Halo!

Si Tangan Sakti Chapter 68

Memuat...

"Apa....

apa maksudmu" Aku dibawa ibu ketika masih kecil, berusia dua tiga tahun ketika ibu-ku menikah dengan Siangkoan Kok! Ke-napa kaukatakan dia bukan ayah tiriku?" "Inilah rahasia besar yang dibuka ibumu kepadaku, Eng-moi.

Memang benar ketika bibi Lauw Cu Si itu menikah de-ngan Siangkoan Kok, ia membawa se-orang anak kecil dian anak itu adalah engkau, Eng-moi.

Akan tetapi, engkau bukanlah anak kandung bibi Lauw Cu Si!" "Ehhh....!!?"" Eng Eng berseru se-tengah menjerit.

"Apa" apa maksudmu....!!?" Tangan gadis itu menangkap lengan Cia Sun dan mencengkeramnya, seluruh tubuhnya gemetar dan wajahnya semakin pucat.

"Aku mendengar dari Nyonya Siang-koan Kok yaitu bibi Lauw Cu Si, Eng--moi.

Agaknya karena tahu bahwa ia akan tewas, maka ia membuka rahasia itu kepadaku.

Engkau bukan anak kandung-nya, engkau telah ia culik dari orang tuamu ketika engkau masih kecil, ke-mudian diaku sebagai anaknya sendiri." "Tapi....

tidak mungkin! Apa bukti-nya" Bagaimana aku dapat mengetahui benar tidaknya ceritamu ini?" "Sabar dan tenanglah, Eng-moi.

Aku pun tadinya terkejut dan kalau bukan bibi Lauw Cu Si sendiri yang bercerita, aku pun pasti tidak akan percaya.

Akan tetapi, aku lalu teringat kepada Yo-toako! Engkau ingat Sin-ciang Tai-hiap Yo Han?" Eng Eng mengerutkan alisnya.

Tentu saja ia teringat kepada pendekar yang amat lihai itu.

"Apa hubungannya dia dengan ceritamu itu?" "Eng-moi, ingatkah engkau akan peng-akuan Yo-toako bahwa dia hendak men-cari seorang gadis yang diculik orang sejak kecil" Gadis itu bernama Sim Hui Eng dan Yo-toako bertugas untuk men-carinya.

Bahkan dia kemudian ditipu Siangkoan Kok yang menyuruh mendiang Tio Sui Lan untuk memancingnya ke dalam gua kemudian menjebak dan me-nangkapnya.

Nah, gadis yang dicari-cari-nya itu adalah engkau, Eng-moi.

Engkau-lah gadis yang ketika kecil diculik itu, dan penculiknya adalah bibi Lauw Cu Si yang selama ini kauanggap sebagai ibumu sendiri." Eng Eng masih terbelalak dan seperti berubah menjadi patung.

Ia tentu saja masih diombangambingkan kebimbangan.

"Tapi....

tapi apa buktinya bahwa....

ibuku meninggalkan pesan itu kepadamu, dan apa buktinya bahwa aku benar-benar gadis yang bernama Sim Hui Eng itu" Tanpa bukti, bagaimana mungkin aku dapat mempercayai ceritamu?" Cia Sun menghela napas panjang.

"Tentu saja aku tidak dapat membuktikan bahwa mendiang bibi Lauw Cu Si membuka rahasia itu kepadaku, juga ketika kami bicara, tidak ada seorang pun saksi-nya.

Dan ia sudah meninggal dunia, jadi tidak mungkin lagi ditanyai.

Akan tetapi, aku mempunyai suatu tanda rahasia yang ada pada dirimu, seperti yang diceritakan Yo-toako kepadaku.

Ketika Yo-toako menerima tugas mencari anak yang hi-lang diculik itu, orang tua anak itu mem-beritahukan kepadanya adanya dua tanda rahasia di badan anak itu yang merupa-kan ciri-ciri khas atau tanda sejak lahir.

Kalau aku katakan tanda-tanda itu.

dan kemudian ternyata cocok dengan keadaan dirimu, apakah engkau masih akan menganggap aku pendusta yang patut kausiksa dan kaubunuh di depan makam bibi Lauw Cu Si?" Tentu saja Eng Eng menjadi bingung dan salah tingkah.

Ia merasa ngeri kalau membayangkan bahwa pangeran itu benar dan sama sekali tidak berdusta, sama sekali tidak menipunya, dan ia telah menyiksanya seperti itu! "Katakanlah, tanda-tanda apa yang ada pada anak yang diculik itu?" tanya-nya, suaranya jelas terdengar gemetar.

"Yo-toako hanya berpegang kepada, tanda-tanda itu saja untuk mencari anak yang hilang terculik itu, maka tentu saja amat sukar karena tanda-tanda itu ter-dapat di bagian tubuh yang selalu ter-tutup...." "Katakan cepat, tanda-tanda apa itu?" tanya Eng Eng dengan suara nyaring karena ia sudah tidak sabar sekali.

"Pertama, anak itu mempunyai sebuah tahi lalat hitam di pundak kirinya, dan ke dua, ia pun mempunyai sebuah noda merah sebesar ibu jari kaki di tela-pak kaki kanannya." Eng Eng meloncat ke belakang, ter-belalak dan seluruh tubuhnya menggigil.

Melihat ini, Cia Sun menguatkan tubuh-nya dan bangkit berdiri, menghampiri dengan pandang mata khawatir.

"Kenapa, Eng-moi....

dan be....

be-narkah ada tanda-tanda itu pada diri-mu...." Benarkah bahwa engkau ini Sim Hui Eng?" Suara pangeran itu juga ge-metar karena dia meresa tegang, kha-watir kalau-kalau gadis ini bukan Sim Hui Eng seperti yang disangkanya.

Sampai lama Eng Eng tidak mampu bicara, mukanya yang pucat kelihatan seperti mau menangis dan ketika ia ber-tanya, suaranya hampir tidak dapat di-dengar, "Bagaimana....

perasaanmu ter-hadap aku kalau aku tidak memiliki tanda--tanda itu, kalau aku bukan Sim Hui Eng?" "Eng-moi, masihkah engkau meragu-kan cintaku kepadamu" Ketika aku jatuh cinta dan meminangmu, engkau adalah puteri ketua Pao-beng-pai, bukan" Eng-kau tetap engkau bagiku, satu-satunya gadis yang kucinta, baik engkau mem-punyai tanda atau tidak, baik engkau puteri Siangkoan Kok atau bukan, atau puteri siapapun juga.

Aku tetap cinta padamu, Eng-moi, biar engkau akan membunuhku sekalipun.

Tapi....

untuk me-yakinkan, benarkah engkau memiliki tanda--tanda itu?" Tiba-tiba Eng Eng menjatuhkan diri berlutut dan menangis terisak-isak.

Tentu saja pangeran itu terkejut dan khawatir, lalu dia pun berlutut di depan gadis itu.

"Eng-moi, kenapa, Engmoi...." Ah, ma-afkan kalau aku membuat hatimu ber-duka, Eng-moi.

Lebih baik aku melihat engkau marah-marah kepadaku seperti tadi daripada melihat engkau bersedih seperti ini, Engmoi." Ucapan itu membuat Eng Eng se-makin mengguguk.

Cia Sun merasa hati-hya seperti ditusuk-tusuk melihat keadaan kekasihnya itu dan dia pun me-nyentuh pundak gadis itu dengan lembut.

"Eng-moi, ada apakah...." Akhirnya Eng Eng dapat bicara tanpa menurunkan kedua tangannya dari muka, dan air mata mengalir melalui celah--celah jari kedua tangannya.

"Kau....

kaulihat sendiri....

apakah....

ada tanda--tanda itu...." Ia lalu menyingkap baju di bagian pundak kiri dan melepas sepatu dan kaos kakinya yang kanan.

Cia Sun memandang pundak yang berkulit putih mulus itu dan di sana, jelas sekali nampak sebuah titik hitam, sebuah tahi lalat.

Dan pada tela-pak kaki yang putih kemerahan itu nam-pak pula noda merah.

"Kau....

kau benar-benar Sim Hui Eng....!" serunya seperti bersorak gem-bira.

Eng Eng kini merangkul ke arah kaki Cia Sun, "Pangeran...., ampunkan aku....

aku telah berbuat kejam dan tidak adil kepadamu....

aku....

aku layak kau pu-kul.

Balaslah, Pangeran, pukullah aku, siksalah aku, bunuhlah aku....

huuu-hu-huuuuu....!" Gadis itu tersedu-sedu, me-nangis dengan perasaan menyesal, malu, dan juga marah kepada diri sendiri dan amat iba kepada pria yang dicintanya namun yang telah disiksanya tanpa salah itu.

Bahkan pangeran itu telah mencegah pasukan membunuh Lauw Cu Si sehingga dia merupakan satu-satunya orang yang telah menemukan rahasia dirinya.

Pange-ran ini telah berjasa kepadanya.

Sebalik-nya, ia menuduhnya sebagai pembunuh dan ia telah menyiksanya dengan kata-kata, dengan perbuatan.

Ingin ia menciumi sepatu pangeran itu untuk menyatakan penyesalannya.

Melihat betapa gadis yang dicintanya itu merangkul kakinya dan mencium se-patunya, Cia Sun cepat merangkul, me-narik dan mendekap kepala itu, seolah--olah hendak membenamkannya ke dadanya untuk disimpan di dalam dada dan tidak akan dilepaskannya lagi selamanya.

Dia sendiri pun membenamkan mukanya yang basah air mata ke dalam rambut itu.

Sampai beberapa lamanya mereka berpelukan dan bertangisan, dan.

Eng Eng beberapa kali mengusap dan membelai muka yang masih ada bekas-bekas tam-paran tangannya itu dengan jari-jari ge-metar.

Setelah gelora keharuan hati mereka mereda, Cia Sun membiarkan Eng Eng duduk bersandar di dadanya.

Dia mem-belai rambut yang kusut itu dan ber-bisik, "Sudahlah, Eng-moi, sudah cukup engkau menyesali diri.

Aku tidak akan menyalahkanmu.

Memang batinmu meng-alami guncangan hebat.

Akhirnya semua kegelapan lewat dan kini kita berdua tinggal menyongsong sinar kebahagiaan." "Pangeran...." Cia Sun menghentikan kata-kata itu dengan sentuhan bibirnya pada bibir Eng Eng.

"Hushhh...., kalau kau menyebutku pangeran, lalu apa bedanya dengan se-luruh wanita yang menjadi kawula dan menyebutku seperti itu.

Engkau adalah calon isteriku, engkau tunanganku, eng-kau kekasihku, ingat?" Eng Eng tersipu, akan tetapi terse-nyum penuh bahagia.

"Kakanda....

Cia Sun...." Betapa merdunya panggilan itu.

"Adinda Hui Eng...." Sang pangeran berbisik dan sebutan nama yang terdengar asing baginya itu mengingatkan Eng Eng akan keadaan dirinya.

"Kakanda Pangeran, dengan hati berdebar penuh ketegangan, sekarang aku menanti engkau memberitahu kepadaku, siapa sebenarnya orang tuaku" Ayah ibuku masih hidup?" "Engkau akan terkejut, berbahagia dan bangga sekali kalau mendengar siapa ayah ibumu, Eng-moi.

Ketika engkau masih kuanggap sebagai puteri Siangkoan Kok, aku sudah kagum dan cinta pada-mu.

Ketika aku mendengar dari bibi Lauw Cu Si siapa ayah ibumu, kekagum-anku kepadamu bertambah-tambah.

Ke-tahuilah bahwa ayahmu bernama Sim Houw dan ibumu bernama Can Bi Lan eh, kenapa kau, Eng-moi (adinda Eng)?" Mendengar disebutnya dua nama itu sebagai ayah ibunya, Eng Eng sudah me-loncat berdiri sehingga terlepas dari rangkulan pangeran itu.

Ia berdiri dengan mata terbelalak dan muka pucat.

"Ayahku....

Pendekar Suling Naga dan ibuku Si Setan Kecil....! Aihhhhh....

Ka-kanda....

celakalah aku sekali ini...." Cia Sun cepat bangkit dan merangkul gadis itu.

Post a Comment