Halo!

Pemberontakan Taipeng Chapter 09

Memuat...

Mula-mula, selama berbulan-bulan ia mengecat, menghias dan memperbaiki pondok kecil yang dijaganya. Ia melukis banyak bunga anggrek, bunga kesayangannya yang menjadi namanya, dan menggantungkan lukisan-lukisan itu di dalam pondoknya. Juga dengan uang saku yang ditabungnya, ia mulai menyuap thaikam (orang kebiri) yang bertugas menjaga taman dan istana Yuan-beng-yuan sehingga bersahabat baik dengan mereka. Dua tahun lamanya Yehonala bersabar dan berusaha. Sementara itu ia telah menjadi seorang gadis yang masak dan semakin cantik saja.

Hubungannya dengan para thaikam sudah semakin erat dan para thaikam itu suka membantunya, mencari kesempatan agar kaisar dapat melihatnya. Kesempatan itu tiba pada suatu sore hari yang hawanya panas. Pada waktu itu, Kaisar Sian Feng duduk di dalam tandu yang dipikul oleh delapan orang thaikam. Kaisar sedang dalam perjalanan mengunjungi seorang selir bangsa Han yang menjadi kesayangannya. Para thaikam yang sudah mengadakan kontak dengan Yehonala, sengaja memikul tandu itu dengan berputar, lewat di bawah pohon-pohon wu-tung yang teduh dan melalui pondok yang didiami Yehonala. Pada saat itu, sesuai dengan rencana yang sudah diatur oleh Yehonala, kaisar yang duduk melenggut oleh kantuk karena panasnya hawa, mendengar suara nyanyian merdu. Tentu saja dia tertarik sekali dan menyingkap tirai tandu di depannya.

Berhenti......! kata kaisar, tertarik sekali karena begitu dia menyingkap tirai, dia melihat sebuah pondok yang dihias amat indah, dicat baru dan di depan pondok penuh dengan tanaman bunga beraneka warna. Sungguh merupakan sebuah pondok yang terbagus di antara pondok yang berada di taman itu.

Ah, sungguh mungil sekali pondok ini, kata kaisar dan dibantu oleh para thaikam, diapun turun dari atas tandu, lalu menghampiri pondok dan karena daun pintu pondok terbuka, kaisar lalu masuk ke dalam. Setibanya di dalam pondok, kembali dia tertegun. Di dalam pondok tergantung lukisan-lukisan bunga anggrek beraneka bentuk dan warna, indah sekali dan perabot pondok itupun dicat dan diatur penuh dengan kerapian yang nyeni. Kaisar masih mendengar suara wanita bernyanyi, maka diapun menjenguk jendela belakang dan ia semakin terpesona. seorang gadis Mancu dengan baju Mancu sutera merah muda sedang duduk di dekat kolam ikan kecil di belakang pondok.

Gadis itu sedang mengipasi tubuh yang kegerahan dengan kipas sambil menyanyikan sebuah lagu rakyat daerah Soo-chouw. Suaranya merdu sekali dan nyanyian itu adalah nyanyian rakyat tentang seorang gadis yang sedang menanti datangnya sang kekasih. Romantis sekali sehingga kaisar merasa terharu, hanyut oleh nyanyian itu dan terpesona oleh kecantikan gadis itu. Heran dia mengapa selama ini dia tidak pernah melihat dayang yang manis dan mempesona ini? Setelah Yehonala berhenti bernyanyi, Kaisar Sian Feng lalu menghampiri gadis itu dari belakang. Tentu saja Yehonala sudah tahu akan kehadiran kaisar, akan tetapi dengan cerdik ia berpura-pura terkejut, membalikkan tubuh dengan sikap semenarik mungkin. Ia nampak terkejut ketika melihat bahwa yang memujinya itu adalah kaisar sendiri. cepat ia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki kaisar.

Mohon paduka sudi mengampuni hamba, karena tidak tahu akan kunjungan yang mulia Sri Baginda, maka hamba tidak menyambut dengan selayaknya. Suaranya penuh dengan kemerduan, dengan kata-kata yang teratur dan sopan sehingga kaisar menjadi girang bukan main. Tak disangkanya di tempat yang indah itu dia akan bertemu dengan seorang gadis secantik dan sepintar ini. Dia tertawa bergelak.

Nona manis, angkat mukamu dan biarkan aku melihatnya, katanya sambil tertawa. Yehonala tersipu malu sehinga wajahnya yang putih bersih, mulus dan cantik itu menjadi kemerahan, menambah kemanisan wajahnya. Dengan malu-malu, senyum dikulum ia mengangkat mukanya menengadah sambil berlutut dan Kaisar Sian Feng menjadi girang bukan main. Kini dia dapat melihat wajah itu dengan jelas dan memang sebuah wajah yang amat menggairahkan hatinya. Dia lalu menglur tangannya, membelai pipi dan leher yang berkulit halus dan hangat itu.

Siapakah namamu? Dengan sikap tersipu malu sehingga daya tariknya menjadi kuat, gadis itu menjawab lirih,

Nama hamba Yehonala...... sudah dua tahun hamba mengabdi di..

Dua tahun? Kaisar Sian Feng terkejut dan memaki kebodohannya sendiri. Selama dua tahun dia membiarkan setangkai bunga yang demikian indahnya tanpa pernah menyentuhnya, apalagi memetiknya, melihatpun belum pernah.

Yehonala, nama indah, seindah lukisan-likisanmu. Yehonala, hari amat panas dan aku merasa gerah sekali. Aku ingin mandi di dalam pondokmu...... Tentu saja Yehonala menjadi girang bukan main. Tidak sia-sia semua kesabaran selama ini, tidak sia-sia semua rencana yang telah dilakukannya. dengan girang ia lalu mempersilahkan kaisar memasuki pondok, ia lalu mempersiapkan air harum untuk mandi junjungannya itu dan dengan sikap malu-malu seperti layaknya seorang anak perawan yang belum pernah berdekatan dengan pria, ia membantu kaisar mandi di sore hari yang panas itu. Setelah merasa puas mandi, juga puas membelai dan menciumi dara itu, kaisar mengenakan pakaiannya dan berbisik,

Yehonala, bersiaplah engkau untuk melayani dan menemaniku malam nanti. Yehonala berlutut dan menyatakan kesanggupannya dengan sikap malu-malu, namun di dalam hatinya ia bersorak penuh kemenangan. Ia harus dapat menundukkan hati junjungannya ini, ia harus berhasil memenuhi cita-citanya, yaitu menjadi selir terkasih kaisar,

Kalau mungkin menjadi ibu dari putera kaisar agar kelak ia dapat menjadi ibu suri! Cita-citanya amat besar, dikandung semenjak ia dipilih untuk dibawa ke istana kaisar. Karena pertemuannya dengan Yehonala, kaisar tidak jadi mengunjungi selirnya dan langsung pulang ke istana. Dia telah menemukan seorang gadis baru yang amat mempesona dan dia harus mempersiapkan diri untuk bersenang- senang malam nanti dengan gadis itu. Diminumnya darah segar menjangan yang dicampur dengan tanduk menjangan dan ramuan lain untuk memperkuat tubuhnya.

Sementara itu, setelah kaisar meninggalkannya, Yehonala bersenandung dengan gembira, lalu ia pun mempersiapkan diri, mandi dengan air bunga yang harum, kemudian menggosok-gosokkan ramuan yang dapat membuat kulit tubuhnya menjadi halus lunak, bersih dan segar.

Ia sudah bersiap siaga ketika pada malam harinya muncul dua orang thaikam yang diutus kaisar untuk menjemputnya. Pada jaman itu, terdapat peraturan istana yang luar biasa. Setiap orang selir atau wanita yang dipilih kaisar untuk melayaninya, selalu akan dijemput oleh dua orang thaikam dan dibawa kepada kaisar dalam keadaan telanjang dan digulung selimut, kemudian dipanggul ke kamar kaisar. Hal ini terutama sekali untuk menjamin keamanan kaisar karena di jaman dahulu pernah terjadi kaisar dibunuh oleh seorang wanita yang dipaksa menjadi selirnya. Peraturan ini berlaku bagi semua selir atau dayang yang dipanggil kaisar, kecuali, tentu saja, Permaisuri yang sudah mendapatkan kepercayaan sepenuhnya dari kaisar, yang mempunyai kedudukan tinggi sehingga tidak sepatutnya mengalami perlakuan yang merendahkan itu.

Yehonala juga diharuskan bertelanjang lalu digulung dalam selimut dan dipanggul oleh dua thaikam, dibawa ke kamar kaisar dalam istana. Dan pada malam hari itu, Yehonala melayani Kaisar Sian Feng. Gadis ini memang cerdik bukan main. Walaupun ia seorang perawan yang selama hidupnya belum pernah berdekatan dengan pria, namun ambisinya yang besar mendatangkan kecerdikan dan ia mampu membuat kaisar merasa terbuai dalam kenikmatan yang belum pernah dialaminya sebelum ini. Dia sudah mulai merasa bosan dengan wanita-wanita Han yang menjadi selirnya karena wanita Han selalu bersikap lembut, malu-malu dan pasrah sebagaimana layaknya seorang wanita yang ingin disebut sopan. Akan tetapi Yehonala tidak demikan.

Dalam usahanya untuk menyenangkan dan memuaskan hati junjungannya, ia mau dan sanggup melakukan apapun juga! Ia bagaikan seekor kuda yang binal dan liar, dan hal ini merupakan pengalaman baru bagi kaisar.

Apalagi, hal yang amat diharapkannya terjadilah. Ia mulai mengandung dan yang lebih penting daripada segalanya, setelah kandungannya terlahir, ternyata seorang bayi laki-laki! Seorang putera kaisar, calon putera mahkota! Tentu saja hal ini bukan hanya amat menggirangkan hati Yehonala, bahkan juga amat membesarkan hati Kaisar dan para keluarganya. Kelahiran putera ini sekaligus mengangkat derajat Yehonala yang tadinya hanya seorang dayang dan kemudian menjadi selir, kini otomatis menjadi seorang permaisuri kedua, dengan kekuasaan yang di bawah Sang Permaisuri sendiri. Agaknya sudah menjadi hal yang sukar untuk dibantah lagi bahwa di dalam cinta asmara antara pria dan wanita, terdapat perbedaan yang amat besar. Walaupun tidak berani pengarang mengatakan bahwa kenyataan ini berlaku bagi semua orang, namun kebanyakan terbukti bahwa cinta seorang pria terhadap seorang wanita banyak sekali dipengaruhi oleh nafsu berahi,

Sedangkan cinta seorang wanita terhadap pria banyak sekali dipengaruhi oleh kemuliaan harta benda. Karena cinta yang dipengaruhi oleh keinginan untuk bersenang ini, baik bagi pria melalui kepuasan berahi, dan wanita melalui kepuasan harta benda, namun jelaslah bahwa cinta kasih seperti ini hanya akan menimbulkan bermacam masalah dan pertentangan saja. Kepuasan nafsu berahi dan kepuasan harta benda erat hubungannya dengan kebosanan dan kekecewaan, dan kalau sudah demikian maka selalu akan terjadi pertentangan di mana cinta kasih dapat berbalik sama sekali menjadi kebencian! Adakah cinta kasih antara pria dan wanita yang tanpa pamrih sehingga benar-benar merupakan cinta kasih yang murni tanpa dikotori keinginan pribadi untuk bersenang-senang? Kalaupun ada, jarang sekali kita melihatnya dan hal ini sungguh patut disayangkan.

Post a Comment