Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 99

Memuat...

Di dalam rimba sendiri, sementara itu, telah terjadi pertempuran di antara tentara negeri dan kawanan penyamun dari Shoatang yang bersatu dengan rombongan Ceng Tiok Pay, akan tetapi belum terlalu lama, pihak negeri bisa mendesak, hingga musuh-musuhnya terpaksa mundur.

Sambil bereskan kereta-keretanya Sin Cie saksikan pihaknya See Thian Kong dan Thia Ceng Tiok lagi terancam bahaya, terutama disebabkan kedua pemimpin itu sendiri tidak berdaya.

"Bagaimana?" tanya Ceng Ceng.

"Kita bantu berandal! Kita basmi tentara negeri!" Sin Cie menjawab dengan cepat.

"Benar!" berseru si nona dalam penyamaran.

"Tetapi kau berdiam di sini, untuk lindungi harta kita," Sin Cie bilang.

Ceng Ceng menjadi dengar kata. "Baik!" ia manggut.

Maka bertiga bersama A Pa dan Ang Seng Hay, ia kitari kereta-kereta mereka, untuk dilindungi, tatkala tentara negeri datang menyerbu, mereka pukul mundur, hingga kesudahannya, tentara negeri itu jadi jeri, mereka tak berani merangsek pula.

Sin Cie panjat pohon, akan mengawasi ke arah kawanan berandal, dengan begitu ia bisa saksikan A Kiu serta beberapa taubak dari Ceng Tiok Pay sedang terkurung hebat oleh tentara negeri, maka untuk tolong mereka, ia loncat turun dari pohon, ia menyerbu ke dalam medan pergulatan, sampai ia berhasil mendekati si nona, malah ia datang disaat yang tepat, selagi dua batang tumbak menikam nona itu, dari itu dengan sebat ia menalangi menangkis.

"Lekas mundur ke bukit sebelah barat!" ia teriaki.

A Kiu melengak atas datangnya bantuan ini, hingga ia tak tahu satu perwira bacok ia secara hebat.

Kembali Sin Cie tolong si nona. Dia rampas golok musuh, untuk dipatahkan, si perwira sendiri ia tonjok dadanya hingga dia muntah darah, tubuhnya rubuh seketika.

A Kiu sadar, segera ia tiup suitannya, kemudian ia beri tanda untuk kawan-kawannya mundur ke arah barat, seperti ditunjuki Sin Cie. Si anak muda sendiri mondar- mandir dengan bengis, untuk tahan tentara negeri yang mencoba mendesak.

Kawanan penyamun dari Shoatang juga turut mundur ke barat, setiap kali ada diantaranya yang dirintangi tentara negeri, Sin Cie maju menolongi, dengan begitu, mereka bertempur sambil mundur, hingga mereka sanggup mendaki bukit.

Kemudian, dibantu oleh sejumlah berandal, Sin Cie pergi sambut Ceng Ceng bertiga serta kereta mereka, untuk menyingkir ke bukit barat itu, hingga mereka ketiga pihak, jadi bersatu. Tentara negeri cuma bisa kurung mereka dari bawah bukit, mengurung sambil berteriak-teriak saja.

Sin Cie mengatur terlebih jauh. Ia pasang barisan panah di sebelah depan. Kawanan berandal, dengan sendirinya, suka taati segala titahnya. Maka itu, ketika tentara negeri mencoba mendaki gunung, mereka dipukul mundur dengan hujan anak panah, hingga selanjutnya mereka tidak berani mencoba naik pula.

Dengan titahnya Sin Cie, Hu-ceecu Tam Bun Lie bersama-sama Tie Hong Liu dan A Kiu pergi bantui Seng Hay beramai membikin penjagaan. Semua berandal telah dipecah dalam dua rombongan, hingga ada sebagian yang dapat beristirahat, untuk sekalian tolongi mereka yang terluka.

Sin Cie lantas tolongi Thia Ceng Tiok dan See Thian Kong, dengan bergantian, ia uruti mereka itu hingga mereka tertolong dari ancaman bahaya maut, darah mereka

684 jalan pula seperti biasa begitupun napas mereka, yang tadinya sudah sesak. Karena ini, berdua mereka dapat rebahkan diri dan tidur dengan nyenyak.

Kedua pihak berandal jadi bersyukur kepada anak muda ini, yang tolongi pemimpin-pemimpin mereka.

"Jumlah tentara negeri terlalu besar untuk kita, tak dapat mereka dilayani dengan tenaga, mesti dengan daya-upaya," kemudian Sin Cie bilang kepada Ceng Ceng.

"Benar!" sahut si nona. "Habis kau hendak gunai daya apa?"

Sin Cie tidak menyahuti, dia hanya berpikir, akan akhirnya dia panggil satu penyamun yang kenal baik keletakan tempat mereka ini; sembari tanya ini dan itu, iapun senantiasa mengawasi ke arah tentara negeri. Maka kesudahannya ia dapat lihat, di arah belakang dari tentara negeri itu, ada sejumlah besar kereta-kereta yang rupanya bermuatan berat. Tiba-tiba saja ia ingat suatu apa, lantas ia lompat kepada Ceng Ceng.

"Bukankah tadi tentara negeri itu sebut-sebut angkutan?" ia tanya.

Sebelum si nona menjawab, Tie Hong Liu sudah mendahului. Dia ini Baru saja datang untuk beristirahat.

"Itulah artinya angkutan uang untuk ke Pakkhia," demikian jawabannya. "Sungguh tidak beruntung bagi kita, di sini kita bertemu mereka itu..."

"Mengapa angkutan uang Negara memerlukan tentara pengiring demikian besar?" tanya Sin Cie.

Sekarang ini keamanan sedang sangat terganggu, di pelbagai gunung ada saja penyamunnya, maka itu, untuk angkutan yang selamat, iring-iringannya mesti besar," Hong Liu terangkan lebih jauh. "Sekarang pemerintah sangat memerlukan uang dan rangsum dari Kanglam, terutama sebab Kaisar Cong Ceng mesti hadapi musuh bangsa Boan di Liau-tong dan pemberontakannya Giam Ong dan lainnya. Maka juga angkutan uang ini adalah jiwanya. "

"Jikalau begini, barisan serdadu iring-iringan ini terlalu usil," Sin Cie bilang. "Tugas mereka berat, mengapa mereka masih ambil kesempatan untuk ganggu kita?. "

"Mestinya mereka anggap kita gampang dikalahkan," Hong Liu bilang. "Jikalau mereka bisa labrak kita atau menawan beberapa di antara kita, bukankah itu artinya jasa besar?"

Sin Cie manggut-manggut.

"Di barat-utara sana ada satu mulut selat," kata ia kemudian, "mari kita nerobos keluar dari sana."

Tie Hong Liu bersedia untuk turut usul itu. "Silahkan Wan Siangkong menitahkannya," katanya.

Sin Cie mencorat-coret di tanah, ia berpikir, habis itu, ia lantas berikan titah-titahnya buat bersiap untuk sebentar malam.

Tepat pada jam yang telah ditetapkan, dibarengi teriakan mereka riuh-rendah, kawanan berandal bergerak untuk turun bukit, buat menerjang turun. Sebagai pembuka jalan adalah Sin Cie berdua A Pa, si empeh gagu.

Tentara negeri sudah lelah, kapan mereka lihat serbuan, mereka coba merintangi, tetapi sebentar saja, barisan mereka sudah dapat ditobloskan, dengan begitu, rombongannya Sin Cie semua bisa molos. Masih mereka mencoba mengejar, atau segera mereka dilawan oleh barisan belakang penyamun. Nyata ini adalah siasat saja, untuk mencegah tentara negeri itu, sebab apabila semua rombongan sudah memasuki selat, sejumlah penyamun itu lari kabur, akan susul rombongan mereka.

Tentara negeri menguber sampai di mulut selat, lantas mereka tidak berani mengejar terus akan masuk terlebih dalam, sebab orang yang menjadi pemimpinnya dapatkan, kedua belah selat tinggi dan berbahaya, hingga mereka jadi kuatirkan tentara sembunyi musuh.

Selagi tentara negeri berkumpul dan mengawasi ke dalam selat, tiba-tiba sebuah peti besar jatuh dari sisi lamping bukit, jatuhnya dengan terbuka tutupnya, maka isinya lantas saja terlempar berantakan. Yang membuat kaget dan herannya tentara negeri adalah isi itu yang banyak sekali barang permata, yang berkilauan di antara cahaya obor.

Pemimpin tentara negeri itu adalah satu congpeng atau brigade-jenderal, dia pun kaget tetapi kaget berbareng girang.

"Lekas maju!" ia titahkan. "Rampas semua peti itu!"

Perwira ini timbul keserakahannya hingga ia lupakan bahaya.

Tentara negeri itu lantas maju, bukan untuk mengejar, hanya untuk berebutan memunguti pelbagai barang permata dan uang, hingga barisan mereka menjadi kalut tanpa pemimpinnya dapat kendalikan pula mereka.

Sin Cie sendiri, yang ambil jalan di atas lamping, telah menuju ke arah belakang pasukan Negara, hingga ia bisa datang dekat kepada rombongan kereta-kereta angkutan yang berlerot. Semua kereta dikerudungi tutup kain kuning tebal, samara-samar kelihatan tulisan huruf-huruf yang menandakan itu adalah angkutan barang pemerintah dari Kanglam.

Mengawasi lerotan kereta itu, Sin Cie girang berbareng ragu-ragu. Ia girang sebab jumlah yang besar itu, yang pasti akan berguna besar untuk pergerakan Giam Ong. Ia ragu- ragu kapan ia ingat jumlah besar dari tentara negeri yang menjadi barisan pengiring angkutan itu.

Dengan hati-hati pemuda ini maju lebih jauh. Karena ia sembunyikan diri di antara pepohonan, tidak satu serdadu juga yang dapat pergoki padanya. Ia datang begitu dekat hingga kecuali bisa melihat tegas, ia juga bisa dengar pembicaraan mereka. Kemudian ia dengar suara lebih jelas dari kereta-kereta terbelakang, maka ia percaya, muatan kereta-kereta itu bukannya uang seperti kereta-kereta terdepan. Kapan ia telah perhatikan lebih jauh, ia dapat kenyataan itulah kereta orang-orang tawanan, dan si orang- orang tawanan sendiri, dengan kedua tangan mereka masing-masing tertelikung ke belakang, lagi duduk di dalam kereta kerangkeng mereka. Di atas setiap kereta nampak selembar bendera putih yang muat tulisan yang menyebutkan nama-nama si orang perantaian, yang telah dapat hukuman mati. Pun dibelakang setiap nama dijelaskan perantaian itu penyamun atau pemberontak atau pengkhianat.

"Mereka harus ditolongi...." Pikir Sin Cie. "Bagaimana aku dapat menolonginya?"

Selagi ia berpikir, ia lihat sebuah kereta kerangkeng di mana pada benderanya ada tulisan yang memuat nama Cou Tiong Siu, hingga Sin Cie jadi kaget tidak terkira. Ia pun lantas lihat orang yang bernama Cou Tiong Siu itu ialah seorang umur lima-puluh lebih, dandanannya sebagai sasterawan, rambutnya telah ubanan. Dia itu adalah bekas ponggawa ayahnya almarhum, yang telah bergerak dan

688 berkedudukan di Lau Ya San. Di belakang dia ini, di dalam beberapa kereta lainnya, ia tampak Nie Ho, Cu An Kok dan Lo Tay Kan bertiga. Eng Siong tidak ada di antara mereka itu.

Selagi Sin Cie mengawasi, kereta-kereta pesakitan itu sudah lewati dia, maka sebagai orang Baru sadar dengan tiba-tiba, dia lari mengejar, hingga sekarang ia terlihat oleh serdadu-serdadu pengiring. Di antara sedadu-serdadu itu sudah lantas ada yang memanah.

Dengan kesebatannya, Sin Cie selamatkan diri dari pelbagai anak panah itu, ia maju terus, sampai ia dekati satu perwira yang bersenjatakan golok, yang berjalan paling belakang.

"Baik aku bekuk perwira ini untuk bikin kacau barisannya," pikir anak muda kita. "Dengan menawan dia aku akan bisa tolongi Cou Siokhu beramai..."

Post a Comment