Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 90

Memuat...

Bok Jin Ceng tertawa.

"Sin Cie telah janjikan orang untuk memberi pelajaran, di Lamkhia ini ia masih mesti berdiam untuk beberapa hari," ia jawab, "maka pergi kamu main catur selama beberapa hari ini! Kau sendiri masih punyakan banyak ilmu kepandaian, bolehlah sekalian saja kau wariskan semuanya kepadanya!" Sambil tertawa berkakakan, Bok Jin Ceng putar tubuhnya untuk berlalu, atas mana Uy Cin dan Ciu San lantas mengikuti.

A Pa berdiri tegak di tempatnya, ia gerak-gerikkan kedua tangannya kepada ketua dari Hoa San Pay, melihat mana, Bok Jin Ceng tertawa.

"Baiklah," katanya. "Kau kangen dengan sahabat cilikmu, pergi kau berdiam sama dia!"

Ia juga beri tanda dengan gerakan tangannya.

A Pa sangat girang, ia lari pada Sin Cie tubuh siapa ia tubruk, untuk dipeluk dan diangkat!

Ceng Ceng kaget hingga ia mencelat, tapi kapan ia tampak wajah kegirangan orang, hatinya menjadi lega, ia menjadi tenang pula.

Sin Cie girang berbareng masgul. Baru ia bertemu gurunya, lantas mereka berpisah pula. Ia pun berat akan berpisah dari Ciu San dan Uy Cin, malah dengan sang toasuheng ia sampai tak sempat pasang omong lagi.

"Kau baik, tak kecewa banyak orang ajari kau," demikian terdengar suaranya Bok Jin Ceng, yang tubuhnya lantas lenyap di tempat gelap, lenyap bersama Uy Cin dan Ciu San, meninggalkan si murid yang bengong mengawasi kearahnya.

Kwie Sin Sie dan isterinya juga, sambil memberi hormat, awasi guru dan suhengnya itu, kemudian mereka menjura pada Bhok Siang Toojin, akan lantas ajak tiga murid mereka berlalu.

"Mereka itu mendendam terhadap kau," Bhok Siang kata pada Sin Cie. "Mereka berkepandaian tinggi, dibelakang hari apabila kau bertemu dengan mereka, waspadalah! - Sekarang, aku pun hendak pergi!"

Sin Cie manggut berbareng terperanjat. Ia terima nasehat itu tapi ia tak sangka guru ini mau berangkat demikian lekas. Ia pun menyesal sudah bentrok dengan suhengnya suami-istri. Lebih menyesal lagi, tak dapat ia tahan Bhok Siang Toojin, yang lantas saja berlalu. Maka ia pun ajak A Pa dan Ceng Ceng berlalu dan sepulangnya ke rumah Kong Lee, ia terus masuk tidur.

Besoknya pagi Baru pemuda ini mendusi, atau Ceng Ceng sudah berlari-lari masuk kedalam kamarnya sambil mulutnya berseru dengan berisik - berseru kegirangan - sebab tangannya menggenggam sebuah peti kayu yang kecil, semacam lopa-lopa.

"Terkalah, apa ini?" ia berseru dengan pertanyaannya. "Apakah ada tetamu?" Sin Cie tanya.

Ceng Ceng tidak menjawab, ia hanya buka peti kecil itu. Ia berbuat demikian dengan air mukanya tersungging senyuman, umpama bunga sedang mekar. Dari dalam peti itu, ia jumput keluar selembar kertas merah, atau angtiap lebar, yang bertuliskan: "Hormat dari adikmu yang bodoh, Bin Cu Hoa."

Terus si nona beber lembaran kertas merah itu, yang di dalamnya memuat selembar surat rumah berikut sepotong catatan lengkap dari semua barang yang berada di dalam rumah yang dimaksudkan itu.

Sin Cie jadi kurang enak hati melihat Bin Cu Hoa buktikan janjinya dengan serahkan rumah yang dibuat pertaruhan itu berikut segala isinya. Maka lekas-lekas ia salin pakaian, ia lantas pergi ke rumah orang she Bin itu, dengan maksud menemui, untuk menghaturkan terima kasih. Akan tetapi kapan ia sampai di rumah itu, tuan rumah semua sudah pergi, di situ tinggal dua bujang yang asyik sapui kotoran. Atas pertanyaan anak muda ini, dua orang itu bilang bahwa Bin Cu Hoa serumah-tangga sudah pergi sejak tadi pagi-pagi, entah ke mana tujuannya.

Terpaksa Sin Cie terima rumah itu, yang segera ia tempatkan.

Ciau Wan Jie telah lantas kirim beberapa orangnya berikut bujang perempuan, guna bantu mengatur lebih jauh rumah gedung itu. Kedua bujang perempuan bantui Ceng Ceng. Di antara beberapa orang lelaki itu juga termasuk koki, tukang kebun, pesuruh, kusir dan cinteng, untuk jaga malam.

Dengan sendirinya, Ang Seng Hay diangkat jadi congkoan, kuasa rumah.

"Nona Ciau masih berusia sangat muda akan tetapi untuk urus rumah-tangga, ia ingat segala apa," Sin Cie puji Wan Jie.

Ceng Ceng tertawa.

"Maka jikalau dia bisa menjadi nyonya rumah ini, sungguh bagus!" katanya.

Sin Cie awasi nona itu, ia tidak kata suatu apa. Ceng Ceng baik segala-galanya, kecuali dalam hal hati-kecilnya, ia terpengaruh kejelusannya, cemburunya.

Pada malam pertama di gedungnya itu, tengah malam, Sin Cie dan Ceng Ceng berkumpul di dalam kamarnya, mereka keluarkan peta bumi dari Kim Coa Long-kun, untuk periksa peta itu, guna diakurkan dengan macamnya gedung itu. Disana-sini sudah ada beberapa perubahan akan tetapi pokoknya tetap, cocok dengan lukisan peta, dari itu keduanya jadi sangat girang. Sekarang mereka fahamkan

622 pengunjukan tanda-tanda, yang membawa mereka keluar taman, terus ke dalam taman, sampai disamping taman di mana ada sebuah gudang kayu. Mereka masuk ke dalam gudang ini.

Sin Cie ajak A Pa, si empeh gagu, untuk dia ini bantui singkirkan semua kayu dan rumput yang memenuhkan gudang itu, sesudah mana, mereka kerjakan pacul, untuk menggali tanah.

Ceng Ceng berdiri di luar pintu gudang, tangannya menyekal pedang, karena ia bertugas berjaga-jaga.

A Pa adalah yang menggali lobang, ia telah bekerja kira setengah jam, lantas paculnya membentur suatu barang keras hingga menerbitkan suara nyaring, rupanya ada batu di dalam lobang galian itu. A Pa tuli, ia tidak dengar suatu apa, maka Sin Cie lantas cegah ia, supaya penggalian dilakukan saja untuk gali keluar batu itu, yang merupakan sepotong batu besar bagaikan papan. Berdua mereka angkat batu itu, hingga kelihatan satu lobang di bawahnya.

Sin Cie berseru saking kegirangan, hingga Ceng Ceng dapat dengar suaranya, nona ini segera memburu ke dalam, hingga ia pun saksikan lobang itu.

"Di sini!" Sin Cie bilang. "Pergi kau menjaga pula di luar, sebentar Baru masuk lagi."

Nona Un menurut.

Sin Cie bikin dua batang obor, untuk itu di situ tersedia rumput keringnya, setelah ia sulut obor itu, ia lemparkan ke dalam lobang, untuk singkirkan hawa busuk, kemudian Baru ia turun ke dalam lobang dimana antara cahaya api, tertampak undakan tangga batu. Berbaris rapi, di dalam ruangan dalam tanah itu kedapatan sepuluh peti besar yang diatur rapi, setiap petinya dirantai dengan rantai yang besar. Cuma di situ tidak kedapatan anak kunci.

A Pa bertenaga besar, ia coba dukung sebuah peti, untuk diangkat, ia dapatkan peti besi itu sangat berat.

Sin Cie keluarkan petanya, untuk periksa lebih jauh. Di pinggir tempat simpan harta itu, ialah di pojok kiri, ada lukisan seekor naga kecil. Menduga apa-apa, ia sambar pacul untuk dipakai memaculi tanah di tempat yang dilukiskan itu. Baru ia memacul beberapa kali, lantas ia dapatkan sebuah lopa-lopa besi, yang tidak dikunci, maka dengan gampang lopa-lopa itu dapat dibuka tutupnya. Tapi untuk buka itu, ia gunai tali, ia menariknya pelahan-lahan. Ia ingat panah rahasia dari Kim Coa Long-kun, dari itu ia bekerja dengan waspada.

Peti itu terbuka dengan tidak mengakibatkan suatu apa, lalu Sin Cie dekati obornya, untuk memandang ke dalam peti, yang isinya ada serenceng anak kunci berikut dua lembar kertas yang ada tulisannya.

Surat yang pertama berbunyi:

"Berhubung dengan pemberontakan pamanku, tidak ada menteri militer yang tidak menakluk kepadanya, tidak demikian dengan Gui-Kok-Kong Cie Hui Cou. Cie Hui Cou adalah menteri turunan, yang setia, yang harus dipuji. Barang-barang berharga dari istana, karena sangat kesusu, tak dapat dibawa pergi semua, dari itu Gui-Kok-Kong, tolong kau wakilkan tim menjaganya. Di belakang hari, apabila ada gerakan akan menghidupkan Negara, pakailah harta ini.

Tahun Kian-bun ke-4, bulan enam"

"Jadi inilah harta peninggalannya Sri Baginda Kian Bun," kata Sin Cie dalam hatinya. Ketika Pangeran Yan Ong berontak, dia rampas kerajaan, Cie Hui Cou tak sudi menakluk kepada raja pemberontak itu, sampai Yan Ong ketemui sendiri padanya dan menegurnya tetapi dia tak suka bicara, tak sepatah kata keluar dari mulutnya, kata-kata menyatakan suka menunjang raja pemberontak ini, hingga karenanya, ia telah dihadapkan kepada pengadilan, yang coba paksa padanya. Ata situ, Hui Cou tulis sepuluh huruf yang berarti: "Ayahku adalah menteri berjasa yang bantu mendirikan Negara, anak-cucunya luput dari kematian."

Cie Hui Cou ini adalah putera Pangeran Tiong-san-ong Cie Tat dan Cie Tat ini adalah menteri nomor satu yang berjasa ketika permulaan dibangunkan kerajaan Beng. Ketika Cie Tat berperang ke Timur dan Barat, ia telah wakilkan Kaisar Beng Thay Cou meluaskan daerah, menetapkan Negara, hingga jasanya dianggap paling besar. Tapi ia tahu Beng Thay Cou kejam, ia turut mengendalikan Negara dengan hati-hati dengan hati kebat-kebit, sedikit juga ia tak mau menerbitkan kesalahan. Kaisar sebaliknya tak tenteram hatinya mengadapi menteri-menterinya yang berjasa, tiap hari ia mencari jalan untuk persalahkan Cie Tat. Sampai pada suatu hari Cie Tat dapat sakit tumbuhan di bebokongnya.

Kaisar Beng itu tahu, siapa dapat sakit tumbuhan, dia mesti pantang makan angsa tim, atau dia segera akan binasa. Maka ia lantas perintahkan kirimkan angsa tim pada Cie Tat. Melihat masakan itu, Cie Tat mengucurkan air mata, dengan berdiam tetap atas pembaringannya, ia dahar habis angsa tim itu. Maka pada malam itu juga ia mati keracunan. Atas kejadian ini, semua menteri jadi ketakutan sendirinya. Setelah Yan Ong naik atas tahta, puteranya Cie Tat, ialah Cie Hui Cou, tidak suka menakluk, hingga Yan Ong jadi gusar dan hendak binasakan padanya. Tapi Yan Ong cerdik, di waktu ia mulai bertahta ia ingin ambil hati orang, maka dengan alasan Cie Hui Cou adalah puteranya menteri berjasa dan juga pernah kok-kiu, ipar raja, ia batalkan niatnya, cuma dia itu dipecat, diperintah pulang ke gedungnya, dikurangi gajinya. Cie Hui Cou tetap setia kepada Baginda Kian Bun, dari itu selama-lamanya dia kandung harapan untuk membangun pula junjungannya itu.

Post a Comment