Benarkah dugaanku?" Bi Kim menundukkan mukanya, sam-pai lama tidak menjawab, hanya menarik napas panjang berulang kali.
Ia tahu bahwa ia tidak dapat mengelak lagi, dan kalau sampai Sian Li mengetahui hal ini, sungguh amat tidak enak.
Pemuda ini dapat dipercaya, dan dengan bantuan pemuda ini ia akan lebih mudah me-nyembunyikan rahasianya dari Sian li.
"Gak-toako," katanya sambil meman-dang kepada pemuda itu dengan sinar mata tajam, "Kalau aku berterus terang kepadamu, maukah engkau berjanji untuk merahasiakan ini dari adik Sian Li?" 196 "Aku berjanji demi kehormatanku, Kim-moi." "Ketahuilah, Toako, bahwa guru dari Sin-ciang Tai-hiap Yo Han adalah adik nenekku.
Pada suatu hari, Yo-toako da-tang berkunjung ke kota raja dan dia berhasil menolong ayahku yang terancam malapetaka karena beberapa buah pusaka istana lenyap padahal ayahku menjabat sebagai pengatur gedung pusaka itu.
Ka-rena bersyukur, di depan meja sembah-yang paman kakekku itu, nenekku lalu menjodohkan aku dengan Yo-toako." "Ah, begitukah....," Gak Ciang Hun menggumam lirih.
"Ya begitulah, Toako.
Biarpun per-jodohan itu belum diresmikan, akan te-tapi sejak saat itu, aku sudah mengang-gap diriku sebagai calon isteri Yo Han.
Dan dapat kaubayangkan betapa kaget rasa hatiku ketika tadi aku mendengar bahwa adik Tan Sian Li saling mencinta dengan Yo Han." Ciang Hun mengangguk-angguk dan mengerutkan alisnya.
"Apakah Yo Han sudah menyetujui ikatan jodoh itu?" Gadis itu menggeleng.
"Belum, Toako.
Bahkan dia minta agar urusan perjodohan itu ditangguhkan sampai dia menyelesaikan tugas-tugasnya.
Usul perjodohan itu datang dari nenek, dan dia belum me-nyatakan setuju atau tidak setuju." "Akan tetapi....
maafkan pertanyaan-ku ini, apakah kalian sudah saling men-cinta?" Gadis itu menarik napas panjang dan wajahnya nampak memelas sekali walau-pun tidak kelihatan jelas di bawah sinar ribuan bintang yang lembut, namun tarik-an muka itu membuat Ciang Hun mak-lum bahwa pertanyaannya mendatangkan kepedihan hati.
"Terus terang saja, Toako, aku amat kagum kepadanya dan selama ini aku menganggap bahwa aku cinta padanya.
Akan tetapi....
ah, cinta sepihak tidak mungkin, bukan" Dia sudah saling men-cinta dengan adik Sian Li....
aku akan memberitahu kepada nenekku dan orang tuaku bahwa aku tidak mungkin berjodoh dengannya."Hening sejenak, kemudian Bi Kim tercengang melihat pemuda itu tertawa, akan tetapi suara tawanya sumbang.
"Ha-ha-haheh-heh, alangkah lucunya! Betapa lucunya....!!" Tentu saja Bi Kim mengerutkan alis-nya dan wajahnya berubah merah, pan-dang matanya bersinar tajam karena marah.
Ia mengira bahwa pemuda itu mengejeknya! Padahal, ia telah mem-percayainya dan menceritakan rahasia hatinya yang sebetulnya tidak harus di-ceritakan kepada siapa pun.
"Toako, kau....
kau mentertawakan aku....!!" bentaknya marah.
Ciang Hun menyadari sikapnya yang dapat menimbulkan kesalahpahaman itu, maka dia menghentikan tawanya dan cepat mengangkat kedua tangan ke depan dada meminta maaf.
"Maafkan aku, Siauw--moi.
Aku sama sekali bukan mentertawa-kan engkau melainkan mentertawakan diriku sendiri karena sungguh amat lucu keadaan kita berdua!" Kembali dia ter-tawa akan tetapi menahan sehingga tawa-nya tidak bersuara.
Bi Kim masih mengerutkan alisnya.
"Hemmm, apanya yang lucu dengan ceri-taku tadi?" "Dengarlah, Kim-moi.
Sudah lama aku pun jatuh cinta kepada adik Tan Sian Li! Dan kautahu, sebelum aku sempat me-nyatakan cintaku kepadanya, ia mengaku kepadaku seperti yang diceritakan ke-padamu tadi, yaitu bahwa ia mencinta Yo Han dan hanya mau berjodoh dengan Yo Han.
Kau tentu mengerti betapa hancurnya perasaan hatiku, namun aku dapat menerima kenyataan pahit itu.
Sama sekali tidak aku duga bahwa eng-kau mengalami hal yang sama benar dengan aku, dan kita berdua sama-sama mendengar keputusan yang menghancur-kan itu dari mulut Li-moi.
Hanya beda-nya di antara kita, engkau mencinta yang laki-laki, aku mencinta yang perem-puan.
Ha-ha-ha, bukankah lucu sekali?" Ciang Hun tertawa-tawa lagi dan sekali ini, Bi Kim juga tertawa.
Mereka berdua tertawatawa, akan tetapi tawa mereka sumbang dan makin lama, suara tawa mereka semakin sumbang dan akhir-nya Bi Kim menangis, dan Ciang Hun juga mengeluh dan menahan tangisnya! Dalam keadaan seperti itu, keduanya dapat saling merasakan betapa sedih dan perihnya hati yang hampa karena cinta sepihak.
Perasaan yang mendatangkan iba diri karena diri serasa tiada harganya, tidak ada yang menyayang! Dan timbul-lah perasaan iba yang mendalam satu lama lain.
"Kim-moi,kita harus dapat menerima kenyataan....
sudahlah, Kim-moi, jangan bersedih lagi...." karena merasa iba se-kali, Ciang Hun mendekat dan menyentuh lengan gadis itu.
Bagaikan tanggul penahan air bah yang bobol, bendungan itu pecah dan se-tengah menjerit Bi Kim menangis dan merangkul Ciang Hun, menangis di dada pemuda itu sampai mengguguk.
Semua perasaan pedih perih dan duka yang sejak tadi ditahan-tahannya dalam hati, kini terlepas semua melalui tangisnya yang meledak-ledak.
Ciang Hun mengelus rambut itu dan dia pun berdongak memandang langit penuh bintangbintang, kedua matanya sendiri basah.
Dia maklum bahwa gadis itu sedang ditekan perasaan yang amat berat, maka jalan terbaik adalah mem-biarkannya menangis melarutkan semua tekanan batin yang dapat menimbulkan penyakit luar dan dalam.
Setelah tangisnya itu agak mereda, seperti badai yang mereda, Ciang Hun berkata, "Eh, Kimmoi, lihatlah betapa bodohnya kita.
Apakah dengan gagalnya cinta kasih kita, lalu dunia ini akan kia-mat" Lihat di langit itu, jutaan bintang mentertawakan kita yang lemah.
Kita bukan orang lemah, kita harus mampu menanggulangi semua tantangan hidup.
Kegagalan hanya akan memperkuat batin kita, mematangkan kita.
Sama sekali keliru kalau kita putus asa dan mem-biarkan diri tenggelam dalam kecewa dan duka." Bi Kim sadar dan ia pun seperti baru menyadari bahwa ia telah menangis di atas dada Ciang Hun.
Ia melepaskan rangkulannya dan tersipu.
Ia menghapus sisa air matanya, memandang kepada pemuda itu, mencoba untuk tersenyum.
"Engkau benar, Toako.
Maafkan atas kelemahanku, dan maafkan kelakuanku tadi yang tidak pantas." "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Siauw-moi, tidak ada yang tidak pantas.
Aku mengerti perasaanmu dan aku dapat merasakan pula kepahitan yang melanda hatimu.
Kita sama-sama mengalaminya, akan tetapi sama-sama pula dapat me-ngatasinya, bukan?" "Terima kasih, Gak-toako."Ciang Hun lalu menasehati agar gadis itu kembali ke kamarnya karena akan kurang baik dugaan orang kalau ada yang melihat mereka berada di taman berdua saja pada waktu malam seperti itu.
Bi Kim menyetujui dan ia pun kembali ke kamarnya, meninggalkan Ciang Hun yang termenung seorang diri di taman itu.
Mulai saat itu, tumbuhlah perasaan aneh di dalam hati kedua orang itu.
Mereka saling merasa kasihan, dan perasaan ini menumbuhkan suatu perasaan baru dari cinta kasih, ingin saling menghibur, sa-ling membahagiakan! Pohon cinta memang dapat tumbuh dengan perantaraan belas kasihan, atau kekaguman, senasib, kesamaan pandangan, kesamaan selera dan banyak perasaan, lain lagi.
Dan sekali orang jatuh cinta, maka segala yang ada pada diri orang yang dicintai nampak indah, segala yang dilakukan orang yang dicinta selalu me-nyenangkan hati.
Tidak terlalu berlebihan kalau orang mengatakan bahwa cemberut seorang yang dicinta menjadi pemanis, sebaliknya senyum seorang yang dibenci makin menyebalkan! Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sian Li sudah bangun dan mandi.
Ketika ia keluar dari dalam kamarnya dengan mengenakan pakaian bersih, se-perti biasa pakaiannya serba merah se-hingga ia nampak segar dan jelita bagai-kan setangkai bunga mawar merah di waktu pagi, masih segar membasah ber-mandikan embun pagi, ia melihat Gan Bi Kim dan Gak Ciang Hun juga sudah man-di dan mereka duduk di ruangan dalam di luar kamar mereka.
Setelah mereka duduk bertiga, Sian Li berkata.
"Pagi ini aku akan melanjutkan perjalananku, dan sebelum aku bertemu dengan Han-ko, aku tidak akan pulang." "Memang, sebaiknya kalau kita ber-tiga pergi dari sini," kata Ciang Hun.
"Tidak enak kalau mengganggu keluarga Lurah So terlalu lama." "Adik Sian Li, aku akan mencoba untuk membantumu, ikut mencarikan anak yang hilang itu.
Siapa tahu aku akan bertemu dengan gadis yang mem-punyai tanda-tanda di pundak kiri dan kaki kanan itu.
Siapa namanya?" "Namanya Sim Hui Eng," jawab Sian Li.
"Aku pun akan membantumu mencari Yo Han, kalau jumpa akan kuberitahu bahwa engkau mencarinya.
Paling lambat pada hari Sin-cia (Tahun Baru Imlek), berhasil atau tidak, aku akan memberi kabar kepadamu, di rumah orang tuamu di Ta-tung." kata Ciang Hun.
Sian Li tersenyum memandang kepada dua orang sahabatnya itu.
"Terima kasih, kalian baik sekali.
Karena kita bertiga mencari orang, maka akan lebih besar harapannya akan berhasil kalau kita ber-pencar.
Kita mencari dengan berpencar dan berjanji saling jumpa lagi pada hari Sin-cia.
Bagaimana pendapat kalian?" "Setuju!" kata Ciang Hun.
"Pada hari Sin-cia, aku akan berkunjung ke rumah-mu, Li-moi." "Dan bagaimana dengan kau, Kim" Di mana kita akan bertemu hari Sin-cia nanti?" "Aku setuju dengan pendapat Gak--toako.
Aku pun akan berkunjung ke ru-mahmu pada hari Sin-cia, Li-moi." 199 "Bagus! Aku akan menanti kunjungan kalian dengan hati gembira.
Ayah dan ibu juga tentu akan bergembira sekali bila menerima kunjungan kalian.
Nah, sekarang kita berangkat!" Tiga orang muda perkasa itu lalu berpamit kepada Lurah So sekeluarga, kemudian meninggalkan rumah dan dusun itu.