Halo!

Pendekar Super Sakti Chapter 90

Memuat...

Lulu juga berlutut, bukan berlutut untuk menghormat kakek itu melainkan untuk merangkul pundak kakaknya dengan penuh kekhawatiran.

"Koko, mengapa begini? Kita tidak bersalah apa-apa, engkau tidak melakukan kejahatan. Mari kita pergi saja, Koko..., kalau mereka tidak sudi mendengarkan penjelasanmu, mari kita pergi saja."

Suara Lulu terdengar begitu menyedihkan dan sepasang mata yang lebar itu mengucurkan air mata.

"Diamlah, Lulu, diamlah.. biarkan Kakakmu mendengarkan wejangan Locianpwe yang mulia ini, dan kau juga... perlu mendengarkan, Lulu..."

Kata Han Han tanpa mengalihkan pandang matanya dari wajah kakek tua renta yang masih menunduk. Sementara itu, tanpa mempedulikan kehadiran Han Han dan Lulu, Ceng San Hwesio berkata pula dengan suara penasaran,

"Mohon maaf, Supek. Kalau Supek menganggap bahwa keputusan teecu untuk membunuh pemuda jahat itu tidak benar, habis bagaimanakah teecu harus berbuat menurut pendapat Supek? Teecu mengambil keputuan berdasarkan pertimbangan yang masak dan adil. Pertama, bocah ini adalah murid Gak Liat dan mengingat betapa Gak Liat telah merusak hidup cucu murid teecu sendiri, Bi-kiam Bhok Khim maka berarti bahwa muridnya ini pun bukan manusia baik-baik.."

Tiba-tiba terdengar suara keras dan dinding tebal di sebelah kanan jebol dan berlubang besar, kemudian muncullah seorang wanita dari dalam lubang itu, seorang wanita yang memondong seorang anak laki-laki berusia kurang lebih enam tahun, dan keadaan wanita itu sungguh mengerikan. Pakaiannya hitam compang-camping, rambutnya panjang riap-riapan sampai ke pinggul, wajahnya yang masih jelas membayangkan kecantikan itu kotor dan menyeramkan sekali karena pandang matanya berkilat dan mulutnya tersenyum mengejek. Anak laki-laki itu tampan dan mukanya putih, juga memakai pakaian hitam yang tidak karuan bentuknya, kaki nya telanjang dan rambutnya pun panjang.

"Hi-hi-hik, Biar gurunya jahat, muridnya mungkin baik. Biar gurunya baik, banyak sekali muridnya yang jahat. Kang-thouw-kwi adalah setan neraka jahanam, akan tetapi bocah ini tidak jahat. Sama sekali tidak.. dia berani menentang setan itu dahulu untuk menolongku."

Sementara itu, Ceng San Hwesio memandang wanita itu dengan mata terbelalak, dan setelah wanita itu mengeluarkan kata-kata tadi, barulah ketua Siauw-lim-pai ini agaknya dapat menekan kekagetannya dan berkata,

"Bhok Khim...! Kau.. kau.. dan anak itu.."

Wanita itu membalikkan tubuhnya menghadapi ketua Siauw-lim-pai yang masih berlutut, wajahnya berseri aneh ketika ia berkata,

"Hi-hi-hik, Sukong, engkau heran melihat anak ini? Dia ini anakku. Hi-hik, engkau ketua Siauw-lim-pai pun tidak tahu bahwa di dalam kamar penyiksa diri aku melahirkan anakku ini. Hi-hik, Selama ini Siauw-lim-pai tidak mampu membasmi Kang-thouw-kwi, biarlah aku sendiri yang akan membunuhnya."

Sambil berkata demikian, tubuhnya membalik dan berkelebat cepat sekali pergi dari ruangan itu.

"Supek, apakah artinya itu? Mengapa Bhok Khim menjadi seperti itu..?"

Ceng San Hwesio bertanya kepada supeknya. Hwesio tua itu menarik napas panjang lalu terdengar suaranya,

"Kehendak Thian tak dapat diubah oleh siapapun juga. Dia telah mencuri belajar ilmu yang pinceng berikan kepada Siauw Lam, dan keadaan jiwanya yang tertekan membuat ia keliru mempelajari ilmu-ilmu itu. Dunia akan bertambah seorang tokoh yang akan membikin geger. Ceng San muridku, orang muda ini seorang yang menderita, sama halnya dengan Bhok Khim tadi. Betapun juga, pinceng tidak melihat dasar-dasar jahat. Menurut pinceng, sebaiknya membebaskan orang muda ini, akan tetapi karena engkau yang menjadi ketua Siauw-lim-pai, keputusannya terserah kepadamu. Nah, cukuplah pinceng bicara."

Ceng San Hwesio memberi hormat lalu bangkit berdiri, mukanya agak keruh ketika ia berkata.

"Mendengar perintah Supek, bagaimana teecu berani membantahnya? Biarlah sesuai dengan perintah supek, teecu akan membebaskan. Dia dan gadis Mancu itu untuk sekali ini. Akan tetapi, mengingat akan kematian para murid-murid, teecu tidak mungkin dapat membebaskan dia untuk seterusnya dan lain kali dalam lain kesempatan, tentu teecu akan memerintahkan untuk menangkap dan kalau perlu membunuh dia."

Setelah berkata demikian, kembali Ceng San Hwesio memberi hormat kepada supeknya, lalu membalikkan tubuh keluar dari kamar itu dengan wajah muram.

"Siancai.., siancai.., lahir dan batin memang selalu bertentangan, betapa mungkin disatukan? Siauw Lam, tahukah engkau, apa yang harus dilakukan manusia yang hidup di tengah antara dua kekuatan raksasa lahir dan batin?"

Kakek itu bertanya tanpa menoleh Hwesio pelayan yang bernama Siauw Lam Hwesio, masih duduk bersila. Dan kini terdengar suaranya yang pertama kali, suara yang kasar dan serak seperti kaleng diseret.

Post a Comment