Halo!

Sepasang Pedang Iblis Chapter 86

Memuat...

Dia tidak peduli dan tidak melihat betapa Ketua Thian-liong-pang sama sekali tidak mengacuhkannya, akan tetapi dapat dibayangkan betapa heran hatinya ketika ia melihat Ang-lojin, Ketua Bu-tong-pai yang akan ditolongnya itu, duduk pula di antara para tamu dengan sikap tenang dan sama sekali tidak menoleh kepadanya! Mengapa orang itu seperti tidak mengenalinya? Mustahil kalau tidak mengenal atau tidak tahu bahwa kedatangannya untuk menolong ketua itu! Atau pura-pura tidak kenal? Ah, ini pun tidak mungkin. Bukankah dua orang tokoh Thian-liong-pang sudah tahu betapa di tengah jalan dia berusaha menolong Ketua Bu-tong-pai itu? Tentu hal ini sudah dilaporkannya pula kepada Ketua Thian-liong-pang. Apa perlunya lagi Ketua Bu-tong-pai berpura-pura? Dia pun tidak mau berpura-pura karena hal ini berarti bahwa dia takut, maka dia lalu menghampiri Ketua Bu-tong-pai dan menegur.

"Ang-locianpwe, engkau baik-baik sajakah?"

Kakek itu memandangnya akan tetapi sinar matanya seperti tidak mengenalnya sama sekali. Dia hanya mengangguk tanpa menjawab! Bun Beng menjadi penasaran sekali. Mengapa Ketua Bu-tong-pai bersikap seperti ini? Padahal susah payah ia berusaha menolongnya dan di jalan tadi sikapnya tidak sedingin ini!

"Locianpwe, apakah kau lupa kepadaku?"

Ia menegur lagi. Kakek itu kembali memandangnya dengan sikap tidak acuh, lalu menjawab dengan suara ragu-ragu,

"Siapakah? Maaf, aku tidak mengenalmu."

Setelah berkata demikian kakek ini kembali membuang muka menonton dua orang yang sedang bertanding di bawah anak tangga, memandang penuh perhatian seperti yang dilakukan oleh semua orang yang duduk di situ. Makin heran Bun Beng ketika melihat betapa para tamu yang sebagian besar terdiri dari kakek-kakek yang kelihatannya berilmu tinggi itu sama sekali tidak menoleh kepadanya, seolah-olah dia hanya seekor lalat saja! Dengan hati mengkal Bun Beng lalu duduk di atas kursi yang ditunjuk oleh kakek gundul. Kakek ini pun duduk di atas sebuah kursi di sebelah kanan Bun Beng. Seorang pelayan datang menyuguhkan arak kepada Bun Beng, akan tetapi pemuda ini menolak dan menyuruh taruh arak dengan guci dan cawannya di atas meja. Pelayan itu lalu memenuhi meja di depan kakek gundul dan Bun Beng dengan hidangan-hidangan seperti yang memenuhi meja-meja lain pula.

Kini Bun Beng memperhatikan para tamu yang duduk di situ. Ada belasan orang, tepatnya empat belas orang tamu yang melihat sikapnya adalah orang-orang berkepandaian tinggi, akan tetapi sikap mereka dingin dan tak acuh seperti sikap Ketua Bu-tong-pai. Di depan mereka ini pun terdapat meja penuh makanan dan mereka semua menonton pertandingan sambil makan minum. Di belakang para tamu duduk pula banyak orang dan di antara mereka Bun Beng mengenal dua orang tokoh yang pernah dila-wannya siang tadi, yaitu mereka yang menculik Ketua Bu-tong-pai. Sedangkan di belakang rombongan yang duduk ini, yang jumlahnya juga belasan orang, nampak puluhan orang berdiri menonton. Sepasang kakek kembar yang lihai dan yang menggotong kerangkeng Ketua Bu-tong-pai tampak di antara mereka yang berdiri. Diam-diam Bun Beng menduga-duga dan dia terkejut.

Agaknya sepasang kakek kembar itu adalah anggauta-anggauta rendahan saja, sedangkan kakek muka tengkorak dan pemuda tampan adalah anggauta yang lebih tinggi. Kakek gundul yang duduk di sebelahnya yang tadi menyambutnya, tentu lebih tinggi kedudukannya, apalagi kakek muka singa dan wanita cantik yang duduk dan berdiri di dekat Ketua Thian-liong-pang. Kalau sepasang kakek kembar yang demikian lihai itu saja menjadi anggauta rendahan, dapat dibayangkan betapa lihai kakek gundul di sebelahnya ini, apalagi kakek muka singa, dan lebih-lebih ketuanya! Bun Beng bersikap hati-hati dan tidak mau bergerak, hendak melihat perkembangannya karena dia sungguh-sungguh bingung dan terheran-heran mengapa Ang-lojin yang tadinya diculik sekarang menjadi tamu dan bersikap tidak mengenalnya? Kini Bun Beng mulai memperhatikan dua orang yang bertanding dan kembali dia tercengang.

Yang bertanding dengan golok dan pedang itu bukanlah orang-orang sembarangan! Laki-laki berusia empat puluh tahun yang berkepala besar dan bersenjata golok itu memiliki ilmu golok yang amat hebat, sedangkan kakek kurus yang usianya tentu sudah lima puluh tahun lebih itu memiliki ilmu pedang yang amat tinggi pula. Diam-diam ia menonton dan mencurahkan perhatiannya. Bun Beng banyak mengenal ilmu silat, bahkan dahulu gurunya yang pertama, Siauw Lam Hwesio, telah membuka rahasia tentang dasar-dasar gerakan ilmu silat-ilmu silat tinggi yang dimiliki oleh partai-partai besar. Maka setelah menonton belasan jurus, Bun Beng mengenal bahwa Si Pemain golok itu tentulah seorang tokoh Sin-to-pang (Perkumpulan Golok Sakti) yang amat terkenal karena kehebatan ilmu golok mereka,

Sedangkan Si Pemain pedang itu tidak salah lagi tentulah seorang tokoh besar dari Hoa-san-pai karena ilmu pedang yang dimainkannya tidak salah lagi adalah Hoa-san Kiam-sut! Dia menjadi heran buka main. Mengapa dua orang tokoh dari Sin-to-pang dan Hoa-san-pai bertanding di tempat ini? Dan selain ditonton oleh banyak tamu dan orang-orang Thian-liong-pang sambil maka minum, juga diiringi tambur dan gembreng! Pertandingan itu berjalan dengan seru dan jelas tampak betapa tokoh Sin-to-pang mulai terdesak, bahkan pundaknya telah terluka goresan pedang. Kalau semua tamu memandang dengan sikap dingin, demikian pula para tokoh Thian-liong-pang, hanya Bun Heng seoranglah yang menonton dengan hati tegang.

"Cukup....!"

Tiba-tiba terdengar suara merdu dan halus, namun penuh wibawa keluar dari balik kerudung yang menyembunyikan kepala Ketua Thian-liong-pang.

Seketika tambur dan gembreng berhenti dan kedua orang yang bertanding itu pun meloncat mundur menghentikan gerakan masing-masing! Bahkan kini seorang kakek yang agaknya merupakan ahli pengobatan Thian-liong-pang, menghampiri tokoh Sin-to-pang yang seperti bekas lawannya telah duduk kembali di kursi masing-masing, kemudian mengobati luka di pundak tokoh ini. Bun Beng memandang bengong. Hampir dia tidak dapat percaya akan dugaannya yang agaknya tidak dapat salah lagi. Kedua orang tokoh itu diadu! Seperti dua ekor jangkrik diadu! Betapa mungkin ini? Mengapa mereka sudi? Dan agaknya mereka berdua tadi bukanlah pasangan pertama yang diadu. Selagi ia menduga-duga dengan bingung, terdengar suara merdu dari balik kerudung.

"Ang-lojin dari Bu-tong-pai dan Tok-ciang Siucai dari Lam-hai-pang, harap suka maju dan memperlihatkan kepandaian!"

Jantung Bun Beng berdebar tegang.

"Siauw-hiap, silakan mencoba hidangan!"

Tiba-tiba kakek gundul berkata.

"Terima kasih, aku tidak lapar,"

Jawab Bun Beng tanpa mengalihkan pandang matanya dari Ketua Bu-tong-pai yang kini telah bangkit berdiri dari kursinya dan melangkah maju ke tempat pertandingan dengan sikap tanpa ragu-ragu dan wajah tidak membayangkan sesuatu.

"Kalau begitu, silakan minum secawan arak sebagai penyambutan dari Pangcu kami,"

Kata pula kakek itu yang sudah bangkit dan menyodorkan secawan arak penuh kepada Bun Beng. Mendengar ini, Bun Beng menoleh ke kiri, ke arah Ketua Thian-liong-pang dan ia melihat betapa sepasang mata di balik lubang kerudung itu tertuju kepadanya dengan sinar tajam. Tanpa menjawab ia menerima cawan arak dan minum arak itu habis sekali teguk. Hampir ia tersedak, tubuhnya terasa nyaman hangat setelah ia minum arak tadi. Kepalanya menjadi agak pening sehingga diam-diam ia terkejut sekali. Tak mungkin secawan arak membuat ia mabok!

"Harap Siauw-hiap minum secawan lagi sebagai penyuguhan dari Thian-liong-pang,"

Kata pula kakek gundul.

"Cukup, aku tidak ingin minum lagi, ingin menonton pertandingan!"

Kata Bun Beng dengan hati-hati, dan biarpun ia menjadi curiga sekali, pikirannya diputar untuk menduga apa yang terdapat di dalam arak yang diminumnya tadi, namun ia menujukan pandang matanya ke depan, ke arah Ketua Bu-tong-pai yang kini telah berhadapan dengan seorang laki-laki berusia kurang lebih tiga puluh tahun, tinggi kurus tampan dengan pakaian seperti seorang siucai (gelar sasterawan).

"Harap Ji-wi suka mulai pertandingan tangan kosong! Awas, Ang-lojin, lawanmu adalah seorang yang memiliki Tok-ciang (Tangan Beracun), harus dilawan dengan jurus-jurus simpananmu!"

Terdengar pula suara halus dingin Ketua Thian-liong-pang. Betapa heran hati Bun Beng ketika ia melihat dua orang itu, seperti dua ekor jangkerik atau ayam aduan, telah mulai saling serang tanpa banyak cakap lagi!

Pemuda yang dipanggil julukannya sebagai Tok-ciang Siucai (Sasterawan Tangan Beracun) telah membuka serangan setelah menggerak-gerakkan kedua tangannya dengan tangan terbuka dan telapak tangannya berwarna kemerahan! Serangan pertama ini merupakan tamparan dengan tangan kiri ke arah muka lawan disusul dorongan telapak tangan kanan ke arah dada! Cepat sekali gerakannya dan kalau diingat bahwa kedua telapak tangannya mengandung hawa beracun, dapat dibayangkan betapa dahsyat dan berbahaya serangan ini. Namun Ang-lojin adalah Ketua Bu-tong-pai yang tentu saja memiliki tingkat ilmu silat yang sudah amat tinggi. Dengan tenang namun tidak kalah cepatnya, ia mengelak dengan geseran kaki ke kiri sambil mengibaskan tangan kanan ke kanan menangkis dan dari samping, tiba-tiba kaki kanannya melakukan tendangan menyerong ke arah perut siucai itu.

"Bagus sekali!"

Tiba-tiba kakek muka singa memuji tendangan itu dan memang Bun Beng juga dapat melihat betapa indah dan berbahayanya serangan balasan Ketua Bu-tong-pai yang dilakukan dengan cekatan. Tok-siang Siucai ternyata juga lihai karena sambil merobah kaki melangkah mundur tangan kirinya dapat menangkis serangan itu dengan melemparkan ke kanan. Namun, tiba-tiba tendangan kaki kanan dari Ketua Bu-tong-pai itu telah disusul dengan tendangan kaki kiri yang digerakkan dengan memutar dari belakang, kembali tendangan ini menyerong dan yang diarah adalah lutut kanan lawan! Si Pemuda kaget, mundur selangkah menyelamatkan lututnya, akan tetapi Ketua Bu-tong-pai terus melakukan tendangan kedua kakinya, cepat dan kuat sekali sehingga kedua kakinya yang kelihatan banyak saking cepatnya itu menimbulkan suara angin.

"Hemmmm.... Soan-hong-twi.... seperti itukah?"

Ucapan Ketua Thian-liong-pang ini lirih sekali dan agaknya tidak terdengar oleh orang lain, akan tetapi Bui Beng yang sejak tadi memperhatikannya, biarpun hanya dengan pendengaran karena matanya ditujukan untuk mengikuti pertandingan, dapat menangkap kata-katanya.

Jantung Bun Beng makin berdebar. Para tokoh kang-ouw itu, termasuk Ketua Bu-tong-pai yang baru saja ditawan, semua menjadi begitu jinak dan penurut dan.... arak yang secawan saja sudah membuat dia mabok.... bukan tidak mungkin ada hubungannya! Dia baru minum secawan saja sudah pening dan seolah-olah semangatnya mengendor, dan kakek gundul itu tadi berusaha membuat dia minum lebih banyak! Kemudian, para tokoh yang saling bertanding mati-matian dan dengan bersungguh hati, Ketua Thian-liong-pang yang menonton dan memberi komentar! Hemm, seolah-olah ada sinar terang memasuki kepala Bun Beng, namun pengaruh arak membuat keningnya berdenyut-denyut sehingga sukar bagi dia untuk memutar otaknya, tidak seperti biasa.

Betapapun juga, Bun Beng mengerahkan seluruh pikirannya untuk melakukan penyelidikan, mengambil kesimpulan-kesimpulan dan mengumpulkan dugaan-dugaan. Pertandingan antara Ketua Bu-tong-pai dan tokoh-tokoh Lam-hai-pang berlangsung makin seru. Akan tetapi Bun Beng mendapat kenyataan yang menyenangkan hatinya. Ternyata ayah Ang Siok Bi, yaitu Ang-lojin Ketua Bu-tong-pai, biarpun kini mau saja diadu seperti jangkerik, tetap memiliki watak yang baik, sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang ketua partai persilatan besar. Pemuda bertangan ganas itu jelas melakukan serangan-serangan berbahaya dan mematikan, namun Ketua Bu-tong-pai itu banyak mengalah dan biarpun terpaksa mengeluarkan jurus-jurus simpanan dari Bu-tong-pai untuk menyelamatkan diri,

Namun serangan balasannya tidak bersungguh-sungguh seolah-olah dia enggan untuk mencelakai lawan, tidak mau melukai hebat, apalagi membunuh. Hal ini tentu saja dapat ia lihat karena banyak lowongan baik tidak dipergunakan oleh kakek itu. Kalau Ang-lojin menghendaki, tentu tidak sampai tiga puluh jurus lawannya dapat dirobohkan dengan pukulan-pukulan istimewanya. Betapapun juga, tingkat pemuda itu kalah tinggi dan kini dia selalu terdesak mundur. Ketika sebuah tendangan kilat menyerempat pinggang pemuda itu dan membuatnya terhuyung miring, kalau Ang-lojin mau tentu mudah baginya menyerang dengan pukulan maut. Namun kakek ini hanya mendorong pundak pemuda itu dan membuatnya roboh terjengkang.

"Cukup!"

Teriak Ketua Thian-liong-pang.

"Tok-ciang Siucai, harap mundur dan Pek-eng Sai-kong harap maju untuk melayani Ang-lojin dengan senjata. Ang-lojin, ilmu silat tangan kosong Bu-tong-pai hebat, harap perlihatkan ilmu silatmu dengan senjata. Bukankah Siang-kiam (Sepasang Pedang) menjadi keistimewaan Bu-tong-pai? Silakan!"

Berkata demikian, Ketua Thian-liong-pang ini menggerakkan tangan kirinya dan sepasang pedang melayang ke arah Ang-lojin. Ketua Bu-tong-pai ini tidak menjawab melainkan menerima sepasang pedang itu dengan gerakan indah. Bun Beng melihat munculnya seorang pendeta berpakaian lebar dan bermuka penuh brewok telah menerima sebatang toya dari tangan kakek muka singa yang duduk di sebelah kanan Ketua Thian-liong-pang.

Post a Comment