"Hai, mengapa kau begini bodoh?" kata si nona sambil tertawa. "Baiklah kau lekas berangkat pulang, jangan kau mencoba antari jiwamu di sini. "
"Kau benar juga," jawab Sin Cie seraya manggut. "Baiklah, aku nanti bawa pulang sepuluh petiku ini. "
Tapi sikapnya ini membuat gusar orang yang tadi ia kena tendang.
"Kau pergilah!" dia membentak seraya dia tolak pundaknya si pemuda.
Tapi, belum dia tutup mulutnya, atau tahu-tahu bebokongnya telah kena dijambak Sin Cie, dengan satu semparan saja, tubuhnya terlempar ke atas sebuah pohon, hingga dia mesti rangkul cabang-cabang pohon itu apabila ia tak ingin terjatuh. Saking ketakutan, dia lantas menjerit- jerit. Baru sekarang semua penjahat melongo, karena nyatanya, pemuda tolol itu berkepandaian tinggi.
Ketika itu, Thia Ceng Tiok telah sadar benar-benar, ia insyaf lukanya hebat, maka ia sudah pikir untuk angkat kaki dengan bawa peti-peti bahagian pihaknya sendiri, akan tetapi kapan ia saksikan liehaynya si anak muda, ia terperanjat.
"Mari!" ia panggil A Kiu, gadisnya, kepada siapa ia terus berbisik. "Jangan pandang enteng pada dia itu, kau waspadalah."
A Kiu manggut. Ia pun memang merasa heran.
Segera setelah itu, terdengar suaranya si anak muda: "Kamu kedua pihak sudah berkelahi setengah harian! Kamu perebuti petiku, di atas itu kamu tuliskan tanda huruf-huruf, maka sekarang hendak aku hapuskan semua tanda itu!"
Sambil tertawa besar, pemuda ini sambar satu orang yang berdiri paling dekat dengan dia, dia tekan jalan darah orang hingga orang itu menjadi mati kutunya, dari itu dengan gampang ia angkat melintang tubuhnya, buat dibawa jalan mengitari semua petinya, buat pakai tubuh atau bajunya untuk menghilangkan semua coretan huruf- huruf di atas peti, kemudian dengan kedua tangannya, ia lemparkan tubuh itu ke atas pohon!
Kawanan dari Shoatang menjadi gusar, mereka maju, akan serang anak muda ini, akan tetapi si anak muda dengan sabar layani mereka, tidak peduli ia bertangan kosong, tujuh atau delapan penyerangnya dengan gampang kena dibikin terpelanting rubuh. Setelah ini, semua penyerang mundur sendirinya. Sebab dua-dua See Thian Kong dan Thia Ceng Tiok terluka parah, mereka lantas hadapi Tie Hong Liu. "Kiranya tuan satu ahli silat!" kata ketua dari Cian-liu- chung akhirnya. "Apakah tuan sudi beritahukan aku she dan namamu dan kau murid siapa?"
"Aku she Wan dan guruku Ong Lie Su Ong Lo-suhu," sahut Sin Cie. "Guruku itu ahli urusan kitab-kitab dan ia paling faham kedua kitab Lee Kie dan Cu Ciu. Ada lagi satu guruku ialah Lie Losuhu yang biasa ajarkan aku ilmu karang-mengarang. "
"Cukup!" memotong Tie Hong Liu. "Sekarang ini bukan waktunya bicara tentang pelbagai kitab dan ilmu mengarang! Sekarang sebutkan saja tentang gurumu, supaya kalau kita mempunyai hubungan satu sama lain, kita mesti hormati persahabatan. "
"Itulah bagus sekali!" kata Sin Cie dengan cepat. "Sekarang sudah tidak siang lagi, silakan, silakan! Kami hendak berangkat. "
Hau Ceecu dari Sat Pa Kong tidak sabaran, mendengar ocehan si anak muda, ia ayun goloknya yang besar, dipakai menabas anak muda ini. Ia telah menyerang dengan "Hong sau pay yap" atau "angin menyapu daun rusak".
Sin Cie berkelit untuk serangan itu, golok lewat di sampingnya dimana Tie Hong Liu berdiri, hingga ketua dari Cian-liu-chung ini yang terbabat, akan tetapi orang she Tie ini liehay, dengan gunai dua jari tangannya, telunjuk dan tengah, dia jepit bebokong golok, dia menahan, lantas bacokan itu berhenti sendirinya.
Mukanya Hau Ceecu menjadi merah, tetapi si orang she Tie ini cuma bersenyum, terus saja dia menoleh kepada Sin Cie dan kata: "Dengan kepandaianku ini, bukankah ada harganya untuk aku mendapati salah satu petimu?"
"Apakah namanya kepandaianmu ini?" tanya Sin Cie. "Inilah ilmu silat Kepiting Menjepit," sahut Hong Liu. "Jikalau kau pun mengerti ilmu silat ini, Baru aku takluk kepadamu. "
"Apa sih cepit kepiting, cepit kura-kura? Belum pernah aku lihat!" ujar si anak muda.
Tie Hong Liu jadi gusar.
"Bukankah aku telah jepit golok yang lagi menyambar?" tanyanya. "Apakah kau buta melek?"
"Oh, begitu?" jawab Sin Cie dengan tenang. "Tapi kamu berdua bersekongkol, apa anehnya? Adik Ceng, mari! Mari kita main-main sebentar!"
Ceng Ceng tertawa geli, ia jumput sebatang golok, yang terletak di tanah, lalu ia mengancam hendak membacok si anak muda, ketika golok dikasi turun, ia sengaja turunkan ayal-ayalan, hingga secara gampang saja, Sin Cie bisa tanggapi itu, atas mana kawan itu berpura-pura kerahkan tenaga, untuk berontak, buat loloskan golok dari jepitan, tapi walaupun sampai ia berjingkrakan, golok masih tak dapat diloloskan.
A Kiu tertawa melihat dua orang itu permainkan Tie Hong Liu, ia anggap pemandangan itu lucu. Malah kedua pihak berandal turut tertawa juga, suara mereka riuh- rendah!
Bukan kepalang mendongkolnya Tie Hong Liu yang dua anak muda berani permainkan ia secara demikian - ia juga dibuat bahan lelucon - maka dengan tiba-tiba ia sambar golok besar di tangannya Hau Ceecu dari Sat Pa Kong, untuk angsurkan itu kepada si anak muda sambil terus menantang: "Nah, kau cobalah bacok aku, pasti kali ini aku tidak berkongkol!" "Baik, aku nanti bacok kau!" Sin Cie jawab. "Tapi ingat, apabila aku bunuh orang sampai mati, tak usah aku ganti jiwa!"
"Baik! Hati-hatilah, golok datang!" berseru Sin Cie, yang terus saja putar tangannya untuk membabat dengan tiba- tiba.
Hong Liu bertambah gusar, ia lupa segala apa.
"Siapa juga yang terbinasa, dia tak usah diganti jiwanya," ia berikan perkataannya.
Tie Hong Liu kaget bukan main, ia tak mengira golok bisa dipakai menyerang secara demikian, walau ia sangat awas dan gesit dan bisa berkelit, tidak urung ia masih kalah sebat, hanya untung bagi ia, yang terbabat kutung adalah kopiahnya saja.
Oleh karena anggap pemandangan itu lucu, semua berandal tertawa berkakakan.
Sin Cie pun tertawa.
"Mana cepit kura-kuramu - eh, cingkong kepiting?..." Pemuda ini tidak cuma tertawa, tapi juga menanya,
hanya belum sampai dia menutup mulutnya atau dia telah menyerang pula, kali ini bacokannya dari atas turun ke bawah.
Hong Liu berkelit sambil berlompat, tapi ia masih kurang gesit, karena sesampainya di bawah, goloknya disimpangkan sedikit, hingga sebagai kesudahan, sol sepatunya kena terpapas kutung, hingga karenanya, ia kaget berbareng gusar.
"Aku mengerti sekarang!" berseru Sin Cie. "Terlalu tinggi salah, terlalu rendah salah juga, dan terlalu cepat pun kau gagal! Baiklah, aku akan menyerang di sama tengah, dengan perlahan. "
Dan benar-benar ia membacok pula, dengan perlahan, seperti Ceng Ceng tadi.
Hong Liu sodorkan tangannya yang kiri, untuk jepit golok itu, selagi berbuat demikian, dia memikir akan gunai tangan kanannya, untuk membarengi menyerang dengan cepat, supaya ia bisa ajar adat kepada anak muda ini. Akan tetapi dia berpikir demikian, orang lain juga berpikir lain. Di saat goloknya hampir dijepit, dengan mendadak saja Sin Cie balik goloknya bagian yang tajam lalu ia menarik, maka tidak ampun lagi, dua jari tangannya orang she Tie ini kena tergurat, darahnya lantas mengucur, coba dia tidak cepat menarik pulang, dua jarinya itu tentulah bakal sapat kutung!
"Bagus!" A Kiu berseru sambil tepuk tangan.
"Tikus!" membentak Hong Liu saking gusar. "Kau berani main-main denganku!"
Sin Cie tidak menjawab, hanya dia lemparkan golok di tangannya itu. Tapi dia melempar kea rah pohon dimana tadi dia lemparkan orang, orang itu lagi pegangi satu cabang, untuk meroyot turun, tepat sekali, golok itu mengenai cabang tersebut, hingga cabang itu kutung, hingga karenanya, orang itu jadi jatuh terguling!
Semua orang kaget dan kagum, suara mereka berisik.
Selagi begitu, Sin Cie hampirkan petinya, untuk dilemparkan, satu persatu dan disusun, maka di lain saat, semua peti telah merupakan satu tumpukan tinggi beberapa tumbak.
"Aku suka main-main denganmu tetapi hatiku tidak tenteram," katanya kepada Tie Hong Liu. "Kamu semua
673 bangsa bangsat, aku hendak cegah kamu selagi aku berkelahi, nanti kamu rampas peti ini!" Lantas saja ia lompat naik ke atas susunan peti itu, dari mana sambil memandang ke bawah, ia menantang: "Mari naik, di sini kita main-main!"
0o-d.w-o0
Tie Hong Liu kaget disusun kaget. Mulanya ia lihat orang lempar-lemparkan peti-peti yang berat, ia heran untuk tenaga besar dari si anak muda. Habis itu ia saksikan cara berlompatnya Sin Cie, yang demikian enteng dan pesat, ia kagum tak terkira. Dia tidak tahu anak muda itu, yang lihat dirinya menghadapi terlalu banyak lawan, sengaja pertontonkan ilmu entengkan tubuhnya yang sempurna yang ia peroleh dari Bhok Siang Toojin. Itulah dia ilmu "Pek pian kwie eng" atau "bajangan iblis berubah seratus macam".
"Jikalau kau berani, kau turunlah!" Hong Liu tantang pemuda itu. Ia berbuat begini karena ia insyaf ia tak sanggup lawan ilmu entengkan tubuh orang yang sempurna itu.
"Jikalau kau berani, kau naiklah!" Sin Cie balas menantang.
Hong Liu bertindak menghampirkan peti-peti besi itu, ia lantas memeluk, untuk digoyang, dengan pengharapan peti- peti itu bergoyang-goyang, supaya si anak muda limbung dan jatuh karenanya.
Benar-benar tubuhnya anak muda itu menjadi limbung, lantas saja dia terjatuh, akan tetapi begitu lekas kakinya injak tanah, ia menyambar Hong Liu dengan gerakan
674 "Chong eng kim tou" atau "Garuda terkam kelinci". Ia gunai tangannya yang kiri.
Hong Liu tangkis serangan itu, dia pakai tangan kanan. Tapi justeru tangan kanannya diulur, Sin Cie sambar itu, dicekal di bagian nadinya, lalu sebelum dia tahu apa-apa, tubuhnya telah terangkat naik, dari mulut si anak muda pun terdengar seruan: "Bangun!" Dia sebenarnya bertubuh besar, tubuhnya itu berat sekali, akan tetapi dia jadi seperti dengar kata, tubuhnya terangkat naik, terlempar ke atas susunan peti-peti di atas mana lantas saja ia berdiri dengan limbung, sebab peti pun bergoyang-goyang....