Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 91

Memuat...

Mengetahu hal ihwalnya Cie Hui Cou ini, Sin Cie menghela napas. Habis itu, ia baca surat yang kedua, yang memuat syair karangan Baginda Kian Bun sendiri, yang menguraikan kesannya yang menyedihkan, yang ditulis sepulangnya dia pesiar di propinsi-propinsi Hokkian, Kwietang, Sucoan dan Inlam, sekembalinya dia ke kotaraja, ibukota Kimleng (Lamkhia). Selama itu, raja ini telah berumur enam-puluh lebih, lenyap sudah harapannya untuk bisa naik kembali atas tahta, maka kemudian ia pergi tanpa tujuan. Entah bagaimana, peta dari hartanya itu telah terjatuh ke dalam tangan Kim Coa Long-kun.

Dengan gunai anak kunci, Sin Cie buka satu peti besi dan matanya lantas kesilauan, sebab peti itu penuh dengan pelbagai macam kumala dan permata lainnya, begitupun satu peti yang lainnya, hingga ia berdiri ternganga.

Sebentar saja, setelah sadar, Sin Cie pergi keluar.

"Pergi kau lihat di dalam," ia kata pada Ceng Ceng, yang tugasnya ia gantikan.

Ceng Ceng pun tercengang, sampai ia keluarkan seruan, kemudian ia keluar, tampangnya bercampur wajah keheranan dan kegirangan.

"Harta ini ada harta peresan dari rakyat, untuk apa kita ambil?" kata Sin Cie. Ceng Ceng tahu sekarang kejantanan si anak muda, ia pun tak mau unjuk ketemahaannya seperti dulu, untuk cegah dirinya dipandang enteng, ia kata: "Harta ini diambil dari rakyat, harta ini mesti dikembalikan pada rakyat juga!"

Tak kepalang girangnya Sin Cie, hingga ia sambar tangannya si nona, untuk dicekal dengan keras.

"Adik Ceng, sungguh kau kenal aku!" katanya memuji.

Tentu saja, si nona pun puas, hatinya lega bahwa ia dapat memahami pemuda itu.

"Kita sekarang punyai harta besar ini, dapat kita bertingkah sebagai puteranya satu orang berpangkat besar," kata Sin Cie kemudian. "Mari kita pergi ke kota raja, untuk suatu usaha besar. Kita nanti bantu Giam Ong dengan harta ini, guna rubuhkan kerajaan Beng. Apakah namanya usaha ini?"

"Itu artinya, dengan tumbaknya sendiri, kita tusuk tamengnya!" jawab Ceng Ceng. "Atau dengan gayanya sendiri, kita tindih padanya!"

"Benar, benar!" Sin Cie tertawa. "Sekarang hayo kita berkemas-kemas!"

Dengan dibantui si empeh gagu, Sin Cie bertiga angkut harta itu ke dalam kamarnya, lobang harta sendiri diuruk pula. Mereka mandi keringat karena kerja terlalu keras tapi mereka puas. Sampai fajar Barulah mereka selesai.

0o-d.w-o0

Besoknya lohor, Sin Cie titahkan Ang Seng Hay pergi ke rumah Ciau Kong Lee untuk panggil Lo Lip Jie. Dia ini masih sangat menderita karena lenyapnya sebelah tangannya, tapi mendengar Sin Cie panggil ia, bukan main girangnya, segera ia minta orang pepayang padanya, untuk memenuhi panggilan itu.

"Kau duduk," perintah Sin Cie, yang terus ajarkan bagaimana harus bersilat dengan tangan sebelah - tangan kiri.

Lip Jie berotak terang, ia gampang ingat, apapula setelah si anak muda yang liehay petahkan latihannya.

Untuk ini Sin Cie pakai tempo sepuluh hari, setelah Lip Jie ingat semua, dia dipesan untuk berlatih nanti, setelah lukanya sembuh.

Pelajaran ini beda daripada yang umum, karena Sin Cie wariskan dari dalam kitab Kim Coa Pit Kip. Maka itu, walaupun ia tercelaka, Lip Jie girang tak kepalang, karena ia sangat bahagia memperoleh ilmu golok yang liehay itu.

Sin Cie sudah lantas siapkan belasan kereta sewaan, untuk angkut hartanya ke kota raja. Untuk keberangkatannya itu, Kong Lee adakan satu perjamuan meriah sekali yang dihadiri oleh gadisnya dan sekalian muridnya. Di pihak lain, Sin Cie minta tolong supaya gedung Kokkong-hu itu dikembalikan kepada Bin Cu Hoa, sedang Tiang Pek Sam Eng diserahkan kepada pembesar negeri.

Selagi cuaca musim rontok menyenangi hati, Sin Cie berangkat bersama-sama Ceng Ceng, A Pa dan Ang Seng Hay, mengiringi belasan kereta harta karun itu, menuju ke Utara, Kong Lee dan gadisnya serta murid-muridnya mengantari sampai di seberang sungai Tiang Kang, sampai jauhnya tiga-puluh lie lebih. Daerah sebelah utara sungai ada daerah pengaruh Kim Liong Pang, dari itu siang-siang Kong Lee telah atur warta berita kepada pelbagai pelabuhan atau pos partainya, supaya di setiap tempat, rombongan Sin Cie disambut dengan baik dan dilindungi di sepanjang jalan.

Selang lebih dari sepuluh hari, sampailah rombongan ini di batas propinsi Shoatang.

"Tuan Wan, sejak ini, daerah bukan daerah pengaruh Kim Liong Pang lagi," menerangkan Ang Seng Hay, "karenanya, mulai hari ini, harus kita berlaku sedikit lebih hati-hati."

"Apa? Apa ada orang berani main gila terhadap kita?" tanya Ceng Ceng.

"Itulah tak dapat dibilang, "sahut Seng Hay. "Sekarang ini jalanan tidak aman, terutama di Shoatang, orang jahat terlebih banyak daripada tempat lainnya. Di daerah ini ada dua partai yang liehay."

"Kau toh dari partai Put Hay Pay?" Ceng Ceng tegasi. Seng Hay tertawa.

"Put Hay Pay berkuasa di lautan," kata dia, "maka juga kalau di darat, umpama emas dan permata kedapatan di tengah jalan, menjemputnya pun kami tidak lakukan!"

"Siapa itu dua partai di Shoatang?" Sin Cie tanya.

"Yang pertama ada rombongan Tie Hong Liu Tie Toaya di Chongciu," jawab Seng Hay.

Sin Cie manggut.

"Ya, aku pernah dengar guruku omong tentang Tie Toaya itu," kata ia. "Dia kesohor untuk tangan-pasir- besinya Tiat-seeciang dan ilmu silat toya Thay-cou-kun." "Itulah benar. Partai yang satu lagi adalah yang berkedudukan di ok-hou-kau," Seng Hay terangkan lebih jauh. "Partai ini mempunyai enam pemimpin yang semuanya liehay."

Sin Cie manggut pula.

"Baiklah, kita harus berhati-hati," katanya. "Setiap malam baik kita bergiliran menjaga."

Perjalanan dilanjuti. Selang dua hari, mereka berpapasan dengan dua penunggang kuda, yang kudanya dikaburan, sehingga suara kelenengannya terdengar dari jauh-jauh.

"Inilah dia!" kata Seng Hay setelah dua penunggang kuda itu lewat di samping mereka. Sebagai orang kangouw ulung, Seng Hay luas pengetahuannya. Ia tidak kuatir, karena ia tahu Sin Cie liehay dan ia sendiri pun tak dapat dipandang ringan.

Selang satu jam, dua penunggang kuda tadi telah kembali dan lantas melewatkan pula.

Ceng Ceng tertawa dingin.

"Tidak sampai sempuluh lie, bakal ada yang pegat kita," Seng Hay kasih tahu.

Akan tetapi sangkaan ini keliru. Lebih dari sepuluh lie dilewatkan, mereka tidak kurang suatu apa, hingga mereka singgah di Siang-cio-hu.

"Heran! Mungkin mataku lamur?" kata Seng Hay.

Besoknya pagi, jalan belum lima lie, di sebelah belakang mereka, empat penunggang kuda menguntit dari kejauhan.

"Aku mengerti," kata Seng Hay. "Kemarin mereka belum siap, hari ini tentu mereka akan bekerja." Tengah hari, sehabis singgah, lagi dua penunggang kuda menyusul rombongan ini.

"Aneh!" kata Seng Hay. "Kenapa begini banyak orang?"

Dan menambah keheranannya ini, beberapa jam kemudian, dua penunggang kuda lain lewatkan mereka.

Sin Cie masih hijau di kalangan kangouw, ia tidak merasakan apa-apa, tapi juga Ceng Ceng, pengalamannya masih kurang, tidak demikian dengan Seng Hay.

"Aku mengerti sekarang," kata dia. "Wan Siangkong, malam ini kita mesti singgah di tempat yang besar."

"Kenapa begitu?" Sin Cie tanya.

"Sebab yang kuntit kita bukannya orang-orang dari satu partai saja."

"Begitu? Berapa partai kiranya?" tanya Ceng Ceng. "Jikalau setiap partai kirim dua orang, itu berarti, di

depan dan belakang, sudah tujuh. "

Ceng Ceng tertawa.

"Kalau begitu, bakal ramai!" katanya.

"Tetapi siocia, satu orang tak dapat lawan orang yang banyak," Seng Hay peringati. "Kita sendiri boleh tak takut tetapi bagaimana kita dapat bela barang-barang kita? Ini sulit. "

"Kau benar juga," Sin Cie manggut. "Malam ini kita singgah di Cio-liau-tin saja."

Benar-benar mereka singgah di Cio-liau-tin dimana mereka pilih sebuah hotel besar, malah Sin Cie peirntah turunkan semua peti, untuk ditumpuk di dalam kamarnya dimana ia hendak tidur berdua si empeh gagu. Baru Sin Cie selesai mengangkut, dua orang dengan tubuh besar datang ke hotel itu. Lebih dulu mereka awasi anak muda kita, lantas mereka nyatakan pada kuasa hotel bahwa mereka berniat bermalam. Karena ini, satu jongos diperintah antar mereka masuk, untuk ambil kamar.

Sin Cie manggut-manggut dengan diam-diam, ia tahu apa yang harus diperbuat. Habis bersantap ia perintah semua orang masuk ke dalam kamar, untuk beristirahat.

Kira tengah malam, pemuda kita dengar suara berkelidik di atas genteng, bukan dia lantas bersiap, dia malah bangun untuk nyalakan lilin secara terang-terang, kemudian ia buka sebuah petinya, untuk keluarkan seraup mutiara dan batu permata lainnya, yang ia letaki di atas meja, antaranya ada yang ia pandangi pulang-pergi, hingga di antara sinar api, semua permata itu terang-gemilang berkilauan.

Di luar jendela, entah berapa banyak pasang mata yang kesilauan juga.

Seng Hay pun dengar apa-apa, hatinya jadi tidak tenang, maka ia keluar dari kamarnya akan menghampiri Sin Cie. Di luar, ia lihat belasan tubuh berebut umpetkan diri, maka ia bersenyum ewa. Ia ketok kamarnya si anak muda.

"Masuk!" terdengar suara Sin Cie.

Seng Hay tolak daun pintu yang menjeblak. Nyata pintu tak dikunci.

Begitu melangkah di pintu dan lihat barang-barang permata itu, orang she Ang ini melengak, saking heran, karena matanya silau. Belum pernah ia lihat barang permata demikian banyak, banyak rupanya dan bear-besar juga. Ia heran ia tak tahu dari mana si anak muda perolehnya. Kemudian lekas-lekas ia dekati anak muda itu. "Wan Siangkong, apa boleh aku bantui kau simpan barang permata ini?" kata dia, suaranya sangat pelahan. "Di luar kamar banyak orang sedang intai kita "

"Aku justeru hendak bikin mereka buka mata mereka," sahut si anak muda, dengan pelahan juga. Ia lantas angkat serenceng mutiara, lalu ia tanya: "Kalau kita bawa mutiara ini ke kota raja, berapa kau taksir harga penjualannya?"

"Aku tidak tahu," sahut pengiring itu.

"Sebutirnya tiga-ratus tail perak, tak kurang lagi," si anak muda bersenyum. Dan rencengan ini terdiri dari dua-puluh empat butir."

"Jadi harganya sepuluh ribu tail. " Seng Hay bilang.

"Eh, kenapa jadi sepuluh ribu?" tegasi Sin Cie heran. "Sebab sukar akan cari mutiara sebesar ini, begitu

Post a Comment