Halo!

Pusaka Pulau Es Chapter 71

Memuat...

"Wah, ini perkara penting sekali. Aku harus segera menghubungi ayahanda Kaisar dan para panglima untuk melakukan penjagaan dan untuk menyelidiki gerakan musuh di luar kota raja. Bagaimana kalau kami minta bantuan kalian, Keng Han dan Cu In, untuk ikut menjadi pengawal Kaisar untuk sementara waktu?"

"Saya bersedia, Paman."

Kata Keng Han.

"Kalau memang dibutuhkan, saya pun suka membantu,"

Kata pula Cu In penuh semangat.

"Bagus, kalau begitu sekarang juga kalian berdua ikut dengan aku menghadap Kaisar. Kwi Hong, engkau menjaga di rumah dan saya mohon bantuan Locianpwe Kai-ong dan nona Yo untuk membantu Kwi Hong."

"Baik, Ayah. Aku dan ibu akan siap siaga."

"Ha-ha-ha, setelah siang malam makan dan tidur dengan enak di sini kami tentu saja suka membantu. Ada pekerjaan itu baik sekali, makan tidur saja setiap hari membuat aku menjadi malas!"

Kata Kai-ong. Maka berangkatlah Pangeran Tao Kuang menuju ke istana Kaisar, dikawal oleh Keng Han dam Cu In. Setelah tiba di istana dan diterima oleh Kaisar, Pangeran Tao Kuang menceritakan keadaan yang berbahaya itu. Mendengar laporan ini, Kaisar yang sudah tua itu memukul dengan kursinya.

"Aahhh, anak-anak macam apa Tao Seng dan Tao San itu? Mereka sudah dihukum, tidak jera malah membikin ulah lagi. Kami serahkan penanggulangan pengacau ini kepadamu, Tao Kuang. Selesaikan sampai tuntas urusan ini. Aaahh, kalau kami yang harus memikirkan masalah anak-anak durhaka ini, hanya akan mendatangkan penyesalan saja di dalam hati!"

"Baik, Ayah. Serahkan saja semua ini kepada hamba. Di sini hamba mengajak dua orang pendekar yang menjadi saksi usaha pemberontakan itu dan hamba harap agar Ayah menerimanya sebagai pengawal sementara untuk menghadapi mereka yang berani masuk ke Istana."

Kaisar menerima Keng Han dan Cu In dengan senang. Akan tetapi melihat Cu In yang bercadar, Kaisar mengerutkan alisnya dan berkata,

"Kenapa gadis ini memakai cadar? Sebaiknya kalau cadar itu dilepas agar kami dapat melihat wajahnya."

"Ampun, Yang Mulia. Hamba telah bersumpah untuk tidak membuka cadar ini. Yang berhak melakukan hanya suami hamba kelak?"

Kata Cu In. Keterangannya ini tidak seluruhnya bohong karena di dalam hatinya ia pun mengambil keputusan bahwa yang berhak membuka cadar adalah tangan suaminya. Mendengar ini Keng Han merasa jantungnya berdebar. Gadis ini sudah membuka cadar di depannya, bukankah itu menunjukkan bahwa gadis ini setuju dia menjadi calon suaminya? Hemmm, sumpah yang aneh. Akan tetapi sudahlah, karena putera kami yang membawamu ke sini, engkau boleh bercadar. akhirnya Kaisar berkata sambil mengangguk walaupun merasa heran akan sumpah yang aneh itu. Keng Han dan Cu In ditinggalkan dalam istana untuk menjadi pengawal pribadi kaisar. Walaupun kaisar sudah mempunyai pasukan pengawal pribadi,

Namun hadirnya dua orang muda yang oleh puteranya diperkenalkan sebagai dua orang pendekar yang berilmu tinggi, kaisar suka menerimanya dan hal ini. menambah tenang hatinya. Pangeran Tao Kuang sendiri lalu membawa sepasukan pengawal untuk mengawalnya. Dia tidak segera pulang melainkan mendatangi rumah panglima The Sun Tek yang dikenalnya sebagai Panglima besar yang memiliki ilmu silat tinggi. Kepada panglima itu dia menceritakan tentang usaha persekutuan yang dipimpin oleh Pangeran Tao Seng dan dia menyerahkan penyelidikan dan pembasmian gerombolan pemberontak yang mungkin bersembunyi dekat kota raja untuk mencegah gerombolan itu menyerbu kota raja. Setelah Panglima The Sun Tek menyatakan siap untuk melaksanakan perintah Kaisar melalui Pangeran Mahkota itu, Pangeran Tao Kuang baru pulang ke rumahnya, dikawal pasukan pengawal dengan ketat.

Panglima The Sun Tek mengerahkan pasukan istimewa untuk menambah kekuatan penjagaan di istana, lalu menyebar penyelidik untuk menyelidiki apakah ada gerombolan yang bersembunyi di sekitar kota raja. Kaisar Cia Cing yang usianya sudah lebih dari tujuh puluh lima tahun itu nampak tenang saja mendengar bahwa dirinya terancam bahaya maut. Apalagi dengan adanya Keng Han dan Cu In, dia merasa aman. Adapun penambahan pengawal istana membuat dia lebih tenang lagi karena penjagaan ketat sekali. Keng Han dan Cu In sama sekali tidak menyangka bahwa di antara pengawal istana itu terdapat Tung-hai Lo-mo dan Lam-hai Koai-jin. Mereka ini di selundupkan oleh panglima yang sudah dipengaruhi Pangeran Tao Seng, yaitu Panglima Cau, ke dalam pasukan pengawal istana!

Adapun Swat-hai Lo-kwi oleh Panglima Ciu diselundupkan ke dalam pasukan penjaga istana Panyeran Mahkota. Tentu saja ketiga orang datuk sesat ini menyamar sehingga kelihatan muda dan seperti anggauta pasukan biasa. Dua orang datuk, Tung-hai Lo-mo dan Lam-hai Koai-jin, bertugas untuk membunuh kaisar dan bersama dengan mereka diselundupkan pula anak buah Pek-lian-pai sebanyak selosin orang untuk membantu usaha dua orang datuk itu. Sedangkan Swat-hai Lo-kwi dibantu oleh selosin prajurit pula, yaitu para anggauta Pat-kwa-pai. Gulam Sang sendiri memimpin pasukan Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai bersama para tokoh kedua gerombolan itu, mempersiapkan pasukannya di luar kota raja, siap untuk membantu apabila saatnya tiba.

Penyerbuan itu akan dibarengi dengan gerakan pasukan Panglima Ciu dari dalam dan kalau saatnya tiba, Panglima Ciu akan melepaskan anak panah berapi di udara sebagai tanda kepada gerombolan yang bersembunyi di luar kota raja. Penyerbuan akan dilakukan pada malam hari. Pangeran Tao Kuang yang sudah menerima keterangan sejelasnya dari Keng Han dan Cu In, berhubungan terus dengan Panglima The Sun Tek. Panglima ini adalah seorang panglima perang yang sudah hafal akan liku-liku siasat perang. Maka dia tidak terpancing keluar dan mengerahkan pasukannya keluar kota raja. Dia menaruh curiga kalau-kalau pihak pemberontak telah menyelundupkan banyak pasukan ke dalam kota raja. Mudah saja untuk menyusup dengan menyamar sebagai pedagang atau petani yang menjual hasil ladang mereka ka kota raja.

Maka dia pun membagi pasukannya menjadi dua bagian. Yang satu bagian diperuntukkan membasmi gerombolan yang berada di luar kota raja, sedangkan sebagian lagi tetap menjaga di kota raja kalau-kalau pihak musuh sudah menyelundupkan pasukan ke dalam kota raja untuk menyerbu istana, Penjagaan di istana diperketat. Malam itu teramat indah. Biarpun tidak ada bulan di angkasa namun malam itu penuh bintang. Langit bersih sehingga semua bintang nampak di angkasa bagaikan butir-butir mutiara di hamparan beludu hitam. Kalau ada orang yang menengadah, maka akan nampaklah keindahan yang luar biasa, nampaklah kekuasaan Tuhan yang tiada taranya. Bintang-bintang itu berkelap-kelip, ada yang berkejap ada pula yang tenang diam tanpa sinar gemerlapan.

Cahaya sekian banyaknya bintang di angakasa, tidak terhitung banyaknya, membuat cuaca di bumi nampak remang-remang. Cahaya bintang-blntang itu demikian lembut sehingga malam terasa sejuk. Kalau ada angin semilir, barulah terasa betapa dinginnya hawa udara di saat itu. Dingin dan sunyi, penuh pesona dan rahasia. Kadang nampak bintang meluncur lalu lenyap membuat kita bertanya-tanya apa sebenarnya yang ter jadi jauh di atas itu. Benarkah pendapat kuno bahwa setiap bintang itu mewakili seorang manusia. Agaknya pendapat kuno ini berlebihan. Buktinya banyak bintang yang sudah beratus tahun masih nampak cemerlang di angkasa sedangkan manusia sudah berganti beberapa generasi. Apakah di bintang itu terdapat mahluk hidup? Mungkin, siapa tahu. Tuhan Maha Kuasa, maka tidak ada hal yang tidak mungkin.

Kalau Tuhan meng-hendaki, mungkin saja di antara bintang-bintang itu ada bintang yang seperti dunia kita ini. Malam yang indah. Akan tetapi malam yang mencekam bagi para penjaga di istana. Beberapa orang melihat berkelebatnya bayangan orang di luar kamar tidur Kaisar. Akan tetapi ketika diperiksa, ternyata tidak ada siapa-siapa. Ketika mendengar laporan para penjaga itu, Keng Han dan Cu In siap siaga dengan penuh kewaspadaan. Keng Han menyuruh para perajurit pengawal untuk mengepung kamar tidur kaisar, sedangkan dia sendiri bersama Cu In sudah melayang naik ke atas atap, menjaga kalau-kalau ada yang menyerbu dari atas. Penjagaan itu demikian ketatnya sehingga siapapun yang akan memasuki kamar kaisar, dari luar maupun dari atas, pasti akan ketahuan. Kecuali kalau ada yang masuk melalui bawah tanah, suatu hal yang tidak mungkin.

Tengah malam tiba. Bintang-bintang semakin jelas kelihatan, membuat Keng Han dan Cu In yang berada di atas atap menjadi kagum bukan main. Terutama sekali Keng Han. Sudah sering dia melihat malam penuh bintang, akan tetapi entah bagaimana, belum pernah nampak seindah malam ini. Dia tersenyum seorang diri, maklum mengapa hatinya demikian tenteram dan bahagia, walaupun menghadapi tugas yang berbahaya. Bukan lain karena Cu In berada di situ, di dekatnya! Terdengar bunyi langkah dua losin perajurit pengawal datang dari arah luar. Mereka itu adalah seregu perajurit pengawal yang datang untuk menggantikan para perajurit yang sudah berjaga sejak sore tadi. Setelah komandan perajurit yang baru datang menerima laporan dari komandan perajurit yang diganti bahwa tadi nampak bayangan mencurigakan berkelebat akan tetapi kini suasana aman dan tenang dan bayangan itu tidak dapat ditemukan.

"Mungkin hanya bayangan burung yang terbang lewat,"

Komandan itu menutup keterangan-nya kepada komandan yang baru.

"Betapapun juga, harap menjaga dengan hati-hati dan waspada."

"Dia tidak menceritakan bahwa Keng Han dan Cu In berada di atas atap karena dia sendiri tidak tahu di mana dua orang peagawal pribadi kaisar itu bersembunyi. Pergantian pengawal sudah dilakukan dan para perajurit pengawal yang baru nampak masih segar dan mereka mengepung kamar kaisar, bahkan kadang melakukan perondaan di sekeliling tempat itu. Keng Han dan Cu In mendengar suara mereka dan melongok ke bawah. Mereka tahu bahwa ada pergantian pengawal, maka mereka tidak mengacuhkan lagi. Tak lama kemudian mereka mendengar suara gedebak-gedebuk seperti orang jatuh.

"Cu In, cepat kau periksa di bawah, biar aku yang menjaga di sini!"

Kata Keng Han. Cu In melayang turun dan terkejutlah ia melihat beberapa orang perajurit pengawal menyerang kawan-kawannya sendiri! Dia sama sekali tidak tahu bahwa di antara dua losin perajurit itu, yang empat belas orang adalah anak buah Pek-lian-pai yang menyamar sebagai perajurit, dan juga dua orang datuk sesat, Tung-hai Lo-mo dan Lam-hai Koai-jin! Melihat sepuluh orang perajurit diserang oleh perajurit yang lain dan empat orang sudah roboh tak bergerak lagi Cu In berseru,

Post a Comment