Terdengar Ceng To Hwesio berseru. Tiga belas orang hwesio anggauta barisan Khong-jiu-tin itu saling bantu can mundur. Tempat mereka kini diganti oleh sebuah barisan lain yang terdiri dari sembilan orang hwesio-hwesio tua berusia antara lima puluh tahun, rata-rata bertubuh kurus kering dan kelihatannya lemah sekali.
"Eh, hwesio curang. Sudah jelas barisan tadi tidak mampu menahan Kakakku, sekarang hwesio-hwesio tua kurus kering ini mau coba lagi?"
Bentak Lulu yang menghampiri kakaknya dan mengusap-usap leher kanan Han Han yang agak merah karena tadi terpukul, bahkan sebelah kanan bibirnya pecah dan berdarah sedilkit, bajunya robek-robek.
"Koko tidak sakitkah?"
Han Han menggeleng kepala dan dengan halus mendorong tubuh adiknya kepinggir sambil berkata,
"Lulu, tenanglah barisan yang datang ini lebih berat."
"Apa? hwesio-hwesio kurus kering ini? Jumlahnya pun hanya sembilan orang, Sekali dorong saja roboh Tak usah di dorong kautiup saja mereka akan roboh semua. Mereka ini hanyalah penderita-penderita penyakit encok dan batuk."
Ceng To Hwesio tldak rnempedulikan ulah dan kata-kata kakak beradik itu lalu berkata dengan suara nyaring.
"Ujian pertama dapat di lalui, ujian ke dua menyusul. Lo-han-tin (Barisan Orang Tua) dari Siaw-lim-pai, hadapilah, orang muda."
Barisan ini jauh sekali bedanya dengan barisan Khong-jiu-tin tadi. Kalau barisan pertama tadi terdiri dari hwesio hwesio yang bertubuh tegap dan gerakan mereka mantap mengandung tenaga kuat barisan ke dua ini terdiri dari hwesio-hwesio tua yang lemah sedangkan gerakan mereka pun kelihatan tak bertenaga. Namun Han Han yang biarpun belum berpengalaman namun sebagai seorang ahli sinkang dan karena sudah banyak membaca kitab-kitab ilmu silat tinggi, dapat menduga bahwa barisan ini terdiri dari ahli-ahli sinkang yang tak boleh dipandang ringan. Dugaannya memang benar. Sembilan orang ini adalah murid-murid kepala dari Ceng To Hwesio dan tingkat mereka hanya sedikit lebih rendah daripada tingkat lima orang hwesio murid utama Ceng To Hwesio yang tadi menjadi pengantar kedua orang muda itu dan yang kini tidak tampak lagi.
"Hemmm, beginikah peraturan Siauw-lim-pai? Kurasa hanya ditujukan kepada tamu-tamu yang tak dikehendaki saja,"
Kata Han Han sambil tersenyum mengejek.
"Para Losuhu, kalau tidak malu mengeroyok seorang muda, majulah."
Sembilan orang hwesio itu adalah sebuah barisan yang hanya mentaati perintah, maka tentu saja tidak mengandung perasaan pribadi dan ucapan Han Han itu tidak membuat mereka menjadi rikuh, bahkan kini mereka bergerak maju dan mulai mengurung lalu mengirim serangan-serangan yang kelihatannya lambat, namun sesungguhnya cepat dan dahsyat sekali, jauh lebih berbahaya dari pada penyerangan Khong-jiu-tin karena kini setiap pukulan mengandung tenaga lweekang yang hebat. Melihat pukulan-pukulan yang berbahaya ini Han Han cepat meloncat ke atas dan ia pun mengerahkan sinkang ditubuhnya, berjungkir balik di udara dan kini tubuhnya menukik ke bawah dengan kedua tangan didorongkan, lalu ditarik kekanan kiri untuk menangkis sambutan para pengeroyoknya yang sudah mengirim pukulan-pukulan pula.
Begitu hawa pukulan itu bertemu dengan hawa sinkang yang keluar dari kedua lengan Han Han sembilan orang kakek itu terhuyung dan mereka berseru heran. Akan tetapi mereka sudah menerjang lagi maju dan kini gerakan tangan mereka mengeluarkan angin sebagai tanda bahwa mereka telah mengerahkan seluruh tenaga sakti yang ada pada diri mereka. Seperti juga tadi ketika menghadapi pengeroyokan Khong-jiu tin, Han Han tidak dapat melawan IImu silat Lo-han-kun yang dimainkan sembilan orang Ahli itu. Biarpun ia sudah mempergunakan ginkangnya sehingga kadang-kadang tubuhnya lenyap dari pengurungan sembilan orang hwesio Itu, dan sudah mempergunakan kecepatannya untuk mengelak atau menangkis, namun tetap saja masih ada bebera buah pukulan yang "mampir"
Dl tubuhnya.
Dan kali Ini pukulan-pukulan yang mengenal tubuhnya sama sekali tidak boleh disamakan dengan pukulan-pukulan barisan pertama tadi karena pukulan-pukulan kali ini adalah pukulan yang mengandung tenaga lweekang. Biarpun tubuh Han Han amat kebal karena kuatnya sinkangnya, dan memang ternyata bahwa tenaga dalamnya jauh lebih kuat dari pada para pengeroyoknya, namun pukulan-pukulan itu masih menggetarkan isi dada dan isi perutnya sehingga sebuah pukulan yang cukup keras pada dadanya membuat darah keluar mengucur dari mulutnya. Dia tidak terluka, akan tetapi getaran dan goncangan itu ditambah pukulan yang mampir dl lehernya membuat mulut dan hidungnya berdarah.
Marahlah Han Han, kemarahan yang tidak dibuat-dibuat, yang timbul dengan sendirinya, yang membuat, mukanya tampak marahs, sepasang matanya menyorotkan pandang mata seperti kilat, penuh kebencian penuh nafsu membunuh. Seolah olah semua wajah para pengeroyoknya berubah menjadi wajah wajah tujuh orang perwira Mancu yang membasmi keluarganya sehingga menimbulkan kebencian yang meluap luap di dalam hatinya, mendatangkan nafsu membunuh. Ia mengeluarkan suara teriakan melengking yang terdengar mengerikan, lalu tubuhnya digoyang seperti seekor harimau menggoyang tubuh untuk mengeringkan bulu, kemudian ia menerjang maju dengan kedua tangan menyambar-nyambar kedepan.
"Koko.. jangan..."
Lulu berteriak ngeri menyaksikan keadan kakaknya itu. Han han dapat mendengar jerit ini dan untunglah demikian, karena kedua tangannya yang menyebar maut dengan pukulan-pukulan Swat-im Si-ciang dan Hwi-yang Sin-cian secara berganti-ganti itu dapat ia tahan kekuatannya sehingga sembilan orang hwesio itu hanya terjengkang dan muntah-muntah darah terluka parah, tetapi tidak ada yang tewas.
"Omitohud...."
Ceng To Hwesio berseru marah.
"Kejam sekali engkau...."
Pada saat itu dari luar menyambar sinar-sinar berkeredapan dan ternyata lima orang hwesio murid utama Ceng To Hwesio sudah muncul sambil menyambitkan senjata rahasia mereka ke arah Han han. Hal ini mereka lakukan bukan sekali-kali untuk bermain curang, melainkan terdorong oleh kekhatiran dan karena mereka ingin menolong para sute mereka agar jangan sampai dipukul lagi oleh Han han. Mereka mengira bahwa pemuda itu tentu akan membunuh semua sute mereka yang sembilan orang itu.
"Hwesio-hwesio curang."
Lulu sudah mencabut pedangnya, sinar hijau menyilaukan mata berkelebat dan semua senjata rahasia yang disambar sinar ini menjadi patah-patah seperti buah-buah mentimun bertemu pisau yang amat tajam.
"Cheng-kong-kiam."
Teriak hwesio pincang bertongkat ketika melihat pedang itu.
"Omitohud. kiranya benar-benar murid Hoa-san-pai yang mengacau, tangkap."
Bentak Ceng To Hwesio ketika mengenal Cheng-kong-kiam sebagai pedang pusaka Hoa-san-pai. Memang pedang ditangan Lulu itu adalah Cheng-kong-kim yang dirampasnya dari tangan Kong Seng-cu dan pedang ini sudah amat terkenal di dunia kang-ouw sehingga para hwesioSiauw-lim-pai juga mengenalnya.
Lima orang hwesio itu menyerang dengan hebat, mengurung Han Han dan mereka mempergunakan senjata mereka. Si Pincang mempergunakan tongkatnya, dua orang hwesio mempergunakann. Toya yang sudah mereka pegang ketika mereka, muncul, sedangkan yang tertua dan yang nomor dua memegang pedang. Serangan mereka itu birarpun tidak sehebat ilmu pedang Siauw-lim Chit-kiam. namun karena mereka adalah tokoh tokoh Siauw-Lim-pai tingkat tinggi, tentu saja serangan mereka ini hebat bukan main. Boleh jadi dalam hal kekuatan singkang, Han Han yang telah memiliki tenaga mukjizat itu sukar ditandingi para hwesio yang mendapat sinkang secara latihan wajar, tidak seperti Han Han yang berlatih dengan cara-cara golongan sesat akan tetapi dalam hal IImu silat, Han Han sunguh ketingalan jauh kalau dibandingkan dengan lima orang hwesio murid Ceng To Hwesio itu.
Adapun Lulu yang juga memiliki tenaga sinkang yang tidak lumrah kalau dibandingkan dengan gadis seusianya yang sejak kecil belajar silat, dan telah mempelajari ilmu silat yang tinggi, namun dia kurang mendapat bimbingan yang benar sehingga ilmu pedangnya yang amat indah dan tinggi mutunya itu kekurangan isi. Tentu saja diapun bukan lawan tokoh-tokoh Siaw-lim-pai itu. Si hwesio tua yang pincang kakinya menghadapi Lulu dengan tongkatnya. Ternyata hwesio ini bukan main ketika bergerak menerjang Lulu dengan tongkat di tangan. Gerakanya gesit dan biarpun kakiknya melebihi kecepatan orang yang tidak cacat. Ketika Lulu menangkis dengan pedangnya terdengar suara keras, ujung tongkat kayu Itu terbacok putus sedikit saking tajmnya pedang pusaka Hoa-san-pai Itu, akan tetapi telapak tangan Lulu tergetar hebat saking kuatnya tongkat di tangan hwesio pincang.
"Nona muda, lebih baik engkau menyerah saja. Siauw-lim-pai adalah perkumpulan besar yang adil dan tentu akan mengadakan sidang pengadilan yang tidak sewenang-wenang. Melawanpun tiada gunanya,"
Hwesio pincang ltu berkata dengan suara halus. Dia seorang tokoh Siuw-lim-pai yang berilmu tinggi, sudah puluhan tahun malang-melintanl di dunia, kang-ouw sehingga kini merasa sungkan untuk bertanding melawan seorang gadis remaja yang menjadi cucu muridnya.