Wanita itu membentak, kini suaranya tidak halus merdu lagi, melainkan melengking nyaring penuh kemarahan.
"Aku akan mati, perlu apa menyembuyikan nama? Aku Gak Bun Beng...."
"Ya Tuhan....!"
Bun Beng mendengar suara ini dari atas anak tangga, akan tetapi dia tidak tahu siapa yang berseru kaget itu karena Ketua Thian-liong-pang di depannya tiba-tiba tertawa menghina.
"Hi-hik, kiranya anak haram, keturunan Kang-thouw-kwi Gak Liat Si Setan Botak datuk kaum sesat? Pantas.... pantas....! Engkau jahat, melebihi Ayahmu yang tidak sah. Manusia macammu ini tidak layak hidup!"
Nirahai mengangkat tangan kanannya, siap menghantam kepala Bun Beng. Sekali ini, karena Bun Beng sudah berdiri dan tidak seperti tadi, diinjak tak mampu berkutik, tentu saja tidak sudi mam-pus begitu saja tanpa melawan.
"Plakkk!"
Hantaman dengan telapak wanita itu berhasil dia tangkis dengan jurus Sam-po-cin-keng dan biarpun tubuhnya terlempar sampai lima meter jauhnya, ia berhasil menangkis dan tidak terluka. Dia sudah meloncat bangun lagi, siap melawan mati-matian.
"Pangcu....!"
Tiba-tiba terdengar teriakan keras dan berkelebatlah tubuh kakek bermuka singa menghadang tubuh Nirahai yang sudah berjalan menghampiri Bun Beng dengan mata berkilat penuh penasaran.
"Sai-cu Lo-mo, minggirlah engkau! Bocah ini harus kubunuh!"
Bentak ketuanya.
"Pangcu, ampunkanlah.... dia cucu keponakan saya, satu-satunya keturunan saya, bagaimana Pangcu tega untuk membasmi keturunan saya? Ampunkanlah, atau Pangcu bunuh saya sekalian!"
Mendengar ini, tiba-tiba lemaslah tubuh Nirahai dan ia memandang wajah pembantunya yang berlutut di depan kakinya. Bu Beng berdiri memandang dengan mata terbelalak! Dia cucu keponakan kakek bermuka singa itu?
"Sudahlah! Tidak dibunuh pun tidak mengapa, akan tetapi harus suka menjadi anggauta kita."
"Apa? Aku menjadi anggauta Thian-liong-pang, membantu kalian menculiki orang-orang gagah untuk dicuri kepandaiannya? Terima kasih, lebih baik mati!"
Bun Beng membentak sambil membanting kakinya penuh kemarahan. Sai-cu Lo-mo cepat meloncat ke depan Bun Beng sambil membentak penuh teguran.
"Gak Bun Beng, engkau tidak boleh berkata begitu! Engkau adalah cucu keponakanku sendiri, harus mentaati kata-kataku."
Bun Beng memandang kakek itu penuh perhatian.
"Locianpwe, sejak kapankah aku menjadi cucu keponakanmu dan siapakah Locianpwe?"