"Karena sifatnya bertentangan, menyatukannya berarti menghentikan hidup karena justeru keadaan hidup yang membuat keduanya bertentangan. Yang seyogianya dilakukan manusia adalah menyesuaikan dan menyelaraskan keduanya sehingga berimbang."
"Baik sekali pendapatmu, Siauw Lam. Eh, orang orang muda, engkau masih di sini? Apakah yang kau kehendaki?"
Han Han yang sejak tadi masih berlutut, lalu menjawab.
"Boanpwe yang banyak melakukan hal-hal yang menimbulkan malapetaka bagi orang lain, boanpwe merasa bingung sekali dan mohon peunjuk Locianpwe apa yang harus boanpwe lakukan selanjutnya dalam hidup yang penuh pertentangan ini.
Kini tubuh hwesio tua itu bergerak sedikit, mukanya diangkat menghadapi Han Han dan mata yang terpejam itu bergerak-gerak, terbuka sedikit, menyipit, akan tetapi kagetlah Han Han ketika dari balik garis mata itu menyambar keluar sinar mata yang lembut dan tenang sekali, setenang lautan yang luas.Sejenak mereka saling pandang dan kalau sinar mata Han Han yang pada saat itu masih dikuasai kemarahan itu dapat di umpamakan api bernyala-nyala, maka. sinar mata kakek itu seperti air yang tenang dan dingin. Di dalam sinar mata Han Han terdapat pengaruh mukjizat yang membawa isi pikirannya dengan tenaga batin yang luar biasa kuatnya sehingga kakek itu merasa betapa dia dipaksa oleh tenaga gaib untuk memberi petunjuk kepada orang muda itu. Kakek yang puluhan tahun lamanya mengasingkan diri dan bertapa ini, mengeluarkan suara halus penuh kekaguman.
"Siancai..patut dikasihani orang muda yang malang. Pinceng hanya dapat memberi dua nasihat kepadamu. Pertama ambillah pedang dan potonglah kaki kirimu. Dan ke dua, belajarlah mengalah terhadap siapapun juga. Nah, pergilah orang muda."
Han Han masih berlutut, mukanya pucat dan matanya terbelalak, hampir ia tidak percaya akan ucapan kakek itu.Tadinya ia amat terpesona dan terpengaruh oleh semua ucapan kakek itu, akan tetapi bagaimana kini kakek itu memberi nasihat seperti ini kepadanya? Disuruh membuntungi kakinya sendiri"
Kalau disuruh belajar mengalah ia masih dapat menerimanya, akan tetapi disuruh membuntungi kaki sendiri?
"Eh, hwesio tua, kiranya engkau pun sama saja, sama jahatnya dengan yang lain-lain"
Apakah semua orang di sini sudah begitu palsu sehingga perlu menyembunyikan sifat jahat dan dengkinya di balik kepala gundul dan pakaian pendeta? Hanya orang gila yang menasihati orang disuruh membuntungi kakinya, dan hanya orang gila pula yang akan menuruti nasihat gila itu."
Lulu membentak dan kini bangkit berdiri, menarik tangan kakaknya sehingga Han Han pun bangkit berdiri pula. Akan tetapi kakek. Yang dimakinya itu telah bersamadhi pula dan sama sekali tidak terpengaruh, wajah yang seperti tengkorak terbungkus kulit itu seperti telah mati. Hanya hwesio pelayan itu yang kini mengangkat mukadan tiba-tiba matanya terbuka sambil berkata.
"Nona, memang dunia ini seperti panggung orang-orang gila bermain komidi, gila oleh nafsu mereka sendiri. Harap kalian pergi dan jangan mengganggu kami."
Lulu menjadi makin marah. Ia kaget melihat sinar mata hwesio pelayan itu seperti dua bola api menyerangnya, akan tetapi gadis itu memiliki keberanian luar biasa kalau dia merasa benar.
"Memang penuh orang-orang gila dan kalian lebih gila daripada orang-orang gilla."
Teriaknya.
"Apa artinya hidup kalian ini? Apakah gunanya bertapa mengasingkan diri di sini? Apa untungnya bagi dunia? Apa manfaatnya bagi manusia lain? Paling-paling berguna dan bermanfaat bagi diri kalian sendiri. Phuhhh, berlagak suci dan.."
"Lulu, diam...."
Han Han terkejut sekali mendengar keberanian adiknya yang memaki-maki seorang hwesio tua yang dijadikan junjungan oleh para murid Siauw-lim-pai. Ia sudah menarik tangan adiknya diajak berlari keluar dari kamar itu. Mereka berdua terus berlari keluar melalui ruangan belakang, ke ruangan tengah kemudian terus ke ruangan luar. Mereka melihat para hwesio Siauw-lim-pai, akan tetapi mereka semua seolah-olah tidak melihat dua orang muda yang berlari keluar itu. Yang membersihkan kuil tetap bekerja, yang membaca doa tidak menghentikan tugas mereka, Dan yang menjaga di luar pun seolah-olah tidak melihat mereka. Han Han menggandeng tangan Lulu, berlari terus sampai jauh meninggalkan kuil dan setelah mereka memasuki sebuah hutan, barulah Han Han melepaskan tangan Lulu,
Kemudian ia duduk bersila dan mengatur pernapasan untuk memulihkan tenaganya dan menenangkan batinnya yang terguncang. Akan tetapi, biarpun ia tidak menderita luka parah, tubuhnya terasa sakit-sakit, sungguhpun rasa nyeri di tubuhnya tidak seperti rasa perih dihatinya kalau ia terkenang akan ucapan-ucapan hwesio tua di datam kamar penyiksa diri yang seolah-olah membuka mata batinnya betapa sepak terjangnya selama ini mendekati perbuatan sesat, betapa mudahnya ia membunuhi orang-orang yang tidak berdosa, membunuhi orang-orang gagah murid-murid Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai. Hatinya merasa menyesal sekali dan pikirannya menjadi bingung. Sebuah negara betapa kecil pun, tak kan mungkin dapat ditundukkan dan di jajah negara lain yang lebih besar apa bila rakyatnya bersatu-padu dan berjiwa patriotik, memiliki rasa cinta kasih dan setia bakti kepada tanah airnya.
Sebaliknya, betapapun besarnya negara itu, kalau rakyatnya tidak bersatu, dan banyak pula yang berjiwa pengkhianat, negara besar ini mudah saja dijajah oleh negara.yang jauh lebih kecil. Sebagaimana tercatat dalam sejarah,Tiongkok merupakan negara amat besar yang rakyatnya selalu bertentangan sendiri satu kepada yang lain. Perang saudara tak pernah berhenti karena oknum-oknum yangi memperebutkan kedudukan. Apabila ada negara asing yang datang menyerbu dan menjajah barulah bersatu, melupakan permusuhan antara saudara sendiri den bersama-sama menghadapi musuh asing. Sayang sekali, begitu musuh asing dapat diusir keluar dari tanah air pertentangan satu sama lain timbul kembali, memecah-mecahah kekuatan mereka sehingga memungkinkan masuknya kekuatan asing lain lagi ke dalam negeri.
Ketika bangsa Mongol menyerbu Tiongkok, negara ini pun sedang dalam keadaan kacau dan rusak oleh perang saudara sehingga menjadi lemah dan mudah saja ditaklukkan dan dijajah bangsa Mongol. Setelah seluruh negeri dijajah bangsa Mongol, barulah rakyat bersatu-padu dan tentu saja rakyat yang luar biasa besar jumlahnya itu tidak sukar merobohkan kekuasaan Mongol dan mengusir penjajah ini. Akan tetapi, begitu penjajah Mongol terusir, timbul kembali perang saudara yang tak kunjung henti, susul-menyusul yang melemahkan negara itu sendiri. Karena perang saudara inilah maka kekuasaan Mancu mulai menyelundup memasuki Tiongkok. Dengan dukungan para oknum penjilat yang tidak segan-segan menjual negara dan bangsa demi sekelumit kesenangan duniawi bagi diri pribadi, cepat sekali bangsa Mancu menguasai Tiongkok.
Cerita ini dimulai pada tahun 1645 di mana tentara Mancu menyerbu ke selatan dan sekarang, delapan tahun kemudian, hampir seluruh Tiongkok dikuasai bala tentara Mancu yang mempunyai kaisar baru, yaitu Kaisar Kang Hsi, kaisar ke empat dari Kerajaaan Ceng-tiauw atau kerajaan bangsa itu. Di bawah pimpinan Kaisar Kang His inilah diadakan pembersihan secara besar-besaran terhadap para pejuang yang mempertahankan tanah air menentang penjajah Mancu. Para pejuang melakukan perlawanan mati-matian dan sebagai pusat perjuangan, atau sebagai pucuk pimpinan gerakan para pejuang ini bersumber di Se-cwan di mana Bu Sam Ki menjadi raja muda yang tak pernah mau tunduk terhadap penjajah Mancu. Seperti lazim dalan jaman perang seperti itu, golongan-golongan terpecah dua, juga golongan kaum kang-ouw.
Banyak di antara mereka yang terjun ke dalam perjuangan menentang kekuasaan Mancu, akan tetapi tidak sedikit pula yang mempergunakan kesempatan itu untuk mencari kedudukan, kemuliaan dan kemewahan secara mudah, yaitu menjadi pembantu pemerintah Mancu dan menentang bangsa sendiri yang oleh pihak mereka disebut pengacau dan pemberontak. Pada suatu hari, para tokoh yang menjadi pengawal-pengawal istana dan penasihat-penasihat mengenai usaha Kerajaan Mancu membasmi para pemberontak, mengadakan pertemuan atas undangan Pangeran Ouwyang Cin Kok. Pangeran ini telah banyak jasanya terhadap Kerajaan Mancu, telah terbukti kesetiaannya ketika berkali-kali pangeran ini dengan pengaruhnya yang besar dan para pembantunya yang pandai menghancurkan golongan pemberontak.
Karena kepercayaan yang amat besar ini, Pangeran Dorgan pada beberapa tahun yang lalu menghadiahkan seorang puteri Mancu kepada Pangeran Ouwyang Cin Kok, bahkan setelah Kaisar Kang Hsi menduduki tahta kerajaan. Pangeran Ouwyang Cin Kok yang kini telah dianggap "keluarga kaisar"
Telah diangkat menjadi panglima bagian keamanan yang bertugas melakukan operasi pembasmian terhadap para pemberontak. Dan untuk merundingkan tugas inilah maka pada pagi hari ini Ouwyang Cin Kok mengundang semua pembantunya dan pembantu para pembesar lain, termasuk pengawal-pengawal kaisar sendiri ke dalam istananya. Dengan pakaian kebesaran sebagai seorang pangeran Kerajaan Ceng-tiauw,
Pangeran Ouwyang Cin Kok duduk di atas sebuah kursi yang terukir indah sekali. Pangeran ini usianya sudah enam puluh tahun, akan tetapi masih tampak tampan dan ganteng, tubuhnya tinggi besar mukanya merah, pakaiannya indah rapi dan rambut serta jenggot kumisnya juga terpelihara baik-baik. Di sebelah kirinya duduk seorang wanita Mancu yang cantik, bermata tajam lincah, usianya tiga puluh tahun lebih, tubuhnya montok dan menggairahkan. Itulah puteri Kerajaan Mancu, puteri selir Pangeran Dorgan yang diberikan sebagai hadiah kepada Ouwyang Cin Kok dan kini menjadi selir terkasih pangeran ini. Selir ini paling dikasihi, bukan hanya karena cantik montok dan mudanya, melainkan juga terutama sekali karena selir ini menjadi "lambang"
Kekuasaannya, sebagai pangeran mantu Kerajaan Mancu.
Dan untuk memperlihatkan kedudukannya yang tinggi ini pulalah maka ketika menyambut datangnya tokoh-tokoh berilmu yang membantu kerajaan baru, Ouwyang Cin Kok ditemani oleh sang selir. Dengan dikipasi kebutan terbuat dari bulu-bulu indah burung dewata, dilayani oleh para pelayan wanita muda-muda dan cantik-cantik, Ouwyang Cin Kok dan selirnya itu duduk menanti kunjungan para tokoh berilmu. Berturut-turut mereka datang menghadap dan dipersilakan duduk di ruangan itu yang telah diatur untuk menerima kunjungan mereka. Yang pertama kali muncul adalah putera Sang Pangeran sendiri, Ouwyang Seng murid terkasih dari Kang-thouw-kwi Gak Liat, seorang pemuda tinggi tegap yang berwajah tampan berpakaian indah, pesolek dan amat tinggi ilmu kepandaiannya karena dia telah mewarisi Hwi-yang Sin-ciang gurunya.
Bersama pemuda ini datang pula Nirahai yang segera disambut oleh Pangeran Ouwyang Cin Kok dengan ramah, karena Nirahai adalah puteri kaisar sendiri dari selir. Tentu saja sebagai puteri kaisar, Nirahai amat dihormat. Puteri Nirahai segera berangkulan dengan selir Ouwyang Cin Kok karena selir Mancu itu masih terhitung bibinya, sungguhpun bibi yang sudah jauh. Kemudian mereka berdua ini bercakap-cakap dengan asyiknya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan tugas membasmi kaum pemberontak, melainkan percakapan antara wanita yang sudah lama tidak bertemu. Pangeran Ouwyang Cin Kok dan puteranya lalu sibuk menyambut para tokoh berilmu yang berdatangan. Kang-thouw-kwi Gak Liat datang bersama tiga orang muridnya yang lain, yaitu Hiat-ciang Ma Su Nio yang cantik dan genit, dan kedua kakak beradik Hek-giam-ong dan Pek-giam-ong.
Ketiga orang murid Setan Botak ini merupakan tenaga-tenaga yang penting dan berjasa pula karena ilmu kepandaian mereka sudah amat tinggi. Selain empat orang ini, muncul pula beberapa panglima-panglima yang berpangkat tinggi, di antaranya adalah dua orang perwira Mancu yang terkenal berjasa dan berpengaruh. Mereka ini adalah orang-orang Mancu aseli, akan tetapi seperti juga kaisar dan para panglima dan menteri yang berpangkat tinggi, mereka ini pun menggunakan nama Han, dan berpakaian seperti pembesar-pembesar Han. Seorang di antara mereka adalah seorang panglima tinggi besar gagah menyeramkan, jenggotnya yang rapi memenuhi mukanya dari rambut terus melalui pipi bersambung ke dagu.
Panglima ini bernama Giam Cu, nama baru. Adapun panglima ke dua juga memakai she Giam, namanya Kok Ma. Giam Cu adalah panglima golok besar, sedangkan Giam Kok Ma adalah panglima berkuda bertombak panjang, keduanya memiliki kepandaian tinggi dalam mengatur barisan, juga memiliki ilmu silat yang lihai. Kemudian muncul pula dua orang tokoh kang-ouw yang namanya menggemparkan, yaitu kakak beradik she Bhong. Mereka ini terkenal dengan julukan Tikus Kuburan, karena dahulu pekerjaan mereka adalah membongkar-bongkar kuburan baru untuk mencuri perhiasan-perhiasan yang dipakai mayat-mayat yang dikubur dan dalam hal membongkar kuburan, juga membongkar rumah, mereka adalah ahli-ahli yang sukar dicari keduanya.
Yang tua bernama Bhong Lek, mukanya kaya tikus, rambutnya panjang riap-riapan, kumisnya jarang seperti kumis tikus, adapun Bhong Poa Sik, adiknya, mempunyai ciri yang aneh pada kepalanya, yaitu bagian ubun-ubun kepalanya menonjol seperti telur besar. Semua tamu dipersilakan duduk, kecuali seorang yang datang paling akhir. Orang itu biarpun dipersilakan duduk, namun tetap berdiri, bahkan berdirinya aneh sekali, yaitu hanya dengan kaki kiri, sedangkan kaki kanannya diangkat menempel pada lutut kiri, persis seperti seekor burung bangau berdiri di tengah sawah. Hebatnya, orang ini pun mempunyai kepala yang bentuknya seperti kepala burung, bukan kepala burung yang indah, melainkan kepala burung yang diberunduli bulunya sehingga kelihatan buruk, lucu dan juga mengerikan.
Lehernya panjang kecil, kepalanya kecil lonjong, kedua telinganya memakai anting-anting emas, matanya agak juling, mulutnya selalu menyeringai, tampak giginya yang panjang-panjang karena bibirnya cupet, kumisnya meruncing ke depan menyerupai paruh burung, kepalanya botak dan hanya ada beberapa helai rambut saja menambah keburukannya. Tubuhnya kecil kurus, akan tetapi perutnya gendut seperti perut anak menderita cacingan. Akan tetapi tangan kirinya memegang sebuah senjata yang menakutkan orang, bergagang panjang yang melengkung seperti gendewa dan ujungnya dipasangi sabit yang amat tajam. Ia berdiri di sudut seperti seekor burung mengintai katak, matanya yang juling tak berkedip-kedip, mulutnya yang menyeringai tidak bergerak-gerak, seolah-olah dia telah berubah menjadi arca yang mati.
Hanya seorang yang aneh inilah yang agaknya tidak dikenal oleh sebagian besar mereka yang hadir. Yang mengenalnya hanyalah Puteri Nirahai, Pangeran Ouwyang Cin Kok, dan selir pangeran itu. Bahkan Ouwyang-kongcu sendiri tidak mengenalnya dan pemuda ini memandang tokoh itu dengan penuh keheranan. Melihat betapa para tamunya, termasuk puteranya, memandang ke arah manusia aneh itu dengan pandang mata penuh keheranan dan pertanyaan, Pangeran Ouwyang Cin Kok tertawa dan memberi isyarat dengan tangan agar para pelayan yang cantik-cantik dan sedang mengeluarkan hidangan dan arak itu mundur. Mereka ini menyelesaikan tugas menghidangkan makanan dan minuman, kemudian mengundurkan diri dari ruangan yang lebar itu.
"Cu-wi sekalian agaknya belum mengenal tokoh ini,"
Kata pangeran itu sambil memandang kepada manusia berkepala seperti burung itu.
"Padahal semenjak bangsa Mancu yang jaya bergerak ke selatan, hasil yang baik dari gerakan itu sebagian mengandalkan kelihaian tokoh ini."
Kang-thouw-kwi Gak Liat mengerutkan alisnya sambil memandang tokoh itu dengan pandang mata merendahkan. Hatinya tidak senang mendengar betapa majikannya menyanjung-nyanjung nama orang lain. Siapakah adanya tokoh yang jasanya lebih besar daripada dia? Maka ia segera berkata sambil tertawa.
"Bangsa Mancu yang jaya adalah bangsa yang besar dan yang sudah ditakdirkan untuk menguasai seluruh dunia, semua itu berkat jasanya rakyat seluruhnya, bukan jasa perorangan. Harap Paduka sudi memperkenalkan hamba kepada orang gagah ini."
"Ha-ha-ha, Gak-lo-sicu, apa yang Lo-sicu ucapkan sungguh tepat. Bukan maksud kami untuk menonjolkan jasa seseorang dan mengurangi jasa lain orang, karena masing-masing memiliki jasanya sendiri-sendiri. Losuhu ini adalah tokoh berasal dari Khitan yaag amat terkenal akan tetapi karena selalu menyembunyikan diri, tidak mengheranken apabila orangnya tidak dikenal, hanya namanya saja. Nirahai, keponakanku yang manis, tolonglah engkau yang memperkenalkan Ciam-losuhu kepada para Lo-sicu yang hadir"
Ucapan terakhir ini ia tujukan kepada Nirahai dengan suara yang halus dan ramah, sehingga dalam kesempatan itu, Pangeran Ouwyang Cin Kok sekalian memperlihatkan kepada yang hadir bahwa dia adalah sanak dekat kaisar dan berhak menyuruh seorang puteri kaisar begitu saja karena, bukankah puteri kaisar itu terhitung keponakan selirnya. Nirahai adalah seorang gadis yang selain memiliki ilmu kepandaian yang tidak hebat, juga memiliki kecerdikan melebihi kebanyakan orang. Melihat sikap tuan rumah, ia tersenyum manis dengan hati penuh maklum. Ia lalu bangkit berdiri, senyum menghias wajahnya menambah gemilang, gerakan tubuhnya ketika bangkit begitu lemah gemulai seperti seorang penari, sama sekali tidak membayangkan kesaktian seorang ahli silat.
"Tidaklah terlalu mengherankan apabila Gak-cianpwe dan saudara-saudara lainnya belum mengenal Si Burung Hantu karena memang dia jarang sekali keluar di dunia ramai."