Halo!

Pedang Ular Merah Chapter 72

Memuat...

"Kau tentulah seorang perwira gadungan (yang tidak diangkat oleh kaisar) dari barisan Oei manusia tak tahu diri itu, bukan? Lekas turun dari kudamu dan menyerah sebelum aku Ma Goan memenggal lehermu dan membasmi tentaramu!"

Tiong Kiat merasa heran dan juga marah sekali. Bagaimanakah perwira yang memimpin barisan pemberontak ini begitu berani memakinya sebagai perwira gadungan dan bahkan memaki-maki nama Oei Sun pula? la tertawa mengejek dan berkata.

"Perwira pendek! Kau mengandalkan apamukah maka bicara begitu sombong? Apakah kau mengandalkan golok pemotong babi di tanganmu itu?"

Ma Goan pikir tak perlu bicara banyak-banyak dengan pemberontak ini, maka dengan cepat ia lalu berseru.

"Makanlah golok pemotong babiku ini, babi!" Dengan amat cepatnya golok di tangannya itu menyambar ke arah dada Tiong Kiat sehingga pemuda itu terkejut juga. Tak diduganya bahwa lawan yang pendek tangannya itu ternyata dapat menggerakkan golok gagang panjang demikian cepatnya. Ia belum sempat mencabut pedangnya dan untuk mengelakkan diri di atas kuda, tak mungkin sama sekali melihat datangnya serangan yang benar-benar amat lihai itu. Maka sambil berseru keras, ia lalu berjumpalitan dari atas kudanya sehingga terhindar dari sabetan golok.

Melihat betapa perwira muda itu dapat melompat dan berjumpalitan dengan ilmu lompat Naga Hitam Menembus Awan dengan gerakan yang amat indah dan cepat, kembali Ma Goan tertegun. Lebih-lebih kagetnya ketika tiba-tiba tubuh pemuda yang sudah turun ke atas tanah itu kini berkelebat ke arahnya dan sinar pedang yang putih berkilau menyambar-nyambar dengan hebatnya.

Ia cepat memutar golok panjangnya akan tetapi tiba-tiba kudanya meringkik keras dan cepat ia melompat turun. Baiknya ia melakukan hal ini, karena kalau tidak, dalam segebrakan itu tadi ia tentu akan terjungkal dari kuda dan binasa di bawah ujung pedang lawannya.

Ternyata bahwa Tiong Kiat telah berhasil membabat dua buah kaki belakang kuda yang ditunggangi oleh Ma Goan itu! Pemuda ini tadi berpikir bahwa melihat gerakan ilmu golok panjang dari perwira pendek itu, agaknya sukar baginya untuk mendapat kemenangan. Selain lawannya amat lihai, juga lawannya lebih pandai bertempur di atas kuda dan senjata lawannya jauh lebih panjang maka ia cepat menyerang kuda itu sehingga kini lawannya terpaksa harus melayaninya di atas tanah!

Adapun Ma Goan dengan amat marah segera memutar golok panjangnya dan menyerang pemuda itu. Tiong Kiat menyambutnya dengan senyuman mengejek, akan tetapi tak lama kemudian senyuman mengejek ini lenyap dari bibir Tiong Kiat ketika ia mendapat kenyataan bahwa kepandaian Ma Goan ini ternyata benar-benar tak boleh dipandang ringan!

Ilmu silat perwira pendek ini hebat sekali dan golok panjang di tangannya merupakan dua macam senjata yang berbahaya. Apabila golok itu dibalikkan, maka gagang golok itu dapat dipergunakan sebagai senjata toya yang ditotokkan dan kemplangannya dapat mendatangkan maut! Juga tenaga dan kegesitan Ma Goan yang sudah tua itu mengagumkan sekali, Tiong Kiat menggigit bibirnya dan memutar pedangnya makin cepat, kini setelah lima belas jurus tak dapat mengalahkan Ma Goan ia mulai mengeluarkan tipu-tipu yang terlihai dari Ang-coa kiamsut!

Sementara itu, barisannya yang melihat betapa perwira pendek itu ternyata tangguh dan dapat menahan serangan Sim ciangkun sampai lima belas jurus lebih, segera perwira pembantu memberi aba-aba dengan teriakan keras dan panjang- panjang.

"Serbuuuuuuuu!"

Maka majulah lima ratus orang perajurit itu bagaikan gelombang menderu dan dengan pekik sorak riuh rendah dan tangan mengangkat senjata yang berkilauan terkena sinar matahari, kedua barisan bertemu di luar hutan dalam pertempuran yang hebat sekali! Pertemuan dua barisan yang menimbulkan perang hebat itu ditambah lagi dengan sorak sorai dari kedua pasukan yang bersembunyi di kanan kiri, yakni pasukan pendam yang telah diatur semula oleh Ma Goan.

Agak terkejut dan kacau balau pasukan Tiong Kiat ketika tiba-tiba muncul barisan musuh dari kanan kiri ini dan pertempuran dilakukan dalam keadaan kacau. Akan tetapi oleh karena memang pasukan yang dipimpin oleh Tiong Kiat lebih besar jumlahnya, hampir dua kali lebih banyak, mereka dapat melakukan perlawanan kuat sekaIi.

Ma Goan, perwira pendek yang gagah itu, ketika melihat betapa pasukannya tetap saja tidak dapat mendesak musuh yang besar jumlahnya dan kini fihak musuh sudah mulai mendekati pintu benteng dan mulai mengancam pertahanan, menjadi gelisah sekali. Apa lagi karena Tiong Kiat mendesaknya dengan hebat. Serangan pedang pemuda yang dilawannya itu benar-benar di luar dugaannya. Ia telah mengetahui akan kelihaian Oei Sun dan agaknya ia masih dapat menghadapi Oei Sun. Siapa tahu kepandaian pemuda yang menjadi pembantu Oei ciangkun ini ternyata lebih lihai dari pada perwira pemberontak itu sendiri.

Setelah merasa bahwa dengan ilmu silatnya tidak mungkin dapat mengalahkan lawannya yang lihai itu, Ma Goan lalu memberi aba-aba yang memerintahkan pasukannya mundur dan melarikan diri mempergunakan perahu-perahu yang telah siap di pinggir sungai. Ia sendiri lalu memutar golok panjangnya untuk mencari jalan keluar dari kepungan Tiong Kiat. Akan tetapi ilmu pedang Ang-coa-kiamsut yang dimainkan oleh Tiong Kiat sudah sempurna. Boleh dibilang semua ilmu kepandaian yang dituliskan di dalam kitab ilmu pedang Kim Liong pai itu telah dipelajari semua sehingga dalam hal ilmu pedang, kepandaian Tiong Kiat tidak kalah oleh Lui Thian Sianjin sendiri!

Dalam usaha Ma Goan untuk menerjang keluar dari kurungan sinar pedang yang hebat itu sia-sia belaka bahkan kini pedang di tangan Tiong Kiat makin cepat gerakannya dan hebat sekali serangan-serangannya. Ma Goan tak dapat berdaya lagi dan ketika sebuah tangkisannya meleset, pundak kirinya terbabat ujung pedang Hui-liong kiam di tangan Tiong Kiat sehingga sepotong daging pundaknya berikut baju perangnya terbawa oleh pedang! Ma Goan berseru keras saking sakitnya akan tetapi ia telah dapat mengumpulkan tenaga batinnya dan dengan sedikit ilmu hoatsut (sihir) yang pernah dipelajarinya, ia berkata dengan suara berpengaruh.

"Orang muda, Iihat pedangmu itu. Bukankah itu telah berubah menjadi seekor ular putih? Lihat baik baik!"

Tiong Kiat yang tidak mengira sama sekali bahwa lawannya mempergunakan ilmu sihir tak dapat mencegah keinginan hatinya untuk memandang ke arah pedangnya dan alangkah kagetnya ketika ia melihat Hui-liong kiam itu benar-benar telah berubah menjadi seekor ular putih! Pedang itu kini merupakan seekor ular yang ia pegang pada ekornya dan dengan gerakan-gerakan yang amat menggelikan, ular itu lalu membalikkan tubuh dan dengan mulut terbuka hendak menyerangnya sendiri!

Tentu saja Tiong Kiat menjadi kaget sekali dan cepat cepat ia melempar ular itu ke atas tanah. Akan tetapi, apa yang dilihatnya? Ketika ular putih itu dibanting jatuh di atas tanah, terdengar suara nyaring dan ternyata ular putih itu telah berobah lagi menjadi pedang Hui liong kiam yang berkilauan!

Baru tahulah Tiong Kiat bahwa la telah kena tertipu oleh lawannya. Ia cepat menyambar pedangnya Iagi, akan tetapi ketika ia mengangkat muka memandang, ternyata bahwa Ma Goan telah pergi dari situ dan tidak kelihatan bayangannya lagi! la mendongkol sekali dan cepat ia lalu menyerbu dalam gelanggang pertempuran, membabat para perajurit musuh yang mulai melarikan diri, dikejar oleh pasukannya! Tiong Kiat dan pasukannya mendapat kemenangan besar. Hampir separuh dari pada barisan pemberontak, anak buah Gak goanswe telah dapat ditewaskan dan sebagian lagi melarikan diri, ada yang melalui darat, ada yang menggunakan perahu. Benteng dapat dirampas dan sejumlah besar perbekalan musuh dapat dirampas pula. Dengan membawa kemenangan besar yang pertama kali ini, Tiong Kiat memimpin pasukannya kembali ke Oei-ciangkun.

Oei Ciangkun sendiri bersama Go bi Ngo Koai Tung menyambut pasukan yang menang perang ini. Huayen khan dan Ang Hwa yang juga telah bertempur hebat dan banyak merobohkan perajurit musuh menjadi amat bangga akan tetapi Tiong Kiat hanya tersenyum-senyum saja. Pikirannya penuh dengan pengalamannya ketika bertempur melawan Ma Goan tadi.

Baiknya ia sudah melukai Ma Goan. Kalau lawannya itu belum terluka dan ketika ia melemparkan pedangnya yang berobah menjadi ular tadi, bukankah amat berbahaya baginya kalau lawannya itu menyerangnya? Oei Sun yang mempunyai pandangan tajam dapat melihat kemuraman wajah kawannya, maka ia lalu berkata.

"Saudaraku Sim, mengapa kau yang menang perang dan berhasil baik dalam gerakanmu kali ini, agaknya nampak muram?"

"Oei-ciangkun, biarpun pasukan kita menang akan tetapi aku mendapat kenyataan bahwa segala jerih payahku bertahun-tahun yang lalu, ilmu silat yang kupelajari dengan rajin dan tak mengenal lelah ternyata tidak berdaya sama sekali menghadapi ilmu siluman dari seorang perwira musuh!"

Setelah berkata demikian, Tiong Kiat lalu menceritakan kepada Oei Sun dan Ngo koai tung tentang pertempurannya melawan Ma Goan. Mendengar penuturan ini, Thian lt Tosu tertawa bergelak.

"Ha, ha, ha, Sim ciangkun. Kukira apa menimbulkan kemuraman pada wajahmu, tidak tahunya kau memikirkan sedikit ilmu kepandaian anak kecil itu! Ha. ha, ha. apa sih sukarnya kepandaian macam itu saja? Anak kecilpun bisa."

Ketika Tiong Kiat memandang kepada Thian It Tosu, tiba tiba tosu itu memandangnya dengan mata terpentang lebar seperti yang dilakukan oleh Ma Goan tadi, kemudian sebelum Tiong Kiat mengerti apa yang dimaksudkan atau dikehendaki oleh tosu ini, orang tertua dari Go-bi Ngo-koai tung itu berkata,

"Sim-ciangkun, sungguh kau gagah sekali pulang dan masuk ruang ini naik seekor harimau!"

Tiong Kiat menjadi makin bingung. Gilakah tosu ini? Akan tetapi tiba-tiba ia merasa betapa bangku yang didudukinya bergerak-gerak dan ketika ia memandang ke bawah, hampir saja ia berteriak karena kagetnya. Yang diduduki sejak tadi itu bukan sebuah bangku biasa, melainkan seekor harimau yang besar!

Post a Comment