Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 94

Memuat...

sengit, "akan tetapi nanti, setelah barang sampai di dalam

daerah Hoopak, disana kaulah yang nanti lonjorkan tanganmu, bukan?" "Benar," aku Thia Ceng Tion. "Bukankah ini tidak merusak persahabatan? Bukankah ini tidak melanggar perjanjian kita di Tay San?"

Semua berandal itu menjadi sangat gusar. Itulah alasan yang dipaksakan, yang dicari-cari. Dari murka, mereka jadi niat menyerang ayah dan gadisnya itu. Bukankah mereka Cuma berdua saja?

Selagi orang berdiam, A KIu bawa dua lembar daun bambu ke dalam mulutnya, untuk tiup itu. Itulah suitan istimewa, yang memberikan pertandaan rahasia.

Menyusul bunyinya suitan, dari dalam rimba muncul beberapa ratus orang yang pakaiannya tak berseragam, kecuali di kopiah mereka, masing-masing mereka menyelipkan selembar daun bambu yang hijau.

See Ceecu terkejut dalam hati.

"Ah, kiranya dia telah bikin persiapan....." pikirnya. "Nyatalah saudara-saudara kita yang ditugaskan sebagai mata-mata, buta matanya! Kenapa mereka tidak ketahui orang datang dalam jumlah begini besar?"

Tidak ayal lagi, See Ceecu memberikan isyaratnya, maka lantas semua tujuh ceecu lainnya serta Tam Hu Ceecu, ketua muda dari Ok Hou Kau, lantas atur barisan mereka masing-masing.

Tak gentar hatinya Thia Ceng Tiok menampak persiapan pihak delapan ceecu itu, inilah disebabkan ia percaya orang- orangnya sendiri, yang ia rasa telah ia atur dengan sempurna.

Sin Cie tarik tangannya Ceng Ceng, si nona berpaling kepadanya, keduanya lantas bersenyum. "Barang masih belum didapatkan, mereka sudah berkeras di antara kawan sendiri, sungguh lucu!" kata si nona dengan perlahan. Ia pun tidak jeri.

"Biar saja!" kata Sin Cie. "Kita jadi si nelayan yang peroleh hasil! Tak jelek, bukan?"

Walaupun mereka bersiap untuk bertempur, kawanan begal Shoatang itu masih sempat pisahkan sejumlah kecil, ialah beberapa puluh orangnya, untuk jaga kereta-kereta barang, rupanya mereka kuatir, selagi mereka adu jiwa, kereta-kereta nanti kabur.

Sin Cie lambaikan Seng Hay.

"Ceng Tiok Pay itu golongan apa?" tanya ia pada pengikut itu.

"Di wilayah Hoopak, Ceng Tiok Pay berpengaruh sendiri," Seng Hay terangkan. "Orang tua itu, Thia Ceng Tiok, adalah ketuanya. Jangan kita lihat dia dari kurus tubuhnya dan tua usianya, ilmu silatnya liehay sekali!"

"Dan itu anak kecil?" Ceng Ceng tanya. "Dia cucunya atau gadisnya?"

"Turut apa yang aku dengar, tabeatnya Thia Ceng Tiok aneh sekali," sahut Seng Hay. "Seumur hidupnya, dia tidak pernah menikah, dari itu tak mungkin nona itu ada cucu atau anaknya. Mungkin dia kemenakan atau anak pungut. "

Ceng Ceng manggut-manggut.

Nona A Kiu itu bersikap tenang sekali, tak sedikit jua kentara ia berkuatir, maka Ceng Ceng sangka dia liehay bugeenya. Ia terus mengawasi kawanan begal itu.

Di pihak Ceng Tiok Pay, berulang-ulang terdengar suitan., lalu jumlah mereka yang terdiri dari beberapa ratus jiwa lantas pusatkan diri dalam empat pasukan, sesudah mana, Ceng Tiok dan A Kiu tempatkan diri di muka barisannya itu. Mereka masing-masing menunggang kuda. Mereka hendak bertempur akan tetapi mereka tidak menyekal senjata.

Dimana kedua pihak sudah siap, pertempuran akan meletus sembarang waktu, selagi begitu, di arah selatan, terdengar suara kelenengan nyaring, lalu tertampak tiga penunggang kuda mendatangi dengan cepat sekali, kemudian satu diantaranya, yang maju paling depan berseru: "Sama-sama sahabat sendiri, tolong kamu pandang mukaku!"

"Hei, heran!" pikir Sin Cie. "Mengapa muncul pula satu tukang mendamaikan?. " Ia lantas mengawasi.

Sebentar saja, ketiga penunggang kuda itu telah datang dekat. Orang yang pertama berumur lima-puluh lebih, roman mereka mirip dengan seorang hartawan bekas pembesar negeri, sebab ia pakai baju panjang tersulam dan tangannya menyekal sebatang huncwee besar. Dua yang lain, yang tubuhnya jangkung dan kate, sangat sederhana dandanannya.

Begitu lekas sudah tempatkan diri diantara kedua pihak rombongan yang hendak adu tenaga itu, orang itu angkat huncweenya, ia tertawa, lalu dengan nyaring, ia kata: "Kita ada diantara saudara-saudara sendiri, omongan apa yang tak dapat diucapkan? Kenapa kita mesti angkat senjata? Apakah kamu tak kuatir nanti ditertawai kaum kangouw umumnya?"

"Thie Chungcu, bagus kau telah datang!" berkata See Ceecu. "Tolong kau berikan pemandanganmu, untuk ketahui siapa benar dan siapa keliru. "

Ceecu ini lantas bentangkan sikapnya Thia Ceng Tiok.

650 Orang she Thia itu tidak perdulikan apa yang orang bilang, ia cuma tertawa saja dengan dingin.

Selagi orang bicara, Ang Seng Hay kata pada Sin Cie: "Wan Siangkong, See Ceecu itu bernama See Thian Kong, gelarannya Im-yangsie, si Kipas Imyang. Bersama-sama Thie Chungcu itu, yang bernama Tie Hong Liu, mereka menjadi dua cabang atas didalam propinsi Shoatang."

"Jadi mereka inilah yang dulu kau sebut-sebut?" kata Ceng Ceng.

"Dan kenapa dia dipanggil chungcu?" tanya Sin Cie.

Chungcu adalah hartawan atau pemilik sebuah kampung dimana dia berpengaruh seorang diri. ("Chung" dari chungcu baca mirip "ceng" dari "cengkeram").

"Bedanya ialah," menerangkan Ang Seng Hay, "kalau See Ceecu berkedudukan di atas gunung dengan pesanggrahannya, Tie Hong Liu hidup sebagai satu wan- gwee, hartawan yang berumah-tangga dalam sebuah kampung, sebab di depan dan belakang kampung itu ditanami ribuan pohon yangliu merah, kampungnya itu diberi nama Cian-liu-chung. Tapi sebenarnya dia adalah begal tunggal, dia bisa membegal atau merampas sendirian, kalau dia "bekerja", dia cuma ajak dua atau tiga pembantunya."

Dalam hatinya, Ceng Ceng bilang: "Dia jadinya mirip dengan cara hidupnya beberapa yayaku dari Cio Liang Pay..."

Segera terdengar suaranya Tie Hong Liu: "Thia Toako, di dalam hal ini, toakolah yang kurang tepat. Ketika dahulu dibikin rapat besar di gunung Tay San, dengan kebaikannya semua saudara, yang masih memandang mata kepadaku, aku telah diundang hadir, itu waktu telah ditetapkan bahwa kita masing-masing tak dapat bekerja di luar batas wilayah pengaruh sendiri!"

"Itulah benar, Tie Chungcu," shaut Thia Ceng Tiok dengan tenang, "tapi sekarang aku bukannya hendak bekerja, aku hanya bermaksud baik, niat melindungi rombongan kereta barang-barang ini. Tie Lauko, kupingmu terang sekali, di mana saja kau dengar ada 'air-minyak', lantas kesana kau sodorkan huncweemu!. "

Orang she Tie itu tertawa terbahak-bahak, terus ia tunjuk dua orang yang iringi padanya: "Kedua tuan ini adalah Huy-im Siang Kiat, Gu Hoa Seng dan Thio Hin. Mereka yang sengaja bergegas-gegas datang ke kampungku akan memberitahukan bahwa mereka mempunyai satu bahagian harta kegirangan untuk dipersembahkan kepadaku. Tubuhku telah jadi begini gemuk, aku malas untuk bekerja pula, akan tetapi mereka dua saudara demikian sungguh- sungguh, terpaksa aku tak dapat tampik kecintaan mereka, terpaksa aku keluar, untuk melihat, aku tidak sangka disini aku bertemu dengan saudara beramai. Sungguh, inilah ramai sekali!"

Sin Cie pandang Ceng Ceng, dalam hatinya, ia kata: "Bagus, sekarang tambah tiga ekor kucing!"

See Thian Kong sebaliknya pikir: "Orang she Tie ini liehay, baik aku rombak aturan pembagian, aku bagi dia satu bagian, supaya kita bisa bekerja sama-sama untuk hadapkan Ceng Tiok Pay." Karena ini, dia kata kepada chungcu itu: "Tie Chungcu adalah orang dari wilayah Shoatang, umpamanya Tie Chungcu kehendaki satu bahagian, kami tidak bisa bilang satu apa, tetapi jikalau orang dari lain wilayah masuk kemari, lalu kita mengalah, habis dari mana kita punyakan nasi untuk didahar?" Tie Hong Liu tidak bilang suatu apa kepada orang she See itu, dia hanya pandang Thia Ceng Tiok untuk tanya: "Nah, Thia Toako, apa katamu?"

"Urusan hari ini terang tak dapat diselesaikan secara baik," sahut orang she Thia itu. "Baiklah, mari kita bicara secara terbuka, kita cari kemenangan atau kekalahan di ujung golok dan tumbak saja!"

Nyata ketua dari Ceng Tiok Pay ini bernyali sangat besar, tidak perduli dia lagi hadapi musuh demikian banyak.

"Dan kau, See Lautee, bagaimana dengan kau?" Tie Hong Liu menoleh pada See Thian Kong yang menjawab dengan lantas: "Kami orang laki-laki dari Shoatang, tak dapat kami mengalah untuk diperhina orang lain daerah yang datang cari rumah kita!"

Dengan jawabannya itu, terang See Thian Kong sudah tarik Tie Hong Liu kepada pihaknya.

Thia Ceng Tiok mengulet, ia pun menguap.

"Sekarang bagaimana, kita maju semua berbareng atau satu demi satu?" tanya dia dengan tantangannya. "Silahkan See Ceecu mengaturnya, pihakku yang rendah bersedia untuk turut segala titahmu."

See Thian Kong goyang-goyang kipas Im-yang-sienya, ia pun berulang-ulang perdengarkan suara menghina: "Hm! Hm!"

"Dan kau, Tie Toako, bagaimana pikiranmu?" dia tanya.

Ketika pertama kali Tie Hong Liu terima laporan Hoay- im Siang Kiat, sepasang jago dari Hoa-im, dia telah memikir untuk telan sendiri harta karun itu, maka ia sudah berangkat dengan cepat, ia tidak sangka, dia telah datang terlambat, dari itu, dia memikir boleh jugalah ia mendapat hanya satu bagian. Tapi ia juga insyaf di pihak Ceng Tiok Pay ada banyak orang liehay.Thia Pangcu sendiri telah kesohor untuk banyak tahun, dia itu bukan orang sembarangan, tak dapat dia cari gara-gara dengan orang she Thia itu. Maka setelah berpikir sebentar, ia utarakan pikirannya.

"Jikalau begini duduknya hal, sulit untuk mencari pemecahan, satu pertempuran tak dapat dielakkan lagi," katanya. "Kalau kita bertempur secara merabuh, mesti banyak orang terluka dan terbinasa. Kenapa kita mesti minta banyak korban, hingga persahabatan jadi terganggu hebat? Bagaimana jikalau aku majukan satu usul?"

"Silakan kau mengutarakannya, Tie Chungcu," kata Thia Ceng Tiok dan See Thian Kong hampir berbareng.

Post a Comment