Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 100

Memuat...

Belum sempat Sin Cie bertindak, atau ia lihat debu mengepul di sebelah belakangnya dan kupingnya dengar suara berisik dari berlari-larinya beberapa ekor kuda, karena mana, ia lantas mengawasi, hingga ia tampak lima penunggang kuda sedang mendatangi.

"Kiranya barisan ini ada barisan penolongnya...." Pikir

ia.

Dari lima penunggang kuda itu, yang kabur di muka

adalah seorang perempuan. Karena mereka datang dengan cepat, selagi dia itu lewat di sampingnya, Sin Cie kenali Hui-thian-mo-lie Sun Tiong Kun serta Kwie Sin Sie suami- isteri bersama Bwee Kiam Hoo dan Lau Pwee Seng. Ia jadi girang.

"Jie-suko!" ia memanggil sambil lompat ke depan kudanya suami-isteri itu. Kwie jie-nio lihat si anak muda, ia tertawa dingin. "Oh, kau?" katanya. "Kau bikin apa di sini?"

Sun Tiong Kun dengar subonya bicara, ia tahan kudanya dan menoleh ke belakang.

"Ada urusan penting untuk mana aku hendak mohon bantuan suko dan suso," sahut Sin Cie tanpa perhatikan sikap mengejek dari si ipar perempuan itu.

"Kami juga mempunyai urusan sangat penting, kami tak sempat!" kata nyonya Kwie seraya terus keprak kudanya, untuk dikasih lari pula, melewati si anak muda.

"Su-siok!" memanggil Bwee Kiam Hoo sambil beri hormat kepada paman-guru yang muda itu, lantas ia ikuti itu guru lelaki dan perempuan.

Beda dari Kiam Hoo, Pwee Seng loncat turun dari kudanya.

"Suhu dan subo lagi hadapi urusan sangat penting," ia memberi tahu. "Susiok ada urusan apa? Baik tunggu sampai suhu dan subo sudah selesai, nanti aku bantui susiok..."

"Kalau begitu, tidak apa," jawab Sin Cie. "Aku ingin pinjam saja kudamu, Lau Toako."

"Silakan, susiok," menyahut Pwee Seng dengan hormat, sambil tarik kudanya. Ia terus berdiri di pinggiran.

"Kita naik berdua, untuk susul tentara negeri itu," Sin Cie bilang seraya terus lompat naik ke punggung kuda, diturut oleh Pwee Seng. Maka sebentar saja, mereka sudah kabur ke depan.

"Ada urusan apa susiok kejar tentara negeri?" Pwee Seng tanya.

"Untuk tolong orang!" Sin Cie jawab. "Bagus! Kami juga hendak hajar tentara itu!" berkata Pwee Seng.

Sin Cie kaburkan kudanya sampai ia dapat candak dan lombai Sun Tiong Kun dan lihat tentara negeri yang iringi kereta-kereta kerangkeng, masih ia jepit perut kudanya, untuk menyusul tentara itu.

Perwira yang pimpin barisannya dengar tindakan kaki kuda di arah belakang, dia lantas menoleh. Akan tetapi dia menoleh sesudah terlambat, karena tahu-tahu satu bajangan menyambar ke arahnya. Dalam gugupnya, dia membabat dengan goloknya yang besar, harapannya adalah bisa menabas kutung tubuh orang, siapa tahu Sin Cie telah ulur tangan kanannya, akan sambut gagang golok bagian ujung, tubuhnya sendiri mencelat naik di bebokong kudanya si opsir, siapa ia totok dengan tangan kirinya sambil ia pun membentak: "Kau sayangi jiwamu atau tidak?"

Opsir itu rasai ia kehabisan tenaga dalam sekejab, hingga tak dapat ia membikin perlawanan lebih jauh.

"Kau mau hidup atau mati?" Sin Cie ulangi bentakannya. "Ampun, tay-ong. " Memohon si opsir.

"Kalau begitu, lekas titahkan supaya semua kereta pesakitan itu berhenti!" Sin Cie titahkan.

Opsir itu menurut, selagi ia berikan titahnya, rombongannya Kwie Sin Sie pun sampai, malah mereka ini berlima sudah lantas serang tentara negeri, hingga barisannya menjadi kalut. Kejadian ini membuat Sin Cie menyesal, sebab tadinya ia tidak niat gunai kekerasan terhadap pasukan tentara itu. Sekarang terpaksa ia rampas dua buah kampak besar, dengan bawa itu, ia memburu ke kereta kerangkeng dari Cou Tiong Siu, untuk kampaki pintunya hingga menjeblak. "Cou Siokhu, aku Sin Cie!" pemuda ini perkenalkan diri.

Tiong Siu seperti sedang bermimpi, hingga ia berdiam diri.

Sin Cie lantas tolongi juga Cu An Kok dan Nie Hoo, hingga mereka ini dapat tolongi yang lain-lain, dan yang lain-lain lagi berebut tolongi semua perantaian lainnya, yang berjumlah seratus orang lebih, diantara siapa lebih dari tiga-puluh orang ada anggauta-anggauta golongan San Cong, bekas orang-orang sebawahannya almarhum Wan Cong Hoan. Mereka ini girang bukan main kapan mereka dapat tahu orang yang tolongi mereka adalah putera pemimpin mereka, maka dengan sengit mereka labrak tentara negeri, yang tadinya iringi mereka. Maka kesudahannya, tentara negeri itu kena dipukul buyar.

Di sebelah depan, jalanan telah dirintangi dengan batu- batu besar, sukar untuk tentara negeri lolos dari sana. Sin Cie ketahui ini. Ia juga tahu, biar bagaimana, jumlah tentara negeri lebih besar daripada jumlah rombongan mereka sendiri, seandai-kata tentara itu nekat, dia orang bisa berkelahi mati-matian dan ini berarti ancaman hebat bagi mereka sendiri, dari itu ia lantas pikir jalan pemecahan.

Sin Cie lemparkan kampaknya, ia loncat ke atas lerotan kereta, ia berlari-lari di atasnya, untuk maju ke depan. Ia telah lari sekira satu lie ketika ia lihat satu ponggawa, ialah congpeng yang tadi, di atas kudanya sedang pimpin perlawanan. Ia cepat maju ke arah pembesar militer itu. Dua serdadu rintangi ia tapi ia cekuk mereka, yang ia terus lemparkan ke jurang. Kemudian, dengan kegesitannya, ia loncat ke bokong kudanya congpeng itu.

Ponggawa itu tampak orang menyerbu, ia membacok, tapi sambil berkelit, anak muda kita coba rampas goloknya. Congpeng ini liehay, ia jatuhkan dirinya ke tanah, dengan begitu, goloknya tidak kena dirampas.

"Aku tidak sangka dia liehay," kata Sincie dalam hati. Tapi untuk tidak perlambat tempo, ia segera menyerang dengan tiga butir biji caturnya.

Congpeng itu benar-benar liehay, dengan goloknya ia berhasil menyampok jatuh tiga biji catur itu, hingga ia terlolos dari ancaman bahaya.

"Kau benar liehay! Mari coba lagi!" pikir Sin Cie. Dan sekali ini ia menyerang pula, dengan dua tangannya saling- susul. Kedua tangannya menggenggam tiga kali sembilan biji, hingga congpeng itu diserang terus-terusan dengan dua- puluh tujuh biji. Pasti sekali ia menjadi sibuk, mulanya ia masih bisa menangkis, lantas goloknya terlepas, segera pahanya, pinggangnya, bebokongnya, sambungan kakinya, kena tertimpuk, hingga kesudahannya, ia rubuh dengan lutut tertekuk!

"Tak usah pakai banyak adapt-peradatan!" Sin Cie menggoda sambil tertawa. Ia maju, untuk sambar bahu kiri orang, tapi dengan kepalan kanannya, congpeng itu menyerang kea rah dada.

"Biarlah kau hajar aku satu kali, untuk puasi hatimu!" tertawa si anak muda. Dan ia antapkan dadanya ditoyor.

Serangan itu tepat, akan tetapi congpeng itu merasakan ia lagi toyor kapas, dan ketika Sin Cie empos semangatnya, tenaga berbaliknya membikin tubuhnya terpental sendirinya, terapung tinggi!

Banyak serdadu menjerit melihat keadaannya pembesar itu.

Sang congpeng sendiri anggap dia bakal terbinasa sendirinya, ia sudah lantas tutup rapat kedua matanya, akan

693 tetapi segera ia merasa ada orang cekal kedua belah bahunya, apabila ia buka matanya, ia lihat lawannya adalah satu mahasiswa muda. Ia lantas insyaf bahwa ia telah rubuh di tangannya seorang liehay. Ia jadi putus asa.

"Kau perintahkan semua serdadu letaki senjata, kau akan dikasih ampun!" kata Sin Cie.

Congpeng ini tahu, dengan angkutannya lenyap, hukuman mati ada bagiannya, karena ini, ia jadi nekat. Ia berseru: "Jikalau kau hendak bunuh, bunuhlah aku, tak usah kau banyak omong!"

Sin Cie tertawa, ia kerahkan pula tenaganya. Lagi satu kali, tubuhnya congpeng itu terpental tinggi, di waktu jatuh, si anak muda tanggapi seperti tadi. Dan ia ulangi sampai tiga kali melempar tubuh opsir itu, hingga kesudahannya, opsir ini pusing kepalanya, berkunang-kunang matanya, sampai tak tahu ia, dirinya berada di mana....

"Jikalau kau tidak berikan titahmu, kau bakal mampus!" Sin Cie beri ingat. "Dengan begitu, tentaramu juga tidak bakal turut hidup! Maka baiklah kau menakluk kepada kami!"

Dalam keadaan sulit seperti itu, congpeng ini menyerah.

Ia manggut.

"Ini dia yang dibilang orang yang kenal selatan!" bilang Sin Cie.

Congpeng itu lantas teriaki tiga sebawahannya, untuk beritahukan mereka niatnya untuk menakluk.

Tiga sebawahan itu kaget, muka mereka pucat.

"Kau makan gaji Negara, kau put-tiong, put-hau!" satu di antaranya berseru saking gusar. Tapi ia tak sempat bicara banyak, Sin Cie sambar lengannya, terus dia dibanting hingga dia rebah dengan pingsan!

Melihat demikian, dua sebawahan itu menyatakan suka menurut.

"Nah, perintahkanlah hentikan pertempuran!" si congpeng memerintahkan.

Sin Cie juga lantas kasih tanda supaya kawanan penyamun berhenti berkelahi.

"Titahkan mereka letaki senjata mereka!" kemudian Sin Cie perintah si congpeng.

Dengan terpaksa, congpeng itu menurut, maka itu, selainnya pertempuran berakhir, semua serdadu juga letaki senjata mereka.

Menyusul itu, lima orang menerjang kalang-kabutan, mereka serbu pelbagai peti, untuk dibuka dengan paksa, apabila mereka dapati isinya uang belaka, mereka lemparkan itu ke samping, mereka menggeratak terus. Tidak ada satu serdadu juga yang berani rintangi mereka.

Lima orang itu adalah Kwie Sin Sie suami-isteri serta tiga muridnya.

"Jie-suheng, kau cari apa?" Sin Cie tanya selahi orang dekati dia. "Nanti aku perintah mereka kasi keluar!"

Kwie Sin Sie angkat kepalanya, ia lantas tampak tiga opsir berdiri di antara Sin Cie, ia lompat ke arah mereka, dengan tiga loncatan, ia sudah datang dekat, lalu dengan tiba-tiba, ia jambak si congpeng.

Pembesar militer ini kaget, apapula kapan ternyata, tak sanggup ia lepaskan diri dari jambakan itu, hingga ia mengerti, kembali ia hadapi seorang liehay. "Dimana adanya upeti hok-leng dan hoo-siu-ou dari Ma Tok-bu?" tanya Kwie Sin Sie dengan bengis.

"Karena anggap jalan kita ayal, Ma Tok-bu telah perintah lain orang bawa itu terlebih dahulu ke kota raja," sahut congpeng itu.

"Apakah kau tidak mendusta?" tanya Kwie Sin Sie. "Jiwaku ada di tangan kau, untuk apa aku mendusta?"

sang congpeng menjawab.

Sin Sie percaya orang omong benar, tapi toh ia masih banting congpeng itu.

Post a Comment