"Nah, Sim ciangkun, bukankah pedangmu itu telah menjadi seekor ular putih lagi sekarang?"
Tiong Kiat menengok ke arah pedang yang tergantung di pinggangnya, dan alangkah kagetnya melihat bahwa yang tergantung di pinggangnya bukan Hui liong-kiam di dalam sarung pedang, melainkan seekor ular putih! Berubah wajah Tiong Kiat dan ia telah melakukan gerakan cepat sekali melompat turun dari harimau besar itu dan hendak melemparkan pedangnya. Akan tetapi Thian It Tosu menggerakkan tangannya dan berkata,"Sim ciangkun, sabarlah. Semua itu hanyalah bayangan belaka! Harimau dan ular lenyap, yang kau duduki sebuah bangku biasa dan pedangmu masih Hui-liong-kiam yang ampuh!" Betul saja, harimau dan ular itu tak nampak lagi dan kini mata Tiong Kiat melihat benda-benda biasa. Ia menjadi heran dan merahlah mukanya.
"Hebat," katanya menarik napas panjang,"Totiang, kau benar-benar lihai sekali. Bagaimanakah manusia bisa mempelajari ilmu seperti itu?"
"Sim ciangkun, apakah kau ingin mempelajari ilmu sihir seperti itu?"
"Tentu saja, totiang. Akan girang sekali hatiku kalau aku dapat memiliki kepandaian yang aneh itu hingga lain kali bertemu dengan lawan seperti Ma Goan, aku takkan mendapat malu lagi."
"Akan tetapi," tiba-tiba Oei Sun berkata,"kau mempelajari ilmu ini, berarti kau mempelajari ilmu dari Pek lian-kauw." Sambil berkata demikian, Oei Sun memandang tajam sekali, kemudian setelah ia melihat keraguan di wajah Tiong Kiat, ia menyambung.
"Akan tetapi aku sendiri pernah mempelajari ilmu itu saudara Tiong Kiat. Kau lihatlah baik-baik bukankah yang kududuki inipun seekor harimau yang gagah dan besar sekali?" Tiong Kiat memandang dan.... betul saja! Oei Sun bukan duduk di atas bangku yang tadi lagi, melainkan di atas seekor harimau yang besar!
Oei Sun segera menyimpan kembali ilmunya dan berkata sambil tertawa.
"Saudara Tiong Kiat, terus terang saja aku sendiri pernah mempelajari ilmu sihir dari Pek-lian kauw. Kau lihat, Pek lian-kauw adalah sebuah perkumpulan orang-orang gagah yang memiliki kepandaian tinggi dan dulu dibasmi hanya karena hasutan orang-orang yang merasa iri hati dan yang berkali-kali dikalahkan oleh Pek-lian kauw."
"Akan tetapi" aku mendengar bahwa perkumpulan itu telah melakukan kejahatan-kejahatan hebat..." kata Tiong Kiat.
Thian It Tosu tertawa bergelak.
"Ha, ha, ha. Sim-ciangkun, kau benar-benar masih hijau dan belum berpengalaman. Mana ada orang-orang yang membenci sesuatu membicarakan soal-soal baik tentang yang dibencinya? Kami akui bahwa tentu saja ada dahulu anggauta-anggauta Pek lian kauw yang jahat dan menyeleweng akan tetapi dunia manakah yang tidak ada kambing hitamnya? Menurut pandanganmu, Sim-ciangkun, apakah pinto berlima dan juga Oei ciangkun ini patut disebut orang-orang jahat?"
Tiong Kiat harus mengakui kebenaran kata-kata ini dan kini ia tidak begitu benci lagi mendengar nama Pek-lian-kauw. Kemudian dengan amat pandainya Thian It tosu dan Oei Sun memuji-muji Pek Iian kauw dan menyatakan penyesalannya terhadap pemerintah yang dapat dihasut oleh orang jahat sehingga Pek lian-kauw dibasmi. Tiong Kiat diam-diam terkena juga oleh bujukan dan hasutan ini dan diikutinya pula bahwa pemerintah kurang bijaksana dalam urusannya menghadapi Pek Iian kauw! Apalagi setelah Thian It Tosu menyatakan hendak memberi pelajaran ilmu gaib kepadanya, makin sukalah hati Tiong Kiat terhadap orang orang Pek-lian-kauw yang dianggapnya benar-benar orang gagah yang setia terhadap negara dan bangsa!
Telah lama kita meninggalkan Tiong Han, pemuda bernasib malang yang banyak mengalami penderitaan batin karena perbuatan adiknya yang amat disayanginya itu. Semenjak pertemuannya dengan sumoinya, Can Kui Hwa yang sudah mendapat jodoh dengan pemuda Un Leng dan mendengar penuturan sumoinya itu tentang perlakuan Tiong Kiat terhadapnya, Tiong Han merasa makin sedih dan juga gemas.
Bagaimana Tiong Kiat sampai menjadi demikian jahat? Aku harus dapat mencarinya, aku harus menangkapnya dan membawanya kepada suhu! Pikiran Tiong Han sudah tetap, karena kalau makin banyak adiknya melakukan perbuatan jahat, ia merasa bertanggung jawab juga dan merasa ikut berdosa.
Sampai berbulan-bulan ia merantau mencari jejak adiknya, dan akhirnya ia mendengar bahwa Tiong Kiat telah menjadi seorang perwira! Tentu saja ia merasa heran sekali akan tetapi oleh karena berita ini ia terima dari orang-orang suku bangsa lain yang tinggal di utara dan keterangan mereka itu hanya samar-samar ia belum percaya benar. Betapapun juga, ia lalu mengejar ke utara.
Dari seorang di antara para pedagang yang seringkali melakukan perjalanan jauh ke utara, ia mendengar tentang seorang perwira yang bekerja dalam benteng panglima Oei di dekat Sungai Sungari. Tiong Han masih belum percaya kalau adiknya bisa menjadi perwira akan tetapi oleh karena tidak tahu harus mencari ke mana ia pergi juga ke daerah itu. Di sepanjang jalan ia mendengar tentang pertempuran antara suku bangsa Cou melawan suku bangsa Ouigour, akan tetapi berita ini tidak begitu menarik perhatiannya, ia hanya bertanya-tanya di mana adanya benteng dari panglima she Oei yang menjaga tapal batas sebelah utara ini.
Pada suatu pagi, tibalah ia di kota yang hanya terpisah sepuluh li dari benteng di mana orang yang dicarinya berada! Kota ini kecil saja akan tetapi di situ banyak terdapat orang-orang berdagang atau lebih tepat bertukar barang dengan penduduk di utara ini. Juga terdapat rumah-rumah makan dan rumah-rumah penginapan.
Ketika Tiong Han memasuki kota ini, ia menjumpai keganjilan-keganjilan ketika beberapa orang yang sama sekali tidak dikenalnya dan belum pernah dilihatnya selama hidup, ketika bertemu dengan dia lalu memberi hormat! Akan tetapi oleh karena sudah terlalu sering mengalami hal aneh, Tiong Han bahkan menjadi girang sekali karena yakinlah bahwa Tiong Kiat pasti berada di tempat yang tidak jauh! Ia maklum bahwa orang-orang yang memberi hormat kepadanya itu tentu mengira bahwa dia adalah Tiong Kiat. Akan tetapi, untuk kesekian kalinya, ia mengalami hal yang tidak enak saja yang ditimbulkan oleh persamaan mukanya dengan adiknya yang manis itu. Ketika ia berjalan dengan tindakan tenang di depan sebuah toko obat, tiba-tiba seorang laki-laki setengah tua melompat keluar dari toko itu, mencabut golok dan menyerangnya dengan kalap sambil berseru,"Bangsat rendah! Kembalikan anakku....!"
Orang yang kalap itu menyerangnya dari samping dengan golok dibacokkan ke arah dadanya. Tentu saja serangan ini sama sekali tak membikin gugup pada Tiong Han, akan tetapi benar-benar membuatnya merasa kaget dan heran. Ia cepat mengelak dan berkata,
"Sahabat, perlahan dulu. Ada urusan baik dibicarakan dulu, jangan terburu nafsu menyerang orang di jalan!"
"Manusia tidak tahu malu! Iblis bermuka manusia mau bicara apalagi? Hanya ada dua pilihan bagimu, hidupkan kembali anakku atau kau harus mampus menyusul anakku....!" Dan kembali golok yang agaknya telah berhari-hari diasah sehingga menjadi berkilat tajamnya itu menyambar ke arah leher Tiong Han.
Kembali dengan amat mudahnya serangan itu dapat dielakkan oleh Tiong Han dan karena pemuda ini merasa mendongkoI juga dengan sekali menggerakkan tangan ia melakukan tipu gerakan Kim liong jiauw (Naga Emas Mengulur Kuku) dan dengan amat mudahnya terampaslah golok itu dari tangan penyerang.
"Sabar"sabar, sahabat. Jangan main-main dengan golok tajam," sambil berkata demikian Tiong Han menjepit golok itu di antara tangannya dan sekali ia mengerahkan tenaga, terdengar bunyi pletak dan patahlah golok itu pada tengah-tengahnya. Ia melempar potongan golok itu ke atas tanah. Akan tetapi baru saja ia hendak menghadapi penyerangnya untuk ditanyai keterangan tentang kelakuannya yang aneh ini datanglah berlari-lari lima orang tentara yang cepat memberi hormat kepadanya dan tanpa banyak cakap, lima orang tentara itu lalu menyeret kedua tangan penyerang itu.
"Bangsat she Sim ....! Biarpun aku akan mati lihat saja, rohku akan menjadi setan penasaran dan akan mengejarmu selalu.....! Kau perusak rumah tangga, pengganggu wanita, kau manusia"" Baru saja memaki sampai di situ, seorang di antara lima orang penangkapnya itu mengayun tangan menampar mulutnya. Orang itu mengeluh dan menundukkan mukanya. Darah mengalir dari mulut dan hidungnya!
Melihat orang itu diseret-seret dan mendengar kata-katanya, Tiong Han dapat menduga bahwa kembali Tiong Kiat telah membuat gara-gara. Ia merasa kasihan sekali kepada orang tua itu. Dengan beberapa lompatan saja ia telah dapat mengejar.
"Lepaskan dia!" serunya dengan keras. Ia telah siap sedia untuk memukul tentara yang lima orang banyaknya itu kalau mereka melawan, akan tetapi kembali mereka memberi hormat, dan hanya memandang dengan terheran.
"Akan tetapi... Sim-ciangkun......." kata seorang diantara mereka.
Tiong Han merasa sebal sekali. Ia maklum bahwa Tiong Kiat agaknya benar-benar telah menjadi seorang perwira dan lima orang tentara ini tentulah anak buahnya.
"Lepaskan dia, dan pergilah kalian!" Ia berseru lagi dengan marah.
Lima orang itu lalu mengangkat pundak lalu meninggalkan tempat ini tanpa berani banyak cakap lagi. Adapun orang tua itu kini memandang kepada Tiong Han dengan mata terbelalak.
"Kau melepaskan aku.......apakah kau hendak menghukum aku dengan tanganmu sendiri? Orang muda tidak berbudi, jangan kaukira bahwa aku takut mati setelah apa yang kaulakukan terhadap puteriku!"
Tanpa bertanya lagi Tiong Han sudah dapat menduga apa yang telah dilakukan oleh Tiong Kiat terhadap puteri dari orang ini. Mukanya berobah merah saking marah dan gemasnya terhadap Tiong Kiat.
"Sudahlah, lebih baik kau pulang saja. Orang yang berbuat dosa pasti akan mendapatkan hukumannya!" Setelah berkata demikian, Tiong Han lalu meninggalkan orang itu yang menjadi begitu terheran-heran mendengar ucapan Tiong Han tadi sehingga ia hanya berdiri dengan mulut melongo di tengah jalan! Sementara itu, Tiong Han melanjutkan perjalanannya. Ia ingin sekali bertanya kepada orang tadi di mana ia dapat menjumpai Tiong kiat tetapi ia tidak ingin mendengar kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh Tiong Kiat. Lebih baik bertanya kepada orang lain saja pikirnya.
Ketika melihat sebuah rumah makan yang cukup besar, masuklah Tiong Han ke dalam rumah makan itu. Ia memesan makanan dengan sikap biasa sungguhpun pelayan yang membungkuk-bungkuk di depannya dengan luar biasa hormatnya itu menimbulkan sebal dalam hatinya. Hem, agaknya semua orang di tempat ini menghormat sekali kepada Tiong Kiat, kecuali orang yang menyerangnya tadi tentunya. Di dalam restoran itu telah banyak tamu dan ada beberapa orang berpakaian perwira duduk di sudut sambil bersendau gurau. Ketika Tiong Han masuk, mereka memandang dan ada yang tersenyum, akan tetapi tak lama kemudian mereka saling pandang dengan muka menyatakan keheranan besar.
Mereka hanya memandang saja dan amat memperhatikan Tiong Han, akan tetapi pemuda ini pura-pura tidak melihat mereka dan makan masakan pesanannya dengan tenang. Setelah ia selesai makan dan hendak keluar dari rumah makan itu, tiba-tiba tiga orang perwira yang semenjak tadi melihatnya, berdiri dan menghampirinya.
"Ah, Sim ciangkun, apakah benar-benar kau tidak kenal lagi kepada kami? Kami kira kau tadi main-main, akan tetapi ternyata sampai sekarang benar-benar tidak menyapa kami. Benar-benar lucu sekali kau ini, keluar dari benteng dengan pakaian preman, dan berlaku pura-pura tidak mengenal kawan. Apakah artinya ini?"