"Akan tetapi, kau lebih tahu tentang keadaan mereka, maka terserahlah bagaimana hendak diaturnya."
"Menurut penyelidikan, Gak goanswe telah memasang sepasukan tentara di tapal batas kota raja sebelah utara, jadi tepat di sebelah selatan kita. Mungkin sekali selain untuk mengurung kota raja dalam persiapannya memberontak, pasukan ini diadakan untuk menghalangi barisan kita dari utara apabila hendak membantu kota raja. Oleh karena itu, aku memberi tugas kepadamu, Sim ciangkun untuk membawa lima ratus orang tentara dan memukul pasukan ini. Huayen khan dan pasukannya boleh membantumu dari belakang."
"Baik, Oei-ciangkun." Jawab Tiong Kiat dengan gembira sekali.
Memang semenjak ia menjadi perwira di benteng Oei Sun, pemuda ini banyak sekali terhanyut hatinya. Ia merasa amat berdosa bukan karena mengingat akan semua perbuatannya yang dulu, bukan karena ia telah membunuh beberapa orang dan mengganggu banyak wanita, akan tetapi ia merasa amat berdosa dan berduka apabila ia teringat Suma Eng, gadis yang boleh dibilang tak pernah ia lupakan ini. Sekarang setelah ia menjadi seorang perwira, ia merasa telah berjasa kepada negara, merasa telah melakukan perbuatan yang amat baik dan bijaksana, perbuatan yang akan menghapus dosanya terhadap Suma Eng itu! Apa lagi sekarang ia akan memimpin pasukan memukul barisan pemberontak dari Jenderal Gak! Alangkah mulianya pekerjaan ini, alangkah besarnya, jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan kecilnya dosa yang ia lakukan terhadap Eng Eng!
Maka bersiap-siaplah Tiong Kiat, memilih sepasukan tentara sebanyak lima ratus orang, menentukan komandan-komandan regu dan setelah mendapat nasehat dan siasat dari Oei Sun, berangkatlah Tiong Kiat dengan barisannya menuju ke selatan untuk menyerbu pertahanan barisan Gak goanswe!
Pemuda ini dalam pakaian perwira, menunggangi kuda putih pemberian Ang Hwa. Ia menunggang kuda di depan, tampak gagah sekali dan wajahnya yang tampan itu berseri gembira.
Barisannya berbaris rapi, didahului oleh regu berkuda yang bertugas sebagai penyelidik dan pelopor. Bendera besar dengan huruf OEI untuk menghormat dan menjadi tanda bahwa barisan ini adalah barisan dari benteng di bawah pimpinan Oei Sun, berkibar tinggi di atas punggung kuda, dipegangi oleh seorang perajurit. Bendera-bendera lain yang agak kecil dengan sulaman huruf SIM tanda bahwa barisan ini dalam pergerakannya dipimpin oleh seorang perwira she Sim.
Kurang lebih seratus li di sebelah selatan tempat itu, di lembah Sungai Kim-seng kiang (Sungai Bintang Mas) yang menjadi anak sungai dari Sungai Sungari yang besar, memang menjadi tempat pertahanan sepasukan tentara kerajaan yang berjumlah tiga ratus orang lebih. Pasukan ini, melakukan penjagaan di tapal batas antara Tiongkok pedalaman dan Mongolia. Memang pasukan ini adalah sebagian dari pada pasukan Jenderal Gak yang mendapat tugas penuh untuk menjaga keamanan kota raja di bagian luar.
Jenderal Gak ini mulai timbul kecurigaan hatinya terhadap Oei Ciangkun yang memimpin barisan di utara, maka ia bersiap-siap untuk menyelidiki dan kalau perlu menggempur dan melucuti senjata pasukan di bawah pimpinan perwira she Oei itu.
Maka sebagai penjagaan, ia lalu mengirim pasukan ini ke lembah Sungai Kim seng, untuk menjaga kalau-kalau kecurigaannya itu terbukti sehingga kota raja dapat dilindungi. Ia tak dapat mengerahkan semua pasukan di tempat ini, karena selain Oei-ciangkun yang diduganya hendak memberontak, terdapat musuh-musuh yang lebih berbahaya lagi, bangsa Tartar yang mulai nampak gejala hendak menyerang ke pedalaman. Tentara Tartar jauh lebih besar dan lebih kuat daripada tentara pimpinan Oei ciangkun maka perlu sekali dijaga seluruh tapal batas di sebelah barat dan utara.
Tiga ratus lebih tentara yang menjaga di tapal batas dan di lembah Sungai Kim-seng ini dipimpin oleh seorang perwira tua bernama Ma Goan. Ma Goan atau perwira Ma ini biarpun sudah berusia hampir lima puluh tahun namun ia masih nampak kuat dan angker. Tubuhnya pendek akan tetapi tegap dan besar, dengan perut yang besar dan bulat, tertutup oleh pakaian perang yang tebal dan indah.
Ma Goan telah menjadi tentara semenjak berusia dua puluh tahun, dan pengalamannya dalam pertempuran selama tiga puluh tahunan inilah yang membuat ia dapat memanjat naik sampai menduduki pangkat perwira dan memimpin tentara sebanyak tiga ratus orang lebih. Padahal ia berasal dari dusun dan hanya mengerti sedikit mata surat, hampir buta huruf.
Akan tetapi memiliki ilmu silat yang tinggi, bahkan oleh pengalamannya yang berpuluh tahun itu ia mengerti juga sedikit hoat sut (ilmu sihir) yang dipelajari dari orang India ketika ia bertugas di tapal batas sebelah barat. Adapun siasat-siasat perang tak usah disangsikan lagi, karena pengalaman memang Iebih nampak manfaatnya dari pada pelajaran mati, pengalaman adalah pelajaran yang hidup, pelajaran yang otomatis mendarah daging.
Ma Goan terkenal ahli dalam permainan senjata golok gagang panjang yang besar dan berat sekali. Di dalam pertempuran berkuda, senjata macam ini amat praktis dan juga berbahaya sekali, karena selain panjang juga berat dan tajam. Tak terhitung banyaknya perwira dan panglima musuh yang roboh di bawah sambaran golok di tangan Ma Goan yang perkasa.
Selain bintang-bintang yang diterimanya sebagai tanda kegagahan dari kaisar dan panglima-panglimanya, juga Ma Goan sudah menerima tanda kegagahan dari musuh yakni berupa cacad-cacad dan bekas-bekas luka di leher, pundak, dan pipi kanannya. Di bagian-bagian tubuh ini kulitnya telah sobek oleh pedang lawan dan kini menjadi cacad yang bahkan menambahkan keangkerannya.
Ma Goan tidak sempat membuat benteng pertahanan di lembah sungai Kim seng itu hanya menyuruh anak buahnya memasang tenda-tenda di bawah pohon-pohon siong yang besar. Kemudian ia memasang penjaga-penjaga di empat penjuru dan setiap hari melatih barisannya, sebagian pula menebang pohon untuk dibuat perahu-perahu dan tiang bangunan tempat tinggal. Perahu-perahu amat penting bagi mereka, karena hubungan yang paling cepat dan mudah dengan barisan lain adalah melalui sungai ini.
Pada pagi hari itu, Ma Goan yang berada di dalam tendanya, mendapat laporan dari penjaga terdepan bahwa kurang Iebih lima li dari situ sedang mendatangi barisan kerajaan yang berjumlah besar dan pada benderanya terdapat tanda bahwa barisan itu adalah barisan yang datang dari benteng Panglima Oei dan dipimpin oleh perwira Sim.
"Berapa banyak jumlahnya tentara mereka?" tanya Ma Goan dengan sikap masih tenang, sungguhpun di dalam dadanya ia berdebar mendengar laporan ini. Inilah pasukan-pasukan dari Oei Sun yang dikabarkan hendak memberontak itu!
"Menurut perkiraan saya, sedikitnya ada lima ratus orang ciangkun." jawab pelapor itu.
"Hm, minta semua komandan regu untuk datang ke sini. Cepat!"
Pelapor itu cepat berlari keluar dan tak lama kemudian, tujuh orang perwira pembantu telah datang menghadap.
"Pasukan pemberontak telah mulai datang. Kita belum tahu kehendak mereka, maka jangan sembarangan turun tangan. Bagi pasukan kita menjadi tiga bagian. Sebagian akau kupimpin menyambut kedatangan mereka, yang dua bagian bersembunyi di kanan kiri hutan. Kalau pasukan yang kupimpin terjadi perang dengan mereka, baru kedua pasukan di kanan kiri membantu dan memukul dari kedua samping. Kekuatan musuh lebih besar hampir dua kali kekuatan kita. Dengan serangan menggapit dari kanan kiri, tetap belum tentu kita kalah. Kalau sampai terjadi apa-apa dan kalah atau tewas dalam pertempuran sebagian pasukan boleh mundur menggunakan perahu-perahu kita, minta bantuan kepada benteng di lembah Sungai Sungari. Mengerti?"
Semua pembantunya menyatakan mengerti. Maka Ma Goan segera membubarkan mereka untuk melakukan tugas masing-masing. Dia sendiri setelah barisan dibagi tiga, lalu memimpin barisan dari seratus orang ini untuk menuju ke utara memapaki barisan yang berbendera OEI dan SIM itu.
Di luar hutan siong, kedua barisan itu bertemu. Ketika Tiong Kiat melihat pasukan berbendera GAK dan MA dan melihat pakaian tentara itu menunjukkan bahwa mereka adalah tentara kerajaan, diam-diam ia segera memberi perintah agar supaya Huayen-khan dan Ang Hwa menyuruh barisan mereka bersembunyi di belakang. Dia sendiri lalu memberi perintah kepada anak buahnya agar supaya jangan bergerak lebih dulu.
"Tunggu sampai aku bertempur dengan panglima yang memimpin pasukan pemberontak di depan itu. Kalau ia dapat bertahan sampai sepuluh jurus melawanku, barulah barisan boleh maju menyerbu! Kalau sebelum sepuluh jurus panglima itu telah roboh aku akan mencoba agar pasukan di depan itu suka takluk dan memihak kita!"
Ini adalah siasat perang yang ia pelajari dari Oei Sun yang disebut siasat "membunuh ular tanpa merusak kulitnya".
Memang Oei Sun amat membutuhkan tenaga tentara untuk maksud dan cita-citanya, maka kalau saja pemimpin pasukan musuh dapat dibinasakan sehingga pasukannya menjadi jerih dan kacau sampai dapat menaluk dan menjadi tentara taklukan, hal itu tentu saja amat baiknya!
Tentu saja pendirian Tiong Kiat jauh berlainan dengan kehendak Oei Sun. Bagi Tiong Kiat, kalau sampai tentara Gak goanswe yang dianggapnya memberontak itu sampai takluk tanpa perang, dan dapat "insaf" alangkah baiknya hal itu. Tidak perlu terjadi bunuh-membunuh antara bangsa sendiri! Tak lama kemudian, kedua barisan itu berhenti kurang lebih seperempat li jauhnya satu kepada yang lain. Tiong Kiat membedal kudanya maju. Sebaliknya Ma Goan sambil menyeret golok gagang panjangnya juga mengaburkan kudanya memapaki perwira pemberontak itu.
"Apakah yang di depan ini seorang perwira dari barisan Gak goanswe, pemberontak hina dina itu?"
Mendengar suara yang berkumandang dan keras itu, tahulah Ma Goan bahwa dia berhadapan dengan seorang ahli silat yang telah memiliki khikang yang tinggi. Akan tetapi ia menjadi amat marah mendengar ucapan itu.
"Perwira bermulut lancang!" ia membalas.