Mereka maju terus akan tetapi karena hati mereka merasa makin yakin bahwa kuil itu kosong, mereka tidaklah menjadi tegang lagi, bahkan ada sebagian atapnya yang runtuh. Arca-arca yang tidak terawat di situ bahkan kelihatan makin menyeramkan. Mereka melangkah maju terus, meneliti setiap ruangan yang mereka lalui. Tiba-tiba keduanya menghentikan langkah karena pada saat yang sama kedua orang gagah perkasa ini mencium bau yang amat harum. Bau minyak harum yang biasa dipakai wanita. Mereka mengerutkan kening. Seperti para suheng mereka, baik yang menjadi hwesio seperti Lui Kong Hwesio dan Lui Pek Hwesio orang ke dua dan ke lima dari Siauw-lim Chit-kiam, kedua orang ini.
Pun merupakan murid-murid angkatan lama sehingga mereka pemah mengalami pelajaran pantangan mendekati wanita. Bahkan mereka itu, seperti suheng-suheng mereka, tidak pernah kawin. Maka, begitu mencium bau harum minyak wangi yang menandakan bahwa di situ ada wanitanya, mereka mengerutkan kening. Bukan hanya karena mereka segan berurusan dengan wanita, melainkan juga mereka terkejut menghadapi kenyataan ini. Kalau di situ ada orangnya, apalagi wanita, hal ini berarti bahwa wanita atau siapa adanya orang yang memakai wangi-wangian itu tentu memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Sedemikian halus dan ringan tentu gerakan-gerakannya sehingga kelelawar dan burung gagak yang berada di kuil itu sampai tidak tahu dan tidak menjadi kaget.
"Sahabat-sahabat Hoa-san-pai, silakan keluar. Kami dua orang utusan Siauw-lim-pai ingin bertemu dan bicara."
Liok Si Bhok berseru sambil mengerahkan khikangnya sehingga suaranya bergema diseluruh kuil, bahkan menggetarkan sarang laba-laba yang banyak terdapat di sudut-sudut ruangan itu. Mereka berdiri ditengah-tengah sebuah ruangan lebar dimana terdapat empat buah pintu, menjurus ke empat penjuru. Daun-daun pintunya tertutup, hanya sebuah yang menuju keluar terbuka karena mereka yang membukanya tadi ketika masuk dari luar.
Hati mereka makin yakin bahwa kuil ini ada penghuninya ketika melihat bahwa berbeda dengan ruangan-ruangan lain dibagian depan, ruangan yang paling lebar dan berada di bagian belakang kuil ini lantainya bersih seolaholah sering disapu Gema suara Liok Si Bhok mengaung menyeramkan, kemudian sunyi kembali. Selagi dua orang tokoh Siauw-lim-pai jtu meragu apakah benar-benar ada penghuninya kuil itu, terdengar suara tertawa merdu, suara ketawa wanita yang halus dan bernada genit, seperti suara ketawa kuntilanak yang menyeramkan. Biarpun dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu merupakan pendekar-pendekar yang gagah perkasa dan tidak pernah mengenal takut, namun suasana di kuil itu dan suara ketawa ini membuat bulu tengkuk mereka meremang. Namun mereka dapa segera menindas perasaan ngeri ini dan Liong Ki Tek lalu membentak.
"Manusia atau siluman, kami orang keenam dan ke tujuh dari Siauw-lim Chit-kiam tidak merasa takut."
"Hi-hi-hi-hik, Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek mengantar kematiannya, masih bermulut besar."
Perlahan-lahan tiga buah daun pintu terbuka dari luar dan masuklah tiga orang dari tiga buah pintu itu. Dari pintu belakang masuk seorang wanita yang usianya tentu sudah empat puluh tahun lebih, akan tetapi masih kelihatan cantik sekali, berpakaian mewah dan bersikap genit, terutama sekali matanya yang penuh dengan sinar nafsu berahi. Akan tetapi yang. amat mengerikan adalah kedua buah tangannya. Tangan yang kecil berjari runcing halus bagus sekali, hanya warnanya merah seolah-olah kedua tangan itu berlumur darah. Dari pintu kiri muncul seorang kakek yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam seperti dipulas arang, usianya mendekati enam puluh tahun namun masih jelas tampak bahwa dia kuat sekali dan bertenaga besar. Kesombongan bersinar dari sepasang matanya yang bulat dan lebar.
Adapun dari pintu kanan muncul seorang kakek yang usianya sebaya akan tetapi dalam segala hal merupakan lawan merupakan lawan kakek muka hitam karena kakek ini tubuhnya pendek kecil mukanya putih seperti dibedaki, keliahatannya lemah tak bertenaga dan pandang matanya seperti orang mengatuk, matanya sipit. Liok Si Bhok dan Liok Ki Tek adalah orang-orang yang sudah banyak pengalaman di dunia kang-ouw, bahkan sudah mengenal tokoh-tokoh besar. Maka begitu melihat tiga, orang ini, jantung mereka berdebar keras karena mereka mengenal mereka itu sebagai tokoh-tokoh sakti dari golongan sesat. Wanita cantik genit itu bukan lain adalah Ma Su Nio yang terkenal dengan julukan Hiat-ciang Sian-Ii (Dewi Bertangan Darah), seorang tokoh sakti yang cabul genit dan kejamnya seperti iblis betina.
Adapun kakek bermuka hitam yang tinggi besar itu adalah Hek-giam-ong (Raja Maut Hitam), sedangkan kakek bermuka putih adalah Pek-giam-ong (Raja Maut Putih). Mereka berdua adalah kakak beradik.dan terkenaldengan sebutan Hek-pek Giam-ong yang selalu muncul berdua dan setiap kali turun tangan tentu berdua sehingga merupakan lawan yang amat tangguh. Tiga orang ini adalah murid-murid dan juga pembantu-pembantu Kang-thouw-kwi Gak Liat Si Setan Botak, seorang di antara datuk-datuk golongan hitam atau kaum sesat. Akan tetapi, dari tiga orang yang muncul ini tidak ada tercium bau harum tadi. Memang Hiat-ciang Sian-li Ma Su Nio ada juga membawa bau wangi, akan tetapi berbeda dengan keharuman tadi,
Bahkan di antara bau wangi, yang datang dari tubuh Dewi Tangan Darah ini tercium bau amis darah. Adapun Hek-pek Giam-ong sama sekali tidak membawa bau harum, kalau ada membawa bau, paling-paling juga bau apek karena pakaian berkeringat yang tak pernah dicuci. Setelah kini semua pintu yang menembus ruangan itu terbuka, bau harum itu makin keras dan ternyata datangnya dari atas. Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek cepat memandang ke atas dan..jauh di atas balok melintang tampak duduk dua orang muda, seorang gadis cantik dan yang seorang lagi pemuda yang tampan. Gadis itu cantik sekali, tubuhnya ramping padat hidungnya mancung dagunya runcing dan sepasang mataya seperti mata burung hong jantan. Rambutnya yang hitam panjang itu hanya diikat dengan sutera di belakang tengkuk, dibiarkan melambai ke punggung.
Kepalanya ditutup atau lebih pantas dihias sebuah topi buIu putih yang kecil, dengan sebatang buIu burung menjadi penghias.Kedua telinganya digantungi sepasang anting-anting emas dan kedua lengannya bergelang emas pula. Gadis yang usianya sukar ditaksir, kurang lebih dua puluhtahun ini, tersenyum-senyum dan agaknya bau wangi yang sedap harum itu keluar dari tubuh dan pakaiannya. Di sebelah kirinya duduk pula di atas balok itu, seperti si gadis, dengan kedua kaki ongkang-ongkang, seorang pemuda tampan dan gagah, Usianya sebaya dengan gadis itu. Pemuda ini tubuhnya tinggi tegap wajahnya ganteng dan pakaiannya amat indah, dari sutera disulam menyaingi keindahan pakaian gadis itu. Wajahnya yang tampan itu terawat baik, berklulit putih halus dan rambut nya pun tersisir rapi dan halus kelimis.
Sayang bahwa wajah yang tampan itu memiliki hidung yang agak besar terlalu besar dan melengkung, dengan sepasang mata yang mengandung sinar tajam, bengis dan kejam. Dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu terkejut bukan main. Mereka tidak mengenal dua orang muda itu, akan tetapi kenyataan bahwa mereka itu dapat berada di situ sejak tadi tanpa mereka ketahui bahkan tanpa diketahui kelelawar dan burung yang hanya terbang setelah mereka berdua datang, membuktikan bahwa dua orang muda itu bukanlah orang sembarangan. Akan tetapi karena tidak tahu siapa adanya kedua orang muda itu, dan tidak tahu pula apa hubungannya mereka dengan tiga orang murid Kang-thouw-kwi ini, dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu hanya menggunakan seluruh perhatian untuk menghadapi Hek-pek Giam-ong dan Hiat-ciang Sian-Ii.
"Hemmm, kirananya Hiat-cian Sian-Ii dan Hek-pek Giam-ong yang berada didalam kuil ini. Sungguh tidak kami sangka. Akan tetapi karena ternyata Sam wi yang berada di sini, kiranya Sam-wi dapat memberi keterangan kepada kami tentang tiga orang anak murid Siauw-lim-pai yang terluka parah.."
Tiga orang murid Setan Botak itu kelihatan terkejut clan mereka memandang ke atas dengan sikap tenang.
"Kongcu (Tuan Muda), bagaimana mereka ini bisa tahu...?"
Kata Hiat-ciang Sian-lie
"Hemmm, agaknya Suheng bekerja kurang sempurna sehingga di antara mereka ada yang belum mampus dan membuka rahasia.."
Pemuda tampan itu mencela.
Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek adalah tokoh-tokoh yang sudah banyak pengalaman. Begitu mendengar percakapan ini, mengertilah mereka akan duduk perkara. Kiranya murid-murid Setan Botak yang memang menjadi kaki tangan pemerintah penjajah Mancu yang telah membunuh tiga orang murid Siauw-lim-pai dan agaknya mereka itu menyamar sebagai orang-orang Hoa-san-pai untuk menjalankan siasat adu domba antara Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai. Hanya mereka merasa heran mendengar betapa pemuda itu menyebut suheng kepada murid-murid Setan Botak yang menjadi tanda bahwa pemuda itu murid Setan Botak pula, akan tetapi mengapa Hek-pek Giam-ong dan juga Hiat-ciang Sian-Ii menyebutnya kongcu? Siapakah pemuda itu yang melihat sikapnya dan mendengar ucapannya seolah-olah yang menjadi pemimpin di antara mereka?
"Bagus sekali."
Liong Ki Tek sudah membentak marah.
"Kiranya kalian ini orang-orang sesat yang membunuh anak murid kami kemudian menyamar sebagai orang Hoa-san-pai untuk mengadu domba."
Sambil membentak demikian, Liong Ki Tek sudah mencabut pedangnya, berbareng dengan suhengnya. Tiba-tiba terdengar suara merdu dan halus, akan tetapi lidahnya asing sehing ga bahasa yang diucapkannya terdengar lucu,
"Lebih baik lagi begini, Sudah kukatan bahwa memancing ikan besar harus menggunakan umpan besar pula. Tiga orang itu hanya merupakan ikan teri, kurang besar untuk dijadikan umpan. Kalau kita menggunakan yang besar ini sebagai umpan, pasti berhasil. Siauw-lim-pai sukar dipancing, hendak kulihat nanti kalau mereka melihat mayat dua orang ini. Ouwyang-twako, jangan khawatir, rencana kita sekali ini pasti berhasil. Eh, kalian bertiga tidak lekas turun tangan, hendak menunggu apa lagi?"
Berbareng dengan teriakan-teriakan mereka, tiga orang murid Setan Botak itu maju menyerbu. Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek memutar pedang melindungi diri, dan di dalam hati mereka timbul pertanyaan-pertanyaan yang membuat mereka menjadi heran terhadap gadis itu. Jelas bagi mereka bahwa gadis itu adalah seorang gadis Mancu yang agaknya malah lebih berpengaruh dari pada si pemuda she Ouwyang itu, terbukti dari ucapannya yang nadanya seperti orang bicara kepada bawahannya. Akan tetapi, dua orang tokoh Siauw-lim-pai ini tidak dapat memecah perhatian mereka karena tiga orang lawan mereka sudah mengirim pukulan-pukulan maut yang amat berbahaya. Mereka itu adalah murid-murid pilihan dari Kang-thouw-kwi Gak Liat. yang terkenal sebagai seorang ahli Yang-kang.
Tidak mengherankan apabila kedua orang kakek Hek-pek Giam-ong itu amat lihai, karena keduanya mempunyai ilmu pukulan berdasarkan Yang-kang disebut Toat-beng Hwi-ciang (Tangan Api Pencabut Nyawa) dan setiap kali mereka mengirim pukulan, tangan mereka didahului menyambarnya hawa yang amat panas melebihi panasnya api. Mereka berdua inilah yang telah membunuh tiga orang anak murid Siauw-lim-pai dan karena mereka itu hendak menimbulkan kesan seolah-olah orang-orang Hoa-san-pai yang biasa menggunakan pedang, mereka tidak menggunakan pukuIan Toat-beng Hwi-ciang mereka ketika membunuh tiga orang anak murid Siauw-lim-pai itu, melainkan dengan sebatang pedang. Akan tetapi, lebih hebat lagi daripada dua orang Raja Maut itu adalah serangan yang keluar dari sepasang tangan merah Ma Su Nio. Hawa pukulan wanita.
Ini juga mengandung panas yang hebat, namun di samping hawa panas ini juga membawa bau amis dan mengeluarkan suara bercicitan sangat tinggi menggetarkan jantung. Sesuai dengan julukannya, kedua tangan wanita ini memiliki pukulan-pukulan beracun yang amat hebat karena yang teracun oleh pukulan ini adalah darah lawan yang langsung akan membunuh lawan dari dalam. Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek maklum akan kelihaian tiga orang lawan mereka. Biarpun lawan mereka itu bertangan kosong, namun sesungguhnya gerak pukulan mereka lebih berbahaya dari pada datangnya luncuran anak panah beracun. Mereka memutar pedang melindungi tubuh, namun karena terus menerus diserang secara bertubi tubi, pedang mereka itu hanya dapat dipergunakan untuk pertahanan, sama sekali mereka tidak mendapat kesempatan untuk menggerakkan pedang membalas.
Karena ini, mereka segera mengeluarkan suara keras dan itulah suara sebagai tanda bagi Siauw-lim Chit-kiam untuk mengeluarkan ilmu yang mereka andalkan, ilmu pedang yang amat ampuh yang khusus diajarkan oleh ketua Siauw-lim-pai kepada tujuh orang tokoh Siauw-lim itu, yaitu Chit-seng-sin-kiam (Pedang Sakti Tujuh Bihtang). Begitu kedua orang ini mainkan Chit-seng-sin-kiam dengan pedang .mereka, tiga orang lawan mereka berseru kaget dan meloncat mundur. Ilmu pedang Chit-seng-sin-kiam ini memang hebat luar biasa, diciptakan oleh ketua Siauw-lim-pai dengan bantuan suhunya yang masih hidup dan sudah berusia tua sekali. Bukan sembarangan ilmu pedang, melainkan ilmu pedang yang digerakkan dengan sinkang yang kuat sehingga sinar pedangnya menjadi bergulung-gulung panjang dan dapat melukai lawan dari jarak jauh.