Harap kongcu suka memaafkan saya, kata pemuda itu.
Akan tetapi mentaati perintah kongcu, saya melapor bahwa di kaki bukit ada dua orang tosu tua yang berjalan menuju perkampungan kita. Melihat sikap dan dandanan mereka, juga bahwa seorang dari mereka membawa pedang di punggung, saya dapat menduga bahwa mereka bukan tosu-tosu biasa, Karena itu saya cepat lari untuk melapor kepada kongcu. Wajah yang tadinya membayangkan kemarahan kini berubah cerah gembira.
Bagus, aku harus menemui mereka! katanya dan diapun sudah meloncat turun dan membereskan sebatang pedang di balik jubahnya dan berkelebat keluar.
Gerakannya cepat sekali seolah-olah dia mempergunakan ilmu terbang saja. Dua orang tosu itu berusia kurang lebih enam puluh tahun. Seorang di antara mereka bertubuh kurus tinggi dan membiarkan rambutnya tergerai di kedua bahunya. Di punggungnya nampak sebatang pedang bersarung butut, dan jubah tosu yang menutupi tubuhnya berwarna kuning lusuh. Wajahnya agak muram dan jarang senyum, wajah yang kurus nampak lonjong, sesuai dengan tubuhnya yang tinggi kurus. Adapun tosu kedua bertubuh gendut, tidak setinggi temannya, juga jubahnya kuning dengan bagian dada terbuka. Agaknya dia selalu kegerahan. tidak nampak dia membawa senjata dan wajahnya yang bundar itu selalu dihias senyum, sepasang matanya yang lebar bersinar dan berseri. Mereka melangkah tanpa berkata-kata.
Lee Song Kim memperhatikan mereka. Pengetahuannya tentang tokoh-tokoh berbagai aliran silat memang luas. Walaupun dia belum pernah bertemu sendiri dengan dua orang tosu ini, namun menurut hasil penyelidikannya selama beberapa tahun ini, sejak dia masih hidup di Pulau Naga bersama Hai-tok, membuat dia tahu bahwa dua orang ini adalah dua tokoh Kun-lun-pai tingkat tiga yang memiliki ilmu kepandaian tinggi! Bukan main girang rasa hatinya. Terbuka kesempatan baginya untuk menguji ilmu silatnya yang didapat dari kitab pelajarannya! Diapun cepat keluar menghadang perjalanan dua orang tosu itu. Ketika si tempat sunyi itu tiba-tiba muncul seorang laki-laki tampan yang berpakaian mewah seperti seorang
pelajar kaya, dua orang tosu itu memandang heran dan memperlambat langkah mereka karena laki-laki itu berdiri di tengah jalan, nampaknya sengaja menghadang mereka.
Jiwi totiang (bapak pendeta berdua), harap perlahan dulu berjalan, karena saya ingin sekali bicara dengan jiwi (anda berdua), kata Lee Song Kim dengan sikap sopan dan ramah. Tosu tinggi kurus yang berwajah muram itu diam saja, akan tetapi tosu gendut tertawa ramah.
Ha-ha, ada keperluan apakah si-cu (orang gagah) menahan perjalanan dua orang tosu seperti kami? Diam-diam Song Kim memuji ketajaman mata tosu gendut ini. Begitu bertemu tosu ini sudah dapat melihat bahwa dia bukan seorang pelajar biasa, melainkan pandai ilmu silat maka tosu itu menyebut sicu. Akan tetapi Song Kim memperlihatkan wajah biasa saja.
Totiang, kalau saya tidak salah duga, ji-wi totiang adalah tokoh-tokoh dari
Kun-lun-pai, bukan? Dua orang tosu itu saling pandang dan kerut di antara kedua alis tosu kurus menjadi semakin dalam. Akan tetapi tosu gendut segera menjawab sambil tertawa,
Siancai...... pinto berdua hanyalah tosu-tosu perantau biasa saja...... Song Kim tersenyum.
Totiang tidak perlu merendahkan diri. Bukankah totiang berjuluk Tiong Gi Tojin dan totiang yang kurus ini adalah Tiong Sin Tojin? Tokoh-tokoh Kun-lun-pai tingkat tiga yang berilmu tinggi dan lihai sekali! Dua orang tosu itu kini nampak terkejut, bahkan tosu gendut kehilangan senyumnya.
Sicu, siapakah engkau dan apa kepeluanmu menghadang perjalanan kami, apalagi setelah engkau mengenal siapa adanya kami? tanya tosu gendut, wajahnya serius.
Saya hanya seorang laki-laki biasa saja, orang menyebut saya Lee Kongcu dan saya paling suka dengan ilmu silat walaupun kepandaian saya masih rendah sekali. Sudah lama saya mendengar akan kelihaian ji-wi totiang, maka setelah sekarang ada jodoh untuk bertemu di sini, saya harap ji-wi tidak terlalu pelit untuk mempertunjukkan ilmu-ilmu ji-wi yang tinggi untuk membuka mata saya. Dua orang tosu itu mengerutkan akisnya.
Orang muda, kami hanyalah tosu-tosu yang selalu mendambakan kedamaian dan tidak suka berkelahi. Ilmu yang kami pelajari hanya untuk menjaga diri saja. Karena tidak ada urusan apapun di antara kita, bagaimana mungkin kami mengeluarkan ilmu silat? Kami bukan tukang jual obat di pasar yang suka memamerkan ilmu silat, kata pula tosu gendut. Lee Song Kim menggeleng kepala.
Jodoh sudah menentukan perjumpaan kita, maka ji-wi jangan menolak, harap keluarkan imu-ilmu simpanan ji-wi untuk saya lihat.
Orang muda lancang! Kini tosu kurus yang bernama Tiong Sin Tojin membentak marah. Minggirlah dan biarkan kami melanjutkan perjalanan! Kembali Song Kim menggeleng kepala.
Tidak bisa, totiang. Sebelum ji-wi menunjukkan ilmu-ilmu simpanan ji-wi, jangan harap akan dapat melanjutkan perjalanan.
Siapa yang berani melarang kami! bentak tosu tinggi kurus, kini menjadi marah sekali.
Akulah yang melarang. bagaimanapun juga, ji-wi harus melayani dulu aku barang seratus jurus!
Siancai, orang ini sungguh sombong dan kurang ajar, suheng. Biar pinto menghajarnya! kata tosu kurus.
Hati-hatilah, sute. Agaknya dia memang sengaja mencari urusan, kata tosu gendut. Tiong Sin Tojin, yang tinggi kurus, segera melangkah maju dan karena dia dapat menduga bahwa orang muda yang demikian sombong dan kurang ajar tentu memiliki kepandaian cukup tinggi, begitu menyerang dia mengeluarkan jurus serangan yang ampuh dan dahsyat. Kedua tangannya membentuk paruh burung yang meruncing dan paruh burung ini mematuk-matuk ke arah jalan darah yang berbahaya di kepala, leher dan dada secara bertubi-tubi.
Hemm, Pek-ho-tok-hi (Bangau Putih mematuk Ikan)......! seru Lee Song Kim sambil mengelak ke sana-sini. karena dia sudah mengenal gerakan jurus ini, maka tidak sukarlah baginya untuk menghindarkan diri. Tiong Sin Tojin terkejut mendengar seruan pemuda itu yang telah mengenal jurus serangannya. Cepat dia merubah gerakan kaki tangannya dan kini dia menyerang dengan dua buah jari tangan kanan, yaitu telunjuk dan jari tengah, menusuk ke arah leher.
Sian-jin-ci-lou (Dewa Menunjukkan Jalan)...... Kembali Song Kim berseru dan betapapun cepat dan dahsyatnya serangan maut itu, dengan mudah dia dapat menangkis sambil melangkah mundur dua langkah. serangan ini pun gagal. Tahan dulu! bentak Tiong Sin Tojin, Siapakah engkau yang mengenal jurus-jurus Kun-lun-pai? Apakah engkau seorang murid Kun-lun-pai? Song Kim menggeleng kepalanya.
Bukan murid, akan tetapi aku suka sekali mempelajari jurus-jurus terlihai dari Kun-lun-pai, bukan seperti yang kau perlihatkan tadi, totiang.
Tiong Sin Tojin menjadi marah.
Sudahlah, pinto tidak mempunyai urusan dengan orang gila seperti engkau. Suheng, mari kita pergi.
Ha, nanti dulu, totiang. Kalau engkau tidak mau menyerang, biarlah aku yang menyerangmu. Lihat ini Hok-thian-hok-te (Membalikkan Langit dan Bumi)! bentak Song Kim dan diapun sudah menyerang dengan ganas sekali, menggunakan kaki tangannya dan serangan itu datang dari atas dan bawah, amat cepatnya. Melihat betapa pemuda itu menggunakan sebuah jurus Kun-lun-pai yang ampuh dan berbahaya, Tiong Sin Tojin terkejut dan cepat diapun menyambut dengan elakan dan tangkisan,
Dan merasa betapa lengannya tergetar setiap kali bertemu dengan lengan lawan. Yang membuat dia penasaran dan kaget sekali ketika melihat betapa lawan itu kini menyerangnya terus dengan jurus-jurus pilihan dari Kun-lun-pai! Terpaksa dia harus mengeluarkan jurus-jurus tandingan untuk memunahkan semua serangan itu dan memang inilah yang dikehendaki oleh Song Kim. Diam-diam otaknya yang cerdik itu mencatat semua gerakan lawan yang dapat mematahkan setiap serangannya sehingga dari pekelahian ini dia memperoleh tambahan jurus-jurus pilihan dari Kun-lun- pai. Karena merasa tidak dapat menandingi pemuda itu dengan tangan kosong, Tiong Sin Tojin meloncat ke belakang dan mencabut pedangnya. Akan tetapi suhengnya, Tiong Gi Tojin yang gendut, cepat mencegahnya sambil meloncat ke depan.
Sute, barlah pinto yang maju. Dia tidak ingin sutenya menggunakan senjata karena mereka berdua tidak bermusuhan dengan orang she Lee ini, Untuk apa menggunakan senjata? Pantang bagi orang-orang yang menjadi pendeta, apalagi pendeta Kun-lun-pai yang terpandang, untuk melukai, apalagi membunuh orang tanpa sebab. Kini, dengan mulut masih tersenyum menyeringai, tosu gendut ini menghadapi Song Kim.
Lee-kongcu (tuan muda Lee), sesungguhnya pinto tidak mengerti mengapa kongcu memaksa pinto berdua untuk bertanding silat denganmu. Lebih tidak mengerti lagi pinto melihat betapa engkau yang mengaku bukan murid Kun-lun-pai, demikian pandai bersilat dengan ilmu silat aliran kami!
Tiong Gi Tojin, terus terang saja, aku adalah orang yang paling suka belajar ilmu silat, karena itulah maka aku minta kepada ji-wi untuk memberi petunjuk kepadaku barang seatus jurus. Karena suka ilmu silat, aku mempelajari semua aliran, termasuk Kun-lun-pai. Sayang, sangat sedikit yang kupelajari, maka kuharap akan memperoleh barang beberapa jurus dari ji-wi totiang.
Huh, kau hendak mencuri ilmu orang lain! bentak Tiong Sin Tojin yang berdiri di pinggir sambil mengepal tinju dengan marah.
Mencuri......! Tiba-tiba Tiong Gi Tojin berteriak dan memandang kepada Song Kim dengan mata terbelalak.Kalau begitu, pencurian kitab Kun-lun-pai beberapa tahun yang lalu