"Kau benar-benar keras kepala, Han-ko. Betapapun juga tentu saja aku masih berat nyawaku dari pada nyawamu. Nah, majulah, hendak kulihat bagaimana kau akan mengalahkan aku?" kata Tiong Kiat akhirnya sambil mencabut pedangnya yang berkilauan putih, yakni pedang Hui-liong-kiam yang dulu ia terima dari Tiong Han.
"Kali ini kau atau aku, Tiong Kiat!" kata Tiong Han yang cepat mencabut pedang Ang coa kiam.
Untuk sesaat keduanya saling pandang dengan harapan terakhir kalau-kalau saudaranya akan mengalah, akan tetapi setelah mereka yakin bahwa pandang mata masing-masing yang bernyala dan bersemangat itu, hampir berbareng keduanya lalu maju menerjang, menggerakkan pedang dengan hebat!
Sebentar saja, keduanya lenyap ditelan gelombang sinar pedang merah dan putih yang saling membelit. Bukan main hebatnya pertandingan antara dua orang murid terpandai dari Kim liong-san ini.
Sebetulnya kalau dinilai dari kepandaiannya mungkin Tiong Kiat masih menang tingkat. Memang pemuda ini lebih baik bakatnya dari pada kakaknya maka dengan kitab Ang coa-kiamsut berada di tangannya, ia telah mewarisi seluruh ilmu pedang itu dan gerakannya juga lebih lemas dan cepat dari pada Tiong Han. Akan tetapi, Tiong Han memiliki ketenangan dan tenaga serta semangatnya agak lebih menang. Hal ini bukan karena Tiong Kiat kurang melatih tenaga Iweekang dan semangat, melainkan karena pemuda ini banyak main gila maka tanpa disadarinya, tenaga Iweekangnya banyak melorot. Kemenangan dalam hal inilah yang membuat Tiong Han dapat mengimbangi permainan pedang adiknya yang benar-benar lihai itu.
Pertempuran sudah berjalan seratus jurus dan biarpun dengan pedang Hui-liong kiam Tiong Kiat sudah mulai dapat mendesak pedang Ang coa kiam di tangan kakaknya, namun napasnya mulai senin kemis dan peluhnya telah membasahi jidatnya.
Telah sejak tadi Oei Sun dan Go-bi Ngo-koai-tung berada di tempat itu menyaksikan pertempuran yang bukan main hebatnya ini. Mereka menonton bagaikan kena pesona karena sesungguhnya belum pernah mereka menyaksikan pertandingan pedang sehebat itu. Apalagi pedang yang dimainkan oleh sepasang saudara kembar ini mengeluarkan sinar putih dan merah sehingga nampak sekali kehebatan ilmu pedang itu.
Tadinya Oei Sun dan kelima orang pendeta itu tidak mau mencampuri urusan Tiong Kiat sebagaimana yang telah dipesan oleh perwira muda itu, dan ketika melihat betapa pedang Tiong Kiat mampu mendesak hebat lawannya, merekapun berdiri menonton saja dengan kagum. Akan tetapi ketika Go-bi Ngo koai melihat Tiong Kiat yang hampir kehabisan napas dan berpeluh, sedangkan lawannya masih tenang dan kuat, mereka mengerutkan kening.
"Lawan dari Sim ciangkun ini tidak boleh dibuat main-main. Kalau kita tidak membantu dan Sim-ciangkun roboh binasa, bukankah merupakan satu kerugian besar?" kata Thian It Tosu kepada adik-adiknya. Mereka menyatakan setuju dan diam-diam Iima orang tosu ini mengeluarkan tongkat masing-masing, siap sedia untuk menyerbu.
Oei Sun mendapat sebuah pikiran baik.
"Jangan bunuh dia"" katanya perlahan.
"tangkap saja, siapa tahu kita akan dapat mempergunakan tenaganya pula!" Thian It Tosu mengangguk dan setelah memberi isarat kepada adik-adiknya mereka bersama lalu menyerbu dan tiba-tiba menyerang Tiong Han dengan hebat sekali.
"Ngowi totiang jangan membantuku!" Tiong Kiat masih mencoba untuk berseru keras lalu disambungnya "Jangan bunuh dia!"
Akan tetapi, kelima orang pendeta itu sudah bergerak dan serangan mereka yang dilakukan berbareng, ditambah serangan dari Tiong Kiat sendiri, membuat Tiong Han kewalahan sekali. Ia masih mencoba untuk memutar pedang merahnya guna membabat putus tongkat-tongkat itu, akan tetapi ternyata lima tongkat butut itu tidak dapat terbabat putus! Tentu saja ia menjadi kaget sekali dan biarpun ia telah mengerahkan seluruh kepandaiannya, menghadapi keroyokan ini ia amat terdesak dan keadaannya amat berbahaya.
"Ngowi totiang jangan celakai saudaraku!" Tiong Kiat masih mencoba untuk mencegah lima orang pendeta Pek Iian-kauw itu, akan tetapi terlambat karena Tiong Han melepaskan Ang Coa kiam dan roboh dengan tubuh lemas. Ia telah terkena totokan tongkat Thian It Tosu yang amat lihai.
"Pinto terpaksa merobohkannya, Sim ciangkun karena keadaanmu tadi amat berbahaya. Mana bisa kami mendiamkannya saja?" kata Thian It Tosu.
"Dan pula, apapun juga yang menjadi sebab pertempuran dan perselisihanmu dengan saudaramu, sebagai seorang gagah ia harus mengerti bahwa melawan seorang perwira berarti memberontak terhadap kaisar! Untuk perbuatannya ini ia harus dijatuhi hukuman militer!" kata Oei Sun kepada Tiong Kiat. Tiong Kiat menjadi pucat wajahnya. Ia menengok ke arah Tiong Han yang masih rebah tak dapat bergerak itu dan rasa iba memenuhi dadanya.
"Jangan, Oei ciangkun. Kuminta kepadamu, demi persahabatan kita, jangan kau menjatuhkan hukuman kepada kakakku ini. Ia memang keras hati akan tetapi"ia jauh lebih baik dari padaku. Harap kau suka ampunkan dan lepaskan dia""
Oei Sun memungut pedang Ang coa kiam yang tadi terlepas dari tangan Tiong Han,
"Pedang bagus"!" katanya.
"ltu adalah Ang coa-kiam pedang pusaka perguruan kami." kata Tiong Kiat.
Oei Sun tercengang, lalu memberikan pedang itu kepada Tiong Kiat.
"Jadi pedang inikah yang telah mengangkat namamu sehingga kau dijuluki Ang coa-kiam, Sim ciangkun? Kalau begitu, harus kau yang memiliki pedang ini."
Tiong Kiat menerima pedang itu dan tidak berkata sesuatu, hanya memandang kepada Oei Sun sambil mengharapkan keputusan tentang kakaknya.
"Saudara Sim, biarpun kakakmu sudah melakukan pelanggaran dan dengan mengacau di depan benteng berarti ia telah menghina aku dan pasukanku, akan tetapi kalau saja dia suka membantu kita dan berbakti kepada negara, tentu dengan sukahati aku akan membebaskannya dari segala hukuman."
Tiong Kiat berpikir sejenak dan berserilah mukanya. Mengapa tidak? Kalau Tiong Han dapat mengikuti jejaknya, menjadi seorang perwira, tentu hubungan mereka menjadi baik kembali dan ia tak usah takut menghadapi pembalasan dari fihak Kun lun pai atau musuh-musuh yang lain. Ia lalu menghampiri kakaknya dan cepat membebaskan totokan yang dilakukan oleh Thian It Tosu tadi. Tiong Han menggeliat dan setelah jalan darahnya pulih kembali, ia lalu melompat bangun, Tiong Kiat segera memeluknya.
"Han-ko, dengarkah kau tadi? Oei ciangkun yang bijaksana dan budiman ini tidak saja suka mengampuni kesalahanmu, bahkan ia bersedia mengangkatmu menjadi seorang perwira seperti aku. Han ko, marilah kita lupakan yang sudah-sudah dan kita bersama membuka hidup baru di sini mengikuti jejak mendiang ayah kita!"
Tiong Han memandang kepada Oei Sun dan kepada lima orang pendeta yang merobohkan dia tadi. la mencoba tersenyum, akan tetapi senyumnya pahit.
"Tak kusangka bahwa di dalam benteng terdapat pendeta yarg lihai dan tak pernah kukira pula bahwa orang-orang pemerintah suka mencampuri urusan pribadi orang lain. Sebuah tugas dari suhu yang diserahkan kepadaku saja sampai hari ini aku tak dapat memenuhinya, bagaimana aku dapat menerima tugas lain dari pemerintah? Tidak, Tiong Kiat jangan kau mencoba membujukku. Kalau kau suka ikut dengan aku ke Liong-san, mungkin kelak aku akan kembali ke sini untuk menghaturkan terima kasih kepada kawan-kawanmu ini, dan mungkin pula aku akan menggantikan kau mengabdi kepada negara!"
"Benar-benar keras kepala, Ngo wi totiang, tangkap saja dia, akan kuberi hukuman yang layak!" kata Oei Sun. Go-bi Ngo-koai tung bergerak, akan tetapi Tiong Kiat melompat dan mencegah mereka.
"Jangan"! Oei ciangkun, jangan tahan dan hukum dia! Harap kau memandang mukaku!"
Oei Sun mengangkat pundaknya,
"Kau terlalu lemah, Sim ciangkun. Biarlah memandang mukamu, aku maafkan dia. Akan tetapi pedangnya harus dirampas, jangan kau kembalikan kepadanya. Orang keras kepala seperti ini berbahaya sekali membawa pedang pusaka. Nah suruhlah dia pergi dari sini!"