"Selama ini sabukku menjadi teman yang setia."
Keng Han merasa terharu sekali ketika menerima sabuk sutera putih itu. Dia pun lalu mengambil pedang bengkoknya dan diserahkan kepada Cu In.
"Terima kasih, Cu In. Dan ini pedangku harap kau simpan baik-baik. Pedang ini pemberian ibuku dan biarlah sekarang untuk sementara disimpan oleh calon isteriku yang tercinta."
"Selamat tinggal, Keng Han."
Kata Cu In sambil menerima pedang bengkok itu.
"Selamat jalan dan selamat berpisah untuk sementara, Cu In."
Kata Keng Han. Gadis itu lalu pergi dengan cepat menyusul orang tuanya.
"Hi-hi-hik, sungguh lucu. Seperti orang bermain sandiwara saja. Alangkah mesranya, Keng Han!"
Bi-kiam Nio-cu mengejek sambil tertawa.
"Kalau dua hati sudah bertemu dalam cinta, tentu saja timbul kemesraan, Niocu"
"Aku heran sekali. Apakah matamu sudah buta, Keng Han?"
"Niocu, harap engkau jangan menghinaku. Mengapa engkau mengatakan mataku buta?"
"Benarkah engkau sudah menyaksikan bagaimana bentuk wajah sumoi Cu In?"
"Sudah, mengapa?"
"Wajahnya begitu buruk dan menjijikkan! Engkau dapat mencinta gadis dengan wajah seperti itu?"
"Niocu, engkau belum mengenal apa artinya cinta. Aku mencinta Cu In sejak la belum memperlihatkan mukanya. Aku mencinta ia, mencinta pribadinya, bukan mencinta wajahnya. Setelah aku melihat mukanya, cintaku semakin kuat karena ada dorongan perasaan iba kepadanya. Aku kelak akan mencarikan tabib terpandai di seluruh dunia untuk mengobatinya!"
"Hi-hi-hik, percuma saja. Cacat di mukanya itu menurut kata subo dan sumoi sendiri, adalah cacat bekas cacar. Mana mungkin pulih kembali. Kelak engkau akan menyesal. Kalau semua orang menertawakanmu ketika engkau bersanding dengan isterimu yang wajahnya seperti setan....!"
"Cukup, Niocu! Jangan engkau menghina Cu In atau aku akan menghajarmu!"
"Eh-eh-eh, engkau akan menghajarku? Lupakah, engkau bahwa aku ini gurumu?"
"Hemmm, memang engkau pernah mengajari cara menghadapi tok-ciang, akan tetapi engkau sendiri yang menyuruh aku memanggil Niocu. Jadi sekarang aku bukan lagi muridmu."
"Hemmm, pedangmu sudah kau berikan kepada kekasihmu, bagaimana engkau akan melawan aku? Dengan sabuk sutera putih pemberian kekasihmu itu?"
"Niocu, untuk melawanmu tidak perlu aku mempergunakan senjata!"
Kata Keng Han sambil mengikatkan sabuk sutera putih itu di pinggangnya.
"Keparat! Berulang kali engkau menghinaku, menolakku, dan sekarang-lah ke sempatan bagiku untuk membunuhmu! kalau aku tidak dapat memperolehmu, orang lain juga tidak boleh!"
Berkata demikian, Bi-kiam Nio-cu mencabut pedangnya lalu menyerang dengan cepat dan dahsyat. Namun Keng Han dengan tenang saja menggerakkan tubuhnya mengelak dari tusukan ke arah dada itu.
"Percuma, Niocu. Engkau tidak akan menang. Hentikanlah seranganmu itu dan jangan ganggu aku lagi!"
Keng Han masih mencoba untuk memperingatkan lawannya.
"Mampuslah!"
Niocu memben-tak dan menyerang lebih hebat lagi.
"Wuutt.. singgg...!"
Pedang yang menebas ke arah leher itu luput karena dielakkan oleh Keng Han. Keng Han mengalah dan terus mengelak sampai sepuluh jurus. Ketika melihat gadis itu semakin nekat menyerang-nya, dia pun lalu membalas. Tangan kirinya menampar ke arah leher Niocu, akan tetapi ketika Niocu mengelak, ia disambut oleh tangan kanan Keng Han yang menjotos ke arah lambungnya. Niocu berseru kaget dan melompat mundur ke belakang sehingga jotosan ke lambung itu luput. Keng Han segera bersilat dengan ilmu Toat-beng Bian-kun, sebuah di antara ilmu silat pusaka Pulau Es. Nampaknya saja ilmu silat ini lemah lembut seperti kapas, akan tetapi di dalamnya terkandung tenaga sinkang yang mengancam lawan dengan dahsyatnya! Menghadapi ilmu silat aneh dan berbahaya sekali ini, Niocu terdesak mundur terus.
"Hentikan seranganmu, Niocu. Hentikan!"
Keng Han berkali-kali membujuk. Akan tetapi Niocu yang sudah menjadi penasaran itu tidak mempedulikan seruannya dan menyerang terus. Tiba-tiba ia menggerakkan kepalanya ke belakang dan gelungan rambutnya terlepas sehingga rambut itu menjadi riap-riapan dan panjang sampai ke pinggang. Rambut ini, yang lembut dan berbau harum, merupakan senjata yang tidak kalah ampuhnya dengan pedang di tangan kanan Niocu. Bahkan gerakan rambut ini datangnya tidak terduga-duga, bisa dipergunakan untuk menyolok mata, melibat dan mencekik leher, bahkan menotok ke arah jalan darah lawan. Namun Keng Han sudah mengenal kelihaian rambut panjang itu. Ketika Niocu menusukkan pedangnya ke arah perut, tiba-tiba rambutnya melibat leher Keng Han!
Keng Han mengelak ke kiri akan tetapi tidak dapat mengelak dari rambut yang sudah melilit lehernya. Dia menggunakan tangan kirinya, menangkap rambut itu dan sekali tarik, rambut itu putus setengahnya! Niocu menjerit kaget. Rambutnya yang tadinya sepanjang pinggang itu kini tinggal sepundak! Akan, tetapi ketika sedang mundur dan kaget melihat rambutnya, Keng Han sudah maju dan menendang ke arah pergelangan tangannya yang memegang pedang. Kembali Niocu menjerit kaget dan pedangnya terlepas dari pegangan, mencelat ke atas. Tiba-tiba nampak bayangan tubuh orang yang menangkis pedang yang terpental itu. Ketika bayangan itu turun, ternyata dia seorang laki-laki berusia empat puluhan tahun. Wajahnya penuh brewok seperti muka harimau dan brewok serta rambutnya sudah putih semua!
"Bi-kiam Nio-cu, ini pedangmu! Apakah engkau perlu bantuanku menghadapi bocah lancang ini?"
Bi-kiam Nio-cu bukan orang yang curang. Sebaliknya, ia menghargai kegagahan dan tanpa malu lagi ia mengaku dalam hati bahwa kepandaiannya tidak mampu menandingi kepandaian Keng Han. Ia menyimpan kembali pedangnya menyanggul rambutnya yang tinggal sepundak, lalu berkata kepada orang itu.
"Pek-thou-houw (Harimau Kepala Putih), tidak perlu engkau mencampuri urusanku. Dan ada keperluan apakah engkau datang ke sini?"
Orang yang berjuluk Harimau Kepala Putih itu menghela napas panjang. Bi-kiam Nio-cu ini ternyata masih sama angkuhnya dengan dulu. Seorang wanita yang dingin dan angkuh! Maka dia pun tidak mau bicara panjang lebar, hanya menyampaikan tugasnya saja.
"Bi-kiam Nio-cu, aku diutus oleh Thian It Tosu dari Bu-tong-pai untuk mengundang Ang Hwa Nio-nio ke Bu-tong-san, karena di sana akan diadakan rapat besar antara para datuk dan tokoh kang-ouw. Harap engkau suka minta pada gurumu untuk menemuiku atau aku yang menghadap ke dalam."
Kata Pek-thou-houw sambil memandang ke arah rumah itu.
"Guruku sudah pergi dan tidak akan kembali,"
Kata Bi-kiam Nio-cu.
"maka tidak mungkin dapat pergi. Akan tetapi aku yang akan mewakilinya datang ke Bu-tong-san."
"Begitupun bagus, Niocu. Kami semua telah mendengar nama besar Bi-kiam Nio-cu. Niocu, bagaimana kalau sebelum aku pergi, aku memberi hajaran kepada bocah ini agar lain kali dia tidak akan menggodamu lagi?"
Bi-kiam Nio-cu tersenyum mengejek.
"Sesukamulah!"
Katanya. Pek-thou-houw menghampiri Keng Han yang sejak tadi hanya menjadi penonton saja.
"Heh, orang muda, siapa namamu? Aku tidak biasa membunuh orang yang tidak mempunyai nama!"
Bentak Harimau Kepala Putih itu dengan sikap bengis.
"Namaku Si Keng Han dan kuharap engkau tidak mencampuri urusan antara aku dan Niocu."
Kata Keng Han dengan lembut.
"Apa katamu? Kalau aku mencampuri, kau mau apa?"
"Sesukamulah kalau begitu. Aku sudah memperingatkan!"
Kata Keng Han, kini tidak lembut lagi bahkan suaranya mengandung gertakan.
"Awas seranganku. Heh-heiiiiittt!"
Si Kepala Putih itu mengeluarkan gerakan seperti seekor harimau dan tubuhnya sudah meloncat ke depan, sikapnya presis harimau yang hendak menerkam korbannya, kedua tangan dibentangkan dengan jari-jari membemtuk cakar harimau.
"Hemmm....!"
Keng Han mengenal ilmu silat harimau ini. Akan tetapi harus diakui bahwa Si Harimau Kepala Putih inii telah mempelajari segala bentuk gerakan harimau dengan seksama dan seorang ahli dalam Houw-kun (silat Harimau) itu. Dia percaya bahwa dua cakar itu sanggup merobek kulit dan daging lawan! Karena telah mengenal ilmu itu, dengan mudah dia mengelak dengan lompatan ke kiri dan begitu "harimau"
Itu turun ke atas tanah, dia sudah menampar dengan tangan kiri.