Tie Hong Liu berlaku tenang walaupun ia telah dicecar secara demikian, di lain bagian, mukanya jadi semakin merah dan semakin merah, hingga sinar merah itu sampai kepada batang lehernya, Ia masih main maju saja, kedua tangannya bergerak-gerak menghalau sesuatu tusukan. Ia bertubuh besar dan tangguh, hatinya mantap, disebelah ia ada satu nona muda, yang tubuhnya kecil-langsing, yang sedang hunjuk kegesitannya.
Sin Cie tonton pertempuran itu.
"Dia tua-bangka tetapi dia sudi layani satu nona-remaja," kemudian ia kata kepada Ceng Ceng, kawannya. "Kau lihat, dia berniat turunkan tangan jahat."
"Nanti aku tolong nona itu!" sahut Ceng Ceng. Sin Cie tertawa.
"Dua-dua mereka hendak rampas harta kita, untuk apa tolongi dia?" ia tanya.
"Tapi nona itu manis, dia sangat simpatik!" kata Ceng Ceng. "Baik kita tolong dia , urusan di belakang, ada lain. Toako, pergi kau yang turun tangan!"
Sin Cie tertawa pula, ia manggut-manggut.
Pertempuran masih berjalan, mukanya Hong Liu tetap merah, tapi cahaya merah itu sudah melulahan ke seluruh lengannya.
"Kalau sebentar cahaya merah itu sampai di tangannya, celakalah si nona," kata Sin Cie pada kawannya. Dia berlaku tenang, dia telah pikir bagaimana harus bertindak.
A Kiu telah berhasil menotok atau menusuk Hong Liu, sampai beberapa kali, akan tetapi ia tidak peroleh hasil
661 sebagaimana tadi ia lawan Cin Tong. Hong Liu tidak perdulikan serangan itu, ia tetap berlaku tenang, ia maju dengan perlahan, Cuma setiap herakannya jadi makin berat dan makin berat. Di samping dia, pada A Kiu pun terjadi perubahan karena ia ini sibuk sendirinya melihat serangan- serangannya yang tidak memberi hasil, walaupun ia bisa menusuk dengan tepat, hingga di lain saat, kegesitannya mulai berkurang, napasnya pun mulai memburu.
Thia Ceng Tiok pun telah perhatikan jalannya pertempuran.
"A Kiu, kembali!" ia teriaki gadisnya. "Tie Pehhu telah menang!"
Nona itu dengar kata, ia lantas putar tubuhnya, untuk mundur.
Tetapi Tie Hong Liu desak ia.
"Setelah kau tusuk aku berulang-ulang, kau masih berniat menyingkir?" dia membentak. Dia tetap bergerak ayal akan tetapi A Kiu toh seperti kena dikurung, ia tak dapat terus mundur.
Tangannya jago she Tie ini pun mulai merah sekarang.
Ceng Tiok ambil sebatang bamboo dari tangannya satu orangnya, dia serukan: "Semua berhenti!"
Justeru itu, See Thian Kong yang geraki kipasnya, maju, untuk serang ketua Ceng Tiok Pay ini, malah dia arah jalan darah, hingga mau atau tidak, Ceng Tiok mesti tangkis serangan mendadak ini. Malah ia mesti melayani terus, hingga ia tak bisa pecah tubuh, untuk tolongi puterinya. Ia tahu, orang she See ini liehay, ia mesti waspada.
Di pihak sana, A Kiu sudah mandi keringat, bertetes- tetes, air keringat jatuh dari kepalanya, sedang kedua tangannya sangat repot membela diri dari desakannya Hong Liu.
Sekonyong-konyong saja Sin Cie menjerit-jerit bagaikan orang edan-tolol: "Ayo! Tolong! Tolong!" Dan kudanya kabur ke tengah kalangan, kea rah Thia Ceng Tiok dan See Thian Kong, hingga mereka ini, mau atau tidak, mesti pisahkan diri.
Sin Cie bercokol di atas kuda dengan tubuh limbung, kedua tangannya dipakai memeluki leher kuda, agaknya ia seperti mau jatuh, akan tetapi, sesudah miring dan merosot ke bawah perut kuda, ia berhasil perbaiki diri, duduk pula di atas bebokong kudanya. Kuda itu sendiri terus berlarian, seperti lagi kalap. Kemudian binatang itu lari ke arah A Kiu dan Hong Liu, hingga sekejab saja, dia telah pisahkan kedua orang yang lagi bertempur seru itu, malah sekarang, dia mau berhenti berlari-lari, berdiri di antara kedua musuh itu.
Sin Cie lekas-lekas merosot turun dari kudanya. "Sungguh berbahaya! Sungguh berbahaya!" ia ngoceh
sendirinya. "Inilah yang dibilang lolos dari kematian...Eh,
binatang, apakah benar kau maui jiwanya majikanmu?"
Sementara itu, dengan jengah, A Kiu telah gunai kesempatan, untuk kembali ke dalam barisannya. Dalam keadaan seperti itu, Hong Liu tidak dapat kejar dia.
Tapi Thia Ceng Tiok sendiri tidak mau berhenti sampai di situ.
"See Ceecu, aku masih ingin belajar kenal dengan Im- yang Poo-sie!" ia tantang pula See Thian Kong.
"Ya, ini pun untuk pertandingan peti terakhir!" sahut orang she See itu. Maka tak tempo lagi, keduanya bertempur pula. Tadi mereka bertempur sampai beberapa puluh jurus tanpa ada keputusannya, sekarang ini mereka cari keputusan itu. Maka keduanya bertarung dengan hebat sekali.
Sepasang toya bamboo dari Thia Ceng Tiok ada panjang, permainan silatnya pun liehya, ia mmembuat lawannya dengan senjata kipasnya tak mampu dekati padanya.
Tatkala itu matahari yang merah sudah mulai doyong ke barat, beberapa rombongan gaok, dengan suaranya yang berisik, mulai terbang pulang ke hutan.
Setelah berjalan lagi beberapa puluh jurus, See Thian Kong mulai keteter, gerak-gerakan kakinya telah menjadi kacau.
Tie Hong Liu lihat keadaan itu, ia lantas berseru: "Kedua pihak sama tangguhnya, keputusan menang dan kalah sukar diambil, maka itu peti ini baiklah dibagi dua saja dengan rata!"
Justeru itu, Thia Ceng Tiok telah perdengarkan suara tawa yang panjang membarengi sapuan senjatanya yang istimewa itu.
Atas serangan ke bawah itu, See Thian Kong apungi diri untuk berlompat menyingkir, akan tetapi Ceng Tiok berlaku sangat sebat, setelah gagal sapuan yang pertama, ia ulangi itu selagi lawannya belum sempat injak tanah, dari itu tak ampun lagi, sebelah kakinya lawan itu kena tersapu, tubuhnya menjadi limbung, lantas saja dia rubuh.
Sesudah sang lawan jatuh, Thia Ceng Tiok tidak menyerang lebih jauh, dia malah tarik pulang senjatanya. Tapi See Thian Kong telah kertak gigi saking malu dan mendongkol, sambil rebah ia tekan pesawat rahasia pada kipasnya itu, yang ia tujukan ke bebokongnya si orang she Thia, yang telah memutar tubuh, maka lima batang paku rahasia lantas menyerang ketua dari Ceng Tiok Pay itu tanpa dia ini ketahui atau sempat berkelit, hingga semua lima-limanya paku nancap di bebokongnya itu.
Ceng Tiok kaget, apapula kapan ia rasai bebokongnya lantas ngilu dan baal, insyaf pada bahaya, ia segera menahan napas, ia tak mau bicara, kemudian dengan satu lompatan, ia dekati lawannya itu yang curang, untuk totok dia dua kali dengan ujung galanya. Ia arah perut lawan, ia telah gunai sisa tenaganya, atas mana, See Thian Kong semaput seketika itu juga.
Sejumlah berandal dari Shoatang hunus senjata mereka, mereka maju untuk tolongi ketua mereka, akan tetapi belum sampai mereka datang dekat, Thian Ceng Tiok sudah tak kuat pertahankan diri, dia rubuh celentang. Hebat adalah kesudahan dari itu, sebab lima batang paku rahasia di bebokongnya mengenai tanah, hingga dia jadi tertumblas lebih dalam.
A Kiu lompat kepada ayahnya, untuk mengasih bangun.
Melihat tubuhnya ketua mereka, yang tak ketahuan masih hidup atau sudah terbinasa, orang-orang Ceng Tiok Pay jadi kalap, tidak ayal lagi, mereka maju menyerang rombongan berandak dari Shoatang itu, hingga mereka jadi bertempur secara hebat dan kalut.
"Lekas suruh saudara-saudara itu berhenti bertempur!" serukan Tie Hong Liu kepada hu-ceecu dari Ok Hou Kau, yang lengannya ia sambar.
Tam Hoo-ceecu menurut, ia perdengarkan terompetnya.
Titah ini ditaati kawan-kawan, sekejab saja semua berandal dari Shoatang undurkan diri. Pihak Ceng Tiok Pay juga bunyikan pertandaan mereka, yang membikin anggauta-anggauta mereka mundur juga.
Itulah A Kiu, yang beirkan tandanya, karena itu waktu, ia dapatkan ayahnya sudah sadar, hingga ia anggap, satu pertarungan kacau balau tidak ada faedahnya, sedang juga pihak sana sudah bunyikan terompet.
Tie Hong Liu lantas majukan diri, akan berdiri di tengah- tengah kedua pihak.
"Baiklah kedua pihak jangan merusak perdamaian!" dia berseru. "Mari kita mulai membagi bagian! Tentang perselisihan, kita akan damaikan secara perlahan-lahan!"
Tam Hoo-ceecu segera perdengarkan suaranya: "Peti terakhir ini ada bagian kami!"
"Muka tebal!" berseru pihak Ceng Tiok Pay. "Sudah kalah bertempur, masih berlaku curang! Apakah ini namanya satu enghiong?"
Kedua pihak lantas saling damprat, lalu akhirnya mereka hunus pula senjata masing-masing.
"Baiklah, peti itu dibuka, isinya dibagi rata!" lagi-lagi Tie Hong Liu berseru.
Ata situ, orang-orang kedua pihak hendak maju berbareng.
"Tunggu dulu!" A Kiu berseru. "Peti yang kedelapan akulah yang menangkan akan tetapi aku tak inginkan itu, aku hendak hadiahkan kepada itu tuan tetamu! Aku larang siapa juga raba peti itu!"
"Eh, kenapa begitu?" tanya Tie Hong Liu.
"Apabila kudanya dia itu tidak binal, pasti aku telah rubuh di tangan kau, Tie Pehhu," sahut si nona. "Maka hendak aku menghadiahkannya kepadanya!"
666 Tie Hong Liu tertawa.
"Nyata kau kenal budi-kebaikan!" kata dia. "Baik, kau ambillah itu! Ingat, semua peti sudah ada tandanya, jangan salah ambil!"
Selagi orang hendak angkut peti-peti, mendadak Sin Cie berseru: "Hai, tuan-tuan, kamu hendak perbuat apa?" demikian suaranya.
A Kiu tertawa cekikikan.
"Eh, kau masih belum tahu?" katanya. "Kita hendak angkut peti-peti itu!"
"Oh, begitu?" kata Sin Cie. "Tak sanggup aku terima budi-kebaikan itu! Kamu lihat sendiri, aku telah sewa kereta yang besar untuk mengangkutnya!..."
"Tetapi kita bukannya hendak tolongi kau mengangkutnya!" kata A Kiu, yang tertawa pula. "Kita hendak mengangkut untuk kita sendiri!..."
"Hei, inilah aneh!" seru Sin Cie. "Peti ini toh kepunyaanku?"
Lalu terdengar ejekannya seorang Shoatang: "Ini anak muda bangsawan cuma kenal gegares, buat apa dia banyak omong?" Dan dia maju, untuk angkat peti yang menjadi bagiannya.
"Eh, tunggu dulu!" Sin Cie mencegah. "Tak dapat kau ambil ini!"
Ia terus loncat naik ke atas peti itu, ketika sebelah kakinya digeraki, orang itu, yang tubuhnya besar, terpelanting rubuh! Ia pun lantas menjerit-jerit: "Tolong! Tolong!" Tubuhnya sendiri limbung, seperti yang hendak terpelanting dari atas peti. A Kiu sangka orang ini semberono, dia lompat maju untuk sambar tangan orang, guna ditarik, dan cegah dia itu jatuh, separuh mengomeli, dia kata: "Ah, kau sangat semberono!. "
Kawanan berandal menyangka pemuda ini benar-benar semberono, bahwa tendangannya tadi bukan disengaja, dari itu, mereka hendak maju pula, guna ambil peti bagian mereka masing-masing.
"Sabar, sabar!" Sin Cie berseru pula, seraya ia ulap- ulapkan kedua tangannya. "Tuan-tuan hendak ambil semua petiku ini, hendak diangkut kemanakah?"
"Kami hendak bawa pulang masing-masing!" jawab A Kiu.
"Habis, bagaimana dengan aku?" tanya Sin Cie pula, dengan sikapnya tolol-tololan.