Halo!

Pusaka Pulau Es Chapter 64

Memuat...

Kata Kwi Hong dengan girang.

"Malam ini terang bulan. Kita makan malam di bawah. sinar bulan dan membicarakan tentang ilmu silat. Tentu menggembirakan sekali!"

Kata Pangeran Tao Kuang.

"Sekali ini engkau harus tidak menolaknya, Enci. Aku juga ingin sekali engkau menemaniku!"

Kata Yo Han Li sambil memegang tangan gadis bercadar itu. Cu In merasa sungkan untuk menolak ajakan mereka yang demikian ramah kepadanya.

"Baiklah, aku akan tinggal semalam dengan kalian."

Pangeran Tao Kuang melanjutkan berjalan-jalan dalam taman bersama Kai-ong Lu Tong Ki dan tiga orang gadis itu pun melanjutkan percakapan mereka. Akhirnya Kwi Hong mengantar Cu In ke dalam sebuah kamar yang diperuntukkannya tinggal semalam itu. Malam itu memang terang bulan. Bulan purnama menerangi langit dan bumi.

Taman Istana Pangeran Mahkota nampak indah sekali. Bunga-bunga sedang mekar semerbak harum dan di sana sini dipasangi lampu-lampu terang yang beraneka warna menambah semaraknya keadaan dalam taman. Malam itu Pangeran Mahkota datang ke taman disertai selirnya, Liang Siok Cu, satu-satunya selir yang cocok untuk mendampinginya di waktu pangeran menerima tamu-tamu ahli silat karena selir ini dulu pun seorang tokoh kang-ouw. Kwi Hong yang menemani ayah ibunya nampak Cantik dalam pakaian biru tua dan muda, dengan rambutnya yang di gelung ke atas, dihias Bangau Emas dan ujungnya diikat sehelai pita merah. Cu In segera diperkenalkan kepada Liang Siok Cu dan mereka mulai dilayani para pelayan yang menghidangkan makan malam yang mewah dan serba lezat.

Yang paling gembira adalah Kai-ong Lu Tong Ki. Tanpa sungkan atau malu dia, menyantap semua hidangan dengan lahapnya. Dan ketika mereka memperhatikan Cu In, gadis ini makan dengan sikap biasa saja. Karena sudah biasa, maka dia tidak canggung makan, biarpun cadarnya masih menutupi muka bagian bawah itu. Dia membawa makanan yang disumpit ke balik cadar dan makan dengan tenang, cadarnya ikut bergerak-gerak ketika mulutnya dengan perlahan mengunyah makanan. Ketika Pangeran Mahkota Tao Kuang sedang menja-mu para tamunya dengan gembira, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan hitam dan tahu-tahu tak jauh dari situ berdiri seorang pemuda yang memegang sebatang pedang bengkok terhunus. Pedang itu berkilau terkena sinar lampu gantung.

"Pangeran Tao Kuang, bersiaplah engkau untuk menerima pembalasanku atas segala kecuranganmu!"

Bentak pemuda itu yang bukan lain adalah Keng Han. Setelah berkata demikian, tubuhnya melayang dan menerjang ke arah Pangeran Tao Kuang, pedangnya menyambar ke arah leher sang pangeran. Sang Pangeran adalah seorang yang mempelajari ilmu silat dari mendiang mertuanya Sin-tung Koai-jin Liang Cun, maka dia pun cepat merendahkan tubuhnya untuk mengelak.

"Trang....!"

Pedang di tangan Keng Han tertangkis oleh tongkat bambu yang digerakkan oleh Kai-ong Lu Tong Ki yang duduk di sebelah kiri pangeran itu. Keng Han terpaksa melompati meja ketika serangan pertamanya gagal. Dia juga terkejut ketika merasakan tenaga hebat terkandung pada tongkat bambu yang menangkisnya. Dan baru sekarang dia melihat bahwa yang menangkis pedangnya adalah seorang berpakalan pengemis! Seorang pengemis makan bersama Pangeran Mahkota! Sungguh merupakan hal luar biasa. Disangkanya tadi Pangeran Tao Kuang sedang berpesta, dengan para selirnya karena dia melihat beberapa wanita muda cantik menemani pangeran itu makan minum. Baru sekarang dia dapat memperhatikan wanita-wanita muda itu dan terkejutlah dia ketika dia mengenal dua orang di antara mereka. Kwi Hong dan Cu In! Dia tidak heran melihat Kwi Hong karena dia sudah mengenalnya.

"Han-ko kaukah itu? Han-ko, kenapa engkau hendak membunuh ayahku? Ayaku orang yang baik dan tidak pernah melakukan kejahatan apa pun!"

Kwi Hong berseru dan ia pun telah berdiri, memandang kepada pemuda itu dengan mata terbelalak. Keng Han menjadi serba salah. Hubungannya dengan Kwi Hong, biarpun tidak begitu lama meninggalkan kesan mendalam di hatinya. Bahkan sebelum tahu behwa gadis ini adalah saudara sepupunya satu marga, dia mengira bahwa dia telah jatuh cinta kepada gadis ini. Sekarang, bagaimana dia dapat membunuh ayah gadis itu tanpa memberitahukan alasannya yang kuat?

"Pangerah Tao Kuang telah bertindak curang sekali. Dua puluh tahun yang lalu dia melakukan fitnah kepada Pangeran Tao Seng sehingga Pangeran Tao Seng dihukum buang selama dua puluh tahun, padahal, Pangeran Tao Seng tidak berdosa apa-apa."

"Keterangan itu bohong!"

Tiba-tiba Liang Siok Cu bangkit berdiri dan berseru.

"Aku sendiri yang menjadi saksi ketika itu. Pangeran Tao Kuang sedang berburu dengan dua orang saudaranya, yaitu Pangeran Tao Seng dan Pangeran Tao San. Dua orang saudaranya itulah yang tiba-tiba mengeroyok dan hendak membunuh Pangeran Tao Kuang bersama selosin orang pengawalnya yang semua adalah pembunuh bayaran. Akulah yang menolongnya, bersama mendiang ayahku Aku menjadi saksi bahwa Pangeran Tao Kuang tidak melakukan fitnah, melainkan benar-benar. hendak dibunuh oleh dua orang pangeran itu sehingga mereka dihukum buang!"

Menghadapi gadis bercadar ini, Keng Han menjadi lemas. Tak mungkin dia menentang Cu In dan melawannya. Dia menghela napas panjang lalu melangkah mundur.

"Biarlah malam ini kulepaskan dia. Akan tetapi lain kali, dia pasti akan mati di tanganku untuk membalaskan kematian Pangeran Tao Seng"

"Ha-ha-ha-ha-ha!"

Tiba-tiba terdengar Pangeran Tao Kuang tertawa bergelak.

"Lelucon macam apa ini? Orang muda, engkau telah dipermainkan orang akan tetapi tidak tahu. Bukan saja tuduhan bahwa aku melakukan fitnah itu palsu adanya, akan tetapi juga perkiraanmu bahwa Pangeran Tao Seng sudah mati itu bohong belaka. Dia masih hidup, segar bugar, bahkan tinggal di kota raja ini. Dia menyembunyikan siapa dirinya sebenarnya dan memakai nama Ji atau yang terkenal dengan sebutan Ji Wangwe"

Keng Han yang tadinya hendak melarikan diri itu sempat mendengar ucapan ini dan dia benar-benar terkejut. Mukanya berubah pucat dan dia berkata gugup.

"Tidak.... tidak benar....!"

"Aku tidak suka berbohong. Kenapa tidak kau selidiki siapa sebetulnya Hartawan JI itu? Dia bukan lain adalah Pangeran Tao Seng sendiri. Dan engkau ini siapakah, orang muda!"

Tanya Pangeran Tao Kuang dengan suara halus karena maklum bahwa pemuda ini agaknya dibohongi dan dipermainkan orang. Keng Han merasa tersudut. Keadaannya sungguh tidak menyenangkan, karena dari keadaan yang menuntut balas dan yang benar, kini berbalik keadaannya menjadi yang bersalah. Ayahnya bukan seorang yang difitnah melainkan yang memfitnah, bukan yang dijahati melainkan yang jahat. Yaitu, kalau keterangan mereka semua itu benar adanya. kini ditanya siapa dirinya, terpaksa dia mengaku untuk alasan mengapa dia begitu mati-matian membela Pangeran Tao Seng dan ingin membalaskan dendamnya. Setidaknya mereka semua akan mengerti mengapa dia begitu nekat.

"Aku adalah puteranya. Ibuku puteri kepala suku Khitan!"

Jawabnya singkat.

"Ahhh, kalau begitu engkau masih keponakanku sendiri! Aku sudah mendengar bahwa kakanda Tao Seng menikah dengar seorang puteri Khitan di utara. Kiranya engkau puteranya! Akan tetapi engkau telah menerima keterangan yang sifatnya fitnahan terhadap diri kami. Sebaiknya kalau engkau menemui Ji-wangwe di kota raja ini dan dialah Pangeran Tao Seng yang sebenarnya, masih hidup dan sehat. Dan dari dia engkau tentu akan mendapat keterangan tentang mengapa dia dihukum buang."

Melihat semua orang berdiri menentangnya, Keng Han menjadi semakin ragu akan niatnya membunuh Pangeran Tao Kuang. Bagaimana kalau semua keterangan ini benar? Pula, dia sama sekali tidak mendu-ga bahwa Cu In berada di situ. Dengan adanya Cu In dan kakek berpakaian pengemis itu, masih ada pula Kwi Hong dan ibunya, dan siapa tahu gadis cantik yang dekat kakek jembel pengemis itu juga orang yang lihai, agaknya sukar baginya untuk membunuh Pangeran Tao Kuang. Pula dia akan menyesal setengah mati kalau ternyata benar semua keterangan. Pangeran itu. Bahwa ayahnyalah yag jahat! Dan hatinya berdebar penuh ketegangan dan penasaran mengingat bahwa ayah kandungnya sendiri menipunya agar dia mau membunuh Pangeran Tao Kuang yang tidak bersalah. Demikian jahatkah ayah kandungnya? Dia merasa kecewa dan menyesal sekali.

"Sudahlah, aku akan menyelidiki semua itu dan kalau semua keterangan itu benar, aku mohon maaf sebesarnya! Setelah berkata demikian, sekali berkelebat pemuda itu lenyap dalam kegelapan malam di antara pohon-pohon.

"Ha-ha-ha, seorang pendekar memang harus bertindak demi kebenaran bukan karena mendengar omongan orang!"

Kai-ong Lu Tong Ki berseru nyaring dan masih terdengar ucapannya itu oleh Keng Han. Pemuda itu melompat pagar tembok di ujung taman dan keluar dari situ. Pangeran Tao kuang menarik napas panjang.

"Ahhh, sungguh aku tidak mengerti siapa yang melakukan fitnah seperti iitu. Kasihan keponakanku yang menjadi mata gelap mendengar bahwa ayahnya kufitnah, bahkan kubunuh di tempat pembuangan. Tentu dia merasa sakit hati sekali kepadaku."

"Ayah, aku mengenal baik Keng Han itu!"

Kata Kwi Hong dan tidak seorang pun di antara mereka mengetahui betapa hancur rasa hati Kwi Hong! Tadi, begitu mendengar Keng Han mengaku sebagai putera Pangeran Tao Seng, ia merasa jantungnya seperti ditikam. Ah, betapa ia sudah tergila-gila dan mencinta pemuda itu, dan sekarang, ternyata bahwa pemuda itu adalah kakak sepupunya!

"Aku juga heran mendengar engkau tadi menyebut Han-ko kepadanya."

Kata Pangeran Tao Kuang.

"Di mana dan bagaimana engkau dapat berkenalan dengan dia?"

"Beberapa kali dia membantuku ketika aku dikeroyok orang jahat, Ayah. Juga ketika aku bersama Paman Yo Han ayah enci Han Li ini dikeroyok orang-orang Pek-lian-pai, dia membantu. Dia bukan orang jahat, Ayah. Sama sekali bukan!"

"Hemmm, kalau engkau sudah mengenal kakak sepupumu sendiri, mengapa tidak kau beritahukan aku dan Ibumu?"

"Ketika itu, dia mengaku bernama Si Keng Han, bukan she Tao. Demikian pula aku tidak memberitahukan nama margaku maka dia pun tidak tahu. Akan tetapi ketika pasukan yang menyusul aku itu datang, tentu dia sudah tahu bahwa aku adalah puteri Ayah, tahu bahwa aku adalah adik sepupunya. Hanya aku yang belum tahu."

"Ia memang bukan orang jahat. Aku juga sudah mengenalnya. Karena itu aku percaya bahwa perbuatannya tadi adalah karena dia mendengar hasutan, mendengar keterangan yang sengaja diatur untuk memanaskan hatinya. Buktinya, setelah dia mendengar keterangan di sini, dia pun pergi dan tidak melanjutkan usahanya membunuh."

"Mungkin dia jerih melihat kehadiran kita semua."

Kata Han Li.

"Ah, tidak, adik Han Li. Dia seorang gagah yang berkepandai-an tinggi. Dan lagi, dia itu pewaris ilmu-ilmu dari keluarga Pulau Es!"

"Aihhh...., bagaimana ini, enci Cu In? Kalau dia murid keluarga Pulau Es, aku tentu mengenalnya!"

Kata Han Li.

Post a Comment