bu mengajak, Kim Giok berkunjung ke Bukti Naga.
Cu Kim Giok sudah men-dengar tentang perkumpulan Thian-li-pang yang di dunia kang-ouw (sungai telaga, atau persilatan) dikenal sebagai sebuah perkumpulan para patriot yang berjuang untuk menggulingkan pemerintah penjajah.
Itulah sebabnya, ia merasa kagum dan tertarik sekali kepada Ouw Seng Bu, pemuda tampan dan gagah yang mengaku sebagai ketua Thian-li-pang.
Dan di sepanjang perjalana menuju ke Bukit Naga, Kim Giok melihat betapa sikap Seng Bu memang amat baik.
Pe-muda itu pendiam, juga sopan, juga ra-mah terhadap dirinya.
Cu Kim Giok adalah puteri tunggal suami isteri pendekar.
Ayahnya, Cu Kun Tek, merupakan pendekar keturunan lang-sung dari keluarga Cu, majikan Lembah Naga Siluman.
Ibunya tidak kalah lihai dibandingkan ayahnya, karena ibunya adalah murid mendiang Bu Beng Lokai.
Tentu saja sebagai anak tunggal, Kim Giok telah mewarisi ilmu-ilmu, dari ayah ibunya, dan biarpun usiarya baru delapan belas tahun lebih, Kim Giok telah menjadi seorang pendekar wanita yang amat lihai.
Akan tetapi, tentu saja ia kurang pengalaman karena kali ini merupakan yang pertama ia merantau seorang diri untuk meluaskan pengalamannya.