Kaisar Sian Feng terlalu sibuk dengan pengejaran kesenangan, terutama sekali kesenangan melalui pengumbaran nafsu berahi sehingga dia hampir tidak perduli sama sekali tentang pemerintahannya. Padahal, di waktu itu, pemberontakan terjadi di mana-mana. Bukan hanya pemberontakan-pemberontakan Tai Peng yang kini sudah menduduki Wu-cang, Nan-king dan lembah Sungai Yang-ce sampai ke muaranya, juga terdapat pemberontakan-pemberontakan lain yang cukup besar di sebelah utara dan barat. Pada waktu pasukan-pasukan pemberontak Tai Peng menyerbu dan menduduki Nan-king, yaitu pada tahun 1853, di utara terjadi pemberontakan Nian- fei, sedangkan di Kwei-cow barat terjadi pemberontakan Suku Bangsa Miau. Jelas nampak betapa kebesaran dan kejayaan Kerajaan Ceng-tiauw yang dikendalikan oleh Bangsa Mancu itu mulai menyuram,
Dan kelemahan dinasti itu bersumber kepada lemahnya orang yang menjadi kaisar pada waktu itu. Desakan para pemberontak yang seolah-olah mengepung Peking, ditambah lagi dengan makin besarnya kekuasaan ang ditanam oleh orang kulit putih, benar-benar membuat Kerajaan Ceng terancam keruntuhan, hal yang diacuhkan saja agaknya oleh Kaisar Sian Feng. Dan pada jaman itu, para pembesar negeri berlomba untuk membesarkan perut, masing-masing dengan jalan korupsi, suap menyuap, dan hanya mementingkan diri sendiri dan kesenangan pribadi belaka, tentu saja mencontoh langkah yang diambil oleh kaisar mereka. Bagaikan sebatang pohon, betapapun kokoh kuat dan besarnya pohon itu, kalau sudah dihinggapi penyakit sejak dari akarnya sampai ke ujung-ujung daunnya, maka tak lama kemudian pohon itu tentu akan menjadi rusak dan roboh juga.
***
Di lereng Pegunungan Luliang-san, di lembah Sungai Fen-ho yang sunyi, terdapat sebuah perkampungan yang tentu akan menarik perhatian orang yang kebetulan lewat di situ. Sejak dari pintu gerbang tembok pagar yang mengelilingi perkampungan itum sampai kepada bangunan rumah-rumah di dalamnya, nampak kemewahan yang tidak sesuai dengan kedaan di tempat sunyi terpencil itu. Pantas perkampungan itu berada di kota, dimiliki oleh orang-orang atau keluarga yang kaya raya. Sebuah bangunan besar seperti istana berada di tengah perkampungan, dikelilingi bangunan-bangunan yang lebih kecil dan di belakang bangunan besar itu terdapat sebuah taman yang luas dan indah. Di tengah taman terdapat sebuah panggung beratap kayu yang besar dan luas, tanpa dinding. Bagi penduduk dusun-dusun di sekitar Pegunungan Luliang-san,
Pemilik atau majikan perkampungan itu mereka kenal sebagai Lee-kongcu atau mereka cukup menyebutnya Kongcu (Tuan Muda) saja, karena di seluruh pedusunan tidak ada orang lain yang disebut Kongcu. Orang yang menjadi majikan pekampungan itu adalah seorang laki-laki yang usianya sudah tiga puluh enam tahun lebih, dan orang-orang menyebutnya kongcu hanya karena mereka tahu bahwa dia itu masih perjaka, dalam arti kata masih belum menikah. Namanya adalah Lee Song Kim! Orang ini memang memiliki banyak keunggulan. selain terkenal sebagai majikan kampung yang kaya raya, juga Lee Song Kim terkenal sebagai seorang ahli silat yang berilmu tinggi sehingga seluruh penghuni dusun-dusun di daerah pegunungan itu merasa takut kepadanya, juga segan dan hormat karena Lee Song Kim seringkali mengulurkan tangan membantu kepada para petani miskin. Wajahnya tampan pesolek dengan pakaian yang selalu indah dan mewah seperti seorang pelajar yang kaya raya.
Sikapnya selalu periang dan senyum simpul yang selalu menghias bibirnya itu mengandung ejekan dan pandangan meremehkan kepada semua orang. Tidak mengherankan kalau Lee Song Kim tinggi hati dan meremehkan orang lain karena memang dia seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi! Lee Song Kim adalah murid terkasih dari mendiang Hai-tok Tang Kok Bu, seorang di antara Empat Racun Dunia, ayah kandung dari Tang Ki yang kini menjadi permaisuri dari raja kecil Ong Siu Coan pemimpin pemberontak Tai Peng. Dari suhunya, Lee Song Kim telah mewarisi seluruh ilmunya dan hal ini masih belum memuaskan hatinya. Sebagai seorang murid, juga anak angkat, juga kekasih yang amat dimanja oleh Hai-tok, Lee Song Kim minta kepada gurunya itu untuk merampaskan dan mencurikan kitab- kitab pelajaran ilmu silat tinggi dari aliran-aliran dan perkumpulan-perkumpulan besar,
Sehingga ketika gurunya itu berusaha mencuri kitab di kuil Siauw-lim-pai, gurunya dikeroyok oleh pendeta-pendeta lihai dan tewas. Sebagai ahli waris Pulau Naga yang dimiliki Hai-tok, Lee Song Kim menjadi seorang yang kaya raya. Akan tetapi diapun maklum bahwa perbuatan gurunya mencuri kitab-kitab dari berbagai aliran persilatan telah ketahuan, maka diapun lalu menyelamatkan diri dari Pulau Naga membawa semua harta benda yang ditinggalkan gurunya, juga semua kitab yang telah dicuri oleh gurunya untuknya. Dia menyembunyikan diri dan menggembleng diri selama bertahun-tahun dengan ilmu-ilmu dari kitab-kitab curian itu sehingga tentu saja ilmu kepandaiannya menjadi semakin hebat. Kini tingkat ilmu kepandaiannya sudah sedemikian majunya sehingga jelas melampaui tingkat mendiang gurunya sendiri!
Akhirnya, setelah merasa dirinya kuat, Lee Song Kim berani muncul kembali. Sebagai seorang yang mewarisi harta benda yang banyak, dia hidup sebagai seorang yang kaya raya, membangun perkampungan itu dan biarpun dia belum juga beristeri, namun sebagai seorang pria yang mata keranjang, di dalam gedungnya terdapat puluhan orang pelayan wanita muda-muda dan cantik-cantik yang selalu siap melayaninya karena mereka itu menjadi pelayan merangkap selir. Juga untuk memperkuat diri, Lee Song Kim mengumpulkan orang-orang muda yang memiliki ilmu silat, bahkan dididiknya, sebanyak tiga puluh orang lebih yang menjadi anak buahnya dan tinggal di dalam rumah-rumah yang mengelilingi gedungnya di dalam perkampungan itu. Lee Song Kim adalah seorang yang memiliki ambisi besar.
Pernah dicobanya belasan tahun yang lalu untuk mencari kedudukan dan kemuliaan melalui Kerajaan Ceng. Dia bahkan pernah mengabdikan dirinya kepada penjajah, mengkhianati para pejuang. Akan tetapi akhirnya ia gagal dan sebaliknya dikejar- kejar oleh pemerintah! Dia tidak sanggup lagi mencari kedudukan melalui pangkat, maka kini ambisinya mencari cara lain. Dia ingin menjadi seorang yang akan disebut Thian-he Te-it Bu-hiap (Pendekar Silat Nomor Satu di Dunia)! Karena itu, dia menggembleng diri setiap hari dengan ilmu-ilmu dari semua aliran. Bahkan kitab-kitab yang telah dicuri gurunya untuk dirinya, dari perkumpulan- perkumpulan besar seperti Bu-tong-pai, Kun-lun-pai, Kong-tong-pai dan lain- lainnya, masih belum memuaskan hatinya. Dia berpikir bahwa untuk dapat menjadi jagoan nomor satu di dunia,
Dia harus menguasai semua ilmu silat dari aliran manapun juga agar dia dapat menghadapi dan menguasai jago-jago dari semua aliran silat yang ada! Dan diapun perlu menguji ilmu-ilmu yang sudah dipelajari dan dikuasainya itu, untuk melawan tokoh-tokoh dari aliran-aliran itu sendiri. Baru setelah dia memiliki secara lengkap ilmu berbagai aliran itu dan merasa yakin akan mampu mengalahkan semua tokohnya, dia akan mengumumkan bahwa dialah Thian-he Te-it Bu-hiap! Dan untuk pengangkatan diri menjadi jagoan nomor satu di dunia itupun sudah dia dapatkan lambangnya, yaitu Giok-liong-kiam! Ya, tidak keliru dugaan Tang Ki. Lee Song Kim inilah pencuri Giok-liong-kiam! Setelah dia mendengar berita bahwa Giok-liong- kiam terjatuh ke tangan Ong Siu Coan sebagai pimpinan pemberontak Tai Peng,
Dia lalu mengirim anak buahnya melakukan penyelidikan tentang Ong Siu Coan. Dan ketika dia mendengar laporan anak buahnya betapa istana Ong Siu Coan di Nan-king tidak terjaga dengan ketat, dia lalu turun tangan sendiri, pergi ke Nan-king dan berhasil mencuri Giok-liong-kiam dengan amat mudahnya. Akan tetapi dasar mata keranjang dan cabul, setelah berhasil mencuri pedang pusaka itu, dia tidak segera pergi melainkan menyingkap kelambu untuk melihat sepasang manusia yang tidur di balik kelambu. dan melihat wanita yang pernah menjadi sumoinya, yang pernah dicintanya, tidur terlentang dalam pakaian yang tipis, dia tidak dapat menahan diri dan meraba pahanya membuat wanita itu terbangun dan menyerangnya, juga membangunkan Ong Siu Coan yang menyerangnya. Namun, dengan kepandaiannya yang tinggi, dia mampu meloloskan diri.
Kalau dia menghendaki, tentu saja dia akan mampu membunuh Ong Siu Coan dan Tang Ki selagi mereka masih tidur. Akan tetapi dia tidak mau melakukannya. Hal itu tentu akan menimbulkan geger besar dan kalau sampai dia dimusuhi oleh Tai peng, celakalah dia! Dia cukup cerdik untuk menggunakan kedok sehingga suami isteri yang berhasil menjadi raja kaum Tai peng itu tidak melihat bukti bahwa dia pencurinya. Sore hari itu, Lee Song Kim makan minum ditemani tiga orang pelayan wanita yang paling cantik dan yang menjadi tiga orang kesayangannya. Tiga orang wanita muda yang cantik-cantik ini seperti berlomba untuk mengambil hati kongcu mereka, bersikap manis dan genit, menemaninya makan minum sambil bersenda gurau.
Lee Song Kim minta disediakan masakan-masakan yang serba istimewa karena dia hendak merayakan keberhasilannya mencuri Giok-liong-kiam, walaupun hal itu masih dirahasiakannya, baik terhadap anak buahnya sekalipun. Belum tiba saatnya untuk menyiarkan bahwa dia kini yang memiliki Giok-liong-kiam, karena hal itu selain akan memancing datangnya banyak tokoh yang tidak ditakutinya, namun juga memancing datangnya Ong Siu Coan dengan pasukannya yang sama sekali yidak boleh dipandang ringan. Selama beberapa bulan ini, dia sudah mengalahkan banyak ahli silat dari berbagai aliran, dengan mempergunakan ilmu silat dari aliran itu sendiri dan hal ini menambah kegembiraan hatinya. Hanya aliran-aliran silat yang besar-besar saja yang belum dicoba ilmu silatnya.
Setelah merasa kenyang, Lee Song Kim melanjutkan pestanya di dalam kamarnya, minum arak ditemani tiga orang kekasihnya. Dua orang memijit-mijit seluruh badannya, memilih otot-otot yang kalau dipijit dapat melenyapkan rasa lelah, sedangkan seorang pelayan lain duduk di atas pangkuannya, tertawa-tawa ketika dibelainya. Tiba-tiba daun pintu diketuk orang dari luar dan terdengar seorang anak buah minta diterima menghadap karena ada laporan penting. Pelayan wanita yang duduk di atas pangkuan Lee Song Kim segera meloncat turun dan atas isyarat majikannya ia membuka pintu, Lee Song Kim mengerutkan alisnya, memandang kepada anak buahnya itu dengan hati tak senang karena dia merasa terganggu selagi bersenang-senang dengan tiga orang kekasihnya.
Ada urusan penting apakah yang mendorongmu untuk menemuiku? tanyanya, siap untuk marah-marah kalau pemuda yang bermuka hitam itu tidak memiliki alasan yang kuat.