Halo!

Pedang Ular Merah Chapter 68

Memuat...

"Aku tidak takut sama sekali terhadap siapapun juga, ngowi totiang, hanya aku tadi merasa ragu-ragu apakah baik aku meninggalkan benteng selagi Oei cangkun tidak ada?" "Kalau mereka dipersilakan masuk, akan lebih kurang baik lagi." kata Huayen-khan yang menaruh curiga.

Akhirnya keluarlah Tiong Kiat, dikawani oleh Ang Hwa yang tidak mau ditinggal, sedangkan Huayen-khan tentu saja bersembunyi di dalam tidak mau memperlihatkan diri, oleh karena ia takut kalau-kalau ada yang melihat ia bersekongkol dengan Oei-ciangkun. Adapun Go bi Ngo-koai.tung lalu mengintai dari belakang daun pintu gerbang yang lebar dan diam-diam mereka menjadi terkejut ketika melihat siapa adanya lima orang tosu itu! Akan tetapi, baik Tiong Kiat maupun Ang Hwa, tidak mengenal tosu-tosu ini. Tiong Kiat yang melihat lima orang tosu setengah tua yang berdiri dengan tenang dan berjajar rapi sambil memandang tajam, cepat keluar dari pintu dan merangkapkan kedua tangannya. Setelah memberi hormat, ia berkata,

"Tidak tahu siapakah ngo-wi totiang yang terhormat dan kehormatan manakah yang diberikan kepada orang seperti aku sehingga ngowi jauh-jauh datang mencariku?"

Gan Tian Cu dan empat orang sutenya, lima tokoh Kun-lun pai itu saling pandang dan saking herannya, Gan Tian Cu berkata perlahan kepada adik-adik seperguruannya.

"Memang serupa benar, pantas saja banyak orang salah duga!"

Tentu saja Tiong Kiat tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh tosu itu, akan tetapi Gan Tian Cu segera memandangnya dengan mata tajam dan membentak.

"Ang coa kiam ketahuilah bahwa pinto berlima datang dari Kun-lun pai! Tentu kau masih ingat kepada murid kami yang bernama Lo Ban Tek yang kau bunuh secara sewenang-wenang di kota Ikiang! Pinto berlima datang untuk minta pertanggungan jawabmu atas perbuatan-perbuatanmu yang terkutuk!"

Berbeda dengan Tiong Han ketika menghadapi tuduhan kelima orang tosu ini, Tiong Kiat tersenyum mengejek dan bertanya,"Aha, jadi tegasnya kalian berlima ini jauh-jauh datang dari Kun-lun san hanya untuk membalas dendam atas kematian Lo Ban Tek manusia kasar itu? Apakah yang hendak kalian lakukan terhadapku? Hendak membunuhku?"

Mendengar pertanyaan yang merupakan tantangan ini, merahlah wajah Gan Tian Cu.

"Orang she Sim, kami datang untuk membawamu ke Kun lun san agar kau menerima putusan dan hukuman dari para ketua Kun lun-pai. Kalau kau melawan, terpaksa kami akan menggunakan kekerasan!"

"Tosu sombong! Aku Sim Tiong Kiat tidak pernah takut kepada siapapun juga! Benar aku telah membunuh Lo Ban Tek karena ia yang datang mencari dan menantangku. Ia mampus karena memang kepandaiannya masih rendah, kalau dia lebih pandai dari padaku, bukankah aku yang akan mati di tangannya? Kalau seandainya aku yang akan mati, apakah kalian ini juga mau ribut-ribut mengurus perkara ini? Ah, benar-benar kalian ini pendeta-pendeta yang telah kehilangan keadilan, dan hanya bertindak menuruti nafsu hati dan membela golongan sendiri."

"Bisa saja kau memutar lidah, pemuda penuh dosa! Kalau Lo Ban Tek tewas dalam sebuah pibu, biarpun yang dihadapi dalam pibu itu seorang muda jahat seperti engkau, kami takkan sudi mengotorkan tangan kepadamu. Akan tetapi, murid kami itu tewas karena hendak membela kebenaran dan hendak memberantas manusia jahat seperti engkau. Bagaimana kami takkan turun tangan? Sudahlah, manusia cabul dan jahat, lebih baik kau menyerah dan ikut dengan kami ke Kun-lun san, dari pada kami terpaksa harus menggunakan kekerasan."

Sebagai jawaban atas ucapan ini, Tiong Kiat tertawa bergelak dan sekali tangan kanannya bergerak. Hui liong-kiam (Pedang Naga Terbang) telah berada di tangannya, berkilau terkena cahaya matahari.

"Hendak kulihat sampai di mana sih kepandaian dari orang Kun-lun-pai maka kalian menjadi sesombong ini? Apakah kalian hendak maju bersama? Silakan, aku tidak takut!" Tiong Kiat sengaja mengeluarkan ucapan ini untuk memanaskan hati para pendeta itu.

Gan Tian Cu melompat maju dan mencabut pedang dengan tangan kanan dan sebuah hudtim (kebutan) dengan tangan kiri.

"Ang coa-kiam kami masih memandang muka Lui Thian Sianjin yang kami hormati maka kami masih bersikap ramah dan murah terhadapmu. Akan tetapi sikapmu yang kurang ajar ini menghapus semua penghormatan yang masih ada dalam hati kami! Lui Thian Sianjin pasti akan memaafkan kami apabila ia melihat sikap muridnya yang murtad!"

"Sudahlah, tosu tua, untuk apa banyak mengobrol lagi? Pergunakan pisau pemotong rumput dan pengusir lalat itu kalau kau memang berani!" Sambil berkata demikian, dengan sikap amat menghina Tiong Kiat lalu menggerak-gerakkan pedangnya di depan muka pendeta itu. Gan Tian Cu marah sekali dan cepat ia lalu menyerang dengan pedangnya, menusuk ke arah tenggorokan Tiong Kiat sedangkan kebutan di tangan kiri menyusul dengan sebuah serangan menotok ke arah lambung. Inilah gerak tipu yang disebut Ji.liong jut tong (Dua Naga Keluar dari Gua) yang amat lihai.

Pedang di tangan Gan Tian Cu adalah sebatang pedang pusaka juga dan kini digerakkan dengan cepat sehingga hanya merupakan sinar kehijauan menyambar ke arah tenggorokan lawan, sedangkan kebutan itu biarpun nampaknya lemas dan lembut, namun digerakkan oleh tangan Gan Tian Cu yang memiliki tenaga lweekang cukup tinggi, kini menjadi semacam senjata penotok yang lebih keras dari pada baja dan amat berbahaya!

Tiong Kiat maklum bahwa hudtim ini bahkan lebih berbahaya dari pada pedang itu. Serangan pedang itu sekali kelit saja dapat dihindarkan, akan tetapi belum tentu dengan kebutannya. Karena biarpun dapat dikelit, ujung kebutan itu tiba-tiba dapat digerakkan menjadi lemas untuk menyambar ke arah leher atau pundak!

Akan tetapi, tidak percuma Tiong Kiat sudah menyempurnakan ilmu pedang Ang-coa-kiam-sut dari kitab ilmu pedang yang benar-benar amat lihai. Kalau tokoh besar ilmu persilatan menghadapi Tiong Kiat dengan senjata lain, mungkin akan dapat ia mengimbangi ilmu pedang pemuda jago Kim liong.pai ini.

Akan tetapi, Gan Tian Cu mempergunakan pedang pula, dan biarpun telah dibantu pula oleh permainan hudtimnya yang juga amat lihai, namun menghadapi ilmu pedang dari pemuda ini, sebentar saja Gan Tian Cu maklum bahwa ilmu pedang Kun lun kiam hoat masih kalah lihai! Ketika menghadapi serangan dengan gerak tipu Ji liong-jut tong tadi, Tiong Kiat cepat menundukkan tubuhnya dan pedangnya dari kiri diputar ke kanan, sekaligus membabat ke arah pedang dan kebutan lawan dengan gerak tipu yang disebut angcoa-sin-jauw (Ular Merah Mengulur Pinggang).

Yang nampak hanya sinar putih panjang dan kuat saja menyambar dari kiri ke kanan dan terdengar suara keras dua kali ketika Hui-liong-kiam itu membentur pedang dan kebutan di tangan Gan Tian Cu. Kedua pihak merasa betapa benturan itu mengakibatkan tenaga mereka menjadi tergetar dan kesemutan, tanda bahwa Iweekang dari pemuda ini sudah mencapai tingkat yang tidak berada di sebelah bawah tingkat Gan Tian Cu.

Gan Tian Cu merasa betapa pedangnya ketika terbentur oleh pedang lawannya, pedangnya itu mengeluarkan bunyi aneh dan terpentalnya seperti tertendang. Ia maklum bahwa ilmu pedang lawannya ini benar-benar lihai sekali dan pedang yang dipegang oleh pemuda itu ketika digerakkan, agak menggetar dan mempunyai gaya atau tenaga menendang. Hebat sekali! Akan tetapi Gan Tian Cu adalah tokoh kelas dua di Kun lun-pai, maka tentu saja ia tidak mau tunduk dan tidak merasa takut menghadapi lawan yang masih muda ini. Sambil berseru keras, ia lalu mengeluarkan ilmu pedang Kun-lun.pai yang paling istimewa. Juga hudtimnya digerakkan dengan gencar sekali sehingga kini hudtim dan pedang seakan-akan telah berobah menjadi enam buah senjata yang menyerang dari segala jurusan.

Tiong Kiat merasa terkejut juga. Ia maklum bahwa seandainya ia belum memperdalam ilmu pedangnya dari kitab yang dirampasnya dari Tiong Han, agaknya ia takkan dapat menangkan pendeta yang kosen ini. Baiknya ia telah mempelajari ilmu pedang sampai seluruhnya dan telah menemukan jurus rahasia yang belum pernah dipelajarinya dari Lui Thian Sianjin. Kini ia mengeluarkan jurus-jurus ini yang ternyata bukan main hebatnya. Tubuhnya lenyap dalam bungkusan sinar pedang yang menjadi amat panjang, lebar dan kuat sekali bagaikan seekor naga sakti yang bermain-main diantara awan yang ditimbulkan oleh kebutan dan pedang lawannya!

Benar saja menghadapi ilmu pedang Ang coa-kiamsut yang dimainkan dengan sempurna ini, Gan Tian Cu mengeluh dan menjadi amat kaget. Betapapun ia mengerahkan tenaga dan kepandaian, tetap saja terdesak hebat, dan tidak sanggup membalas, hanya mempertahankan diri saja, itupun dengan susah payah! Empat orang sutenya yang menyaksikan, betapa suheng mereka terdesak hebat dan terancam bahaya, mengingat bahwa pertempuran itu bukan semacam pibu yang tak boleh dibantu, melainkan semacam penangkapan atas diri seorang penjahat yang lihai, segera mencabut pedang dan menyerbu ke dalam gelanggang pertempuran!

Betapapun lihainya Tiong Kiat menghadapi lima orang tokoh Kun lun pai ini ia menjadi kewalahan juga. Harus diketahui bahwa lima orang ini kepandaiannya tidak kalah olehnya baik ginkang maupun Iweekangnya. Pemuda ini hanya menang dalam hal ilmu pedang, dan keunggulan dalam memainkan pedang inilah yang membuat ia dapat mendesak Gan Tian Cu. Akan tetapi, kini dikeroyok lima tentu saja ia menjadi sibuk juga.

"Sim ciangkun, jangan kuatir, kami membantu!" Berbareng dengan terdengarnya seruan ini, dari balik pintu gerbang benteng melayang keluar lima bayangan orang yang cepat sekali gerakannya dan lima batang tongkat bambu dengan gerakan luar biasa telah menahan lima pedang dari Gan Tian Cu dan empat orang sutenya.

"Sungguh menggelikan! Tosu ternama dari Kun lun pai mengeroyok seorang muda! Mana ada aturan ini?" kata Thian It Tosu setelah lima orang tosu dari Kun lun pai itu menjadi terkejut dan melompat mundur. Lima orang tosu Kun lun-pai kini berhadapan dengan lima orang tosu yang bukan lain adalah Go-bi Ngo. koai.tung!

Gan Tian Cu dan empat orang sutenya memandang dan biarpun mereka belum pernah melihat Go bi Ngo-koai tung namun melihat jumlah mereka lima orang dan senjata mereka tongkat bambu, Gan Tian Cu dapat menduga-duga lalu mengangkat tangan memberi hormat.

"Kalau pinto tidak salah lihat, bukankah pinto berhadapan dengan Go-bi Ngo koai tung yang terhormat?"

Thian It Tosu tertawa bergelak.

"Bagus Gan Tian Cu, kau memang bermata tajam. Kami berlima memang datang dari Go-bi dan tongkat buruk ini memang telah berhasil mengangkat nama kami. Pinto mendengar bahwa Gan Tian Cu adalah tokoh tingkat dua dari Kun lun-pai, seorang yang amat lihai dan menjunjung tinggi aturan di dunia kang-ouw. Akan tetapi hari ini pinto benar-benar melihat keganjilan yang amat lucu. Bagaimana Gan Tian Cu yang menganggap diri sebagai seorang diantara pemimpin partai Kun lun yang besar mengeroyok seorang pemuda yang telah menjadi perwira kerajaan? Gan Tian Cu tidak tahukah kau bahwa orang tidak boleh memusuhi seorang perwira kerajaan? Apakah kau dan kawan-kawanmu ini mempunyai maksud untuk memberontak?"

Bukan main marahnya Gan Tian Cu dan sute-sutenya mendengar ucapan ini.

Post a Comment