Setelah tiba di perempat jalan, me-reka berpisah.
Sian Li menuju ke utara, Ciang Hun ke selatan dan Bi Kim ke timur.
*** Gadis itu duduk di bawah pohon, agak jauh dari jalan raya dan tidak nampak dari jalan karena tempat itu agak ter-tutup oleh hutan kecil yang berada di luar tembok kota raja.
Gadis yang usia-nya sekitar dua puluh tiga tahun itu ang-gun dan cantik jelita.
Pakaiannya indah dan rambutnya digelung tinggi dan dihias tiara kecil.
Melihat pakaiannya pantasnya ia seorang puteri bangsawan yang kaya raya.
Namun sungguh aneh, ia berada seorang diri di tempat sunyi itu, bahkan lebih aneh lagi, ia duduk termenung dengan air mata mengalir menuruni kedua pipinya.
Kalau orang mengetahui sikap gadis itu, dia tentu dan semakin terheran--heran.
Gadis itu adalah puteri ketua Pao-beng-pai yang ketika itu disebut Sang Puteri atau Nona Dewi.
Oleh semua anggauta Pao-beng-pai dan bahkan di dunia kang-ouw, ia dikenal sebagai puteri ketua Pao-beng-pai Siangkoan Kok, dan nama gadis itu adalah Siangkoan Eng atau biasa dipanggil ayah ibunya Eng Eng saja.
Akan tetapi, telah terjadi peristiwa hebat yang mendatangkan perubahan besar dan yang membuat Eng Eng kini duduk termenung di bawah pohon itu sambil mencucurkan air mata! Padahal, dahulu sebagai puteri ketua Pao-beng--pai ia dikenal sebagai seorang wanita perkasa yang dingin dan keras, belum pernah menangis! Kalau orang yang per-nah mengenalnya melihat ia kini duduk menangis, tentu orang itu akan merasa terkejut dan heran bukan main.
Bagaimana ia tidak akan menangis" Setabah-tabahnya, sekeras-keras hatinya, saat itu Eng Eng dilanda perasaan yang hancur lebur.
Ia berduka, kecewa, penuh penasaran dan dendam.
Karena mem-bebaskan Yo Han dan Cia Sun, ia hampir dibunuh ayahnya.
Kemudian ayahnya me-nyakiti hati ibunya dengan memaksa Tio Sui Lan, murid ayahnya dan sahabat baik-nya, menjadi isteri pengganti ibunya.
Sui Lan diperkosa ayahnya tanpa ia dan ibu-nya dapat berbuat sesuatu! Dan setelah ia terluka parah oleh pukulan ayahnya, ter-jadi hal yang lebih hebat lagi, yaitu ibu-nya membuka rahasia bahwa ayahnya itu, Siangkoan Kok, sebetulnya hanyalah ayah tirinya! Dan ketika ia bertanya ke-pada ibunya, siapa ayah kandungnya, ibunya marah-marah dan mengatakan bahwa ibunya itu amat membenci ayah kandungnya.
Semua peristiwa itu mem-buat ia merasa sedih bukan main.
Orang yang selama ini dianggap ayahnya sen-diri, ternyata orang lain dan amat kejam terhadap ibunya dan terhadap dirinya sendiri.
Kemudian, ibunya malah amat membenci ayah kandungnya dan tidak mau memberitahukan siapa nama ayah kandungnya, masih hidup ataukah sudah mati.
Semua ini menghancurkan hatinya dan ia pun malam itu juga melarikan diri dari rumah, meninggalkan Pao-beng-pai dan bersembunyi di sebuah gua yang banyak terdapat di Ban-kwi-kok.
Di Lem-bah Selaksa Setan ini terdapat gua-gua besar yang ditakuti orang, yang menurut tahyul dijadikan tempat tinggal para setan dan iblis.
Karena itu, jangankan rakyat biasa, bahkan para anggauta Ban-kwi-kok sendiri jarang ada yang berani datang, apalagi bermalam di gua-gua itu.
Dalam kedukaannya, Eng Eng tidak mengenal takut.
Ia bersembunyi di se-buah gua dan setiap hari dan malam ia hanya duduk bersamadhi, menghimpun tenaga sakti untuk mengobati luka yang diderita akibat pukulan ayah tirinya! Ayah tirinya amat jahat, hampir mem-bunuhnya, memperkosa Sui Lan, dan me-nurut ibunya, ayah kandungnya juga amat jahat sehingga dibenci ibunya.
Dunia seperti hancur rasanya bagi Eng Eng.
Pada keesokan hatinya, selagi bersamadhi, ia mendengar suara ribut-ribut.
Agaknya terjadi pertempuran di Ban--kwi-kok! Kalau saja ia tidak terluka, dan kalau saja ia belum bentrok dengan ayah tirinya, tentu ia akan membela Pao-beng--pai dengan taruhan nyawa.
Akan tetapi, sekali ini ia diam saja, tidak bergerak dan tetap duduk bersila.
Ia masih belum pulih, kalau ia bertempur melawan mu-suh yang agak tangguh saja, ia akan celaka.
Selain itu, ia tidak sudi mem-bantu ayah tirinya lagi.
Bahkan hatinya condong untuk menentang dan melawan! Kalau saja ia tidak ingat betapa sejak kecil ia dididik dan digembleng oleh ayah tirinya yang ia tahu sayang kepadanya, tentu sekarang ia sudah menganggap ayah tiri itu musuhnya! Karena perasaan itu, ia pun diam saja dan tidak keluar dari dalam gua.Akan tetapi setelah pertempuran itu berhenti, baru ia teringat akan ibunya! Betapapun ia marah kepada ibunya yang mengatakan membenci ayah kandungnya, tetap saja kini ia mengkhawatirkan ibu-nya.
Ayah kandungnya sakti, juga ibunya memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sehingga mereka akan mampu membela diri dengan baik.
Akan tetapi, ia tidak tahu siapa yang melakukan penyerbuan ke Pao-beng-pai dan ia harus melihat bagaimana keadaan ibunya, agar hatinya lega.
Karena keadaan amat sunyi, ia pun keluar dari dalam gua dan pergi ke sa-rang Pao-beng-pai.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya melihat para anggauta Pao-beng-pai banyak yang tewas, sisanya entah lari ke mana.
Yang lebih mengejut-kan hatinya lagi adalah ketika ia me-nemukan mayat ibunya dan mayat Sui Lan! Ia menubruk dan menangisi mayat ibunya.
Ketika dua orang anggauta Pao--beng-pai yang melihat munculnya nona mereka keluar dari tempat persembunyi-an mereka, Eng Eng bertanya apa yang telah terjadi.
Dua orang anggauta Pao-beng-pai lalu bercerita bahwa pasukan pemerintah datang menyerbu Pao-beng-pai.
Tanpa bertanya lagi Eng Eng dengan sendirinya menganggap bahwa Sui Lan dan ibunya tewas di tangan para penyerbu! "Dan di mana Pangcu (Ketua)?" Ia tidak mau menyebut ayah.
"Kami tidak tahu, Nona.
Melihat bah-wa tidak ada jenazah Pangcu di sini, tentu beliau telah berhasil menyelamatkan diri." "Bagaimana pasukan pemerintah mam-pu naik ke tempat ini melalui semua jebakan rahasia?" tanyanya penasaran.
"Kami melihat bayangan Cia Ceng Sun yang pernah menjadi tawanan di sini, Nona.
Tentu dia yang menjadi penunjuk jalan." Eng Eng terkejut, bangkit berdiri dan dengan muka pucat ia mengepal tinju, hatinya berteriak memaki Cia Sun.
Tahu-lah ia.
Tentu pangeran Mancu itu yang telah membawa pasukan datang menyerbu! Pangeran itu tentu dahulu datang sebagai mata-mata.
Laki-laki berhati palsu! Ke-lak aku akan membuat perhitungan de-nganmu, geramnya dalam hati.
Dibantu dua orang anggauta Pao-beng-pai itu, Eng Eng lalu mengubur jenazah ibunya dan Sui Lan, di lereng sebuah bukit yang bersih.
Demikianlah, kini ia berada di luar kota raja, bersembunyi di hutan itu dan menangis.
Ia bukan seorang wanita ce-ngeng yang menangisi kematian ibunya berulang kali.
Sudah cukup ia menangisi di depan jenazah dan di depan makam sederhana ibunya.
Kini ia mencucurkan air mata bukan karena teringat kematian ibunya.
Ia menangis karena teringat akan Cia Sun! Ia akan mencari, menangkap dan menyiksa, membunuh Cia Sun! Akan tetapi, sukar membayangkan bagai-mana ia akan dapat melakukan itu.
Ia amat mencinta pangeran itu! Mengenang-kan sikap manis dan mesra pangeran itu, bagaimana mungkin tangan ini akan mam-pu melukainya, menyakitinya, apalagi membunuhnya" Inilah yang membuat ia bercucuran air mata menangis! Senja datang dan suasana semakin sepi.
Eng Eng mengepal kedua tangan-nya.
"Ceng-eng! Lemah!" Ia memaki diri sendiri.
Bagaimanapun juga, dia adalah musuh besar.
Dialah yang menyebabkan Pao-beng-pai runtuh dan terbasmi, bahkan dia pula yang menyebabkan ibuku tewas! Aku bukan membalas dendam untuk Pao-beng-pai, bukan pula membalas dendam untuk Siangkoan Kok, melainkan ia harus membalas dendamnya atas ke-matian Sui Lan dan ibunya, terutama ibunya.
Pangeran Cia Sun harus membayar lunas hutangnya! Setelah menghapus air mata dan me-ngeraskan hatinya, Eng Eng memasuki pintu gerbang kota raja sebelah selatan.
Karena Ia kelihatan seperti seorang gadis bangsawan atau hartawan, tidak mem-bawa senjata karena senjata istimewa-nya, yaitu sebatang hud-tim (kebutan) terselip di phiggang, di balik baju, maka para penjaga di pintu gerbang hanya me-mandang kagum, tidak mengganggunya.
Malam itu gelap.
Udara mendung.
Gelap dan dingin karena angin malam meniupkan hawa yang lembab.
Karena gelap dan dingin, orang-orang lebih suka tinggal di dalam rumah yang lebih ha-ngat dibandingkan hawa di luar.
Apalagi di rumah kaum bangsawan dan hartawan, di mana terdapat perapian yang men-datangkan hawa hangat.
Kalau tidak mempunyai keperluan yang penting se-kali, tidak ada yang mau meninggalkan rumah.
Jalan-jalan raya juga sepi dari lalu lintas.Kesepian itu membantu Eng Eng yang sudah mengenakan pakaian serba hitam.
Rambutnya digelung dan diikat ke bela-kang, tidak disanggul rapi seperti biasa, juga tidak dihias tiara.
Pakaiannya yang serba hitam dan ringkas itu membuat gerakannya yang cepat sukar diikuti pan-dang mata.
Senjata kebutan berbulu me-rah dan bergagang emas terselip di pinggang depan, dengan bulunya digulung rapi, sedangkan pedang beronce merah tergantung di punggung.
Sekuntum jarum hitam juga tergantung di pinggang.
Eng Eng kini membekali diri dengan senjata lengkap karena ia hendak menangkap Pangeran Cia Sun di rumah gedung ke-luarga pangeran itu.
Sore tadi setelah memasuki kota raja, ia telah melakukan penyelidikan dan tidak sukar untuk men-dapat keterangan tentang rumah tinggal Pangeran Cia Sun.
Sebuah gedung besar dan megah berdiri di sudut kanan kota raja.
Itulah tempat tinggal Pangeran Cia Sun dengan keluarga ayahnya, yaitu Pa-ngeran Cia Yan seorang di antara putera--putera Kaisar Kian Liong (1736 - 1796).
Seperti kita ketahui, biarpun secara resmi Pangeran Cia Yan adalah anak angkat Kaisar Kian Liong, yaitu seorang keponakan yang diangkat menjadi putera, namun sesungguhnya, Pangeran Cia Yan adalah putera kaisar itu sendiri, hasil hubungan gelapnya dengan kakak iparnya.
Karena itu, biarpun resminya pangeran akuan, atau anak angkat, namun Kaisar Kian Liong menyayangnya seperti anak sendiri.
Pangeran Cia Yan tidak dapat diangkat menjadi putera mahkota, namun dia merupakan seorang di antara para pangeran yang disayang kaisar.
Malam itu, di sekitar gedung milik Pangeran Cia Yan juga sunyi.