Setelah berkata demikian, kakek muka singa itu duduk kembali dan melenggut seperti orang hendak tidur! Keadaan menjadi sunyi, kemudian terdengar bisik bisik di antara para anggauta yang sebagian besar merasa tersinggung dan tidak senang dengan ucapan itu. Adapun Phang Kok Sek, Sang Ketua, menjadi merah mukanya, terasa panas seperti baru saja menerima tamparan.
"Cocok sekali!"
Tiba-tiba Lui hong Sin ciang Chie Kang berseru dan bangkit dari kursinya, suaranya tinggi nyaring sungguh tidak sesuai dengan sikapnya yang tenang dan kelihatan lemah.
"Jangan membikin malu nenek moyang kita yang gagah perkasa, Siangkoan Li Su couw yang pernah menjadi sahabat baik pendekar wanita sakti Mutiara Hitam!"
Setelah berkata demikian, Lui hong Sinciang Chie Kang duduk kembali. Biarpun ucapan kedua orang suhengnya itu merupakan tamparan dan teguran tersembunyi, yang ditujukan kepadanya, namun hati Phang Kok Sek menjadi lega karena jelas bahwa kedua orang suhengnya itu tidak mau memasuki pibu mem-perebutkan kursi ketua! Kini tinggal dua orang sutenya dan seorang sumoinya, karena selain mereka bertiga, siapa lagi yang berani memasuki pibu? Dia melirik ke arah kedua orang sutenya dan sumoinya. Hampir berbareng, Twa to Sin seng Ma Chun dan Cui beng kiam Liauw It Ban bangkit berdiri memandang ketua mereka juga suheng mereka sambil berkata,
"Aku hendak memasuki pibu!"
Kata Ma Chun.
"Dan aku juga ingin mencoba-coba, memasuki pibu pemilihan ketua baru!"
Kata Liauw It Ban. Setelah kedua orang itu duduk kembali, Tang Wi Siang bangkit berdiri. Janda muda yang cantik jelita ini berkata tenang,
"Aku ingin memasuki pibu, akan tetapi hendaknya Pangcu dan sekalian Suheng dan saudara sekalian maklum bahwa aku merasa tidak cukup untuk menjadi ketua...." "Sumoi, aku bersedia membantumu mengatur pekerjaan ketua!"
Tiba-tiba Liauw It Ban berseru dan matanya memandang dengan sinar penuh arti. Kedua pipi wanita itu berubah merah, jantungnya berdebar karena maklum apa yang tersembunyi di balik ucapan itu, apalagi ketika ia melihat banyak mulut tersenyum senyum maklum, membuat dia merasa lebih jengah lagi.
"Terima kasih, Liauw suheng. Akan tetapi, aku tidak ingin menjadi ketua, juga jangan disalah artikan bahwa aku memasuki pibu karena mendendam atas kematian mendiang suamiku. Sama sekali tidak, aku memasuki pibu setelah selama ini aku melatih diri memperdalam ilmu silat dan semata-mata hanya untuk mempertebal keyakinan bahwa orang yang menjadi ketua perkumpulan kita memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi dariku sehingga boleh dipercaya dan diandaikan utuk menjunjung nama dan kehormatan Thian liong pang!"
Girang sekali hati Phang Kok Sek mendengar ini dan diam diam ia mengambil keputusan untuk memaafkan sumoinya yang cantik itu dan tidak membunuhnya. Akan tetapi kedua orang sutenya Ma Chun dan Liauw It Ban harus ia tewaskan dalam pibu itu karena kalau sekali ini mereka gagal, pada lain kesempatan tentu mereka itu akan mencoba lagi dan hal ini merupakan bahaya terus menerus bagi kedudukannya. Ia segera bangkit berdiri dan berkata,
"Terima kasih atas wejangan kedua Suheng dan tentu saya akan berusaha memperbaiki keadaan perkumpulan kita. Seperti saudara sekalian telah mendengar, yang memasuki pibu untuk kedudukan ketua baru hanyalah Ma sute dan Liauw sute, sedangkan Sumoi hanya akan menguji kepandaian Ketua baru yang berhasil keluar sebagai pemenang dalam pibu ini. Kurasa tidak ada orang lain lagi yang akan memasuki pibu hari ini!"
"Ada!"
Tiba-tiba terdengar suara yang bening merdu, suara wanita! "Akulah yang akan memasuki pibu memperebutkan kedudukan ketua Thian liong pang!"
Semua orang menengok dan memandang dengan penuh keheranan kepada seorang wanita yang kepalanya berkerudung sutera putih dan tahu tahu telah berdiri di dalam ruangan itu. Bagaimana mungkin orang ini masuk? Semua pintu masih tertutup, dan tempat itu dikelilingi tembok yang tinggi dan atasnva dipasangi tombak tombak runcing mengandung racun!
"Engkau siapa?"
Phang Kok Sek membentak dengan suara menggeledek karena marah. Terdengar suara ketawa kecil di balik kerudung sutera itu dan dengan langkah tenang wanita berkerudung itu memasuki ruangan sampai di bagian tengah yang kosong, di bawah anak tangga kemudian berkata,
"Pangcu, siapa aku bukanlah hal penting. Akan tetapi kalau kalian semua ingin tahu juga, akulah calon Ketua baru dari Thian liong pang, calon Ketua kalian. Aku memasuki pibu untuk mendapatkan kedudukkan Ketua Thian liong-pang."
Phang Kok Sek bangkit berdiri dan menudingkan telunjuknya ke arah wanita berkerudung itu.
"Tidak mungkin! Engkau telah melakukan dua pelanggaran. Pertama, engkau sebagai orang luar berani memasuki tempat ini tanpa ijin, kesalahan ini saja sudah patut dihukum dengan kematian. Ke dua, pibu kedudukan Ketua Thian liong pang hanya dilakukan di antara anggauta sendiri, tidak boleh dicampuri orang dari luar! Hayo, buka kedokmu dan perkenalkan dirimu. Karena engkau seorang wanita, mungkin sekali kami dapat memberi ampun."
Kembali wanita itu tertawa, halus merdu dan penuh ejekan namun cukup membuat tulang punggung yang mendengarnya terasa dingin.
"Phang Kok Sek, biarpun engkau telah menjadi Ketua Thian liong pang, ternyata engkau agaknya tidak tahu atau lupa akan sejarah Thian liong pang dan riwayat tokoh-tokoh besarnya di waktu dahulu. Dahulu, pendekar besar Siongkoan Li telah diusir dari Thian liong pang, dan dianggap sebagai orang luar karena perbuatan perbuatannya yang menentang Thian liong pang dan karena menjadi murid dari kedua Sian ong Kutub Utara dan Selatan. Akan tetapi kemudian dia kembali dan merampas Thian liong pang menjadi ketuanya! Bukankah itu berarti seorang luar dapat menjadi Ketua Thian liong pang? Dan lupakah engkau kepada Gurumu sendiri, Guru semua anggauta dewan pimpinan Thian liong pang ini? Siapakah Guru kalian? Bukankah guru kalian mendiang Kim-sin to Sai kong adalah seorang pertapa dari Kun lun san yang sama sekali bukan anggauta Thian liong pang tadinya?"
Keenam pimpinan Thian liong pang terkejut sekali. Bagaimana orang ini dapat mengetahui semua rahasia itu yang menjadi rahasia moyang para pimpinan Thian liong pang?
"Siapakah engkau?"
Kembali Phang Kok Sek bertanya.
"Aku adalah calon Thian liong pangcu,"
Wanita berkerudung menjawab. Tiba-tiba Sai cu Lo mo berkata setelah menatap sepasang mata di balik kerudung itu dengan tajam.
"Toanio, siapa pun adanya engkau, caramu masuk dan sikapmu menunjukkan bahwa engkau seorang pemberani. Akan tetapi ketahuilah bahwa seorang yang ingin menjadi Ketua Thian liong pang bukanlah melalui pibu, melainkan merupakan perampas perkumpulan yang harus lebih dahulu mengalahkan seluruh pimpinan...."
"Memang aku datang untuk mengalahkan kalian semua atau siapa saja yang menentangku menjadi Ketua Thian liong-pang!"
Wanita itu menjawab seenaknya.
"Nah, aku menyatakan diriku sebagai Ketua Thian liong pang yang baru! Siapa yang akan menentang? Boleh maju!"
Para anggauta Thian liong pang memandang dengan hati tegang dan juga gembira karena mereka merasa yakin bahwa munculnya wanita aneh ini akan mengakibatkan pertandingan yang amat menarik. Tadinya mereka sudah merasa kecewa ketika mendengar ucapan Sai cu Lo mo dan Lui hong Sin ciang Chie Kang karena maklum bahwa dua orang tua itu tidak memasuki pibu sehingga pertandingan yang akan terjadi di antara Ketua dan dua orang sutenya dan seorang sumoinya tidak akan menarik hati.
Sementara itu, melihat sikap wanita berkerudung, enam orang pimpinan Thian liong pang menjadi marah dan diam diam Phang Kok Sek memberi tanda dengan matanya kepada Cui beng-kiam Liauw It Ban. Mereka berenam adalah orang-orang yang berkedudukan tinggi pula, maka biarpun mereka ditantang, mereka merasa malu untuk maju mengeroyok. Pula, Phang Kok Sek yang cerdik sengaja menyuruh sutenya maju, selain untuk menyaksikan dan mengukur kepandaian wanita berkerudung juga andaikata terjadi sesuatu dengan diri Liauw It Ban hanya berarti bahwa dia kehilangan seorang di antara saingan saingannya! Akan tetapi betapa kaget hatinya, dan juga para pimpinan lain ketika wanita itu mendahului Liauw It Ban yang hendak bangun menghadapi Si Pedang Pengejar Roh itu sambil berkata,
"Nah, engkau sudah menerima perintah Suhengmu untuk melawan aku. Majulah!"