Halo!

Pedang Ular Merah Chapter 77

Memuat...

"Li Lan, mengapa kau menahanku membikin mampus penjahat ini?" tanya Pat-jiu Toanio dengan pandang mata tajam penuh tanya.

"Apakah bimbinganku selama ini sia-sia belaka dan hatimu masih terisi oleh manusia jahanam ini?"

"Ah, tidak, tidak! Harap jangan salah sangka, Li suthai! Teecu hanya ingin mencegah pembunuhan yang salah alamat. Ketahuilah, pemuda ini sama sekali bukan Sim Tiong Kiat!"

Pendeta wanita ini memang Li Lan, bekas kekasih Tiong Kiat yang disia-siakan dan kemudian dipungut murid oleh Pat jiu Toanio, Kalau lain orang dapat salah lihat dan mengira Tiong Han orang lain, tidak demikian dengan Li Lan. Wanita ini pernah mencinta Tiong Kiat dengan seluruh jiwa raganya, maka sekali lihat saja ia akan mengenal apakah pemuda itu Tiong Kiat atau bukan. Tadi ia sedang berlatih diri dan bersamadhi di dalam kamar di kuil itu, akan tetapi ketika mendengar bentakan bentakan Pat-jiu Toanio dan jawaban lemah dari Tiong Han, hatinya tertarik lalu ia melompat keluar.

Sekali pandang saja biarpun tadinya ia tertegun dan terkejut melihat persamaan rupa pemuda ini dengan bekas kekasihnya, ia tahu bahwa pemuda ini bukan Tiong Kiat dan bahwa gurunya telah salah lihat.

Pat-jiu Toanio menjadi terkejut, lalu marah ketika mendengar seruan Li Lan tadi.

"Li Lan, jangan kau mencoba untuk menolong pengecut ini dari kematian. Mataku belum buta dan sekali mau melihat orang, aku takkan melupakannya lagi."

"Sungguh Li suthai, pemuda ini bukan Tiong Kiat!" kata Li Lan yang segera menghampiri Tiong Han sambil berkata,"Tiong Kiat pernah bercerita kepadaku bahwa ia mempunyai seorang saudara kembar, bukankah kau ini orangnya?"

Tiong Han masih saja tersenyum sedih dan biarpun ia tidak tahu siapa adanya gadis yang mukanya seperti Eng Eng ini ia dapat menduga bahwa gadis inipun tentu seorang bekas korban kebiadaban adiknya yang jahat.

"Kauwnio mengapa kau datang menghalangi Pat jiu Toanio yang hendak membunuhku? Biarlah ia membunuhku kalau memang dia percaya bahwa aku adalah orang yang dicari-carinya."

Pat jiu Toanio melompat dengan muka pucat.

"Apa?? Betulkah kau bukan Sim Tiong Kiat yang jahat itu?"

"Pat jiu Toanio, tadi aku pernah menyebut namaku, akan tetapi agaknya kau terlalu marah sehingga tidak memperhatikan. Aku adalah Sim Tiong Han, kakak dari Sim Tiong Kiat yang kau cari-cari itu. Ketahuilah bukan hanya kau yang marah kepada adikku itu, bahkan aku sendiri telah lama mencari-carinya akan tetapi akhirnya bahkan menerima kekalahan dan hinaan daripadanya." Pemuda ini menarik napas panjang dengan muka muram.

Dengan tergopoh-gopoh, Pat-jiu Toanio lalu mengetuk kedua lutut Tiong Han untuk menyembuhkan pemuda itu.

"Aduh, maafkan aku yang sudah tua, anak muda! Jadi kau ini murid Lui Thian Sianjin yang mendapat tugas mencari murid murtad itu? Ada juga Lui Thian bercerita kepadaku, akan tetapi dia tidak mengatakan bahwa kau adalah kakak dari sikhianat itu dan bahwa mukamu sama benar dengan penjahat muda itu."

"Toanio, kami adalah saudara kembar, salahkah aku kalau muka kami bersamaan?"

Pat jiu Toanio menghela napas berkali-kali,

"Jadi kau telah bertemu dengan dia dan dikalahkan? Karena itukah maka kau seperti orang nekad dan rela mati di bawah tongkatku? Apakah kau sudah putus asa?"

"Benar, Toanio. Tidak saja aku kalah, bahkan pedang pusaka Ang-coa kiam yang kubawa terampas pula dan agaknya selama hidupku aku takkan dapat menunaikan tugas yang dipercayakan oleh suhu kepadaku. Karena penjahat yang dikejar-kejar adalah adik kembarku sendiri bukankah hal ini akan menimbulkan anggapan bahwa aku sengaja tidak mau menyerang adikku? Bahwa aku sengaja melindunginya?"

"Hm, jangan gelisah dan kuatir, orang muda. Aku sudah sampai di sini, tunjukkan saja di mana adanya adikmu yang jahanam itu. Aku yang akan menamatkan riwayatnya!"

"Tidak ada gunanya, Toanio. Tetap saja orang akan mengira bahwa aku melindungi adikku sendiri. Pula, penangkapan atas diri Tiong Kiat harus kulakukan sendiri, tidak boleh orang Iain. Betapapun juga, dia adalah adik kandungku, dan aku tidak rela melihat dia binasa di tangan orang lain."

Pat-jiu Toanio menggeleng-geleng kepalanya.

"Kau orang muda yang aneh tapi jujur dan berbudi mulia. Sim Tiong Han, kalau kau ingin mengalahkan adikmu mengapa kau tidak minta belajar silat dari aku?"

Tiong Han tertegun. Tak disangkanya bahwa nenek yang galak ini akan mau memberi pelajaran ilmu kepandaian kepadanya. Tentu saja ia menjadi girang dan cepat menjatuhkan diri berlutut.

"Kalau suthai sudi menolong teecu, tentu saja teecu akan merasa girang dan bersukur sekali."

Terdengar suara ketawa yang merdu dari nenek ini.

"Anak lucu! Kalau gurumu melihat, tentu kau akan ditegur mengapa tidak dari tadi tadi minta belajar ilmu silat dari padaku. Dulu ketika aku masih seringkali mengadakan pertemuan dan mengobrol dengan gurumu tentang ilmu silat pernah kami mencoba kelihaian Ang coa kiamsut yang menjadi kepandaian pusaka dari Kim-liong pai. Pada waktu itu kira-kira dua puluh tahun yang lalu memang aku tidak dapat memecahkan bagian-bagian terakhir dari Ang coa-kiamsut yang lihai. Pada waktu itu, selain Hek-sin-mo orang aneh itu dan Lui-kong jin Keng Kin tosu tokoh dari Hongsan, tak seorangpun dapat mengalahkan atau memecahkan Ang-coa-kiamsut.

Akan tetapi, selama ini aku mencari-cari dan akhirnya aku dapat menciptakan ilmu silat tangan kosong yang terdiri hanya dari dua belas jurus yang kunamai Kong jiu cap ji kun [Silat Tangan Kosong Dua Belas Macam). Biarpun hanya dua belas jurus, akan tetapi kalau kau dapat mempelajarinya dengan baik kurasa dengan tangan kosong kau akan sanggup menghadapi pedang di tangan adikmu itu!"

Tiong Han merasa girang sekali dan mulai saat itu juga ia mempelajari ilmu silat itu di kuil bobrok. Ternyata bahwa dua belas jurus pukulan itu ternyata mempunyai perkembangan yang Iuas sekali dan Tiong Han harus akui kehebatan ilmu silat ini. Selain ilmu silat ini, iapun menerima petunjuk-petunjuk tentang ginkang dari nenek itu sehingga ilmu meringankan tubuh dari Tiong Han makin maju saja.

Selama lima hari, terus menerus ia berlatih diri dan karena ia memang berbakat, dan telah memiliki dasar ilmu silat tinggi, dalam waktu Iima hari saja ia telah dapat mainkan Kong jiu cap ji-kun dengan amat baiknya.

Pada senja hari kelima, Pat jiu Toanio Li Bie Hong sengaja minta pemuda itu memperlihatkan ilmu silat yang baru dipelajarinya itu, ditonton pula oleh Li Lan yang sementara itu telah kenal baik dengan Tiong Han. Pendeta wanita ini amat suka kepada Tiong Han yang halus dan sopan santun dan diam-diam ia mengakui betapa jauh perbedaan antara Tiong Han dan Tiong Kiat. Tiong Han memenuhi permintaan gurunya yang baru dan ia berniat dengan bersungguh-sungguh, mengeluarkan segala gerak tipu dari dua belas jurus ilmu silat itu.

"Bagus, bagus, suci Bie Hong! Kong-jiu cap ji-kun yang kauciptakan ini benar-benar hebat dan kau mempunyai ahli waris yang benar benar cocok dan pantas mewarisi ilmu silat ini!" Ucapan ini dikeluarkan dan terdengar jelas, akan tetapi orangnya tidak kelihatan dan baru setelah gema suaranya lenyap, berkelebatlah bayangan hitam dan tahu-tahu di depan mereka berdiri seorang kate yang bermuka aneh dan berpakaian hitam seluruhnya!

IniIah Lui kong jiu Keng Kin Tosu, tokoh di Heng san yang berkepandaian tinggi sehingga mendapat julukan Lui kong jiu atau Si Tangan Geledek! Usia orang ini sudah tua, akan tetapi wajahnya nampak berseri, tanda bahwa ia adalah seorang yang berwatak gembira. Semenjak dahulu ia memang menganggap Pat jiu Toanio sebagal saudara tua, bahkan ia selalu memanggil "enci" kepada nenek itu.

"Aha, Keng Kin Tosu, baru sekarang kau muncul! Kukira kau akan bersembunyi di dalam gua menanti kematianmu setelah kau kecewa karena salah menerima murid." kata Pat-jiu Toanio yang kemudian berkata kepada Tiong Han dan Li Lan.

"Berilah hormat kepada susiok kalian. Dia ini jelek-jelek adalah Lui-kong Jiu Keng Kin Tosu, orang nomor satu dari Heng san yang mempunyai kepandaian jauh lebih tinggi dari pada aku sendiri!"

Li Lan tentu saja belum pernah mendengar nama ini, dan ia memberi hormat karena gurunya yang memperkenalkan. Akan tetapi Tiong Han sudah seringkali mendengar suhunya di Liong-san menyebut-nyebut dan memuji setinggi langit nama Keng Kin Tosu ini, maka dengan girang ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan tosu kate itu.

Keng Kin Tosu mengangguk-angguk. Dengan tangan kiri ia menjambret baju pada pundak Li Lan dan sekali ia menarik, pendeta wanita muda ini tak terasa lagi terangkat bangun karena ada tenaga raksasa terasa olehnya menarik tubuhnya ke atas. Dengan tangan kanannya, tosu itu melakukan haI yang sama kepada Tiong Han, akan tetapi pemuda ini yang maklum bahwa susiok yang aneh ini sedang mengujinya, lalu mengerahkan tenaganya, maka segera terdengar suara kain robek. Ternyata bahwa bajunya bagian pundak itu yang tidak dapat bertahan dan menjadi robek terbawa oleh jepitan dua jari kakek itu.

Keng Kin Tosu tersenyum dan kini ia tidak menggunakan jari tangan menjepit baju melainkan menggunakan semua jari jari tangan kanannya untuk memegang pundak Tiong Han dan ditariknya pemuda itu bangun. Kembali Tlong Han terkejut. Kalau tadi ia merasa tenaga raksasa menarik bajunya, sekarang ia merasa betapa tangan susioknya itu dingin seperti salju yang menempel dan menyedot pundaknya sehingga ia merasa pundaknya membeku! Cepat-cepat ia mengerahkan sinkangnya yang disalurkan ke arah pundak kanannya dan ketika ia merasa betapa tangan susioknya itu merupakan jepitan yang mencengkeram pundaknya dan menariknya ke atas dengan tenaga yang tak terkira besarnya, ia cepat mempergunakan tenaga Thi su-cui (Tenaga Gunung Baja) untuk memberatkan tubuh sehingga kedua kakinya seakan-akan berakar pada tanah!

Ketika tosu itu nampaknya tertegun dan menahan kembali tenaganya mengangkat, Tiong Han cepat mengalirkan Iweekangnya sehingga pundaknya yang masih tersentuh oleh jari tangan Keng Kin Tosu itu tiba-tiba menjadi lemas seperti kapas!

"Ha, ha, ha, bagus, bagus!" kata Keng Kin Tosu dan tiba-tiba sekali dua buah jari tangannya menekan, disusul pula oleh jari tangan kiri yang kini memegang pundak pemuda itu.

"Bangunlah, anak muda yang gagah!" bentaknya.

Tiong Han terkejut sekali karena

betapapun ia mengerahkan lweekang, tetap saja jari-jari tangan kakek itu dapat menembus pertahanannya, dan sedlkit pencetan saja pada jalan darah di pundaknya, seketika itu juga buyarlah semua tenaganya dan dengan mudah tubuhnya terangkat ke atas! Namun karena Tiong Han memang sudah berjaga-jaga dan terlatih baik, tubuhnya yang terangkat itu masih tetap berada dalam keadaan berlutut! Lagi-lagi Keng Kin Tosu memuji.

"Bagus sekali, sekarang awaslah tubuhmu akan terbanting!"

Post a Comment