Halo!

Pemberontakan Taipeng Chapter 08

Memuat...

Dapat dibayangkan betapa kaget dan marah hatinya ketika dia mendapat kenyataan bahwa Giok-liong-kiam telah lenyap dari atas meja! Baru dia mengerti apa yang dikehendaki penjahat tadi memasuki kamarnya. Mencuri Giok-liong-kiam! Betapa beraninya! Masuk ke dalam kamarnya mencuri Giok-liong-kiam! Dan berhasil pula. Ong Siu Coan mengepal tinju, marah sekali. Akan tetapi diapun maklum bahwa peristiwa ini tidak boleh tersiar karena tentu akan mengurangi semangat para pembantunya. Maka, diam-diam dia lalu menyuruh buat sebatang Giok-liong-kiam palsu, hanya meniru gagang dan sarungnya saja dan menaruh Giok-liong-kiam itu di atas meja untuk menggantikan yang hilang.

Aku tahu siapa maling itu! kata Tang Ki ketika mereka berdua membicarakannya. Suaminya memandang tajam.

Engkau tahu? Siapa jahanam itu?

Menurut dugaanku, dia tentulah Lee Song Kim, bekas suhengku itu! Memang ayahnya, Hai-tok Tang Kok Bu, mempunyai seorang murid yang amat disayangnya, yang bernama Lee Song Kim, seorang yang memiliki kepandaian dan kecerdikan luar biasa. Bahkan karena Lee Song Kim maka Tang Ki sampai jauh dari ayahnya. Ayahnya menghendaki agar dia menikah dengan Song Kim, akan tetapi Tang Ki mencinta Ong Siu Coan dan tidak suka, bahkan benci kepada Song Kim. Hal ini membuat ayahnya marah dan ayahnya agaknya lebih suka kepada murid itu daripada kepada puterinya.

Lee Song Kim? Siu Coan mengerutkan alisnya. Bagaimana engkau dapat menyangka demikian?

Ketika aku menyerangnya, dia menangkis dengan gerakan dari jurus Ilmu Silat Thai-kek Kim-kong-jiu, dan siapa lagi kalau bukan dia yang pandai melakukan ilmu pukulan itu?

Ah, engkau juga? Siu Coan berseru kaget. Akan tetapi ketika dia menghadapi seranganku, dia juga mempergunakan jurus dari ilmu silatku, yaitu Ilmu Silat Ngo-heng Lian-hoan-kun! Tak mungkin kalau Lee Song Kim dapat memainkan silat perguruanku itu. Yang dapat melakukannya selain suhu dan aku, juga Gan Seng Bu dan Koan Jit. Akan tetapi, Gan Seng Bu telah mati dan suheng Koan Jit......

ahhh...... Tiba-tiba Siu Coan terbelalak, memandang isterinya seperti orang terkejut dan teringat akan sesuatu.

Ada apakah? tanya Tang Ki, hatinya merasa tidak enak. Suheng Koan Jit...... jangan-jangan dia orangnya......

Koan Jit? Tang Ki bertanya, matanya terbelalak dan wajahnya berobah.

Akan tetapi, bukankah dia telah tewas tertimpa batu-batu ketika ledakan itu membuat terowongan runtuh dan menimpa dirinya Ia membayangkan peristiwa yang mengerikan itu.

Ketika itu, para pendekar muda, pejuang-pejuang yang menentang pemerintah Mancu, berusaha membebaskan para pimpinan pejuang dan tokoh-tokoh tua yang ditawan karena terjebak oleh tipu muslihat yang diatur Lee Song Kim. Di dalam usaha mereka itu, mereka tidak berhasil, bahkan mereka sendiri terjebak dan terancam untuk tertawan, mati atau hidup, dan sudah tidak ada jalan keluar lagi ketika mereka terjebak dalam terowongan di bawah tanah yang menghubungkannya dengan tempat para pimpinan yang ditawan. Dalam keadaan tersudut dan tertodong senapan- senapan para perajurit kulit putih yang bersekongkol dengan pasukan pemerintah Mancu, tiba-tiba muncul Koan Jit yang dengan gagah perkasa menolong mereka dengan jalan menghadapi

para perajurit dengan alat-alat peledak di tangan! Dan Koan Jit meledakkan terowongan itu, membuat terowongan tertutup dan para serdadu tidak dapat mengejar mereka yang berhasil menyelamatkan diri, lolos bersama para pimpinan pejuang, akan tetapi Koan Jit sendiri tertimbun batu-batu terowongan yang runtuh menimpa dirinya. Benarkah Koan Jit teruruk batu-batu itu? Mereka tidak dapat melihatnya karena ketika ledakan-ledakan terjadi, debu dan asap menggelapkan tempat itu. Akan tetapi yang ditemukan hanyalah sebuah sepatu Koan Jit dan agaknya tubuh Koan Jit sudah hancur lebur atau mungkin juga tertimbun runtuhan batu-batu itu. Bagaimana mungkin sekarang Koan Jit dapat hidup kembali dan mencuri Giok-liong-kiam?

Akan tetapi, andaikata benar dia Koan Jit, berapapun lihainya, bagaimana dia mampu menangkisku dengan Thai-lek Kim-kong-jiu? Tang Ki membantah.

Itulah yang membingungkan dan meragukan...... Siu Coan menggeleng kepalanya dengan heran.

Bagaimanapun juga,kita harus mencari pusaka itu dan merampasnya kembali, kata Tang Ki.

Tidak mungkin...... kita berdua mana bisa pergi begitu saja seperti yang sudah- sudah? Aku adalah seorang raja dan engkau permaisuriku, tak mungkin pergi merantau untuk mencari pencuri pedang pusaka.

Kita mempunyai banyak pembantu yang pandai, kita dapat mengerahkan anak buah, mengerahkan pasukan istimewa untuk mencarinya sampai dapat. Ong Siu Coan menggeleng kepala.

Kita harus bertindak cerdik. Kita tidak membutuhkan Giok-liong-kiam, yang kita perlukan hanyalah namanya saja. dan sekarang Giok-liong-kiam bahkan tidak kita perlukan lagi. Bukankah pusaka itu telah berhasil menarik perhatian dan mengundang orang-orang gagah yang telah membantu gerakan kita sehingga berhasil? Kini kita tidak memerlukannya lagi. Biarlah saja ia dibawa pergi orang lain.

Tapi...... kita meminjamnya dari Ci Kong! Bagaimana kalau dia memintanya kembali?

Kalau dia datang memintanya kembali, barulah kepadanya kita berterus terang bahwa pusaka itu dicuri orang. Akan tetapi kita mendapatkan banyak pusaka rampasan dan kita boleh menggantinya dengan pusaka lain atau mengganti kerugian dengan benda berharga lainnya. Biarlah dia yang akan berusaha mencari kembali pusaka itu. Kita tidak membutuhkan Giok-liong-kiam lagi.

Demikian Ong Siu Coan menyuruh isterinya menyimpan peristiwa pencurian Giok- liong-kiam itu sebagai suatu rahasia. Dia tidak ingin semua orang tahu bahwa Giok-liong-kiam yang dipandang sebagai lambang kejayaan Tai Peng itu dicuri orang! Biarlah semua orang mengira bahwa Giok-liong-kiam masih berada dengan aman di dalam istananya. Memang Ong Siu Coan ini amat cerdik dan selalu bertindak dengan penuh perhitungan demi keuntungan sendiri.

***

Gadis itu memang cantik sekali, cantik dan manis, dengan bentuk muka bulat telur, dagu meruncing, sepasang alis yang hitam tebal panjang seperti juga rambutnya, sepasang mata yang tajam dan bening, hidung kecil mancung dan mulut yang amat manis dengan bibir yang selalu merah basah dan menantang. Akan tetapi, kadang-kadang nampak sifat dingin dan kejam pada mulut itu. Untuk melengkapi keindahan tubuh gadis itu, bentuk tubuhnya juga amat menarik, dengan pinggang yang kecil ramping, tinggi semampai dan lekuk lengkung tubuh yang menggairahkan. Gadis berusia tujuh belas tahun ini memang amat cantik manis, bagaikan setangkai bunga yang mulai mekar. pembawaannya lincah jenaka dan segala yang nampak di sekitarnya menjadi cerah menggembirakan. Dari bentuk pakaiannya mudah diketahui bahwa ia adalah seorang gadis berbangsa Mancu yang pada saat itu menjadi dayang istana Terang Sempurna di taman Yuan-beng-yuan,

Dan sebagai seorang di antara para dayang yang berada di situ, ia ditugaskan untuk menjaga dan mengurus sebuah pondok kecil di sudut taman. Gadis itu bernama Yehonala, sebuah nama Mancu yang berarti Anggrek Kecil. Ia adalah seorang di antara enam puluh empat orang perawan Mancu yang didatangkan oleh permaisuri kaisar untuk menggantikan selir-selir berbangsa Han karena permaisuri khawatir bahwa kelak suaminya akan mempunyai keturunan putera dari bangsa Han. Akan tetapi biarpun Yehonala amat menonjol dalam kecantikan dan sikapnya di antara semua perawan yang dibawa ke istana, ketika kaisar memeriksa gadis-gadis itu, datang berita yang amat tidak menyenangkan mengenai didudukinya Wu-cang dan Nan- king oleh pasukan pemberontak Tai Peng.

Maka perhatian kaisar yang terpecah dan terganggu membuat Kaisar Sian feng tidak melihat Yehonala. Yehonala adalah puteri sulung seorang pejabat menengah berbangsa Mancu. Gadis ini sudah banyak mengunjungi banyak tempat, mengikuti ayahnya ketika ayahnya bertugas dan dipindah-pindahkan ke banyak kota. Hal ini membuat Yehonala lebih berpengalaman daripada gadis-gadis Mancu yang lain, dan ia memiliki banyak kelebihan. Bukan hanya kecantikan wajah dan kepadatan tubuhnya, juga ia pandai merias diri dan pandai pula menyanyi dengan suara merdu. Ia banyak mengenal lagu-lagu rakyat berbagai daerah dan pandai menyanyikannya dengan suara yang merdu. Selain itu, juga Yehonala berakal, cerdik dan pandangan luas dan jauh. Mula-mula ia memang merasa kecewa karena agaknya kaisar mengacuhkannya dan tidak memilihnya menjadi selir,

Bahkan semenjak ia berada di taman itu, belum pernah satu kalipun kaisar menaruh perhatian terhadap dirinya. Akan tetapi, ia menekan kekecewaannya dan kecerdikannya membuat ia berusaha sedapatnya untuk menarik perhatian kaisar.

Post a Comment