Halo!

Pendekar Super Sakti Chapter 78

Memuat...

Dan dengan tangan kirinya menghadapi Lok Seng-cu dengan sinkang yang berlawanan, yaitu dengan hawa dingin. Lok Seng-cu juga merasa betapa hawa dingin yang keluar dari telapak. tangan pemuda itu amat luar biasa dan hampir ia tidak kuat menahannya. Terpaksa ia mengerahkan seluruh tenaga saktinya untuk melawan. Adapun Bhok Seng-cu yang sudah berkeringat dahinya karena hawa panas menjalari seluruh tubuhnya, juga mengerahkan tenaga dengan mata setengah dipejamkan untuk melawan sinkang pemuda itu yang benar-benar amat luarbiasa. Tiga orang ini, dengan telapak tangan beradu, hanya berdiri tak bergerak, telapak tangan mereka saling melekat. Melihat ini, Wan Sin Kiat dan Lu Soan Li menjadi bengong saking heran dan kagumnya. Han Han seorang diri mampu menahan pukulan-pukulan sakti kedua orang supek mereka.

Mereka sudah menduga bahwa Han Han adalah seorang pemuda yang memiliki kesaktian luar biasa, akan tetapi sungguh jauh melampaui batas dugaan mereka bahwa pemuda itu mampu menahan serangan hawa sakti kedua orang kakek itu, dan bahkan Han Han masih dapat menengok dan memperhatikan keadaan Lulu yang terdesak hebat oleh pedang Kong Seng cu yang lihai. Dua orang muda ini menjadi makin gelisah dan bingung. Melihat anak buah Pek-eng-piauwkiok terluka semua termasuk Tan-piauwsu dan tiga orang sutenya sehingga ruangan itu penuh dengan mereka yang rebah dan merintih-rintih, kini melihat betapa Lulu terancam maut di ujung pedang Kong Seng-cu, dan melihat Han han juga bergulat dengan maut, mereka menjadi bingung tak tahu harus berbuat apa.

Betapapun juga, Han Han dan Lulu jelas merupakan musuh atau lawan pihak Ho-san-pai, sehingga menurut patut, sebagai murid-murid Hoa-san-pai pula, mereka semestinya membantu para supek mereka. Kalau mereka yang memiliki ilmu silat tinggi, tidak banyak selisihnya dengan tiga orang tosu itu, bahkan dalam hal ilmu silat mungkin mereka lebih lihai, pada saat itu turun tangan membantu, tentu Han Han dan lulu takkan dapat bertahan lebih lama lagi. Namun hati mereka tidak mengijin kan mereka turun tangan dan karena itu,mereka hanya memandang dengan muka pucat. Apalagi Sin Kiat yang jatuh cinta kepada lulu, menjadi bingung sekali hatinya ingin sekali membantu lulu membebaskan gadis itu dari desakan berbahaya pedang Kong Seng-cu, namun bagaimana mungkin ia melawan supeknya sendiri?

Sementara itu, Han Han memandang ke arah adiknya dengan hati penuh kekhawatiran. Ia maklum bahwa menghadapi ilmu pedang tosu itu, adiknya takkan mampu mempertahankan diri lebih lama lagi. Jangankan lulu, dia sendiri pun kalau harus bertanding mempergunakan atau mengandalkan ilmu silat, bukanlah tandingan tosu-tosu Hoa-san-pai ini. Han Han maklum bahwa menghadapi mereka, ia hanya dapat mengandalkan kekuatan sinkangnya, karena dalam hal ilmu silat, dia tidak lebih pandai daripada Lulu kalau tidak mau dikatakan bahkan lebih rendah lagi karena Lulu telah mempelajari ilmu silat dari kitab peninggalan pemilik Pulau Es. Untuk menolong adiknya, ia harus cepat menundukkan dua orang kakek ini.

"Aiiiggghhhhh...."

Seruan dahsyat ini keluar dari dada Han Han dan kedua orang tosu yang mempertahankan desakan sinkangnya menjadi kaget seperti disambar petir ketika tiba-tiba mereka merasakan perubahan pada kedua lengan pemuda itu. Bhok Seng-cu yang tadinya menghadapi hawa Yang-kang panas dari tangan Han Han, tiba-tiba merasa betapa telapak tangan pemuda itu berubah menjadi dingin sekali, terlalu dingin sehingga seluruh lengannya seperti ditusuk-tusuk jarum. Di lain pihak, Lok Seng-cu yang tadinya menghadapi Im-kang dingin, tiba-tiba merasa betapa tangan pemuda itu berubah menjadi panas luar biasa. Cepat kedua orang tosu itu pun mengubah sin-kang mereka untuk menyesuaikan diri, akan tetapi kembali Han Han menukar sinkangnya secara tiba-tiba. Dua orangtosu itu hampir tidak dapat percaya ke pada perasaan tangannya sendiri. Selama hidup mereka, belum pernah mereka menyaksikan hal seperti ini.

Betapa mungkin mengubah-ubah sinkang secara mendadak seperti itu? Karena perubahan-perubahan ini, mereka menjadi kacau dan tak kuat bertahan lagi, sehingga ketika Han Han mengerahkan tenaga mendorong tubuh mereka mencelat ke belakang dan mereka roboh terbanting dengan napas megap-megap hampir putus karena dada mereka terluka oleh sinkang mereka yang.membalik secara tiba-tiba. Cepat mereka bersila dan memejamkan mata untuk menolong nyawa mereka yang terancam maut. Han Han sudah meloncat ke dekat adiknya dan sekali kedua tangannya mendorong ke depan, Kong Seng-cu tak dapat bertahan. Tosu ini merasa betapa seluruh tubuhnya menjadi dingin, seolah-olah darah di tubuhnya membeku. Ia menggigil dan tanpa dapat ia cegah lagi, pedang pusaka Cheng-kong-kiam terlepas dari tangannya yang menjadi kaku.

Lulu cepat menyambar pedang itu dan tertawa tawa girang sekali, tidak mempedulikan lagi Kong Seng-cu yang sudah cepat duduk bersila, seperti kedua orang saudara seperguruannya, mengerahkan tenaga sakti untuk menolong nyawanya yang terancam maut. Suasana menjadi sunyi, yang terdengar hanya rintihan beberapa orang anak buah Pek-eng-piauwkiok yang tak dapat menahan nyeri. Namun, tak seorang pun tewas dalam pertempuran aneh yang hanya memakan waktu sebentar saja itu. Wan Sin Kiat dan Lu Soan Li terlampau terheran-heran sehingga mereka itu masih bengong. Han Han menggandeng tangan Lulu yang masih mengagumi pedang rampasannya, kemudian Han Han menoleh kepada dua orang murid Im-yang Seng-cu sambil berkata.

"Sin Kiat dan Adik Soan Li, selamat tinggal. Kami berdua harus pergi sekarang juga"

Lulu juga menoleh kepada dua orang muda itu, tersenyum manis dan mengedipkan matanya yang lebar kepada Sin Kiat sambil berkata,

"Selamat berpisah dan sampai jumpa lagi, ya?"

Hati Sin Kiat terasa sakit dan ia bersedih harus berpisah dari gadis yang telah merampas hatinya itu, akan tetapi pada saat seperti itu dia tidak dapat berkata apa-apa, apalagi menahannya, bahkan ia maklum. bahwa paling baik kedua orang itu cepat pergi dari tempat itu. Juga Soan Li hanya dapat memandang punggung Han Han yang bidang sampai bayangan kedua orang itu lenyap dari situ, keluar dari piauwkiok melalui pintu gerbang yang sudah tidak terjaga lagi. Sin Kiat memandang ke arah tiga orang supeknya yang masih duduk bersila dengan wajah pucat akan tetapi napas mereka tidak begitu sesak lagi, kemudian memandang kepada para suhengnya yang terluka. Hatinya berduka sekali. la segera menghampiri Bhok Seng-cu dan berkata dengan suara terharu.

"Supek, sungguh teecu merasa menyesal sekali telah terjadi malapetaka ini."

"Teecu mohon maaf tidak dapat membantu Supek,"

Kata pula Soan Li.

"Dia terlalu hebat, seperti dewa....andaikata teecu berdua melawan pun tidak akan ada gunanya..."

Kata pula Sin Kiat, masih kagum bukan main menyaksikan sepak terjang Han Han tadi. Bhok Seng-cu membuka matanya memandang kepada Sin Kiat dan Soan Li. Dua orang muda ini terkejut dan otomatis melangkah mundur melihat betapa sinar mata Bhok Seng-cu penuh dengan api kemarahan.

"Manusia-manusia khianat! Murid-murid murtad, Pergilah. Mulai detik ini kalian bukanlah murid, melainkan musuh Hoa-san-pai."

"Supek.."

"Pinto bukan Supek kalian, keparat, pergi."

Post a Comment