Tubuh yang tinggi besar itu terlempar, goloknya terpental dan ketika semua orang memandang, tampak tanda tiga buah jari membiru di dahi Ma Chun yang sudah tewas itu!
"Engkau.... manusia kejam....!"
Tang Wi Siang menjerit dan pedangnya menerjang dengan hebatnya. Tingkat kepandaian Tang Wi Siang kalau dibandingkan tingkat Ma Chun dan Liauw It Ban, dapat dikatakan sama, akan tetapi setelah ia mempelajari ilmu pedang dari suaminya yang telah tiada, ia dapat memperhebat ilmu pedangnya dengan gerakan dasar dari Bu tong pai. Maka sekali ini dalam keadaan marah, pedangnya mengeluarkan bunyi berdesing desing dan menyerang wanita berkerudung itu secara bertubi tubi.
"Tang Wi Siang, bagus sekali engkau telah mempelajari ilmu dasar dari Bu-tong pai. Aku tidak akan membunuhmu karena aku memilih engkau menjadi wakilku dalam memimpin Thian liong pang!"
"Tutup mulutmu! Aku baru mengakui orang kalau sudah dapat mengalahkan aku!"
"Wanita bodoh, tak tahukah engkau, betapa mudahnya itu? Kau tadi mengatakan bahwa engkau akan menguji kepandaian setiap Ketua Thian liong pang, nah, sekarang boleh menguji aku yang akan menjadi junjunganmu dan juga gurumu. Lihat baik baik, dalam tiga jurus aku akan mengalahkanmu!"
Biarpun pada saat itu juga dia sudah yakin betapa saktinya wanita berkerudung itu, namun di dalam hatinya Tang Wi Siang menjadi penasaran. Wanita aneh itu telah mengenal baik baik keadaan Thian-liong-pang, mengenal riwayat perkumpulan ini, bahkan mengenal semua nama dan julukan para pimpinan Thian liong-pang berikut watak mereka. Dan kini menantangnya akan mengalahkan dalam tiga jurus! Apakah dia dianggap seorang anak kecil yang tidak mempunyai kepandaian apa-apa? Rasa penasaran membuat dia marah dan merasa dianggap rendah dan hina, maka ia berteriak keras,
"Manusia yang bersembunyi di belakang kerudung seperti siluman! Kalau kau dapat mengalahkan aku dalam tiga jurus, aku tidak patut menjadi wakilmu, lebih patut mampus atau menjadi pelayanmu!"
"Bagus! Engkau sendiri yang memilih menjadi pelayan!"
Wanita aneh itu tidak menjawab akan tetapi pada saat itu Tang Wi Siang sudah menerjang dengan pedangnya, menggunakan jurus Hui-po-liu hong (Air Terjun Terbang Bianglala Melengkung). Jurus ini adalah jurus ilmu pedang Bu tong pai yang amat indah dan berbahaya, menjadi aneh dan lebih berbahaya lagi karena gerakannya telah dicampur dengan gerakan ilmu aseli dari Thian liong pang, yaitu ketika pedang menyambar membacok ke arah muka lawan dilanjutkan dengan gerakan membabat leher dari kanan ke kiri dengan gerakan melengkung, tangan kiri Tang Wi Siang menyusul dengan pukulan sakti yang disebut Touw sim ciang (Pukulan Menembus Jantung), semacam pukulan yang digerakkan dengan tenaga sin kang dan dapat menggetarkan isi dada menghancurkan jantung dan paru paru!
"Siuuuttt.... wirr wirrr wirrrr....!"
Wi Siang hanya melihat berkelebatnya bayangan wanita berkerudung itu ke kanan, kiri dan serangannya luput! Dengan kaget dan penasaran ia melanjutkan serangannya secara beruntun, yaitu dengan jurus Sian li touw so (Sang Dewi Menenun) dan terakhir dengan jurus Sian li sia kwi (Sang Dewi Memanah Setan).
Mula mula pedangnya berubah menjadi gulungan sinar yang melingkar lingkar mengurung tubuh wanita berkerudung dan menyerangnya dari arah yang mengelilingi lawan itu. Wi Siang maklum bahwa lawannya memiliki gin kang yang luar biasa, dapat bergerak cepat seperti terbang, maka ia berusaha mengurungnya dengan sinar pedang. Seperti yang telah diduganya, wanita itu tiba-tiba mencelat ke atas untuk menghindarkan diri dari lingkaran sinar pedang. Saat ini sudah dinanti nanti oleh Wi Siang maka ia lalu menyerang dengan jurus ke tiga, jurus terakhir jurus Sian li sia kwi ini hebat sekali, dilakukan dengan melontarkan pedang ke arah bayangan lawan yang mencelat ke atas, Wi Siang amat cerdik.
Dia dibatasi hanya sampai tiga jurus. Kalau dalam tiga jurus wanita berkerudung itu tidak mampu mengalahkannya, berarti dia dianggap menang! Inilah yang menyebabkan dia mengambil keputusan untuk menggunakan jurus Sian li sia kwi dalam jurus terakhir karena selagi mencelat di udara dan diserang oleh pedangnya yang meluncur seperti anak panah, bagaimana wanita itu dapat merobohkannya? Betapa kaget, heran dan juga girangnya ketika ia melihat lawannya itu, agaknya berkeinginan keras untuk mengalahkannya dalam jurus ini malah meluncur turun dan menyambut pedang yang menyambar itu! Makin girang lagi hati Wi Siang melihat pedangnya tepat mengenai dada Si Wanita berkerudung sehingga ia tertawa girang penuh kemenangan.
Tiba-tiba suara ketawanya terhenti dan tubuhnya terguling ke atas lantai tanpa dapat bangun lagi karena seluruh kaki tangannya lemas setelah jalan darah di pundak terkena totokan wanita itu! Ketika pedangnya tadi mengenai dada Si Wanita berkerudung, terdengar bunyi keras dan pedangnya telah patah, kemudian sebelum ia dapat memulihkan kekagetan hatinya, tahu tahu tangan wanita berkerudung telah menotok pundaknya dengan tubuh masih meluncur dari atas. Tang Wi Siang bukanlah seorang bodoh. Kini dia merasa yakin bahwa wanita berkerudung itu benar benar memiliki kesaktian yang luar biasa, bahkan ia dapat menduga bahwa biarpun seluruh anggauta dan pimpinan Thian liong pang maju mengeroyok sekali pun, mereka tidak akan dapat mengalahkan wanita ini.
"Bangkitlah, Wi Siang!"
Wanita berkerudung yang sudah mengenalnya itu menggerakkan tangan dan tiba-tiba Wi Siang merasa tenaganya sudah pulih kembali. Dia tidak meloncat bangun, melainkan bangkit berlutut di depan wanita itu sambil berkata.
"Saya menyatakan takluk dan siap memenuhi semua perintah Pangcu!"
Tiba-tiba terdengar suara bercuitan keras dibarengi menyambarnya benda-benda yang mengeluarkan sinar ke arah Si Wanita berkerudung. Itulah senjata rahasia yang dilepas oleh kedua tangan Phang Kok Sek, Ketua Thian liong pang yang sudah tak dapat mengendalikan kemarahannya lagi. Sekaligus dia telah menyerang dengan senjata rahasia berbentuk bintang, senjata rahasia yang khas dari Thian liong Pang dan tentu saja dalam mempergunakan senjata rahasia bintang ini, Phang Kok Sek merupakan seorang ahli yang pandai. Tujuh belas buah senjata rahasia terbang menyambar seperti berlumba menuju ke sasaran masing-masing yaitu tujuh belas jalan darah terpenting di bagian tubuh depan dari Si Wanita berkerudung.
Namun wanita berkerudung itu memiliki kecepatan yang amat hebat. Betapapun cepat datangnya senjata senjata rahasia yang menyerangnya, gerakannya mengelak lebih cepat lagi. Hanya tampak tubuhnya berkelebat dan tahu tahu ia telah lenyap. Ketika orang memandang ke atas, tubuhnya telah menempel di langit langit ruangan itu seperti kelelawar besar bergantungan pada pohon. Phang Kok Sek yang selain marah sekali juga maklum bahwa kalau tidak dapat segera melenyapkan wanita berke-rudung ini kedudukannya terancam, sudah meloncat ke atas dan mengirim pukulan dahsyat dengan kedua tangan terbuka, didorongkan ke arah tubuh lawan yang masih menempel di langit langit.
"Braakkk!"
Hebat bukan main pukulan itu, pukulan Hwi tok ciang selain amat dahsyat juga mengandung hawa panas membakar dan berbisa pula. Langit langit ruangan itu jebol dilanda hawa pukulan dahsyat ini.
Akan tetapi, bagaikan seekor capung ringannya, tubuh wanita berkerudung sudah mengelak dan melayang turun. Ketika tubuhnya lewat dekat tubuh Phang Kok Sek, wanita itu mengirim sebuah tendangan ke arah dada Phang Kok Sek. Tingkat kepandaian Pang Kok Sek jauh lebih tinggi daripada tingkat kepandaian dua orang sutenya yang tewas dan seorang sumoinya yang telah dikalahkan lawan. Tendangan itu cepat dan tidak terduga duga, dilepas selagi tubuh mereka berada di tengah udara, akan tetapi dengan jalan melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik, Phang Kok Sek berhasil menyelamatkan nyawanya dan hanya ujung bajunya saja yang robek kena diserempet ujung kaki lawan. Hal ini membuktikan betapa lihai wanita itu dan Phang Kok Sek sudah meloncat ke bawah dengan muka berubah.
"Ji wi Suheng! Siluman ini telah membunuh Ma sute dan Liauw-sute, dan beberapa orang anak buah, apakah kalian masih tinggal diam saja?"
Sambil menegur kedua orang suhengnya, Phang Kok Sek sudah menyambar senjatanya yang hebat, yaitu sebatang tombak cagak bergagang baja yang besar dan berat dari sudut belakang tempat duduknya. Karena wanita berkerudung itu adalah orang luar dan yang terang terangan hendak merampas Thian liong pang, semenjak tadi memang Sai cu Lo mo dan Lui hong Sin ciang Chie Kang menganggapnya sebagai musuh. Akan tetapi, mengingat akan kedudukan dan tingkat mereka yang sudah tinggi di dunia kang-ouw, mereka masih merasa ragu ragu dan malu untuk mengeroyok seorang wanita.
Kini menyaksikan kelihaian wanita itu yang benar benar amat luar biasa dan mendengar teguran Sang Ketua, kedua orang kakek ini sudah bangkit dan meloncat ke depan. Mereka tidak memegang senjata dan memang kedua orang kakek ini lebih mengandalkan kepada kaki tangannya daripada senjata. Biarpun bertangan kosong, namun kepandaian mereka hebat dan kaki tangan mereka ini jauh lebih berbahaya daripada segala macam senjata yang tajam runcing. Sai cu Lo mo yang tertua di antara mereka bertiga dan juga sudah berpengalaman dan memiliki tingkat yang paling tinggi, kini berhadapan dengan wanita berkerudung, memandang tajam seperti hendak menembus kerudung itu dengan pandang matanya, lalu berkata,
"Nona, engkau masih begini muda telah memiliki kepandaian yang hebat dan sikap yang aneh sekali. Bukalah kerudungmu, perkenalkan dirimu dan jelaskan apa sebabnya engkau mengacau di Thian liong pang dan membunuh orang-orang yang sama sekali tidak ada permusuhan denganmu?"
Sepasang mata di belakang dua lubang di kerudung itu bersinar sinar dan biarpun mulutnya tidak tampak, jelas dapat diduga bahwa wanita itu tersenyum. Mata itu memandang kepada Sai cu Lo mo dan Chie Kang bergantian, kemudian berkata,
"Sai cu Lo mo, dan Lui hong Sin-ciang Chie Kang, aku mengenal siapa kalian berdua dan tadi aku sudah mendengar kalian mengeluarkan isi hati kalian! Hanya kalian berdualah yang patut menjadi Ketua dan Pimpinan Thian liong-pang, akan tetapi mengapa kalian tidak pernah mau menjadi Ketua? Aku tahu, karena kalian merasa enggan menjadi Ketua dari perkumpulan yang makin rusak oleh sepak terjang anak buahnya! Thian-liong pang makin bobrok dan kalian tidak mau nama kalian kelak terseret ke dalam lumpur kehinaan karena menjadi Ketuanya! Betapa pengecut! Betapapun juga, aku suka kalian membantuku kelak, maka aku tidak akan membunuh kalian berdua. Tak perlu aku memperkenalkan diri, cukup kalau kalian ketahui bahwa akulah Ketua kalian yang baru, karena aku hendak memimpin Thian liong pang menjadi sebuah perkumpulan yang besar dan kuat, lebih besar dan lebih kuat daripada para penghuni Pulau Es. Adapun Phang Kok Sek Si Raksasa tolol yang tidak segan segan mengorbankan saudara-saudaranya untuk memperebutkan kursi ketua ini, dia tidak berguna dan akan kulenyapkan...."
"Siluman betina!"