Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 93

Memuat...

Ceng Ceng tepuk-tepuk tangan, ia tertawa. "Inilah pikiran bagus!" ia memuji.

Besoknya pagi mereka berangkat pagi-pagi. Segera ternyata, mereka telah dikuntit dengan berani, seperti juga Sin Cie semua tidak ada lagi di mata mereka. Seng Hay lihat itu, dia sangat berduka.

"Kelihatannya, Wan Siangkong, hari ini tak dapat dilewatkan lagi," kata dia secara diam-diam kepada Sin Cie.

"Kau jangan kuatir," pesan si anak muda. "Tugasmu adalah jaga semua kereta, supaya keledai-keledai jangan kaget dan kabur. Untuk layani orang-orang jahat, serahkan itu kepada kita bertiga."

Seng Hay menurut, ia coba menenteramkan diri.

Sin Cie lantas bicara dengan si empeh gagu, dengan gerak-gerakan tangannya. Ia pesan, kalau ia sudah turun tangan, A Pa Barulah bekerja, dan yang bakal dibekuk adalah kepalanya penjahat.

A Pa manggut, tandanya ia mengerti.

Di waktu lohor jam tiga atau empat, rombongan kereta keledai yang angkut harta karun sampai di desa Thio- chung. Di muka itu ada segumpal pepohonan lebat. Segera terdengar suara anak panah mengaung dan muncul beberapa ratus orang yang pada ikat kepala dengan pelangi hijau, pakaian mereka serbat hitam, senjata mereka pelbagai macam, semuanya mengkilap tajam. Tapi mereka tidak menerbitkan suara berisik, mereka cuma menghadang di tengah jalan.

Tukang-tukang kereta lihat gelagat tidak baik, dengan lantas mereka hentikan kereta-kereta mereka, habis itu mereka berjongkok sambil tutupi kepala mereka. Inilah aturan mereka, sebab asal mereka tidak lari serabutan, orang jahat tidak bakal ganggu mereka.

Adalah setelah itu lalu terdengar suara suitan beruntun- runtun, menyusul mana beberapa puluh penunggang kuda muncul dari dalam rimba, menuju ke belakang rombongan kereta, untuk menjaga jalan mundur orang.

Selama di dalam kuil Sam Kong Sie, Sin Cie tidak lihat nyata roman orang, sekarang Barulah ia melihat tegas tujuh orang yang berbaris di paling muka, orangnya tinggi dan kate, satu di antaranya, yang berumur tiga-puluh lebih, maju pula kesebelah depan sekali. Dia ini tidak menyekal senjata, dia cuma menggoyang kipas dengan secara tenang.

"Wan Siangkong!" ia menegur, suaranya halus.

Sin Cie kenali suaranya See Ceecu dari Ok Hou Kau, ia lihat orang itu sikapnya tenang, dan tindakan kakinya tetap, maka ia mengerti kepala berandal ini pasti seorang yang liehay. Ia pun tidak sangka, dalam kalangan Cau-bong, Hutan Rumput, ada orang semacam ceecu ini. Ia lekas memberi hormat.

"See Ceecu!" katanya.

Kepala berandal itu heran, inilah ternyata dari romannya.

"Eh, mengapa dia kenal aku?" pikirnya.

"Wan Siangkong telah bikin perjalanan jauh, banyak cape, tentu," katanya kemudian.

Sin Cie awasi muka lawan, ia tahu ceecu itu heran bahwa ia ketahui namanya, maka itu ia memikir untuk bikin orang lebih heran.

"Perjalanan jauh tidak melelahkan aku," demikian jawabnya, "aku hanya sebal sebab barang-barang bawaanku ini terlalu banyak, terlalu berat. "

See Ceecu tertawa.

"Apakah siangkong hendak pergi ke ke kota raja untuk turut dalam ujian ilmu surat?" tanyanya.

642 "Oh, bukan, ceecu," sahut Sin Cie. "Ayahku titahkan aku pergi ke kota raja untuk menyerahkan uang, guna mendapatkan pangkat."

Kembali kepala berandal itu tertawa.

"Siangkong seorang jujur, tak miripnya kau dengan anak sekolahan yang kebanyakan," katanya.

Sin Cie pun tertawa. Kemudian ia kata:

"Tadi malam satu sahabatku datang memberi tahu padaku, katanya hari ini satu See Ceecu bakal menantikan aku di tengah jalan. Ia pesan aku untuk waspada, maka itu, aku tidak berani berlaku alpa, kuatir aku nanti tak dapat bertemu sama See Ceecu. Sungguh, benar-benar disini kita bertemu! Melihat dandanan ceecu, apakah ceecu juga hendak menuju ke kota raja? Bagaimana jikalau kita jalan sama?"

See Ceecu itu tertawa geli di dalam hatinya.

"Kiranya dia satu pitik yang tak tahu apa-apa!" pikirnya. Ia tertawa pula. Ia kata: "Apakah tidak baik siangkong hidup senang di dalam rumah? Untuk apa siangkong melakukan satu perjalanan begini jauh? Siangkong harus ketahui, diluaran banyak kejahatan. "

Dengan sikap wajar, Sin Cie menyahut: "Selama di rumah, pernah aku dengar orang-orang tua omong tentang penipu dan bunga raya, siapa tahu sesudah aku jalan seribu lie, aku tidak menemui apa juga, dari itu aku beranggapan, omongan itu kebanyakan hanya omongan untuk mendustai orang saja."

Ketujuh ceecu lainnya tak sabaran mendengar bicaranya si anak muda, mereka awasi See Ceecu, mereka kedip- kedipi mata, untuk menganjuri akan turun tangan dengan segera. See Ceecu rupanya berpikir sama seperti sekalian rekannya itu, mendadakan lenyap wajah berseri-serinya, sebagai gantinya, dia berseru nyaring dan panjang, lantas ia kibaskan, buka kipasnya, hingga pada daun kipas itu tertampak lukisan putih dari sebuah tengkorak dengan mulutnya tengkorak lagi menggigit sebatang golok, hingga romannya jadi sangat menakuti, menggiriskan.

Ceng Ceng yang berandalan terkejut juga dalam hatinya, malah Sin Cie sendiri merasakan hebatnya gambaran tengkorak itu, akan tetapi pemuda ini tetap tenang.

Habis itu, See Ceecu perdengarkan lagi suara tertawa, yang aneh, Baru suaranya berhenti, atau tangannya yang memegang kipas digeraki atas mana, beberapa ratus berandal lantas saja bergerak, untuk maju menyerang.

Sin Cie mengerti saatnya untuk bertindak, akan tetapi di saat ia hendak berlompat, guna bekuk See Ceecu, dengan tiba-tiba terdengar suara suitan yang nyaring dan tajam dari dalam rimba, hingga ceecu she Cee itu menjadi kaget, segera kibaskan pula kipasnya, melihat mana, semua berandal berhenti beraksi, semua lantas berdiri diam.

Segera muncul dua penunggang kuda dari dalam rimba itu. Penunggang kuda yang pertama adalah seorang tua dengan rambut, alis dan kumis-jenggotnya telah putih semua, sedang yang belakangan adalah satu nona dengan baju hijau, tangganya menyekal suitan. Mereka ini majukan kuda mereka di antara See Ceecu dan Sin Cie, Baru mereka berhenti.

"Inilah perbatasan Shoatang," kata See Ceecu.

"Memang. Siapa yang bilang bukan?" sahut orang tua itu. "Apa yang telah diputuskan ketika dulu kita membuat pertemuan di gunung Tay San?" See Ceecu tanya pula.

"Itu waktu telah ditetapkan, kami dari pihak Ceng Tiok Pay tidak akan memasuki daerah Shoatang untuk bekerja, dan kamu tidak dapat bekerja di Hoopak," si orang tua menjawab pula.

"Bagus!" kata See Ceecu. "Habis angin apakah sudah tiup Thia Lo-ya-cu datang kemari?"

Orang tua itu menyahuti dengan tenang: "Aku dengar kabar suatu barang-barang bakal dibawa masuk ke Hoopak, katanya tak sedikit terdiri dari barang baik, karenanya kita datang dulu untuk melihat."

Wajahnya See Ceecu berubah.

"Jikalau ditunggu sampai barang sudah sampai di daerah Hoopak, Baru dilihat, toh masih belum terlambat?" dia tanya.

Si orang tua tertawa berkakakan.

"Bagaimana tidak terlambat?" katanya. "Jikalau barang sudah terjatuh ke dalam tangan pihakmu, gilirannya untuk melihat saja sudah tidak ada!"

Sin Cie bertiga Ceng Ceng dan Ang Seng Hay saling memandang di dalam hati mereka, mereka berpendapat bagaimana cepatnya orang-orang Hoopak dengar kabar hal angkutan harta karun itu, hingga mereka sudah lantas datang untuk mendahulukan turun tanagan, atau untuk mendapati sebagian saja. Mereka pun pikir, baik mereka "tonton" sepak-terjang lebih jauh dari mereka itu.

Di pihak Shoatang, orang lantas bicara dengan seru, umumnya meeka katakan si orang tua bersikap tak tahu aturan. Menurut suara mereka, orang tua ini rupanya bernama Thia Ceng Tiok.

"He, apa yang kamu bicarakan demikian berisik?" si orang tua tanya rombongan Shoatang itu. "Aku sudah tua, kupingku tak dengar nyata. "

See Ceecu kibas-kibaskan kipasnya, untuk cegah rombongannya.

"Kita telah membuat perjanjian, Thia Lo-ya-cu, mengapa kau tidak hendak menepati janji?" See Ceecu tanya pula. "Ia tak dapat dipercaya, apakah dia tak bakal ditertawai orang- orang gagah kaum kangouw?"

Ditegur secara demikian, si orang tua tidak menjawab, ia hanya menoleh kepada si nona di sampingnya, akan tanya: "Eh, A Kiu, ketika masih di rumah, apakah kataku kepadamu?"

Si nona jawab: "Kau bilang, mari kita pergi ke Shoatang untuk lihat barang-barang berharga."

Ceng Ceng ada satu nona akan tetapi ia kagum mendengar suaranya nona ini. Itulah suara yang halus, jernih, sedap didengarnya. Maka ia menoleh kepada nona itu, yang ia awasi, hingga ia tampak lebih jelas wajah orang, muka yang bersemu dadu, segar dan manis. Dia adalah satu nona muda yang eilok dan menarik.

"Apakah kita pernah omong bahwa kita hendak ulur tangan kita untuk ambil barang itu?" Thia Ceng Tiok tanya pula, sambil tertawa.

"Tidak," sahut si A Kiu itu. "Sekarang pun kita tidak bicara sebagai itu."

Baru sekarang si orang she Thia berpaling pada See Ceecu. "Lautee, kau dengar atau tidak?" ia tanya. "Kapan aku pernah bilang hendak bekerja dalam daerah Shoatang?"

See Ceecu berubah wajahnya, ia bersenyum.

"Bagus, itu Barulah namanya sahabat!" dia bilang. "Thia Lo-ya-cu datang dari tempat jauh, sebentar kau akan dapat satu bagian!"

Orang she Thia itu tak ambil mumet akan kata-katanya ceecu ini, ia hanya berpaling pula kepada si nona.

"Eh, A kiu, apa saja yang kita katakan pula di rumah?" tanya ia.

"Kau bilang, barang permata itu tak sedikit, jangan kita biarkan lain orang mengambilnya," sahut orang yang ditanya.

"Hm!" bersuara Thia Ceng Tiok. "Umpama orang hendak mengambilnya?"

"Kalau sampai terjadi demikian, kami harus turun tangan untuk melindunginya," sahut pula si nona.

Ceng Tiok tertawa.

"Bagus, ingatannya anak muda tak jelek!" serunya. "Ya, aku ingat telah mengucapkan demikian." Lalu ia menoleh kepada si See Ceecu, dan kata: "Apa kau sekarang telah mengerti, lautee! Kami tak dapat bekerja di Shoatang, itu benar, akan tetapi kami hendak melindunginya! Tidakkah untuk ini tidak ada perjanjiannya?"

Mukanya ceecu she See ini menjadi pias-padam. "Sekarang kau larang kita turun tangan!" katanya dengan

Post a Comment