"Hemmm..... begitukah? Coba jelaskan, siapa sebenarnya anak itu, dia anak siapa dan bagaimana hubugannya denganmu, Lo mo? Kalau kuanggap penting, percayalah, aku yang akan mendapatkannya untukmu. Tentang Pendekar Siluman, jangan khawatir, aku akan dapat menghadapinya!"
Bahkan Wi Siang sendiri diam diam menjadi kaget mendengarkan ini. Berani menentang Pendekar Siluman? Benarkah Ketuanya yang baru ini memiliki kesaktian yang demikian hebat sehingga berani menentang Pendekar Siluman? Baru mendengar cerita para anggauta Thian-liong pang tentang Pendekar Siluman yang bisa pian-hoa (merobah diri) menjadi raksasa dan menjadi setan tanpa kepala saja sudah membuat semua orang gagah di Thian liong pang ngeri dan serem! Sai cu Lo-mo dan Chie Kang juga kaget dan sambil memandang wajah yang tertutup kerudung itu, Sai cu Lo mo menjawab,
"Dia adalah putera dari keponakan saya yang bernama Bhok Khim, murid Siauw lim pai."
"Hemmm.... Bhok Kim yang berjuluk Bi kiam, seorang di antara Kang lam Sam eng?"
"Betul, Pangcu,"
Jawab Sai cu Lo mo makin kagum dan terheran bagaimana wanita berkerudung ini agaknya tahu akan segala hal dan mengenal semua orang. Maka dia tidak menyembunyikan dirinya lagi dan menyambung,
"Saya dahulu bernama Bhok Toan Kok, Bhok Kim adalah anak tunggal adikku...."
Akan tetapi agaknya Nirahai tidak mempedulikannya dan seperti orang melamun karena mengingat, berkata,
"Dan bocah itu she Gak? Hem.... tentu anak dari Kang thouw kwi Gak Liat Si Setan Botak...."
Tiga orang tokoh Thian liong pang itu terbelalak, makin heran dan kagum. Sai cu Lo mo berteriak,
"Bagaimana Pangcu dapat mengetahuinya....?"
Nirahai memandangnya.
"Aku tahu, dan Gak Liat yang memperkosa Bhok Kim sehingga wanita itu dihukum di Siauw-lim pai, kemudian melahirkan anak dan.... mereka berdua kemudian saling bunuh. Hemm.... jadi engkau ingin mengambil cucu keponakanmu itu, Sai cu Lo mo? Apa perlunya? Anak itu adalah keturunan Gak Liat, datuk kaum sesat!"
Sai cu Lo mo menarik napas panjang.
"Betapapun juga, dia adalah cucu keponakan saya, Pangcu."
Nirahai mengangguk,
"Baiklah, urusan anak itu kita tunda dulu saja. Aku tidak ingin melibatkan Thian liong pang hanya karena urusan keturunan Gak Liat. Betapapun juga, kalau engkau mendengar di mana adanya bocah itu sekarang, dan ada kemungkinan merebutnya, aku suka membantumu. Tahukah engkau di mana dia itu sekarang?"
"Dia menjadi murid di Siauw-lim-si."
Nirahai menggeleng kepala.
"Kalau Siauw lim si kita tidak dapat berbuat sesuatu, Lo-mo. Ibu anak itu adalah murid Siauw lim pai, sudah semestinya kalau anaknya menjadi murid Siauw lim pai pula. Jangan mengira bahwa aku takut menghadapi Siauw lim pai, akan tetapi apa perlunya kita menyeret perkumpulan menjadi musuh Siauw lim pai yang amat kuat hanya karena memperebutkan seorang anak, apalagi anak keturunan seorang seperti Gak Liat?"