Halo!

Pendekar Super Sakti Chapter 92

Memuat...

"Apa? Sin-tiauw-kwi Ciam Tek?"

Setan Botak Gak Liat berseru kaget, juga para panglima dan tokoh-tokoh pengawal yang berada di situ terkejut sambil memandang kakek yang memegang senjata mengerikan itu. Nama ini, terutama sekali julukan Sin-tiauw-kwi (Burung Rajawali Hantu) atau lebih terkenal lagi Si Burung Hantu, terkenal sebagai tokoh dalam dongeng di Khitan"

Maka begitu kini mereka diperkenalkan dengan tokohnya, biar Gak Liat sendiri memandang dengan sinar mata tidak percaya. Nirahai mengerti akan pandang mata mereka itu, maka ia tersenyum dan berkata,

"Tentu cu-wi menghubungkan nama julukan itu dengan burung hantu yang kabarnya dipelihara Kaisar Khitan di jaman dahulu, bukan? Hendaknya diketahui bahwa memang Ciam-locianpwe ini adalah seorang tokoh Khitan. Cu-wi tentu maklum bahwa Khitan menjadi sumbernya orang-orang pandai. Pendekar besar tanpa tanding. Suling Emas sendiri adalah suami seorang Ratu Khitan, dan pendekar wanita sakti Mutiara Hitam adalah puteri mereka. Di samping keluarga kaisar yang memiliki kesaktian luar biasa itu, banyak pula ponggawa dan Panglima Khitan yang memiliki ilmu kepandaian hebat-hebat. Sin-tiauw-kwi Ciam Tek ini adalah satu-satunya orang yang beruntung mewarisi ilmu kepandaian peninggalan Hek-giam-lo (Raja Maut Hitam) yang amat terkenal di jamannya Pendekar Suling Emas enam tujuh abad yang lalu. Karena Khitan dan Mancu bersekutu dan berkeluarga, tentu saja semua tokoh Khitan membantu gerakan Mancu sekarang ini."

Kang-thouw-kwi Gak Liat dan yang lain-lain mengangguk-angguk. Tentu saja mereka pernah mendengar nama-nama besar yang disebutkan gadis itu. Gak Liat lalu bangkit berdiri dan menjura ke arah Sin-tiauw-kwi Ciam Tek sambil berkata dalam bahasa Khitan dengan lancar karena Si Botak ini paham hampir semua bahasa daerah.

"Selamat berjumpa, Saudara Ciam Tek. Mudah-mudahan di antara kita akan terdapat kerja sama yang erat."

Si Burung Hantu itu memandang Gak Liat dengan mata julingnya, kemudian mengeluarkan suara seperti burung mencicit akan tetapi hanya dapat dimengerti oleh Gak Liat karena hanya suaranya saja yang mencicit namun sesungguhnya merupakan kata-kata dalam bahasa selatan yang pelo dan menggelikan hati para pendengarnya.

"Sudah lama aku mendengar nama Setan Botak, kiranya begini saja orangnya."

Setelah berkata demikian, Si Burung Hantu berdiri diam lagi dengan satu kaki, acuh tak acuh"

Gak Liat tidak menjadi marah, sudah biasa ia menghadapi sikap dan watak aneh-aneh dari tokoh-tokoh besar, maka ia malah tertawa bergelak dan berkata.

"Ha-ha-ha, lain kali aku ingin sekali merasai lihainya patukanmu dan cakaranmu, Burung Hantu."

Pangeran Ouwyang Cin Kok tertawa pula. Biarpun dia sendiri bukan termasuk golongan kang-ouw, akan tetapi sudah terlalu banyak pembesar ini mengenal tokoh-tokoh aneh di dunia kang-ouw sehingga ucapan Gak Liat yang seolah-olah menantang itu dianggapnya biasa saja dan tidak mengkhawatirkan.

"Cu-wi sekalian kami kumpulkan saat ini karena kami hendak membicarakan hal-hal yang amat penting. Berkat bantuan-bantuan cu-wi sekalian, pemerintah kita dapat memperoleh kemajuan-kemajuan di selatan dan kini, sungguhpun tak dapat dikatakan bahwa pihak pemberontak telah terbasmi semua, namun mereka itu sudah kehilangan kekuatan dan hanya bergerak secara sembunyi-sembunyi dan dalam kelompok kecil atau malah secara perorangan. Yang penting kita harus mencurahkan perhatian ke Se-cuan, karena Bu Sam Kwi merupakan kekuatan terakhir yang merongrong kita. Bala tentara kita sudah menghimpit dan mengurung, lambat-laun tentu pertahanannya dapat dijebolkan pula. Tugas kita yang terpenting sekarang adalah mencegah agar sisa pemberontak di sini tidak mengadakan hubungan dengan Se-cuan agar kekuatan mereka tetap terpecah-pecah. Usaha yang ditakukan Puteri Nirahai dan puteraku Ouwyang Seng untuk memecah belah persatuan antara Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai, menemui kegagalan. Akan tetapi ada pula untungnya, yaitu timbulnya ganjalan hati antara mereka sehingga tidak memungkinkan mereka itu akan bekerja sama. Pula, kedua partai besar itu pun tidak melakuan perlawanan dan pemberontakan secara terang-terangan."

"Akan tetapi, mengapa tidak kita gempur saja Se-cuan sampai hancur? Setelah kita dapat menguasai seluruh daratan, mengapa wilayah sebesar Se-cuan saja tidak dapat segera dikalahkan? Berilah hamba lima laksa perajurit berkuda, akan hamba hancur lumatkan Bu Sam Kwi dan seluruh anak buahnya."

Panglima brewok tinggi besar berkata dengan sikap gagah.

"Betul apa yang dikatakan oleh Giam-ciangkun,"

Kata Bhok Lek orang pertama dari kakak beradik Tikus Kuburan.

"Kabarnya benteng Se-cuan amat kuat, akan tetapi kalau benteng itu dikurung dan hamba berdua dibantu tenaga-tenaga ahli melakukan penyusupan ke dalam dengan menggali terowongan, akan mudah menghancurkan pertahanan mereka."

"Tidak begitu mudah,"

Bantah Puteri Nirahai.

"Saya mendengar bahwa di sana banyak terdapat orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi."

"Hemmm, kalau ada jago di pihak musuh, serahkan saja kepada hamba. Hamba sanggup menghadapi lawan yang bagaimana lihai pun."

Setan Botak Gak Liat menyombong sambil tersenyum. Ouwyang Cin Kok mengangkat kedua tangan ke atas sebagai isyarat agar semua orang yang sedang ribut-ribut mengemukakan pendapat bulat untuk menyerang Se-cuan itu tenang, kemudian sambil tersenyum ia berkata.

"Tidak dapat kita membawa kehendak sendiri dan bertindak sesuka hati. Setiap gerakan kita harus disesuaikan dengan taktik dari Hongsiang (Kaisar). Dengarlah baik-baik, cu-wi sekalian, agar tahu apa yang menjadi siasat negara pada saat ini, menghadapi Bu Sam Kwi di Secuan."

Semua orang mendengarkan penuh perhatian, termasuk Nirahai karena biarpun dia ini puteri selir kaisar sendiri, namun tentang urusan politik ia tidak sepaham pangeran yang menjadi penasehat kaisar ini.

"Kalau kita ingin berhasil menangkap semua ikan di kolam, kita harus mengacaukan air dan mengejar ikan-ikan itu dengan membiarkan sebagian tempat itu tetap tenang sehingga semua ikan akan melarikan diri sembunyi di bagian air yang tak terganggu itu. Baru setelah semua ikan berkumpul di tempat kecil itu, kita tutup jalan keluar dan kita sergap di tempat kecil itu sehingga tak ada ikan yang dapat lolos. Demikian pula dengan para pemberontak yang tersebar di empat penjuru. Kita harus kejar-kejar mereka, melakukan operasi-operasi pembersihan dengan teliti sehingga para pemberontak itu kehilangan tempat bersembunyi dan terpaksa mereka akan bersembunyi semua ke Se-cuan. Hal ini lebih mudah bagi kita daripada kalau kita hancurkan Se-cuan sehingga para pemberentak itu melarikan diri tersebar di mana-mana sehingga sukar untuk ditumpas karena daerah Tiongkok luas sekali. Inilah sebab pertama mengapa kita tidak boleh memukul Se-cuan pada sekarang ini."

Semua orang yang mendengarkan mengangguk-angguk, kagum akan siasat ini, siasat menggiring ikan-ikan supaya berkumpul di suatu tempat.

"Adapun sebab ke dua adalah karena Kaisar dengan secara bijaksana memutuskan bahwa rakyat sudah terlalu lama menderita akibat perang, karena itu sementara ini tidak perlu lagi mengadakan perang karena Se-cuan tidak begitu penting artinya bagi kita. Sekarang rakyat perlu ditenangkan hatinya dengan pembangunan-pembangunan, bukan dengan perang baru yang akan membikin rakyat mendapat kesan buruk terhadap pemerintah baru. Tidak perlu dengan kekerasan, cukup dengan dikepung dan dimatikan jalan hubungan mereka ke timur, mereka di Se-cuan akan hidup serba kekurangan dan sengsara, akhirnya akan menjadi lemah dan kalah tanpa diserang."

Kembali Gak Liat menjadi kagum. Dalam soal taktik perang dan siasat pemerintahan tentu saja dia tidak mengerti apa-apa.

"Sekarang sebab ke tiga yang timbul dari kebijaksanaan Kaisar,"

Terdengar pula suara Ouwyang Cin Kok.

"Pemerintah baru menghadapi tugas membangun negara dan menciptakan suasana adil makmur bagi rakyat jelata, mendatangkan kehidupan damai dan tenteram sehingga dengan demikian tidak sia-sialah bangsa Mancu yang jaya telah mengorbankan banyak nyawa untuk mengusir raja-raja lailm dari bumi Tiongkok. Untuk pekerjaan pembangunan yang amat besar itu, kita amat membutuhkan bantuan tenaga-tenaga orang pandai. Harus diakui bahwa di antara para pemberontak banyak terdapat orang-orang pandai. Sungguh amat sayang kalau mereka itu dibunuh demikian saja. Karena ini pula, bentrokan perang dengan Se-cuan harus diundurkan agar kita mendapat banyak waktu untuk menarik orang-orang pandai itu agar membantu kita. Untuk keperluan itulah Kaisar menyediakan biaya yang amat besar, kemungkinan-kemungkinan pangkat dari mereka, dan di samping itu tentu saja mengandalkan kepandaian cu-wi untuk menundukkan mereka. Makin banyak orang pandai membantu Kerajaan Ceng, makin baik. Mengertikah cu-wi sekarang mengapa kita tidak diperbolehkan menyerbu Se-cuan secara kasar?"

Semua orang mengangguk, bahkan dari mulut Sin-tiauw-kwi Ciam Tek terdengar suaranya yang pelo memuji,

"Hebat siasat ini, Hidup Kaisar."

Biarpun pelo, namun ucapannya itu membangkitkan semangat semua orang dan terdengarlah seruan mereka,

"Hidup Kaisar."

Kang-thouw-kwi Gak Liat adalah seorang datuk hitam yang tidak bercita-cita untuk negara maupun untuk kaisar, melainkan untuk diri sendiri. Karena itu, di dalam hatinya mana ada kesetiaan terhadap pemerintah Mancu? Namun, dia seorang cerdik dan tidak mau ketinggalan pula ia ikut mengucapkan kata-kata itu.

"Biarpun kita tidak menyerbu Se-cuan, akan tetapi untuk keperluan menarik orang-orang pandai ke pihak kita dan mencegah mereka berhubungan dengan Se-cuan, maka pekerjaan kita bukanlah ringan. Kita harus dapat menguasai seluruh dunia kang-ouw, dapat mengetahui keadaannya dan hal ini kami serahkan ke dalam pimpinan keponakanku Puteri Nirahai yang sudah cu-wi ketahui akan kecerdikannya dan juga akan kepandaiannya yang tinggi."Kembali Si Burung Hantu mengangguk, berkata polos,

"Puteri Nirahai mewarisi kepandaian Puteri Mutiara Hitam, dia hebat...."

Juga Gak Liat mengangguk berkata,

"Aku sudah mengetahui kelihaian Puteri Nirahai."

Post a Comment