Halo!

Pusaka Pulau Es Chapter 65

Memuat...

"Entahlah, akan tetapi dia mahir ilmu-iIlmu Pulau Es, dan Keng Han Juga masih terhitung murid keponakanku sendiri karena dia menjadi murid suci-ku, pernah bercerita kepadaku bahwa dia memperoleh ilmu-ilmu aneh itu dari Pulau Hantu."

"Pulau Hantu? Ibu yang pernah mampelajari ilmu-ilmu dari keluarga Pulau Es tidak pernah bercerita adanya Pulau Hantu."

"Sudahlah, mendengar cerita kalian, aku yakin bahwa Keng Han seorang berwatak pendekar. Setelah apa yang dia dengar dari sini tentang Pangeran Tao Seng, dia tentu akan melakukan penyelidikan, dan kalau dia sudah tahu duduknya perkara, aku kira dia tidak akan memusuhi-ku lagi."

"Mudah-mudah begitu, Ayah. Kalau dia datang lagi dan berkeras hendak membunuh Ayah, akulah yang akan menghadapinya. Dia boleh membunuh Ayah setelah melewati mayatku!"

Kata Kwi Hong dengan nada suara mengandung kecewa, penasaran dan juga sedih. Tak seorang pun tahu apa yang dirasakan gadis ini. Dia sudah terlanjur jatuh cinta kepada pemuda itu, dan sekarang melihat kenyatan bahwa pemuda itu adalah kakak sepupunya sendiri yang hendak membunuh ayahnya! Setelah makan minum selesai, Pangeran Tao Kuang mengundurkan diri bersama selirnya. Liang Siok Cu yang merasa khawatir akan keselamatan suaminya segera memerintahkan pasukan pengawal untuk melakukan penjagaan ketat, untuk menjaga agar tidak ada orang luar dapat memasuki istana. Pasukan pengawal dikerahkan untuk menjaga keselamatan suaminya tersayang. Cu In juga berpamit kepada Kwi Hong.

"Hatiku merasa tidak enak sekali dengan terjadinya peristiwa ini. Bagaimanapun juga, Keng Han adalah murid keponakanku dan aku ikut bertanggung jawab kalau dia melakukan sesuatu terhadap sang pangeran. Karena itu, aku tidak jadi bermalam di sini, aku pamit untuk keluar dari istana ini karena aku hendak mencari Keng Han, untuk mengajaknya bicara dan menyadarkannya."

Tentu saja Kwi Hong tidak dapat menahannya, karena kepergian Cu In adalah untuk mencegah Keng Han mengulangi usahanya untuk membunuh ayahnya. Ia mengantar Cu In keluar dari istana karena seluruh daerah istana telah di jaga pengawal sehingga akan agak sukarlah bagi Cu In atau siapa saja yang datang dari luar untuk keluar dari situ begitu saja.

Dengan pengawalan Kwi Hong, Cu In dapat keluar dengan mudah ia lalu melompat dan lenyap di balik pohon-pohon. Kwi Hong memandang ke arah bayangannya dan berulang kali Kwi Hong menghela napas panjang. Kalau saja Keng Han itu bukan kakak sepupunya, kiranya ia pun akan melakukan hal serupa dengan apa yang dilakukan Cu In yaitu membujuk pemuda itu agar tidak melanjutkan niatnya. Cu In berdiri diam di bawah sebatang pohon besar, berpikir. Akan tidak mudah baginya untuk mencari Keng Han di kota raja yang besar itu, tanpa mengetahui ke mana pemuda itu pergi. Ke rumah Hartawan Ji? Akan tetapi di mana rumah Hartawan Ji ia tidak tahu dan tiba-tiba ia teringat akan The Sun Tek, ayah kandungnya. Ayahnya adalah The-ciangkun, seorang panglima besar yang kenamaan di kota raja.

Sebagai seorang panglima, tentu The-ciangkun tahu benar apa yang terjadi dua puluh tahun yang lalu, tentang Pangeran Tao Seng. Apakah besar Pangeran Tao Sung difitnah oleh Pangeran Kuang, atau apakah dia memang hendak membunuh Pangeran Mahkota Tao Kuang sehingga dia ditangkap dan dihukum buang. Juga ayah kandung itu tentu tahu siapakah sabenarnya Hartawan Ji dan di mana tempat tinggalnya. Ia hampir yakin bahwa Keng Han tentu pergi kepada Hartawan Ji untuk mencari tahu tentang kebenaran apa yang didengarnya dari Pangeran Tao Kuang. Dengan pikiran ini, Cu In cepat menyelinap dan berkelebat cepat pergi menuju ke rumah The Sun Tek atau The-ciangkun, yang baru siang tadi ia tinggalkan. Ia langsung saja mendatangi gardu di mana terdapat beberapa orang tentara melakukan penjagaan dan berkata kepada mereka.

"Harap kalian laporkan kepada The Sun Tek bahwa aku, Cu In, ingin, menghadap dan bicara dengannya."

Para penjaga itu terheran-heran melihat seorang wanita bercadar minta bertemu dengan sang panglima, akan tetapi, melihat sikap yang sungguh-sungguh dari wanita itu, seorang di antara mereka segera menghadap ke dalam untuk melaporkan kepada The-ciangkun. Kebetulan The Ciangkun masih belum tidur dan sedang bercakap-cakap dengan The Kong puteranya. Yang mereka bicarakan bukan lain adalah tentang Ang Hwa Nio-nio dan The Cu In, puteri Panglima itu. Kalau panglima sudah tidur, tentu penjaga itu tidak akan berani mengganggunya dan mengusir Cu In.

"Maafkan saya, Ciangkun, kalau saya mengganggu. Akan tetapi di luar terdapat seorang nona bercadar yang mengaku bernama Cu In dan ingin bertemu dan bicara dengan Ciangkun."

Tadinya penjaga itu mengira bahwa panglima itu tentu akan marah dan menyuruh dia mengusir wanita pengganggu itu, akan tetapi dia kecilik ketika melihat pangeran itu dan puteranya bangkit berdiri ketika mendengar pelaporannya.

"Antarkan tamu itu ke sini, cepat!"

Kata The-ciangkun kepada sang penjaga yang cepat memberi hormat lalu berlari keluar.

"Tapi, Ayah. Jangan-jangan ia akan menyerang Ayah...."

Kata The Kong, khawatir ketika mendengar nama Cu In, kakak tirinya itu.

"Tenanglah, Kong-ji dan jangan khawatir. Kalau ia datang dengan niat buruk, tentu ia tidak akan menemui penjaga, melainkan masuk dengan melompat pagar untuk mencari dan membunuhku."

Tak lama kemudian muncullah Cu In, diantar oleh penjaga. The-ciangkun memberi isyarat kepada tentara itu untuk pergi dan dia segera berkata dengan ramah kepada Cu In,

"Cu In, mari duduklah dan katakan apa yang hendak kau bicarakan denganku? Kebetulan sekali aku pun sedang mencarimu. Kalau malam ini engkau tidak muncul, besok pagi akan kukerahkan pasukanku untuk mencarimu di seluruh pelosok kota raja!"

Cu In duduk di atas bangku berhadapan dengan The-ciangkun dan The Kong lalu bertanya, suaranya terdengar masih dingin,

"Mengapa engkau hendak mencariku?"

Biarpun ia sudah tahu bahwa pria ini ayah kahdungnya, namun masih canggung baginya untuk menyebut ayah.

"Mengapa, Cu In? Engkau adalah puteriku, maka tentu saja aku menghendaki engkau untuk pulang dan tinggal bersama ayahmu. Pula, ibumu mengajukan syarat. Aku baru dapat memboyongnya untuk hidup bersama di sini kalau aku membawa engkau, kepadanya! Ia amat mencintamu dan sangat menyesal melihat engkau marah kepadanya. Karena itulah, aku girang sekali melihat engkau datang."

"Benar, enci Cu In. Engkau harus tinggal bersama kami di sini!"

Kata pula The Kong, adik tirinya. Cu In menghela napas panjang.

"Belum tiba saatnya aku tinggal di sini. Kedatanganku ini hanya ingin mencari keterangan tentang diri Pangeran Tao Seng."

"Ehhh? Pangeran Tao Seng? Apa yang ingin kau ketahui tentang Pangeran Tao Sang?"

Tanya The-ciangkun heran.

"Dua puluh tahun yang lalu Pangeran Tao Seng di jatuhi hukuman buang. Benarkah itu?"

"Memang benar demikian. Dia dihukum buang selama dua puluh tahun."

"Dan sebabnya? Apakah dia difitnah orang lain?"

"Sama sekali tidak! Aku masih ingat benar. Pada suatu hari, Pangeran Tao Kuang, yaitu Pangoran Mahkota, diajak berburu binatang oleh Pangeran Tao Seng dan Pangeran Tao San. Akan tetapi terjadi keanehan. Mereka pulang dengan diantar Sin-tung Koai-jin Liang Cun dan puterinya, Liang Siok Cu. Pendekar itu telah menolong Pangeran Mahkota Tao Kuang yang hampir dibunuh oleh kedua pangeran itu bersama anak buahnya. Pangeran Tao Kuang pulang dengan selamat dan Pangeran Tao Seng dan Pangeran Tao San pulang sebagai tawanan, ditawan Sin-tung Koai-jin dan puterinya. Mereka diadili oleh kaisar, sendiri dan dijatuhi hukuman buang selama dua puluh tahun."

Cu In mengangguk-angguk. Ternyata benar apa yang diterangkan oleh Pangeran Mahkota Tao Kuang, seperti yang pernah didengarnya.

"Dan kabarnya Pangeran Tao Kuang mengirim utusan untuk membunuh Pangeran Tao Seng dalam pembuangannya itu? Benarkah demikian?"

The-ciangkun menggeleng kepalanya dan tertawa.

"Ha-ha-ha, dari mana engkau mendengar berita itu, Cu In? Itu adalah kabar bohong belaka. Pangeran Tao Seng tidak ada yang membunuh dalam pembuangan-nya. Bahkan sampai sekarang dia masih hidup!"

"Apakah dia sekarang menjadi orang yang disebut Hartawan Ji. di kota raja ini?"

The-ciangkun membelalakkan matanya.

"Ahhh, engkau sudah tahu pula? Tidak, banyak orang mengetahuinya kecuali keluarga kerajaan dan beberapa orang pejabat tinggi. Aku mengetahui juga secara kebetulan saja. Ketika aku pada suatu hari bertemu muka dengan Hartawan Ji, aku tidak ragu lagi bahwa dia adalah Pangeran Tao Seng!"

"Di mana rumahnya?"

Post a Comment